<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776</id><updated>2012-01-13T06:36:54.093-08:00</updated><title type='text'>ANTON DJAKARTA  BLOG'S</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>492</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-5328215993117956237</id><published>2011-12-21T22:03:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T22:08:39.796-08:00</updated><title type='text'>Hari Ibu adalah Hari Pergerakan Perempuan Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanggal 22 Desember sesungguhnya diperingati sebagai "HARI PERGERAKAN PEREMPUAN" karena pada tanggal 22-25 Desember berkumpul 30 Organisasi Perempuan di Ndalem Joyodipuran, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal itu menjadi tonggak paling penting penyatuan Indonesia Raya oleh kaum Perempuan Indonesia Pada tanggal itu kaum Perempuan Indonesia terlibat langsung dalam pergerakan politik dan memiliki peran pentin&lt;span class="text_exposed_show"&gt;g dalam sejarah. Oleh Presiden Sukarno, kenangan tentang Kongres Perempuan Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta 22-25 Desember 1928 kemudian di ‘dekritkan’ sebagai ‘Hari Ibu’. Bung Karno bermaksud melibatkan secara entitas peran kaum perempuan dalam pergerakan rakyat dan percaturan politik penting. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Sejarah keterlibatan perempuan ini kemudian dihancurkan oleh Rezim Orde Baru yang secara bertahap menghancurkan sokoguru-sokoguru pergerakan rakyat. Dalam masyarakat sokoguru paling awal adalah Perempuan, Pemuda dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tiga ini yang pertama kali dihancurkan adalah Perempuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Kejahatan Propaganda Lubang Buaya : “Adalah titik paling penting sejarah Penghancuran Perempuan Indonesia” adalah Djamilah korban pertama kali yang dijadikan simbol penghancuran gerakan perempuan Indonesia dimana Djamilah dimasukkan ke dalam unsur Gerwani dan dituduh melakukan tarian dalam pesta seks di Lobang Buaya yang kemudian memancing kemarahan massa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Pembohongan Orde Baru ini kemudian menggelincirkan gerakan Perempuan hanya sebagai bentuk penistaan tubuh perempuan dalam dunia laki-laki, lalu secara bertahap seluruh gerakan Perempuan Indonesia dimasukkan ke dalam wilayah ‘domestik’. Domestifikasi peran perempuan dalam pergerakan adalah “Menciptakan struktur masyarakat yang menganggap Perempuan hanya dan hanya sebagai ‘Ibu Rumah Tangga’ Perempuan yang masuk ke dalam sejarah keterlibatan masyarakat dipandang sinis, di dalam rumah tanggapun Perempuan harus takluk pada suami, sehingga Penindasan terhadap kaum perempuan semakin efektif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Sudah saatnya dipisahkan pengertian antara “Hari Ibu” 22 Desember dengan Woman Day Internasional, dalam Hari Ibu seharusnya menempatkan kaum perempuan ke dalam wilayah pergerakan Nasional, sehingga Kaum Perempuan semakin efektif ikut dalam percaturan politik, ekonomi dan masyarakat. Diskriminasi peran perempuan ini yang harus dibongkar dan diselesaikan sehingga pergesekan yang timbul di dalam masyarakat bisa melahirkan produk perempuan yang berani, bebas dalam mengekspresikan diri dan merdeka atas kehendak tubuh mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; 22 Desember bukan saja hari Ibu tapi hari ‘Pembebasan Perempuan’ yang terpenjara dalam struktur dunia laki-laki. Selamat Hari Ibu, Selamat Hari Perempuan, Selamat pada kaum Perempuan yang berani memerdekakan tubuh dan jiwa mereka dari segala bentuk Penindasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Anton, 22 Desember 2011.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-5328215993117956237?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/5328215993117956237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=5328215993117956237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5328215993117956237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5328215993117956237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/hari-ibu-adalah-hari-pergerakan.html' title='Hari Ibu adalah Hari Pergerakan Perempuan Indonesia'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8626182231876722315</id><published>2011-12-13T10:07:00.001-08:00</published><updated>2011-12-13T10:10:59.731-08:00</updated><title type='text'>Kereta Rindu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Ue_1LIm9Z-w/TueUv0E3skI/AAAAAAAAA9Q/jRjDLqpwwxI/s1600/kereta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 249px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ue_1LIm9Z-w/TueUv0E3skI/AAAAAAAAA9Q/jRjDLqpwwxI/s400/kereta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685676603732374082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta Rindu&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Desai Angin menembus pohon-pohon cemara&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Waktu melenyap&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pertemuanku denganmu sudah menjadi buku cerita dongeng&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kata-kata sudah menjadi purba&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kamu berdiri di tepi peron stasiun tua&lt;br /&gt;Matamu menumpu  rel-rel baja, menunggu dengung suara roda kereta&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mengantungi harapan agar pertemuan kita terulang&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kamu menepikan senja dengan air mata&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Di tepi rel kereta&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pada stasiun tua&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;di kota kecil&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;tanpa sengaja kamu merumahkan rindu&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lalu ketika peluit akhir berbunyi&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;kamu pulang melewati daun-daun yang berguguran&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;pada tanah dimana kemarau tumbuh ragu-ragu&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;dan hujan sore menampiaskan wajahmu&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lukisan Hujan adalah parasmu&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kau ceritakan itu&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;pada surat-surat yang datang kemudian&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;lalu kau bertanya&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;: "Apalah arti cinta tanpa kesetiaan, seperti rel-rel baja menunggu dengung roda kereta".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8626182231876722315?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8626182231876722315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8626182231876722315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8626182231876722315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8626182231876722315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/kereta-rindu.html' title='Kereta Rindu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ue_1LIm9Z-w/TueUv0E3skI/AAAAAAAAA9Q/jRjDLqpwwxI/s72-c/kereta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2824279372733843946</id><published>2011-12-09T23:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T23:07:24.922-08:00</updated><title type='text'>Angie Lihatlah Anak Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8r4akk-xSxo/TuMEqMIn94I/AAAAAAAAA9E/r0WAC3s8Y7g/s1600/angie.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8r4akk-xSxo/TuMEqMIn94I/AAAAAAAAA9E/r0WAC3s8Y7g/s400/angie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684392277530113922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Angie, dibalik maskara mahalmu, dibalik wangi parfummu, dibalik semua tingkah laku artifisialmu, dibalik lancarnya kata-katamu, dan mewahnya mobilmu yang kau pamerkan di depan gedung KPK. - Ada hak anak ini yang terampas. Ketika engkau merekayasa sindikasi, ketika kamu melakukan hal-hal untuk mencuri uang negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini dibangun dengan darah dan air mata -bukannya tanpa tujuan, jutaan orang &lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;sudah mati untuk negara ini, mereka mati kerna memimpikan masa depan anak-anak Indonesia, masa depan yang lebih baik, rumah yang nyaman, rumah tanpa kehinaan, rumah dengan segala bentuk kehormatannya manusia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini dibebaskan bukan untuk memelihara jaringan penguasa yang hidupnya tidak dibiayai keringat tapi dibiayai anggaran negara, bangsa ini dibebaskan agar anak seperti ini punya kecerdasan, punya masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali-kalilah berpolitik bukan untuk ketenaran, menambah teman atau menumpuk aset kekayaan, berpolitiklah untuk rakyat banyak, berpolitiklah agar mereka bisa dibebaskan, karena pada hakikatnya politik yang membebaskan adalah politik yang menggembirakan, dan tak ada yang lebih indah dari semuanya bila kita gembira dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Bila itu sudah jadi tujuan kita, jutaan anak-anak seperti inilah yang akan gembira atas hasil kerja kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2824279372733843946?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2824279372733843946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2824279372733843946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2824279372733843946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2824279372733843946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/angie-lihatlah-anak-ini.html' title='Angie Lihatlah Anak Ini'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8r4akk-xSxo/TuMEqMIn94I/AAAAAAAAA9E/r0WAC3s8Y7g/s72-c/angie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6128771877518564185</id><published>2011-12-09T01:48:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T01:52:28.275-08:00</updated><title type='text'>Kisah Anak Penjual Kue</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QdVv9rMPmGY/TuHZwlINlRI/AAAAAAAAA84/idJx2l0hQMU/s1600/penjual%2Bkue.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 295px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QdVv9rMPmGY/TuHZwlINlRI/AAAAAAAAA84/idJx2l0hQMU/s400/penjual%2Bkue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684063633341781266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Gambar Atas : Ilustrasi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA BUKAN PENGEMIS (Belajar dengan Anak Kecil Penjual Kue)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; "Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; "Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********************************************************&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter yg sangat bagus, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dan para PNS atau karyawan swasta yang masih 'MENGEMIS' meminta uang tip atau pungli kepada pengguna jasa setelah melayaninya, padahal mereka sudah digaji, hendaknya belajar dengan seorang anak kecil penjual kue tadi DAN TIDAK MELAKUKANNYA LAGI AGAR INDONESIA SEMAKIN MAJU DAN JAYA.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt;from : &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001482838682" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001482838682"&gt;Kiki Kurniati&lt;/a&gt; (kisah ini juga sudah  dikutip di banyak tempat)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6128771877518564185?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6128771877518564185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6128771877518564185' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6128771877518564185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6128771877518564185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/kisah-anak-penjual-kue.html' title='Kisah Anak Penjual Kue'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QdVv9rMPmGY/TuHZwlINlRI/AAAAAAAAA84/idJx2l0hQMU/s72-c/penjual%2Bkue.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-7198211451510995864</id><published>2011-12-06T23:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T23:10:22.471-08:00</updated><title type='text'>Politik Pencitraan Dari Masa ke Masa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-EjetFx-kzG8/Tt8QruIuY8I/AAAAAAAAA8s/MpIDNUlbH4I/s1600/Sukarno%2BHarto%2Bedi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 264px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-EjetFx-kzG8/Tt8QruIuY8I/AAAAAAAAA8s/MpIDNUlbH4I/s400/Sukarno%2BHarto%2Bedi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683279598069900226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Politik Pencitraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Politik pencitraan itu amat perlu dalam komunikasi politik hanya saja kita harus melihat pencitraan kaitannya dengan implikasi yang dialami masyarakat, respon yang timbul sehingga menjadi bagian dari pemikiran, gairah dan tindakan-tindakan politik di kalangan masyarakat umum. Dalam sejarah modern Indonesia politik pencitraan dilakukan dilakukan oleh tiga pemimpin : Sukarno, Suharto dan SBY. Masing-masing memiliki kategori dan tujuan pencitraannya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pencitraan Gairah Revolusi Sukarno :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Pada tahun 1920-an Sukarno sudah memilih peci hitam sebagai bagian dari pencitraan kerakyatan, ia menyatukan diri dalam gerakan besar Melayu, bukan gerakan besar Jawa karena ia melihat bahwa Jawa adalah subkultur dari akar Melayu. Mangkanya ia memilih peci. Pemilihan peci ini dilakukan di Bandung ketika ia melihat tukang sate yang telanjang kaki, telanjang dada hanya pakai kolor tapi mengenakan peci. Ia melihat banyak rakyat Djakarta (dulu Batavia) mengenakan peci, peci ini asalnya dari tarbuz yang banyak dikenakan orang Turki, saat itu sedang ramai gerakan muda Kemal Pasya yang mengenakan tarbuz sebagai lambang nasional rakyat Turki.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Tahun 1945 Sukarno memilih baju model safari dengan kantong-kantong ala perwira, ia reka-reka sendiri model baju ini, kelak rakyat mengenalnya model ‘Baju Sukarno’ penggunaan baju ini ia ukur dengan perkembangan suasana batin jaman yang sedang mengalami gejolak revolusi, dalam masyarakat yang kacau, rakyat banyak butuh pegangan, dan satu-satunya pegangan yang bisa dijadikan tuntunan adalah “Ingatan Kolektif” dengan dasar ingatan kolektif inilah Sukarno memerintahkan Sudiro untuk mencari wartawan foto yang tiap hari harus memoto gaya Sukarno, foto-foto ini kemudian dijadikan alat hegemoni untuk terus membangun ingatan kolektif rakyat “ingat Sukarno, ingat revolusi kemerdekaan”.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Pakaian berpotongan safari tanpa pangkat mulai ditinggalkan Sukarno di tahun 1959, ketika Sukarno harus berhadapan pada alam politik baru yaitu : “Mengantisipasi Politik Intervensi Modal Asing” yang sudah disiapkan Ike Eisenhower dalam melakukan okupasi politik terhadap Indonesia apalagi setelah keberhasilan Sukarno merebut Irian Barat, panasnya politik di Vietnam Selatan yang bakal merambat ke Indonesia dan berakibat pada perpecahan wilayah serta tindakan ofensif sekutu Inggris disekitaran wilayah Indonesia. Sukarno melihat hanya ada tiga motor dalam melakukan pemikiran-pemikiran revolusi, yaitu : Dirinya sendiri sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengeluarkan ide-ide revolusi (yang dimulai dari “Pidato Penemuan Kembali Revolusi Kita” sampai pada Manipol Usdek) –disini ia bertindak sebagai mesin ide, lalu massa rakyat disini Sukarno mengambil massa militan dari PKI yang kemudian dilambangkan dalam peci hitamnya dan motor ketiga adalah Militer, Sukarno memakai baju bergaya militer dengan bintang lima dan tongkat komando untuk menunjukkan siapa yang berkuasa dalam militer, semua kekuatan itu berkumpul di dalam dirinya dengan tujuan besar : “Membebaskan Indonesia dari Politik Intervensi Modal Asing” – Hitung-hitungan Sukarno setelah politik berdikari Indonesia sukses maka Pemilu bisa dilangsungkan sekitar tahun 1975, “Pemilu hanya bisa dilangsungkan ketika rakyat sudah menyadari bahwa “Berdikari” adalah sumber dari segala sumber kesadaran dalam berpolitik. Disini kemudian Sukarno melakukan pencitraan terus menerus untuk menggenjot alam bawah sadar keberanian rakyat Indonesia untuk mempertahankan hak-hak atas modal bangsa (Sumber daya alam, wilayah dan penduduk).&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pencitraan Suharto Untuk Menutup-nutupi kekerasan Politik :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Pencitraan Suharto adalah Pencitraan yang bertujuan untuk menutup-nutupi “Kekerasan Politik dan Pemerintahan Junta Militer yang melingkari dirinya”. Ia menolak memakai baju-baju militer, baju-baju Jenderal resmi untuk membuat kesan Indonesia bukan negara neofasisme, bukan negara yang dipimpin oleh sebarisan Junta Militer.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Secara pribadi Suharto paralel dengan pencitraan, ia memang pendiam dan santun, ia tidak banyak berbicara. Pencitraan ini membuat situasi kekuasaannya menjadi angker dan kekuasaan yang angker secara tidak langsung menjadi motor yang efektif dalam menjalankan kekuasaan baik secara illegal maupun legal.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pencitraan Bergaya Tontonan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Kepemimpinan SBY lahir dari masyarakat yang gemar menonton, bukan lahir dari masyarakat yang berpikir secara substantif. Doktrinasi masyarakat tontonan ini adalah akibat politik represif Orde Baru, dalam politik orde baru masyarakat tidak pernah sebagai pihak yang partisipatif, tapi sebagai pihak yang tidak terlibat dalam situasi politik keseharian, politik dan kebijakannya adalah milik kaum dewa yang berarti : Pejabat bersafari.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Dalam suasana yang frustrasi ini di tahun 1980-1998 masyarakat melarikan diri ke dalam dunia tontonan, ia bisa merasa jadi bagian ketika ia menonton sesuatu, pernah masyarakat melibatkan secara aktif dalam situasi politik keseharian tapi itu pada saat kerusuhan besar 1998, tapi selepas reformasi 1998 masyarakat kembali menjadi penonton.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Ketika masyarakat gemar menonton, maka yang muncul adalah tingkah politisi dan pejabat yang harus bisa melakukan akting politik di depan masyarakat, akting politik inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai : Bahasa Komunikasi Politik Pencitraan. SBY melakukan akting politik dengan lulus S-3 pada IPB untuk menghantam Megawati yang drop out dari IPB, tapi lucunya kemudian SBY dibodohi oleh orang yang mengenalkan padi super toy dan blue energy. SBY melakukan pencitraan politik berlebihan pada iklan yang mirip Mie Instan sehingga memancing politisi lain mencitrakan diri. Apabila dulu alat komunikasi politik adalah melakukan pendidikan kader-kader yang dilakukan agen-agen politik, atau di masa Orde Baru melakukan penataran P4 untuk melakukan doktrinasi atas pembenaran-pembenaran kekuasaan Suharto, maka di masa SBY komunikasi politik dan pencitraannya dilakukan dengan cara amat instan yaitu dengan masang spanduk, baliho-baliho dan jargon-jargon yang tak jelas, penyakit ini kemudian meluas menjadi penyakit pencitraan yang diidap para penguasa.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Korban politik pencitraan yang merusak ini ternyata juga dialami Dahlan Iskan entah ia sadar atau tidak, pada awalnya ia mempesona rakyat dengan kemampuannya bertahan hidup, rakyat terpesona dengan daya juangnya yang keras, ia hanya lulusan SMA tapi dengan kemauan baja ia berhasil memiliki perusahaan media nasional terbesar kedua setelah KOMPAS. Pada titik ini Dahlan Iskan menemui otensitasnya, lalu Dahlan Iskan menjabat direksi PLN, belum ditemukan titik penting dalam kerjanya di PLN ia kemudian didapuk menjadi menteri BUMN. Lalu Dahlan Iskan melakukan sidak dan sampai-sampai ingin naik ke atap kereta rel listrik di depan wartawan. Apa yang ia lakukan secara sadar atau tak sadar adalah bagian pencitraan, rakyat senang dan bertepuk tangan melihat kabar itu dan membanding-bandingkan dengan pejabat lain yang tak memiliki daya sensitifitasnya terhadap kesusahan rakyat. – Padahal keinginan naik atap kereta rel listrik ini adalah bentuk pelecehan terhadap hukum transportasi PJKA dan Lalu Lintas Publik-.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Dalam politik pencitraan substansi tidak lagi menjadi penting, karena ketika Dahlan Iskan melakukan sidak, kesusahan dialami ribuan orang, kebijakan terhadap sistem lalu lintas dengan mengorbankan masyarakat pengguna KRL jadi tak terlihat, padahal kebijakan ini amat tak adil bagi kepentingan masyarakat umum.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Ciri umum dalam politik pencitraan bergaya SBY adalah “Mengaburkan substansi masalah ke dalam pesona-pesona personal sehingga masalah itu tidak dapat terurai dengan jelas orang dikaburkan pada titik penting persoalan”.&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Semoga di tahun 2014 Politik Pencitraan berdasarkan tontonan dan artifisial-artifisial ini sudah bisa dihentikan. Sayang bila bangsa besar ini larut ke dalam dunia artifisial politik tanpa ujung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-7198211451510995864?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/7198211451510995864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=7198211451510995864' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7198211451510995864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7198211451510995864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/politik-pencitraan-dari-masa-ke-masa.html' title='Politik Pencitraan Dari Masa ke Masa'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EjetFx-kzG8/Tt8QruIuY8I/AAAAAAAAA8s/MpIDNUlbH4I/s72-c/Sukarno%2BHarto%2Bedi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2336872213282937117</id><published>2011-12-06T20:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T20:33:27.205-08:00</updated><title type='text'>Dahlan Iskan dan Kebijakannya yang kacau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-9t4aTSlj59Y/Tt7sTQvSerI/AAAAAAAAA8g/VqtL1ymy1Og/s1600/KRL.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 237px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-9t4aTSlj59Y/Tt7sTQvSerI/AAAAAAAAA8g/VqtL1ymy1Og/s400/KRL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683239595443124914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang terpesona dengan gaya Dahlan Iskan melakukan sidak, bahkan sikapnya yang berlebihan untuk naik di atas atap kereta api. Orang kita senangnya melihat sesuatu yang artifisial, yang nggak ada hubungannya dengan substansi, padahal alasan Dahlan Iskan sidak itu karena kebijakan gobloknya yang sama sekali tidak memahami penderitaan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan memberlakukan sistem Loop Line, ribuan pen&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;umpang disuruh meloncat dari satu kereta ke kereta yang lain. Bikin susah ribuan penumpang. Sistem Loop Line digunakan untuk mengurangi jadwal kedatangan kereta sehingga diharapkan lalu lintas kota berkurang macetnya hingga 10% Ini kebijakan goblok dan keblinger.... kerna apa? kerna kebijakan ini tidak memahami landasan filosofis transportasi kota masa depan.. Kaum komuter yang menggunakan jasa kereta api adalah kelompok yang harus diutamakan karena mereka mau menggunakan jasa transportasi umum, hanya transportasi umum-lah yang bisa melancarkan dan membuat efektif kehidupan sebuah kota. Mustinya Dahlan tidak seenaknya bikin regulasi pengurangan jumlah jadwal kereta untuk mengurangi kemacetan kota, justru dia sebagai menteri BUMN memerintahkan membeli kereta rel listrik sebanyak-banyaknya untuk rakyat. Dengan desakan transportasi umum yang kemudian menghegemoni ruang kota maka penggunaan kendaraan pribadi yang boros bensin dan biang dari segala kemaceran bisa diturunkan dengan drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi umum harus dihidupkan dengan sesungguhnya, kebijakan busway Sutiyoso adalah kebijakan yang amat jenius dalam memahami kebutuhan rakyat kota, tapi kebijakan ini menjadi gagal karena tidak adanya tindak lanjut yang meluas untuk membentuk rangkaian transportasi umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Malari 1974, bangsa ini sudah terdikte kendaraan-kendaraan produksi asing, transportasi umum dibuat buruk agar rakyat kota menjadikan kendaraan sebagai bagian dari gengsi sosial sekaligus untuk membuat rakyat kota nyaman. Penjajahan psikologi pasar ini terus berlangsung sampai sekarang, akibatnya pemilik kendaraan pribadi selalu diutamakan ketimbang mereka yang rakyat yang mau menggunakan transportasi umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Sudah saatnya pola transportasi umum diubah secara revolusioner, dan itu hanya bisa dilakukan dengan satu jalan : Politik Berdikari, Ekonomi Berdikari ekonomi yang tidak terdikte asing dan kepribadian Indonesia , gotong royong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2336872213282937117?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2336872213282937117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2336872213282937117' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2336872213282937117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2336872213282937117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/dahlan-iskan-dan-kebijakannya-yang.html' title='Dahlan Iskan dan Kebijakannya yang kacau'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9t4aTSlj59Y/Tt7sTQvSerI/AAAAAAAAA8g/VqtL1ymy1Og/s72-c/KRL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-3547709272960556442</id><published>2011-12-06T09:24:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T09:28:39.993-08:00</updated><title type='text'>Ketika Cut Nyak Berkata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-uPeXYZDdXmk/Tt5QYNatXpI/AAAAAAAAA8U/M1-6Ttx1INE/s1600/Cut%2BNyak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 211px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uPeXYZDdXmk/Tt5QYNatXpI/AAAAAAAAA8U/M1-6Ttx1INE/s400/Cut%2BNyak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683068156636913298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Foto diatas adalah ketika Tjoet Nyak Dien tertangkap pasukan khusus Marsose, ia dalam kondisi buta dan mengenaskan. Sebuah gambaran manusia untuk memiliki sikap tegas menghadapi kehidupan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Cut Nyak Berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada rumah tubuh tua ini&lt;br /&gt;yang aku punya hanya pikiran&lt;br /&gt;diletakkan pada mangkuk-mangkuk berdebu&lt;br /&gt;dan kiasan-kiasan di Al Qur'an&lt;br /&gt;yang aku bacai ketika pagi dan senja datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup...Hidupku dimasa lalu&lt;br /&gt;adalah jalan kesunyian, aku tak pernah berpikir tentang sebuah keindahan&lt;br /&gt;mengajak suamiku tertawa di pasar atau menggendong anak dengan nyanyian harapan&lt;br /&gt;kerna itu aku tak punya&lt;br /&gt;hidup harus disikapi, ketika kehormatan tak terjaga&lt;br /&gt;ketika bangsa harus punya martabat&lt;br /&gt;ketika bangsawan harus memutuskan dimana letak kebenaran&lt;br /&gt;dan menjaga marwah rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, angkat rencong di masa lalu&lt;br /&gt;menyusuri hutan menyerang tangsi&lt;br /&gt;dikejar-kejar marsose atau tentara Jawa&lt;br /&gt;aku menangis pada bawah pohon-pohon hutan&lt;br /&gt;Tuhan...Tuhan...Serta rindu aku kemukakan&lt;br /&gt;kenapa kau tak mudahi jalanku&lt;br /&gt;pada keriangan hidup dan ketenangan seperti air yang turun dari batang daun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, hidup rupanya pilihan&lt;br /&gt;dan aku harus memilih jalan yang sulit&lt;br /&gt;kerna takdir bukanlah soal menari diatas nasib&lt;br /&gt;takdir adalah sikap yang terus menerus terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dimasa senja&lt;br /&gt;aku hanya bisa mengaji dan menangis&lt;br /&gt;air mata ini membasahi lembar-lembar kertas Qur'an&lt;br /&gt;pada sebuah desa kecil, di sudut Jawa&lt;br /&gt;aku mendengar tawa anak-anak&lt;br /&gt;yang aku bisa berharap padanya untuk terus melawan&lt;br /&gt;melawan untuk hidup tidak hina&lt;br /&gt;melawan untuk tegak menjadi bangsa terhormat&lt;br /&gt;dan mendirikan bangsa yang tidak dibangun dari barak-barak penindasan&lt;br /&gt;tapi lewat hati yang bernyanyi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-3547709272960556442?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/3547709272960556442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=3547709272960556442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3547709272960556442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3547709272960556442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/ketika-cut-nyak-berkata.html' title='Ketika Cut Nyak Berkata'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uPeXYZDdXmk/Tt5QYNatXpI/AAAAAAAAA8U/M1-6Ttx1INE/s72-c/Cut%2BNyak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1690619951814120585</id><published>2011-12-06T09:22:00.001-08:00</published><updated>2011-12-06T09:23:52.143-08:00</updated><title type='text'>Secuil Kisah Van Bronckhorst</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iId8auh4TJg/Tt5Pg0OwbGI/AAAAAAAAA8I/jUJlgjLuTdo/s1600/Van%2BBronckhorst.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 298px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iId8auh4TJg/Tt5Pg0OwbGI/AAAAAAAAA8I/jUJlgjLuTdo/s400/Van%2BBronckhorst.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683067204983090274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Secuil Kisah Van Bronckhorst, pemain utama Tim Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lahir di Rotterdam. Nama saya tampaknya&lt;br /&gt;membingungkan orang, tetapi tidak ada darah Italia di keluarga saya -&lt;br /&gt;ayah saya berasal dari Indonesia dan ibuku Maluku - tapi ibuku sangat menyukai nama Giovanni. Aku dibesarkan di sebuah kota kecil di luar kota, di mana adik kecilku Elvira lahir ketika aku berusia sembilan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku yang orang Indonesia itu mengenalkanku pada sepakbola dan mengajariku bagaimana caranya bermain, Ia selalu menceritakan tentang negerinya yang sangat gila bola. Ketika saya berumur enam&lt;br /&gt;tahun, saya pergi ke sebuah klub amatir, MOL, di Rotterdam untuk belajarpermainan dengan cara yang benar. Ayah bermain untuk klub&lt;br /&gt;yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan klub di Belanda, memiliki tim muda.Ketika saya berusia tujuh tahun, saya pergi ke Feyenoord yang merupakan awal saya bergabung di tim 16-tahun. Mereka memiliki banyak tim untuk setiap tingkat usia - Under-8, Under-10, Under-12, Under-14&lt;br /&gt;dan Under-17. Sehingga Anda selalu bisa mendapatkan permainan, tapi lebih sulit untuk bermain untuk tim pertama. Aku bermain kiri lini&lt;br /&gt;tengah pada masa itu, sama seperti aku lakukan sekarang. Bergabung dengan Feyenoord adalah suatu kebanggaan besar buat anak-anak, karena meski tahun 1980-an bukanlah masa gemilang bagi Feyenoord - selain dari ketika Johan Cruyff datang ke klub dan kami menjadi juara pada tahun 1984 - klub masih salah satu papan atas di negeri ini&lt;br /&gt;untuk sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruud Gullit datang di awal 1980-an.Kompetisi menjadi suatu yang hidup tapi sangat berat. Tidak banyak dari rekan-rekan saya yang bertahan dalam kompetisi yang berat, meskipun yang melakukannya&lt;br /&gt;adalah Bobby Petta, yang kemudian bermain untuk Celtic. Bobby dan aku bermain dari usia 14 tahun. Ia mencapai tim terlebih dahulu sebelum ia berangkat untuk bergabung dengan Ipswich di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat remaja, Feyenoord, Ajax dan PSV mendominasi permainan dan Tim Utama mereka sangat keren. Tapi, seperti yang saya&lt;br /&gt;katakan, dekade 1980-an adalah waktu yang gemilang di klub tidak seperti dekade 90an - ketika saya siap untuk meningkatkan ke dalam jajaran profesional - tidak banyak yang datang melalui pemain dari tim muda dan memulai debutnya di tim utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, saya memiliki pelatih yang sangat baik, Maup Martens, yang melatih saya dengan tekun saat usia saya di usia saya 12 sampai 15 tahun. Aku masih melihat dia dan para pelatih lainnya di Rotterdam. Baru sekarang saya menyadari betapa indah Maup mengajari kami, kerna yang dilatih bukan hanya keterampilan, tapi juga belajar taktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1990, ketika saya berusia 15, harapan saya terpenuhi ketika Feyenoord menawari saya kontrak untuk menjadi seorang profesional. Berjalan keluar di De Kuip di depan pendukung yang bersorak-sorak adalah mimpiku, dan saya tahu sejak saat itu saya menandatangani kontrak yang menentukan bagi jalan hidupku di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1690619951814120585?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1690619951814120585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1690619951814120585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1690619951814120585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1690619951814120585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/secuil-kisah-van-bronckhorst.html' title='Secuil Kisah Van Bronckhorst'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iId8auh4TJg/Tt5Pg0OwbGI/AAAAAAAAA8I/jUJlgjLuTdo/s72-c/Van%2BBronckhorst.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-922332226313795611</id><published>2011-12-06T09:17:00.001-08:00</published><updated>2011-12-06T09:19:30.222-08:00</updated><title type='text'>Sajak Pada Pinggir Sungai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-iE6nygLc9qE/Tt5Oj7UjddI/AAAAAAAAA78/EIAEBqU2H9o/s1600/sajak%2Bpada%2Bpinggir%2Bsungai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-iE6nygLc9qE/Tt5Oj7UjddI/AAAAAAAAA78/EIAEBqU2H9o/s400/sajak%2Bpada%2Bpinggir%2Bsungai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683066158914434514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada pinggir sungai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi menjadi penanda mata&lt;br /&gt;kayu dan ranting terbengakalai, sisa-sisa hujan tadi pagi masih menapaki atas tanah&lt;br /&gt;Perahu rusak dan bayangan kusam masa lalu&lt;br /&gt;menjadi awalan ketika aku melihat sungai dengan gerusan melawan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, kesepian begini tenangnya&lt;br /&gt;angin menjadi peluit yang meniupi telingaku&lt;br /&gt;udara pelan-pelan menjadi pacar yang menggemaskan&lt;br /&gt;dan matahari seperti rayap yang menggerogoti gairahku&lt;br /&gt;pada sebuah sungai yang mengeja mimpi-mimpi&lt;br /&gt;tentang keberadaan dan keadaan-keadaan yang masuk ke ruang alam bawah sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini pada sebuah sungai&lt;br /&gt;di tepi arus yang membelah pasir-pasir&lt;br /&gt;aku diam membayangkan&lt;br /&gt;betapa sungai ini menyimpan sebuah gerak dari masa lalu&lt;br /&gt;tentang manusia, cinta dan kata-kata tak bertepi..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTON&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-922332226313795611?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/922332226313795611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=922332226313795611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/922332226313795611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/922332226313795611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/sajak-pada-pinggir-sungai.html' title='Sajak Pada Pinggir Sungai'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-iE6nygLc9qE/Tt5Oj7UjddI/AAAAAAAAA78/EIAEBqU2H9o/s72-c/sajak%2Bpada%2Bpinggir%2Bsungai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-3903906191344937604</id><published>2011-12-06T09:15:00.001-08:00</published><updated>2011-12-06T09:16:04.232-08:00</updated><title type='text'>Jadilah Polisi Sebagaimana Rakyat Inginkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-lyoyrXg8kcs/Tt5NxQadTII/AAAAAAAAA7w/pzV3IGM_zZ8/s1600/jadilah%2Bpolisi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 272px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lyoyrXg8kcs/Tt5NxQadTII/AAAAAAAAA7w/pzV3IGM_zZ8/s400/jadilah%2Bpolisi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683065288403012738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadilah Polisi dimana ketika kamu berdiri disana masyarakat merasa terlindungi&lt;br /&gt;Jadilah Polisi yang tau persoalan-persoalan masyarakat&lt;br /&gt;Jadilah Polisi yang tidak mau membekingi kejahatan&lt;br /&gt;Jadilah Polisi dimana kamu mencintai tugasmu, seperti kamu mencintai bangsa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari generasi muda tentang kedisiplinan bukan keserampangan&lt;br /&gt;Ajari masyarakat untuk tau tertib hukum bukan mempermainkan hukum&lt;br /&gt;Karena kalian pandu bagi tumbuhnya masyarakat sipil, bukan pengacau dalam sistem kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkan sikap jujurmu mencari kebenaran agar kami percaya&lt;br /&gt;Perlihatkan sikap tegasmu supaya hubungan antar kita terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah negeri ini dibangun antara rasa cinta dan benci terhadap Polisi. Tapi kami juga sadar toh Polisi bukan hanya milik para Jenderal yang memperkaya diri, Polisi milik rakyat, yang mungkin saja disaat-saat ini menjadi 'anak hilang' tapi suatu saat kelak'anak hilang' itu kembali dengan segenap kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi, ciptakanlah keamanan dalam tindakanmu bukan sebaris kata-kata dalam spanduk-spandukmu, biarkanlah kata-kata di spanduk dan baliho jalan-jalan milik calon legislator yang sedang memajangkan diri. Kerna memang kerja polisi bukan memainkan kata, tapi bersatunya kata dan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah arus tidak suka terhadap tindakanmu, Polisi. Rakyat masih mencintaimu semoga ke depan kalian menjadi institusi yang paling bersih karena kalianlah obor terpenting dalam menerangi jalan menuju masyarakat sipil yang maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah bangsa ini masih mencintaimu.............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-3903906191344937604?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/3903906191344937604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=3903906191344937604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3903906191344937604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3903906191344937604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/jadilah-polisi-sebagaimana-rakyat.html' title='Jadilah Polisi Sebagaimana Rakyat Inginkan'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lyoyrXg8kcs/Tt5NxQadTII/AAAAAAAAA7w/pzV3IGM_zZ8/s72-c/jadilah%2Bpolisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-7838232879523178239</id><published>2011-12-06T09:08:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T09:12:31.947-08:00</updated><title type='text'>Che Guevara, Borobudur dan Bung Karno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-_hDgqaV-CZU/Tt5MzFa2J2I/AAAAAAAAA7k/TIrwW1hBkr0/s1600/Che%2BGuevaera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 378px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_hDgqaV-CZU/Tt5MzFa2J2I/AAAAAAAAA7k/TIrwW1hBkr0/s400/Che%2BGuevaera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683064220299962210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto atas : Che Guevara sedang mengabadikan candi Borobudur tahun 1959, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;apa yang ada di dalam pikiran Che?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Borobudur itu bangunan yang didasari pada sistem masyarakat feodal. Dibangun lewat banyak darah para buruh bangunannya. Tapi menghasilkan hal yang indah. Borobudur adalah puncak dari peradaban di Jawa dan Che Guevara mengaguminya. Pada tahun 1959 Che Guevara datang ke Jakarta atas perintah Fidel Castro untuk belajar sosialisme pada Bung Karno. Sukarno sendiri memberi beberapa kuliah tentang kedaulatan modal dan imperialisme modern pada Che. "Kamu tau Che, watak imperialisme kuno yang menghasilkan kapitalisme kuno itu beda dengan watak imperialisme modern yang menghasilkan kapitalisme modern, kapitalisme modern itu didasari pada modal. Kelak konflik Internasional bergeser pada modal bukan lagi pada perang koloni atau wilayah, inilah kenapa aku ingin negeriku menjadi raksasa terhadap modal itu sendiri sehingga aku bisa menjadikan bangsaku bangsa yang berdikari, berdiri diatas kaki sendiri, berkedaulatan politik, daulat atas ekonomi dan berkebudayaan otentik" kata Bung Karno di tahun 1959 saat menemui Che.&lt;span class="fcg"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-7838232879523178239?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/7838232879523178239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=7838232879523178239' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7838232879523178239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7838232879523178239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/che-guevara-borobudur-dan-bung-karno.html' title='Che Guevara, Borobudur dan Bung Karno'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_hDgqaV-CZU/Tt5MzFa2J2I/AAAAAAAAA7k/TIrwW1hBkr0/s72-c/Che%2BGuevaera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-5889903921951674467</id><published>2011-12-06T09:05:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T09:06:46.387-08:00</updated><title type='text'>Bersyukurlah dalam KeIslamanmu........</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-COie3pCmi_g/Tt5Lk5vQVAI/AAAAAAAAA7M/haWLBN7eCH8/s1600/puasa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-COie3pCmi_g/Tt5Lk5vQVAI/AAAAAAAAA7M/haWLBN7eCH8/s400/puasa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683062877134541826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan yang paling berbobot adalah Allah swt&lt;br /&gt;Kidung terindah adalah Adzan&lt;br /&gt;Aksara Terbaik adalah rangkaian ayat di Al Qur'an&lt;br /&gt;Gerak paling menyehatkan adalah Shalat&lt;br /&gt;Kebersihan paling menyegarkan adalah Wudhu&lt;br /&gt;Perjalanan terindah adalah Naik Haji dan mendapatkan berkah dari Allah swt&lt;br /&gt;Renungan terbaik adalah ketika engkau mengingat dosamu&lt;br /&gt;Diet paling sempurna adalah Puasa..............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah pada Allah swt karena dalam Islam kita didisiplinkan untuk menjadi manusia dan memanusiakan kemanusiaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-5889903921951674467?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/5889903921951674467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=5889903921951674467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5889903921951674467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5889903921951674467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/bersyukurlah-dalam-keislamanmu.html' title='Bersyukurlah dalam KeIslamanmu........'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-COie3pCmi_g/Tt5Lk5vQVAI/AAAAAAAAA7M/haWLBN7eCH8/s72-c/puasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1021041938061958661</id><published>2011-12-06T09:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T09:03:30.932-08:00</updated><title type='text'>Apa Ada.......</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ey_gErOg5PA/Tt5KzR2l0pI/AAAAAAAAA7A/8qhbjWEjBrU/s1600/bayi%2Blucu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ey_gErOg5PA/Tt5KzR2l0pI/AAAAAAAAA7A/8qhbjWEjBrU/s400/bayi%2Blucu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683062024614302354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada yang lebih indah dari pagi kecuali melangkahkan kaki menuju mimpi&lt;br /&gt;Apa ada yang lebih kejam dari sepi kecuali bayangan tentang masa lalu yang putus&lt;br /&gt;Apa ada yang lebih menggetarkan kecuali doa yang membuat Tuhan menumbuhkan benih keyakinan di hati kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada yang lebih kuat dari sebuah puasa yang mengalahkan diri sendiri&lt;br /&gt;Apa ada yang lebih memahami pemikiran kecuali sikap saling memaklumi&lt;br /&gt;Apa ada yang lebih rahasia dari segala rahasia kecuali cinta pertama yang dipendam dalam-dalam di lubuk hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada yang melebihi rasa takut kecuali rasa bersalah yang menyiksamu di tiap malam&lt;br /&gt;Apa ada yang melebihi kegamangan kecuali rasa tidak percaya&lt;br /&gt;Apa ada yang melebihi kekayaan kecuali tawa anak-anak di depan mata orang tuanya&lt;br /&gt;Apa ada yang melebihi lezatnya bumbu masakan kecuali rasa lapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada yang melebihi kesetiaan kecuali kemampuan melawan rasa bosan&lt;br /&gt;Dan apa ada yang melebihi kemiskinan di dalam jiwa kecuali pengingkaran terhadap adanya Tuhan ..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTON&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1021041938061958661?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1021041938061958661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1021041938061958661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1021041938061958661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1021041938061958661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/apa-ada.html' title='Apa Ada.......'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ey_gErOg5PA/Tt5KzR2l0pI/AAAAAAAAA7A/8qhbjWEjBrU/s72-c/bayi%2Blucu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8236464680027509897</id><published>2011-12-06T08:58:00.001-08:00</published><updated>2011-12-06T08:59:22.583-08:00</updated><title type='text'>Tentang Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LvF6tdV7T3Q/Tt5J3L6j2UI/AAAAAAAAA60/oZqGb_BVsM0/s1600/bulis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 278px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LvF6tdV7T3Q/Tt5J3L6j2UI/AAAAAAAAA60/oZqGb_BVsM0/s400/bulis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683060992228186434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Menulis&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lucu ada yang bilang "sebuah puisi semakin bahasanya sulit semakin asik". Bagi saya, sebuah puisi, novel, essay, cerpen atau prosa ditulis untuk mudah dimengerti. Sekarang banyak sekali orang menulis dengan mementingkan permainan kata tapi maksud dari kata itu kosong sama sekali atau diulang-ulang, padahal tulisan yang baik adalah yang mampu membongkar maksud di dalam susunan kata-katanya, tak ada pengulangan pada maksud kalimat. Susunan kata-kata adalah sebuah rumah bagi tulisan dimana ia harus jelas fungsinya, ketika rumah menjadi tidak jelas fungsinya maka yang didapat adalah kebingungan orang untuk menempati. Begitulah tulisan ketika kata-kata menjadi tidak mudah dimengerti maka dengan segera ia akan menjadi wallpaper atau kertas pembungkus kacang kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kolom-kolom seni pada koran-koran dan majalah menumpuk tulisan yang memuat kalimat-kalimat yang meloncat dalam keakraban bahasa, meloncat ke situasi asing. Padahal inti dari menulis yang baik adalah harus mampu membongkar maksud di dalam makna susunan kalimat dengan cara yang enak dibaca. Ia harus masuk ke situasi imajinasi yang mudah bukan malah membuat kepala pembaca terbentur kata-kata aneh. Ikutilah cara steinbeck yang ringkas dalam menulis kata, dan bongkarlah kata-kata seperti Wittgenstein yang mampu melihat bahwa setiap aksara yang tersusun mempunyai ceritanya sendiri dan pembaca dengan mudah bisa mengerti bahwa memang ada persoalan dengan apa yang kita maksud di dalam tulisan itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8236464680027509897?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8236464680027509897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8236464680027509897' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8236464680027509897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8236464680027509897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/tentang-menulis.html' title='Tentang Menulis'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LvF6tdV7T3Q/Tt5J3L6j2UI/AAAAAAAAA60/oZqGb_BVsM0/s72-c/bulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2325002309487500427</id><published>2011-12-06T08:53:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T08:56:13.108-08:00</updated><title type='text'>Memahami Pidato Bung Karno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-l6rCOLe2ZeE/Tt5JFkg3iNI/AAAAAAAAA6o/FUUdmEFReP0/s1600/Bung%2Bmobil.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 279px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-l6rCOLe2ZeE/Tt5JFkg3iNI/AAAAAAAAA6o/FUUdmEFReP0/s400/Bung%2Bmobil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683060139837851858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memahami Pidato Bung Karno&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; kemerdekaan malah membangun soal-soal, &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidak-kemerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal ...&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Rumah kita dikepung, rumah kita hendak dihancurkan ....&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bersatulah Bhinneka Tunggal Ika. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno, 17 Agustus 1948&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pidato Bung Karno selalu memberikan nuansa filosofis yang tinggi bagaimana bernegara dan berbangsa. Ia bukan saja menyodorkan kepada alam pemikiran bangsa Indonesia tentang bagaimana menyusun masyarakat tapi membentuk masyarakat baru. Bung Karno bukan saja seorang pembebas bagi bangsanya, tapi ia memberikan bangsanya sebuah jalan untuk menjadi bangsa terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah pidato Bung Karno didepan massa rakyat yang berdujun-dujun mendengarkan perkataan beliau pada 17 Agustus 1950. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya sitiga warna. Selama masih ada ratap tangis digubuk-gubuk, belumlahpekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno menghendaki jati diri bangsanya dan menjadikan rakyat terhadap subjek daripada negara bukan objek :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sepuluh tahun telah kita Merdeka, tetapi masih ada saja orang-orang yang dihinggapi minderwaardigheids complexen terhadap orang asing, masih ada saja orang-orang yang lebih mengetahui dan mencintai kultur Eropa dari pada kultur sendiri. Sehatkanlah kehidupan polltik kita &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; dengan jalan Pemilihan Umum itu. Engkau bisa, hei Rakyat, sebab engkaulah yang menjadi hakim-bukan aku, bukan Bung Hatta, bukan Angkatan Perang, bukan Kabinet. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Pidato Bung Karno yang berapi-api 17 Agustus 1955).&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Perjuangan merubah nasib suatu bangsa terletak pada kekuatan tangan dan pikiran manusianya yang bertindak. Bung Karno mengajak bersama-sama untuk mengubah dengan kerja keras, demikian pidato Bung Karno :&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: "Innallaha la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim" yang artinya saudara-saudara"Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa, sebelum bangsa itu merobah nasibnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2325002309487500427?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2325002309487500427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2325002309487500427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2325002309487500427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2325002309487500427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/memahami-pidato-bung-karno.html' title='Memahami Pidato Bung Karno'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-l6rCOLe2ZeE/Tt5JFkg3iNI/AAAAAAAAA6o/FUUdmEFReP0/s72-c/Bung%2Bmobil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8866562161399337949</id><published>2011-12-06T07:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T07:47:13.782-08:00</updated><title type='text'>Mengembalikan Kegembiraan Berpolitik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-MtNcXUjX7zE/Tt44vf1hEeI/AAAAAAAAA6c/0ZLRyKn6PG0/s1600/Pandangan%2Brakyat%2Byang%2Bhidup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-MtNcXUjX7zE/Tt44vf1hEeI/AAAAAAAAA6c/0ZLRyKn6PG0/s400/Pandangan%2Brakyat%2Byang%2Bhidup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683042168439116258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengembalikan Kegembiraan Berpolitik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu politik begitu menggembirakan bagi semua rakyat? kerna apa? Kerna menyatunya antara kerja pemimpin dan mimpi-mimpi rakyat. Mereka melakukan dengan gembira. Rakyat senang dengan politik, karena mereka percaya bahwa masa depan mereka sedang diperjuangkan oleh para pemimpinnya dengan sikap jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah gambar foto diatas bagaimana rakyat merasa gembira melihat pemimpinnya, ada kesatuan batin antara rakyat dan pemimpin, ada kesamaan kegembiraan antara pemimpin dengan rakyatnya, wajah anak kecil itu gembira, mata mereka hidup saat melihat pemimpin di depan matanya. Rakyat menemukan kegembiraannya dalam politik, karena politik dilibatkan dalam keseharian mereka. Pemimpin menawarkan konsep-konsep yang jelas : "Untuk apa Indonesia berdiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi coba lihat sekarang, rakyat asing dengan politik, rakyat sangat benci dengan kegiatan politik, seluruh arus alam bawah sadar rakyat sekarang mengarahkan kepada kebencian umum pada Politik. Politik tidak lagi menemukan kegembiraannya, kecuali sebuah benteng penipuan besar dimana hak-hak rakyat yang dirampas terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Tugas generasi muda-lah mengembalikan kembali "Kegembiraan Berpolitik Kita" baca kembali buku-buku Tan Malaka, baca kembali pidato Bung Karno : "Penemuan Djiwa Revolusi Kita" baca kembali buku-buku Hatta. Baca kembali buku Sjahrir dan Sudjatmoko, pelajari sejarah Indonesia dengan teliti maka kita akan bisa menemukan mata rantai kegembiraan rakyat yang hilang itu. Dan ketika kegembiraan berpolitik ditemukan, gunakan waktumu sepenuhnya untuk mengembalikan hak-hak kesejahteraan rakyat yang dirampas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8866562161399337949?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8866562161399337949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8866562161399337949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8866562161399337949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8866562161399337949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/mengembalikan-kegembiraan-berpolitik.html' title='Mengembalikan Kegembiraan Berpolitik'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MtNcXUjX7zE/Tt44vf1hEeI/AAAAAAAAA6c/0ZLRyKn6PG0/s72-c/Pandangan%2Brakyat%2Byang%2Bhidup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8141494940812221831</id><published>2011-12-06T01:56:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T01:59:16.619-08:00</updated><title type='text'>Menulis Ulang Sejarah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-qF7g1BT5taQ/Tt3nOrSyMbI/AAAAAAAAA6E/Lv7IFMtBdSM/s1600/Buku%2BBahasa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-qF7g1BT5taQ/Tt3nOrSyMbI/AAAAAAAAA6E/Lv7IFMtBdSM/s400/Buku%2BBahasa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682952544137130418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmu sejarah kita dan Sejarawan kita ini produk kolonial, jadi mereka melihat dan menyebarkan paradigma bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun, padahal secara fakta kita tidak dijajah selama 350 tahun, tapi kita perang dengan pasukan asing dari satu wilayah ke satu wilayah selama 350 tahun, ingat Atjeh Kutaradja baru ditaklukkan tahun 1910, sementara hutan-hutan di Atjeh sampai 1945 tidak pernah&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt; ditaklukkan, Bali sampai tahun 1945 belum semuanya ditaklukkan, sejarah di Indonesia bukan sejarah koloni-koloni tetapi sejarah intervensi modal asing (Jaman VOC = Monopoli rempah-rempah, Jaman Hindia Belanda = Modal Asing yang didapatkan dari Penjualan Obligasi-Obligasi dan Saham di Pasar Modal Eropa u/ membangun Perkebunan-Perkebunan, Jaman Harto = Intervensi Modal Asing Internasional IMF, World Bank ataupun IGGI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Cobalah mulai sekarang ditulis ulang buku-buku sejarah kita, bukan "Kita dijajah 350 tahun" tapi tulis "Kita Melawan Modal Asing selama 350 tahun dengan perang" supaya anak-anak muda kita terdoktrin menjaga kehormatan modal bangsanya. Dengan menulis sejarah "sejarah" sebagai kesadaran perlawanan, maka alam bawah sadar minder kita bisa dihapuskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8141494940812221831?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8141494940812221831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8141494940812221831' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8141494940812221831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8141494940812221831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/menulis-ulang-sejarah.html' title='Menulis Ulang Sejarah'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qF7g1BT5taQ/Tt3nOrSyMbI/AAAAAAAAA6E/Lv7IFMtBdSM/s72-c/Buku%2BBahasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2310196475830196521</id><published>2011-12-05T07:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T07:34:38.098-08:00</updated><title type='text'>Kisah Onze Tjip</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-lEyGmnRD4F8/TtzkcIU0SmI/AAAAAAAAA54/eTHEOh-9QKk/s1600/Onze%2BTjip.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 302px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lEyGmnRD4F8/TtzkcIU0SmI/AAAAAAAAA54/eTHEOh-9QKk/s400/Onze%2BTjip.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682668001756990050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Onze Tjip........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ungkapan terkenal di kalangan masyarakat yang sudah kenal Rumah Sakit : 'Dokter atau Perawat belon jago kalo bukan keluaran RSCM'. Mau tidak mau RSCM memang Lembah Tidarnya para dokter dan perawat digembleng untuk merawat orang sakit. Dulu RSCM bernama Centraal Burgerlijke Ziekenhuis atau CBZ. Orang Djakarta tempo dulu selalu menyebut CBZ- diucapkannya Sibiset. Kakek saya saja selalu bilang "Naar CBZ" kalo mau ke RSCM. Barulah generasi ibu saya menyebut Rumah Sakit itu RSCM atau RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat). Kenapa CBZ begitu hebat, apakah ada hubungannya antara CBZ dan nama Cipto. Bagi saya nama Cipto yang diberikan pada 17 Agustus 1964 oleh pemerintahan Sukarno atas usulan Menteri Kesehatan saat itu Dokter Satrio bukan tanpa sebab. Suatu sore di bulan Maret 1963 Bung Karno memanggil tim dokter CBZ untuk bertanya tentang nama Rumah Sakit itu. Di teras Istana Negara mereka bicara ngalor ngidul tentang RS, Bung Karno berkata "Aku ingin Rumah Sakit ini, menjadi Rumah Sakit Rakyat, dia harus melayani rakyat secara penuh dan total. Rakyat harus dibebaskan dari biaya-biaya atau minimal sedikit biaya untuk berobat. Dan untuk itu nama kebelanda-belandaan, bukanlah nama yang baik. Aku bertanya kepada kalian nama apa yang cocok untuk Rumah Sakit ini" lalu dokter Satrio nyeletuk "Bagaimana kalau kita namakan Rumah Sakit Tjiptomangunkusumo saja Pak?" Bung Karno terdiam matanya langsung berkaca-kaca. Tak lama kemudian air mata pelan mengalir ke pipinya. "Aku ingat Onze Tjip...Aku ingat Onze Tjip...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjiptomangunkusumo lahir dari keluarga jelata. Ayahnya sesungguhnya anak petani namun karena kecerdasannya dia mampu menjadi guru HIS. Tjip, ditakdir memang hidup menembus kelas-kelas sosial. Ia yang hanya anak guru mampu masuk sekolah STOVIA. Ini sekolah elite jaman dulu yang belajar tentang bidang kedokteran. Usia masuk Stovia dulu adalah berkisar 12-16 tahun. Jadi mereka diajarkan dari yang paling dasar sekali tentang bidang pengobatan dengan alat ajar yang minim. Tapi memang Indonesia selalu melahirkan generasi yang cerdas. Tjip salah satunya. Ia merasa dirinya adalah anak si Kromo, dan sedari awal ia sudah menentang sikap kepriyayi-priyayian yang merupakan penghalang pencerdasan bagi rakyat. Saat itu kepala sekolah memerintahkan setiap murid mengenakan pakaian adat. Hal ini untuk dimaksud agar membedakan diri mereka satu sama lain. Tapi Tjip menolak ia hanya pakai, pakaian dekil, kumal, pakaian anak Jawa jelata, pakaian tukang angon wedhus -anak gembala kambing- saat seorang gurunya mengusir Tjip keluar karena memakai pakaian proletar, kepala sekolahnya melarang dan berteriak pada guru itu :"Tjip, een begaafd leerling," - Hei, Tjip itu salah seorang yang berbakat. Sejak itu Tjip boleh bebas mengenakan pakaian si Kromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjip dengan cepat menyelesaikan sekolah kedokteran. Tak lama kemudian ia mendengar juniornya mengadakan kongres Budi Utomo. Tjip tau ini dari adiknya Gunawan Mangunkusumo yang teman akrab Sutomo, penggagas Budi Utomo. Disana Tjip diundang bicara pada salah satu sesi kongres. Di depan kongres dia berkata "Saudara-saudara organisasi ini bukan organisasi orang Jawa, bukan kumpulannya para priyayi, saya menghendaki organisasi ini jadi tempat berkesadarannya rakyat Jawa dan juga seluruh Hindia Belanda" ucapan itu diucapkan tahun 1908. Bila Budi Utomo dirujuk sebagai Tahun Kebangkitan Nasional maka sangat tidak tepat bila tidak mengikuti ucapan Tjip tentang nasionalisme. Ucapan ini ditentang oleh banyak peserta kongres termasuk Radjiman Wediodiningrat. Radjiman meminta agar Kongres Budi Utomo merupakan buah kesadaran priyayi saja tidak masuk ke dalam rakyat kecil. Tjip menggebrak meja saat Radjiman bicara itu dan berteriak dalam bahasa Jawa Ngoko "Aku Keluar!!"........dan ini membuat kaget banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama dari Budi Utomo, Tjip buka praktek di Solo. Disana dia langsung terkenal sebagai dokter rakyat. Ia sendiri masuk ke kampung-kampung naik sepeda. Ia mengobati rakyat kecil dan tidak usah membayar. Rakyat mengenalnya sebagai 'wong pinter' dulu dokter belum banyak, Tjip disangka dukun tapi ia mengenakan alat-alat kedokteran macam stetoskop. Sore hari Tjip senang jalan-jalan ke alun-alun. Ia kadang2 menggunakan bendi-nya. Ia sengaja meledek peraturan yang bendi tidak boleh lewat depan keraton. Suatu saat bendinya lewat keraton Sunan Pakubuwono X sedang duduk-duduk, Sang Sunan langsung berdiri :"Siapa itu naik bendi" abdi dalemnya menjawab "Dokter Tjip, sinuwun"...Sunan langsung menggerutu "Woo Kurang ajar" tapi Sunan tidak mau berbuat apa-apa ia tau Tjip ini orang pintar dan Sunan suka dengan orang2 pintar ia kerap menyekolahkan abdi dalemnya untuk sekolah ke Batavia termasuk Purbatjaraka yang kelak jadi ahli bahasa Jawa kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi di rumahnya, Tjip membaca koran tentang wabah pes di Malang. Saat itu wabah pes sangat luar biasa. Penyakit ini disebabkan kutu tikus saat itu wabah ini susah ditangani karena sarana kesehatan dan alat kedokteran yang minim. Cara tradisional adalah membakar orang yang mati kena Pes dan juga membakar rumahnya. Tjip datang ke Malang dan ia mendengar tidak ada satu pun dokter yang berani ke Malang. Ia sendirian menantang maut. Orang yang terkena air liur dari penderita akan ketularan, Tjip berani bekerja tanpa masker. Suatu saat ia mendengar ada anak yang sakit parah dan ibunya sudah mati rumahnya di bakar. Tjip langsung membongkar rumah dan mencegah membakar, ia menggendong anak itu tanpa rasa takut dan dengan telaten mengobatinya. Tjip berhasil. Anak itu sudah yatim piatu dan kedua orang tuanya meninggal karena Pes. Tjip mengangkat anak ini dan memberi nama menjadi Pesyati. Sepanjang hidup Pesyati-lah yang merawat Tjip, Tuhan selalu memberikan hadiah perbuatan baik dibalas jauh lebih baik. Atas keberaniannya Tjip dihadiahi oleh pemerintah Belanda bintang jasa tertinggi yang bernama "Orde Van Oranje Nassau" atau kerap disebut "Ridderorde". Awalnya Tjip menerima tapi setelah ia tau ternyata Pemerintah hanya bisa omong doang, Tjip menaruh bintang jasa itu di pantatnya dengan bintang jasa di pantat ia ke Batavia wartawan banyak memotret dan membuat headline olok-olok untuk pemerintah "Seorang Jawa berani taruh hadiah raja di pantatnya" Pemerintah jelas marah, tapi tidak ambil tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1913 Tjip bersama Douwes Dekker dan Suwardi Surjaningrat (kelak bernama Ki Hadjar Dewantoro) mendirikan partai paling progresif "Indische Partij". Partai ini menjadi corong kuat melawan pemerintah Hindia Belanda. Tjip sendiri masuk jadi wartawan harian 'De Express' dan Majalah Tijdschrift milik Douwes Dekker. Suatu hari Suwardi menulis essay "andai aku orang belanda' sebuah essay satir yang bikin panas pemerintah Hindia Belanda. Saat itu Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pungutan besar-besaran bahwa mereka akan mengadakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda atas Spanyol. Ini sebuah ironi bagaimana bisa sebuah bangsa yang terjajah kok membuat sebuah perayaan yang justru dibiayai oleh penderitaan bangsa yang dijajah. Komite Perayaan Belanda dibuat tandingannya maka berkumpullah Tjipto, Douwes Dekker, Abdul Muis dari Sarekat Islam Medan dan wignjadisastra. Komite ini disebut 'Komite Tandingan' atas perayaan kemerdekaan yang ironis itu. Mereka memang merayakan kemerdekaan Belanda tapi akan memakai baju gembel, dan akan membawa gerobak berupa meja yang diselimuti kain hijau sebagai pralambang untuk 'tuntutan bumiputera berparlemen'. Kaum Bumiputera harus ada perwakilannya di pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruan saja aksi komite tandingan ini buat marah pemerintah. Tjip cs ditangkapi saat digiring ke penjara Tjip berteriak "Ayo kita nyanyikan lagu kebangsaan Republik Transvaal" teriak Tjip (Republik Traansvaal, adalah salah satu wilayah di Afrika Selatan yang kemudian menjadi merdeka dari pemerintahan Belanda- kemerdekaan Transvaal ini kerap menginspirasi perjuangan rakyat Indonesia di tahun belasan). Muis teriak "aku tak bisa nyanyi" .&lt;br /&gt;"Sudah kamu ikutin saja" kata Tjip sambil bersemangat menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjipto menikah dengan anak patih, tapi kemudian bercerai. Ia kemudian menikahi seorang wanita Belanda bernama Nyonya Vogel. Keponakan Nyonya Vogel ini Donald dan Luis diangkat jadi anak Tjipto. Tiga anak : Donald, Luis dan Pesyati akan ikut Tjip. Setelah keliling di beberapa tempat, Tjip tinggal di Bandung ia bekerja untuk rakyat, ia menuliskan plang di depan rumahnya 'Dokter Tjipto, dokter partikelir'. Rumahnya di Bandung ini tepatnya terletak di Tegallega. Pada tahun 1920, Tjip sering kedatangan tamu. Anak muda tampan dan berwajah sangat enak dilihat. Anak muda itu bernama Sukarno. Tjip tau anak ini adalah anak didik Tjokro. Sukarno pada awalnya berpandangan bahwa kemerdekaan bisa dilakukan dengan ide 'Pan Islamisme', Tjipto-lah yang menyadarkan Bung Karno. "Bangsa-bangsa sekarang berdiri didasarkan satu imajinasi, satu gagasan besar yaitu : Negara-Bangsa. Apa itu negara-bangsa, negara-bangsa itu kesadaran bersama satu masyarakat yang tinggal di daerah tertentu memiliki satu bahasa, satu pemerintahan dan satu tujuan. Kemerdekaan harus ditujukan pada 'bangsa' dan bukan 'agama'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1923 saat PKI mengadakan kongres. Foto Tjip terpampang bersama Karl Marx, Lenin dan Tan Malaka. Ini merupakan penghormatan besar PKI terhadap Tjip. Walaupun Tjip tidak pernah masuk jadi anggota PKI. Namun gara2 itu ia kena getahnya saat pemberontakan PKI 1926/1927, Tjip dituduh terlibat dan menghasut karena pernah memberikan dana 10 gulden kepada salah seorang kopral KNIL, ternyata Kopral KNIL itu bersama kawan-kawannya mau meledakkan gudang amunisi di Bandung. Tjip langsung diinterogasi, ditemukan daftar tamu2nya yang kebanyakan juga terlibat pemberontakan PKI. Gubernur Jenderal de jonge kalap luar biasa dan memerintahkan Tjip dibuang ke Banda Neira. Buru-buru kawan Tjip yang bernama Koch datang dan menanyakan pada Tjip :"Tjip, verteel me nou de waarheid" kata Koch sambil mengguncang bahu Tjip -Tjip katakan terus terang". Tapi Tjip tenang2 saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjip diantarkan ke stasiun tengah malam, namun Bung Karno sudah menunggu. Bung Karno adalah satu-satunya orang politik yang mengantarkan Tjip. Ia menciumi tangan Tjip sembari menangis. Tjip memegang bahu Bung Karno dan berkata "Ingat, No. Nasionalisme bukan Pan Islamisme" kata Tjip sambil menepuk-nepuk bahu Sukarno. Bung Karno yang saat itu baru saja mendirikan Partai Nasional Indonesia terus memegangi bahu Tjip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjip berangkat dengan keluarganya ke Banda Neira. Disana ia diawasi oleh Tuan W. C Ten Cate. Tuan Cate ini agak keterlaluan mengawasi Tjip. Setiap hari ia datang dan menggeledah rumah Tjip sampe-sampe telur pun diperiksa. Saat penggeledahan Tjip, Isterinya, Donald, Luis dan Pesjati diperintah naik ke peti. Mereka berdiri dipojokan dan melihat Belanda itu membongkar barang2 mereka, kegiatan itu berlangsung hampir tiap pagi. Tapi kemanusiaan selalu menemukan jalan pertemanan.Tuan Cate ini malah jadi sahabat Tjip. Mereka setiap hari pagi dan sore duduk di pantai dan bicara banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan Tjip memburuk. Setiap waktu mendengar kabar buruk tentang pergerakan nasional ia langsung sakit. Saat tau Sukarno ditahan dan banyak aktivis ditangkapin Tjip menangis sendirian di kamarnya. Donald dan Luis takut saja "Oom Tjip selalu begitu, bila mendengar kabar buruk perdjoangan di Djawa" kata Donald dalam salah satu memoarnya tentang Tjip. Andai tak datang Sjahrir dan Hatta ke Banda mungkin Tjip sudah lama mati. Ia tidak ada teman bicara. Hatta dan Sjahrir memperpanjang usia Tjip karena ada teman bicara yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Djepang masuk Tjip dibawa pulang ke Djakarta. Awalnya ia mau diangkut ke Australia tapi dia menolak "Bila rakyat Indonesia hancur oleh Djepang, biarlah aku mati bersamanya" pesan Tjip pada perwira Belanda yang akan mengirim Tjip ke Australia. Tjip yang sakit paru-paru itu dengan pipi peot dan lubang (dekok) yang dalam antara jidat di dekat batang hidungnya makin besar. Tapi Tjip berusaha gembira ia berbicara filsafat dengan rasa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di Djawa awalnya Tjip dibawa ke Sukabumi karena disana udaranya bersih, tapi kesehatan Tjip menurun. Dia kemudian dibawa ke Djakarta. Disana ia sering berteriak kesakitan saat itu di Jaman Jepang obat sangat langka sekali. Tjip berteriak minta disuntik adrenalin, tapi Donald dan Bu Tjip tidak punya uang. Luis sampai menangis di depan teras rumah mendengar Oom-nya berteriak kesakitan. Donald akhirnya bersama Pesjati nekat memberikan ampul berisi air untuk menyuntik Tjip sebagai sugesti. Akhirnya seorang dokter yang bernama dokter Loe Ping Kian, menyarankan donald untuk membawa Oom-nya ke Rumah Sakit Jang Seng Ie (Sekarang Rumah Sakit Husada di Jalan Mangga Besar). Dokter Tjip tak kuat menahan sakit disana dan ia wafat dalam keadaan sengsara. Donald, Luis, Pesjati dan Bu Tjip menangis meraung-raung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kisah Dokter Ciptomangunkusumo, penggagas Indonesia Raya, orang yang menyadarkan Bung Karno tentang arti sebuah bangsa. Dia rela hidup susah demi rakyat. Apabila ada dokter sekarang yang memeras pasien dengan obat mahal padahal ada obat murah, yang mempermainkan pasien, pasien masuk Rumah Sakit sampai jual harta benda tapi dokternya gonta ganti mobil. Lihatlah pada kisah Dokter Tjip ini. Seorang dokter adalah pejuang kemanusiaan, bukan pejuang harta benda. Bila dokter bersikap materialistis dalam melaksanakan tugasnya. percayalah dia adalah sampah masyarakat. Pada Cipto kita banyak belajar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2310196475830196521?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2310196475830196521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2310196475830196521' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2310196475830196521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2310196475830196521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/kisah-onze-tjip.html' title='Kisah Onze Tjip'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lEyGmnRD4F8/TtzkcIU0SmI/AAAAAAAAA54/eTHEOh-9QKk/s72-c/Onze%2BTjip.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-3933042978139189371</id><published>2011-12-04T23:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T23:36:45.313-08:00</updated><title type='text'>Cerita Masa Muda John Lennon</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yGpIWpPRypw/TtxylSCwJmI/AAAAAAAAA5s/u4XgJktHNKs/s1600/Quarrymen.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 255px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yGpIWpPRypw/TtxylSCwJmI/AAAAAAAAA5s/u4XgJktHNKs/s400/Quarrymen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682542814658831970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gambar Atas :&lt;br /&gt;John Lennon manggung pertama kali dengan band-nya Quarrymen di Halaman Belakang Gereja St. Paul, distrik Woolton 6 July 1967&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang nonton anak-anak kecil dan menjadi sore yang menyenangkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;karena di saat itulah selesai manggung John Lennon berkenalan dengan Paul MacCartney&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Tentang Masa Muda John Lennon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Lennon adalah salah satu, -bila tidak bisa dikatakan nomor satu- musisi yang meletakkan musik dunia ke era-nya yang baru, musisi yang dapat membentuk musik menjadi sesuatu yang hidup, ceria, lebih aktif dan membebaskan segala pakem-pakem bentuk nada dan nyanyian. John Lennon juga merupakan penyanyi yang selalu “berlagu dengan hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap karya-karya besar selalu dihasilkan dari manusia yang sedih” begitulah mungkin yang juga terjadi pada John Lennon. Hidupnya adalah rangkaian tragedi demi tragedi, tertawa sejenak, gembira sejenak lalu murung. John Lennon mirip cuaca Inggris yang selalu kelabu tapi dia mampu menghasilkan kekuatan raksasa yang menggerakkan manusia seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Lennon lahir dari dunia yang terpisahkan, dunia ayah dan ibu yang berjarak. Dari situasi kota yang berantakan. Pada malam kelam 9 Oktober 1940, udara Inggris dipenuhi pesawat-pesawat Jerman Nazi membombardir kota Liverpool, gedung-gedung meledak dan terbakar. Kota Liverpool bertahan hidup, sementara disatu tempat Ibu John Lennon, Julia Stanley bertarung nyawa melahirkan John ke dunia, ia berada di bawah ruang bawah tanah sebuah rumah sakit yang berisi ratusan orang pengungsi, hanya ada dua perawat disana. Seorang dokter umum mondar-mondir mengurus mereka yang luka. Barulah ketika detik-detik melahirkan tiba datang seorang dokter ahli kandungan, Julia melahirkan dengan selamat. Seorang pembaharu musik dunia lahir..............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja disana tak ada Alfred Lennon, suami Julia yang bisa memegang tangan Julia disampingnya. Alfred sedang berada di dunia yang jauh, ia seorang pelaut. Hubungan Alfred dan Julia juga pada titik yang buruk, Alfred tak mampu menjadi seorang romantis yang dulu lagi, ia tak lagi menyenangkan, bermain banjo dan merayu Julia seperti sebelum menikah. Alfred sudah tak peduli pada Julia. Tapi Alfred tahu ia bakalan punya anak dari Julia. –Alfred menuliskan sebuah surat kepada Julia, berilah nama anak itu sesuatu yang mengagumkan, agar dirinya kelak jadi orang yang mampu bertahan hidup-. Dan Julia menamakan anaknya yang baru lahir “John Winston Lennon”. Nama tengah Winston diambil dari nama Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill seorang Pemimpin Inggris yang mati-matian berdiri menghadapi gempuran Jerman pada masa Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya John Lennon kecil membuat Julia senang, ia selalu menggendong John, membawanya kemana-mana, ia mendudukkan John ke dalam sebuah bangku kayu yang dirakit sebagai tempat duduk bayi. Lalu menaruhnya di pojok ruangan, di umur 2 tahun John Lennon selalu menarik perhatian pengunjung restoran kecil tempat dimana Julia bekerja sebagai pelayan. Banyak pengunjung menarik-narik pipi John dan mengelus-elus bayi dengan rambut pirang yang manis itu, dan John kecil selalu mengangguk-angguk seperti mengucapkan kata terima kasih, atau bilang sendiri “Thank You”. “Semasa bayi John memang anak yang tampan” kenang Mimi bibinya yang kelak mengasuh John hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat di sore yang hujan datanglah pengunjung bernama John Dykins. Julia tertarik dengan Dykins yang selalu tertawa, bercanda dan mengeluarkan joke-joke lucu. Dykins berkenalan dengan Julia dan sontak mereka langsung akrab. –Sementara di sisi batin yang lain hati Julia terhadap Alfred mulai kosong, Alfred tak lagi mengiriminya surat, alfred tak lagi mempertanyakan anaknya bagaimana, Alfred berkelana dari satu tempat ke tempat lain tanpa lihat anaknya. Julia merasa Alfred sudah berada di sisi yang jauh, tapi ia terikat pada perkawinan dengan Alfred, dan Dykins sudah menggoda hatinya. Julia melawan tatanan kehidupan, ia hidup dengan Dykins sementara statusnya masih menikah dengan Alfred. John Lennon kecil tumbuh dalam situasi konflik seperti ini, - dan sebagian besar manusia, alam bawah sadarnya selalu dipengaruhi masa-masa sebelum umur 5 tahun, suasanan konflik inilah yang kelak menghasilkan John sebagai manusia yang murung’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia dan Dykins tinggal satu rumah di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Liverpool. Mimi kakak Julia yang mendengar Julia tinggal di tempat Dykins marah besar, ia memarahi adiknya dan meminta Lennon dididik oleh Mimi. “Julia, kamu tahu satu orang kota ini membicarakanmu... aku nggak mau John hidup lewat keadaan seperti ini, aku nggak mau dia besar dari pembicaraan-pembicaraan yang buruk tentang kamu, sudahlah John saya bawa pulang dan saya besarkan dia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia setuju dan menyerahkan John kecil ke Mimi. Lalu Mimi keluar dan menggendong John, John bertanya pada bibinya “Mau dibawa kemana saya, Bibi Mimi” Bibi Mimi menjawab singkat “Ke rumah tempat kamu besar nanti” – Mimi masih ingat saat itu mata John kecil seperti memandang jauh, ia sedih melihat keponakannya menjadi murung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John tumbuh di rumah Mimi. Setahun setelah perang selesai sekitar tahun 1946, Alfred datang ke kota Liverpool dan mendengar berita-berita buruk tentang hidup serumah-nya Julia dengan Dykins. Alfred tau dia yang salah, tapi ia hanya ingin lihat anaknya. Alfred dapat kabar dari kawannya bahwa John tinggal bersama Mimi, kakak Julia. Di satu pagi Alfred mengetuk pintu rumah Mimi “Hai, Mimi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow, Alfred...” seru Mimi. Lalu Mimi memanggil John yang sudah berumur 6 tahun. “John kemari, lihat siapa yang datang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bibi?” kata John bingung. Alfred menatap mata John dengan menangis, ia melihat wajah anaknya sendiri. “John ini Papa-mu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa” kata John sambil bingung. “Ya Papamu”..... lalu John dipeluk Alfred dan digendongnya. “John kamu sudah besar sekarang...” John Lennon tertawa dan berkata “Papa...Papa..Kapan papa datang?” Alfred membuka tas besarnya dan membuka sebuah kotak yang berisi miniatur kapal layar. “Ini untukmu”. Kelak miniatur kapal layar itulah yang sering menjadi ingatan-ingatan kelam John Lennon di masa dewasa, sebuah “gagasan terhadap kesedihan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alfred membawa John ke tempat bilyard, lalu membawanya keliling kota Liverpool. Malamnya John dikembalikan ke Mimi. “Mimi, besok aku mau bawa Alfred ke Blackpool untuk liburan. Mimi hanya mengangguk “Bawalah, Al...nanti aku bilang ke Julia, toh John adalah anakmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar John Lennon dibawa Alfred ke Blackpool, Julia gelisah ia marah-marah dengan Mimi bahkan ribut besar di halaman rumah. “Aku menitipkan John padamu bukan berarti kamu serahkan John ke Alfred” teriak Julia. Mimi menyahut “Hei, Julia...Alfred itu ayah dari John, ia berhak dan kau memang masih isteri Alfred bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia dan Dykins akhirnya mencari John dan Alfred ke Blackpool, di sebuah perempatan kota dekat kantin yang sepi, Julia melihat Alfred dan John masuk ke kantin. “Itu Alfred” teriak Julia. Lantas Julia masuk ke kantin dan menarik tangan Alfred “Dimana kamu saat aku melahirkan anak ini, dimana kamu saat aku merindukanmu dan ingin kamu melihat anak ini, dimana kamu saat aku merasa kamu harus ada? Dimana kamu saat anak ini bertanya siapa bapaknya?” teriak Julia. Alfred hanya diam saja ia tak melawan. Tapi ketika Julia menarik tangan John, Alfred menepis tangan Julia. “Hai, ini anakku!!”.....Julia berusaha memukul Alfred tapi kemudian Dykins memisahkan. Dengan tenang Dykins berkata “Sudahlah Alfred, Julia kita tentukan sendiri dari anak ini, dia mau ikutnya dengan siapa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, John kamu mau ikut siapa?” tanya Dykins. John diam saja kelopak matanya tergenang air mata, ia menangis tapi suara isaknya tertahan. John ingin ikut kedua orang tuanya, tapi pikiran anak kecil tak mungkin mampu memahami dunia orang dewasa yang perceraiannya kerap menghancurkan hati anak-anak seusia dia. John menunjuk ke Papa-nya “Aku ikut Papa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke” jawab Dykins. “Nah, Alfred bawalah John” Lalu Alfred menggandeng John Lennon keluar kantin, tapi sampai jarak 10 meter John Lennon berteriak menangis dan melihat wajah ibunya, ia kembali dan berlari memeluk ibunya. Alfred hanya melihat adegan itu, ia merasa bersalah dan tanpa menoleh ia meninggalkan John Lennon dan Julia. Sore itu di Blackpool, Alfred telah kehilangan keluarga yang dilahirkannya dari rasa tak peduli. “Aku mencintai anakku, tapi aku harus menghadapi kegetiran luar biasa” kenang Alfred kelak di buku memoarnya saat menceritakan John Lennon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia membawa John Lennon ke rumah Mimi. “Nah, Mimi ini John jaga baik-baik, aku lebih percaya John kau besarkan ketimbang ia harus hidup dengan Alfred”. Mimi diam saja dan menarik tangan John, Mimi tidak suka lihat wajah Dykins. – “Ada satu kehendak besar dalam diriku : ingin mengembalikan Julia ke Alfred dan mereka hidup dalam keluarga bahagia, tapi dunia bukan selalu yang kita inginkan bukan?” kelak cerita Mimi dalam memoarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah Bibi Mimi, John tumbuh. Ia belajar mengenal dunia. Suatu sore John datang ke apartemen Dykins. John melihat Dykins bermain Banjo dan Ibunya memainkan piano. John meminta diajarkan gimana caranya memetik banjo. Dykins mengajarinya sebentar lalu ia merasa anak ini punya insting luar biasa dalam memetik gitar. Hanya dalam 10 menit John mampu memainkan nada-nada sulit, biasanya pemain banjo belajar ini bisa tiga hari. “John anak yang cerdas” kata Dykins kepada Julia suatu saat ketika John pulang dari Apartemennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia menatap Dykins. “Ya” kata Julia singkat. “Besok aku mau ke toko belikan John sebuah gitar, tapi bilanglah pada John itu hadiah dari kamu” kata Dykins dengan mata sendu. Perhatian Dykins inilah yang membuat Julia jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat John Lennon datang ke apartemen Dykins, saat itu Dykins tidak berada di rumah. Hanya saja John melihat sebuah gitar baru yang masih terbungkus. “For My Son John Winston Lennon” tulisan di dalam bungkusan itu. Julia tertawa saat John melihat-lihat gitar itu “John membuka gitar dengan wajah bukan main gembiranya, matanya berbinar-binar” ...”Mam ini untuk aku?” tanya John sampai tiga kali. Belum pernah Julia melihat mata John sesenang itu, ia menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap hari John belajar main gitar, guru pertamanya adalah Dykins. Lalu John diajari juga dengan beberapa anak tetangganya. Di satu sudut di kafe kota Liverpool John suka memperhatikan pemain gitar memainkan gitarnya, matanya memperhatikan arah gerak jari-jari itu. John melihat ada titik-titik nada sederhana tapi sangat sulit bila dimainkan, akhirnya John berpikir disitulah letak indahnya sebuah lagu, nada mudah yang sesungguhnya dimainkan amat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap detik yang dibawa John adalah gitar, ia seperti pengamen muda yang kesana kemari nggak jelas, ia berhari-hari memainkan nada-nada di satu sudut bangku kota, melihat sore sambil memainkan gitar, menggoda wanita sambil memainkan gitar, menyapa teman-temannya sambil metik senar gitar. Semuanya dilakukan dengan senang, ini diperhatikan oleh Mimi, berkali-kali Mimi menyindir tingkah John yang aneh ini. Suatu saat ketika John mainkan gitar di beranda rumahnya dan memamerkan kemampuan nyanyi lagu “My Bonnie” Mimi senang bukan main keponakannya bisa memainkan gitar dengan mahir, tapi kemudian ia menyahut “Gitar memang oke John, tapi kamu nggak bisa hidup dari situ”. John tertawa saja, tapi kata-kata ini selalu diingat. Kelak di saat puncak kejayaannya, John Lennon menghadiahi gitar emas kepada Mimi dengan tulisan “Gitar memang Oke, John. Tapi kamu nggak bisa hidup dari situ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Di satu senja yang cerah. John Lennon dengan gitarnya sedang berjalan ke arah rumah Mimi, ia melihat dari kejauhan ibunya Julia sedang menyeberang jalan – Julia ingin ke rumah Mimi juga. Tapi dari arah jalan ada sebuah mobil yang sembarangan nyetirnya. Dan mobil ini menabrak mati Mimi. John melihat dengan tragis ibunya terbunuh di pinggir jalan, ia berlari ke arah insiden itu, ia berlari kencang, ia menerobos kerumunan orang dan ia menangis berteriak “Mamaaaaa....Mamaaaaaaa...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fbPhotosPhotoCaption" tabindex="0" live="polite" id="fbPhotoPageCaption"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;..” seluruh kenangan atas mamanya dari masa ia kecil sampai terakhir menjadi rekaman di masa-masa buruk bagi John Lennon. Ia menangis sejadi-jadinya. John mengangkat kepala Julia dan memeluknya lalu berkata singkat “Mama”........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penabrak Julia adalah seorang Polisi kota Liverpool. Rupanya polisi itu sedang mabuk, namun polisi itu bebas dari segala tuntutan. John marah bukan main, kenapa orang seperti Julia yang tak punya kekuasaan bisa mati oleh orang yang seharusnya melindungi warga seperti Julia bahkan lolos dari tuntutan hukuman. Seumur hidup John akhirnya antipati dengan kekuasaan, ia membenci negara dan perangkatnya. John menganggap negara adalah kekuasaan yang tak butuh untuk mengerti ketika manusia-manusia di dalamnya dibunuh oleh kekuasaan itu sendiri. John mengangkat wajah menentang kebiadaban atas nama negara, kelak demonstrasi-demonstrasi besar di Amerika Serikat menentang negara di dominasi oleh pengaruh Lennon, dan ingatan akan Julia ini yang membuat John Lennon bikin lagu paling legendaris di dunia : IMAGINE...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Lennon adalah jenis manusia yang melompat-lompat dari rasa murung ke rasa gembira yang aneh. Ia adalah badut kelas paling lucu, ia pelawak di kelas, ia tak pernah memperhatikan pelajaran, yang dikerjakannya adalah melukis kartun dengan gambar guru-gurunya, ia juga sering menirukan aksen gurunya. Suatu hal yang paling diingat kawan-kawan sekelasnya di waktu sekolah adalah kesenangan John Lennon ikut-ikutan gaya Elvis Presley dengan menjingkrak-jingkrakkan kakinya kaku seperti tarian Presley, . Dengan menggunakan pensil tebal untuk make up, John bercanda membuat cambang Presley di dua belah pipinya dan berlagu dengan suara bariton menirukan Elvis Presley, masa-masa menjadi Elvis Wannabe adalah masa ia melihat dunia sebagai sebuah becandaan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John bersekolah di “Quarry Bank Grammar School” pada pertengahan tahun 1950-an sedang rame-ramenya musik Skiffle – musik ini menggunakan alat-alat rumah tangga sebagai instrumennya-. John bikin band namanya “Quarrymen” akhirnya John mau manggung pada tanggal 6 Juli 1957. Kabar ini dibawa oleh kawan sekelas John, Ivan Vaughan yang amat mengagumi John Lennon. Ivan Vaughan punya tetangga bernama Paul McCartney, kalau mau ke tempat MacCartney di samping rumahnya Ivan selalu bangga menceritakan kehebatan John bermain gitar. Pernah suatu saat Ivan melihat Paul memainkan gitar, Ivan cuman berkata singkat “Ah, kalo cuman nada begituan John Lennon metik pake kaki bisa” kata Ivan. Bualan Ivan inilah yang buat Paul pengen sekali lihat John memainkan gitarnya. Lalu Ivan membawa selebaran kabar The Quarrymen akan manggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul dan Ivan datang ke pertunjukan yang diadakan di belakang halaman gereja St. John Woolton. Saat memainkan musiknya, Paul terkagum-kagum dan ia bengong maut saat melihat John Lennon memetikkan gitar pada nada-nada sulit dimana ia sendiri tak bisa memecahkan. “Ivan, ternyata kamu nggak membual” kata Paul pelan pada Ivan. Temannya itu hanya tertawa. Selesai manggung Ivan ngejar John Lennon. “Hei, John aku mau kenalin temenku” kata Ivan dengan wajah sumringah, John melihat sekilas wajah Ivan, “Oh ya” kata John Lennon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paul MacCartney” tanpa diminta Paul mengenalkan diri. “John Lennon” kata John membalasnya dengan singkat. –Akhirnya sore itu menjadi saksi mulainya persahabatan mereka sekaligus sebuah awal yang akan menggetarkan panggung musik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul MacCartney bergabung dengan Quarrymen. Sejak Paul bergabung dengan John, ia jadi amat dekat. Paul dan John seperti nama yang tak terpisahkan, ia satu nafas. Jika awalnya John selalu melihat berlalunya matahari sore di udara kota Liverpool sendirian dengan gitar hadiah Mama-nya, maka John kini ditemani Paul. Mereka berdua sering duduk di bangku taman sudut kota atau di halaman belakang gereja, mereka berdua sering mencorat coret lagu. John kerap datang ke rumah Paul dan bermain gitar di kamar Paul. Ayah Paul amat menyenangi John Lennon, Paul anak dari kelas menengah kota. Di Liverpool perbedaan kelas karena status sosial amat teras, inilah yang membuat Mimi agak kurang suka John bergaul dengan Paul, “John, Paul itu anak orang kaya...ia bukan kelas yang sama dengan kita, kaum buruh” tapi John hanya tertawa saja. Bagi John manusia tetaplah manusia, ia hadir dalam hidup dinilai dari kebersamaannya bukan apa yang ia punya. John melihat manusia dalam keadaan yang tak melihat rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu siang Paul memanggil John, “Hei John aku mau ngenalin kamu sama temenku, dia satu tahun dibawah kita, namanya George” John cuek saja. Sorenya di sebuah halte bis mereka menunggu George Harrison. John Lennon menyalami George, lalu mereka pergi ke sebuah tempat dan naik bis. Di Bis itu Paul meminta George memainkan gitarnya. “Coba George mainkan gitarmu” kata Paul. Lalu George mainkan gitarnya. John meremehkan aksi George tapi ia tak berkomentar, matanya hanya melirik sebentar ke arah George. Paul paham John adalah orang yang pesimis, hanya dia yang bisa melunakkan hati John. “John, George bisa gabung ke Quarrymen?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah kamu” kata John. “Tapi apa umurnya nggak kemudaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya George Harrison bergabung dengan Quarrymen, formasi Quarrymen berubah-ubah terus. Sampai pada satu saat Paul meminta John agar Quarrymen punya manajer. Kebetulan ada tetangga Lennon yang lumayan banyak link ke cafe-cafe, namanya Allan Williams. Lalu Allan Williams menjadi manajer Quarrymen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari Allan Williams jadi manajer, band Quarrymen menandatangani kontrak di Hamburg Jerman Barat. Saat itu Hamburg berada di bawah penguasaan pasukan Amerika Serikat akibat perjanjian politik “Pecah Jerman Bagi Empat” oleh negara pemenang perang yaitu sekutu : Inggris, Perancis, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Banyak tentara Amerika Serikat yang mencari hiburan di cafe-cafe Jerman Barat dan hanya ingin mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya ke Hamburg, John mencoret-coret kertas dan kemudian ia merenung akhirnya ia menemukan sebuah nama The Beatles. Akhirnya Quarrymen diganti nama menjadi The Beatles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamburg jadi kota yang ramai, banyak musisi dari Eropa, Amerika Serikat dan Australia datang menguji nasib di kota ini. The Beatles hanya mendapatkan kesempatan manggung di sebuah kafe kecil. Saat itu formasi Beatles : John Lennon, Paul MacCartney, Stuart Suttcliffe, Pete Best dan George Harrison. Sehabis manggung John Lennon menonton musisi lain, di satu tempat ada musisi yang amat digemari Paul dan John di Hamburg namanya The Tielman Brothers, pimpinan Andy Tielman. John suka dengan nada-nada yang dimainkan The Tielman Brothers, lalu Paul menjadi pengagumnya, Paul berusaha mendekat Andy Tielman, hampir tiap malam Paul dan John melihat The Tielman Brothers manggung. The Tielman Brothers adalah band asal Belanda yang anggotanya adalah keturunan Indonesia-Flores, di tahun 1948 semasa anak-anak Tielman masih kecil mereka pernah manggung di depan Presiden Sukarno di Istana Yogyakarta. Tielman sendiri keturunan Jawa Timur dan Flores. Andy selalu menganggap dirinya ‘wong jowo’. Andy akhirnya berkenalan dengan John dan Paul. Di salah satu memoarnya Paul menyebut “Musik Indo (maksudnya Indonesia) amat berpengaruh pada kami, berkat Andy Tielman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di cafe Hamburg yang kotor, mereka akhirnya kembali ke Inggris, mereka dapat kontrak manggung di Club Carvern. Di Klab inilah nama The Beatles mulai dikenal. Banyak orang Liverpool suka dengan cara grup ini bermain musik. Mereka gembira saat John Lennon dengan Beatles-nya menghentak-hentakkan lagu. Suatu saat datang Tony Sheridan. Tony datang dan menemukan John Lennon, ia berkata “John kita rekam lagu kamu dan saya” akhirnya John mau ajakan Tony Sheridan lalu direkamlah lagu “My Bonnie”. Tony Sheridan ini waktu di Hamburg sering kolaborasi dengan The Beatles, tercatat Tony Sheridan dan Billy Preston adalah dua penyanyi non Beatles yang kerap berkolaborasi dengan Beatles di jam-jam pertama Beatles terbentuk. Lalu Sheridan menyanyi lagu “My Bonnie” dengan iringan Beatles. Lagu ini digemari luar biasa, rekamannya dicari-cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah toko musik bernama NEM’S di pusat kota Liverpool beberapa orang mencarikan lagu rekaman ini, Brian Epstein pemilik toko berulang kali bingung “My Bonnie” dengan Tony Sheridan dan Beatles itu siapa? Lalu Brian Epstein cari tau siapa sesungguhnya The Beatles. Ia lalu mendapatkan informasi bahwa Beatles manggung di Cavern, malamnya Brian mendengarkan mereka Beatles bernyanyi : Brian Epstein terpesona atas lagu-lagu yang dinyanyikan The Beatles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Brian menawarkan Beatles rekaman, tape rekaman itu kemudian disebarkan ke studio-studio rekaman, demo itu banyak ditolak studio rekaman besar termasuk Decca Records, - Semuanya menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Brian duduk di sebuah kafe, siang itu udara London amat panas. Ia meneguk coca cola dingin. Tak lama datang seseorang yang rupanya ia kenal tapi ia agak lupa. Orang itu memesan segelas vodka. Orang itu juga memandang Brian dan mengangguk, lalu orang itu bertanya pada Brian :”Anda pemilik toko kaset itu kan?” lalu Brian mengangguk. “Oh ya.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda pelanggan saya” teriak Brian senang. “Ya saya George Martin” rupanya George Martin sekarang berprofesi sebagai produser. Brian bercerita soal Beatles, lalu George setuju “datanglah ke Studio rekaman EMI Records” kita uji mereka. Lalu Beatles datang dan memainkan lagu-lagu, George hanya melihat sejenak dan berkata singkat “Oke kita ganti pemain drum-nya Pete Best dengan orang yang saya kenal Ringo Starr”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Single Love Me Do dan Please, Please Me akhirnya menjadi single pertama Beatles yang mengubah wajah dunia musik dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-3933042978139189371?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/3933042978139189371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=3933042978139189371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3933042978139189371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3933042978139189371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/cerita-masa-muda-john-lennon.html' title='Cerita Masa Muda John Lennon'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-yGpIWpPRypw/TtxylSCwJmI/AAAAAAAAA5s/u4XgJktHNKs/s72-c/Quarrymen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-3787920071150407242</id><published>2011-12-03T23:25:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T23:27:53.310-08:00</updated><title type='text'>Negeriku Cantik Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-YLCJ3qFToYE/Ttsgwzkm7pI/AAAAAAAAA5g/A1rdnIk82I0/s1600/pemandangan%2Balam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-YLCJ3qFToYE/Ttsgwzkm7pI/AAAAAAAAA5g/A1rdnIk82I0/s400/pemandangan%2Balam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682171377707576978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia ini tanah yang cantik, dari ujung pelabuhan Sabang sampai dengan Dasar laut di Raja Ampat, dari gunung bukit barisan, sampai Tanah Merah Irian Barat, kita ini bangsa yang tak perlu merusak alam dengan menggaruk tanah untuk batubara, merusak unsur hara tanah untuk kebun-kebun kelapa sawit, mengirim anak-anak bangsa ini ke luar negeri untuk jadi TKI atau TKW domestik yang kemudian kerap di&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;lecehkan, cukup dengan jual keindahahan alam, kita bangun jaringan keindahan-keindahan itu dari pelabuhan Sabang sampai Laut Aru, semua alam kita indah.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Kita ciptakan sorga di muka bumi, tanah hijau, penduduknya yang senang tertawa. Bohong besar dengan industrialis yang menghancurkan pertanian-pertanian rakyat, jangan malu kita jadi bangsa petani dan bangsa nelayan, karena kelak dunia akan bergantung pada pangan, karena kelak dunia bergantung pada sumber-sumber air bersih, karena kelak dunia akan bergantung pada kebutuhan energi terbarukan seperti sinar matahari : Kitalah pemilik sumber-sumber semua itu.&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Cukup gunakan keindahan alam, turisme dan pangan sebagai alat modal kita tanpa kita harus merusak alam, membunuhi orang-orang utan, menghancurkan kelestarian tanah dan rimba. Kitalah pemilik masa depan, tinggalkan doktrin Suhartorian dan anak didiknya kaum Neoliberalisme yang ingin merusak pasar-pasar rakyat kita, kita kembangkan budaya sendiri, pasar sendiri, pendidikan gratis untuk semua orang, kesehatan yang murah. Dengan biaya negara kita didik sejuta dokter gratis, produksi sebanyak-banyaknya klinik-klinik kesehatan gratis, kantong-kantong kapitalis cukup diberikan pada tempat-tempat tertentu : Batam, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Makassar. Diluar wilayah kantong kapitalis berlakukan sistem sosialis, biarlah wilayah Sosialisme Indonesia mengepung kantong-kantong kapitalis itu. Berlakukan Ekonomi Gotong Royong. Seperti apa yang dipesankan Bung Hatta pada kita : Ekonomi yang menciptakan kesejahteraan bersama, membagi kebahagiaan bersama, ekonomi dimana yang satu tidak menindas yang lainnya dengan modal besar melawan modal kecil. Pada akhirnya ekonomi yang baik adalah ekonomi yang menumbuhkan kemanusiaan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-3787920071150407242?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/3787920071150407242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=3787920071150407242' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3787920071150407242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3787920071150407242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/negeriku-cantik-indonesia.html' title='Negeriku Cantik Indonesia'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-YLCJ3qFToYE/Ttsgwzkm7pI/AAAAAAAAA5g/A1rdnIk82I0/s72-c/pemandangan%2Balam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2356098325707949822</id><published>2011-12-03T21:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T21:10:51.090-08:00</updated><title type='text'>Catatan Lisa Pease Tentang Freeport</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-g3e-c4UaJgg/TtsATNPSZrI/AAAAAAAAA5U/jPDR0m42JMQ/s1600/freeport.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-g3e-c4UaJgg/TtsATNPSZrI/AAAAAAAAA5U/jPDR0m42JMQ/s400/freeport.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682135684829308594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lisa Pease menulis artikel berjudul “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport” dan dimuat dalam majalah Probe. Tulisan bagus ini disimpan di dalam National Archive di Washington DC. Dalam artikelnya, Lisa Pease menulis jika dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya. Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada di sekujur Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata. Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Piminan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut. Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat. Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat. Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut. Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan! Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kenndey merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil siap yang bertolak-belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport. Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Augustus C. Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital NY di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA. Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pimpinan Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial. Pease mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend. Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya. Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi 1 Oktober 1965, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengeksplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport? Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasionil mereka. Sebab itulah, ketika ketika UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia. Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport menggandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978. Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A. Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki depost terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar. Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar pon dan emas sebesar 52,1 juta ons. Nilai jualnya 77 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia. Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru di mana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan langsung mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. “Perampokan legal” ini masih terjadi sampai sekarang. Kisah Freeport merupakan salah satu dari banyak sekali kisah sedih tentang bagaimana kekayaan alam Indonesia, oleh para penguasanya malah digadaikan bulat-bulat untuk dirampok imperialisme asing, demi memperkaya diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Kenyataan memilukan ini masih berlangsung sampai sekarang. Pertemuan Mafia Berkeley dengan Rockefeller dan kawan-kawannya di Jenewa-Swiss di bulan November 1967 menjadi bukti tak terbantahkan tentang permufakatan tersebut. Di saat itulah, rezim Jenderal Soeharto mencabut kemerdekaan negeri ini dan menjadikan Indonesia kembali sebagai negeri terjajah. Ironisnya, penjajahan asing atas Indonesia diteruskan oleh rezim yang tengah berkuasa saat ini yang ternyata “jauh lebih edan” ketimbang Jenderal Soeharto dulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2356098325707949822?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2356098325707949822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2356098325707949822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2356098325707949822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2356098325707949822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/catatan-lisa-pease-tentang-freeport.html' title='Catatan Lisa Pease Tentang Freeport'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-g3e-c4UaJgg/TtsATNPSZrI/AAAAAAAAA5U/jPDR0m42JMQ/s72-c/freeport.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-5750678432426697406</id><published>2011-12-03T20:23:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T20:44:49.102-08:00</updated><title type='text'>JFK, Indonesia, CIA and Freeport Sulphur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-oGKYMRq9JNc/Ttr5qWrknLI/AAAAAAAAA5I/53sXUR7hD38/s1600/JFK%2BJohnson.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 258px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-oGKYMRq9JNc/Ttr5qWrknLI/AAAAAAAAA5I/53sXUR7hD38/s400/JFK%2BJohnson.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682128385919458482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(J.F Kennedy, Soekarno and Lyndon B.Johnson)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 align="center"&gt;JFK, Indonesia,&lt;br /&gt;CIA &amp;amp; Freeport Sulphur&lt;/h1&gt;&lt;h4 align="center"&gt;by Lisa Pease&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;What is Past is Prologue&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inscribed on the National Archives, Washington, D.C&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In Part One of this article (&lt;em&gt;Probe&lt;/em&gt;, March-April, 1996) we talked about the early years of Freeport up through the Cuban takeover of their potentially lucrative mine at Moa Bay, as well as their run-in with President Kennedy over the issue of stockpiling. But the biggest conflict that Freeport Sulphur would face was over the country housing the world's single largest gold reserve and third largest copper reserve: Indonesia. To understand the recent (March, 1996) riots at the Freeport plant, we need to go to the roots of this venture to show how things might have been very different had Kennedy lived to implement his plans for Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Indonesia Backstory&lt;/h4&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia had been discovered by the Dutch at the end of the 1500s. During the early 1600s they were dominated by the Dutch East Indies Company, a private concern, for nearly 200 years. In 1798, authority over Indonesia was transferred to the Netherlands, which retained dominion over this fifth largest country in the world until 1941, at which time the Japanese moved in during the course of World War II. By 1945 Japan was defeated in Indonesia and Achmed Sukarno and Mohammad Hatta rose to become President and Vice President of the newly independent Indonesia. But within a month of the Sukarno/Hatta proclamation of independence, British army units began landing in Jakarta to help the Dutch restore colonial rule. Four years of fighting ensued. In 1949, the Dutch officially ceded sovereignty back to Indonesia, with the exception of one key area - that of a hotspot which is now known as Irian Jaya or, depending on who you talk to, West Papua.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Authors Gerard Colby and Charlotte Dennett, in their book &lt;em&gt;Thy Will Be Done&lt;/em&gt;, explain the situation in what was then called Dutch New Guinea:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;p&gt;To Westerners, New Guinea was like a gifted child pulled in opposite directions by covetous guardians. The Dutch clung to the western half as the sole remnant of their once-vast East Indies empire. Their longtime British allies, acting through Australia, controlled the eastern half. Neighboring Indonesians, on the other hand, thought that all New Guinea was part of their national territory, even if it was still colonized by Europeans.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dutch New Guinea, or West Irian as the Indonesians called it, was populated by native tribes not far removed from a stone age culture, such as the Danis and the Amungme. When Indonesia fought to claim independence from the Dutch, West Irian became a symbol for both sides that neither wanted to relinquish. It would take the efforts of President Kennedy to eventually pass control of this area to the newly independent Indonesians, removing the last vestiges of Dutch colonialism.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia experienced various types of government. When Sukarno first rose to power in 1945, foreigners pointed out that Sukarno's rule appeared "fascistic," since he held sole control over so much of the government. Bowing to foreign pressure to appear more democratic, Indonesia instituted a parliamentary system of rule and opened the government to a multiparty system. Sukarno related what followed to his biographer (now cable gossip show host) Cindy Adams:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;In a nation previously denied political activities, the results were immediate. Over 40 dissimilar parties sprang up. So terrified were we of being labeled "a Japanese-sponsored Fascistic dictatorship" that single individuals forming splinter organizations were tolerated as "mouthpieces of democracy." Political parties grew like weeds with shallow roots and interests top-heavy with petty selfishness and vote-catching. Internal strife grew. We faced disaster, endless conflicts, hair-raising confusion. Indonesians previously pulling together now pulled apart. They were sectioned into religious and geographical boxes, just what I'd sweated all my life to get them out of.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sukarno related that nearly every six months, a cabinet fell, and a new government would start up, only to repeat the cycle. On October 17, 1952 things came to a head. Thousands of soldiers from the Indonesian army stormed the gates with signs saying "Dissolve Parliament." Sukarno faced the troops directly, firmly refusing to dissolve parliament due to military pressure, and the soldiers backed down. The result of this was a factionalized army. There were the "pro-17 October 1952 military" and the "anti-17 October 1952 military." In 1955, elections were held and parliamentary rule was ended by vote. The Communists, who had done the most for the people suffering the aftereffects of converting from colonial rule to independence, won many victories in 1955 and 1956. In 1955, Sukarno organized the Bandung Conference at which the famous Chinese Communist Chou En Lai was a featured guest. During the 1955 elections, the CIA had given a million dollars to the Masjumi party-an opposition party to both Sukarno's Nationalist party and the Communist party in Indonesia (called the PKI)-in an attempt to gain political control of the country. But the Masjumi party failed to win the hearts and minds of the people.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In 1957, an assassination attempt was made against Sukarno. Although the actual perpetrators were unknown at the time, both Sukarno and the CIA jumped to use this for propaganda purposes. The CIA was quick to blame the PKI. Sukarno, however, blamed the Dutch, and used this as the excuse to seize all former Dutch holdings, including shipping and flying lines. Sukarno vowed to drive the Dutch out of West Irian. He had already tried settling the long-standing dispute over that territory through the United Nations, but the vote fell shy of the needed two-thirds majority to set up a commission to force the Dutch to sit down with the Indonesians. The assassination attempt provided a much needed excuse for action.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The victories of the Communists, infighting in the army, and the 1957 nationalization of former Dutch holdings, led to a situation of grave concern to American business interests, notably the oil and rubber industries. The CIA eagerly pitched in, helping to foment rebellion between the outer, resource rich, islands, and the central government based in Jakarta, Java.&lt;/p&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Rockefeller Interests in Indonesia&lt;/h4&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Two prominent American-based oil companies doing business in Indonesia at this time were of the Rockefeller-controlled Standard Oil family: Stanvac (jointly held by Standard Oil of New Jersey and Socony Mobil-Socony being Standard Oil of New York), and Caltex, (jointly held by Standard Oil of California and Texaco.) In Part I of this article we showed how heavily loaded the Freeport Sulphur board was with Rockefeller family and allies. Recall that Augustus C. Long was a board member of Freeport while serving as Chairman of Texaco for many years. Long becomes more and more interesting as the story develops.&lt;/p&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;1958: CIA vs. Sukarno&lt;/h4&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://members.aol.com/bblum6/indo1.htm" target="_blank"&gt;"I think its time we held Sukarno's feet to the fire,"&lt;/a&gt; said Frank Wisner, then Deputy Director of Plans for the CIA, in 1956. By 1958, having failed to buy the government through the election process, the CIA was fomenting a full-fledged operation in Indonesia. Operation Hike, as it was called, involved the arming and training of tens of thousands of Indonesians as well as "mercenaries" to launch attacks in the hope of bringing down Sukarno.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Joseph Burkholder Smith was a former CIA officer involved with the Indonesian operations during this period. In his book, &lt;em&gt;Portrait of a Cold Warrior&lt;/em&gt;, he described how the CIA took it upon themselves to make, not just to enact, policy in this area:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;before any direct action against Sukarno's position could be taken, we would have to have the approval of the Special Group-the small group of top National Security Council officials who approved covert action plans. Premature mention of such an idea might get it shot down ...&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;So we began to feed the State Department and Defense departments intelligence ... When they had read enough alarming reports, we planned to spring the suggestion we should support the colonels' plan to reduce Sukarno's power. This was a method of operation which became the basis of many of the political action adventures of the 1960s and 1970s. In other words, the statement is false that CIA undertook to intervene in the affairs of countries like Chile only after being ordered to do so ... In many instances, we made the action programs up ourselves after we had collected enough intelligence to make them appear required by the circumstance. Our activity in Indonesia in 1957-1958 was one such instance.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;When the Ambassador to Indonesia wrote Washington of his explicit disagreements with the CIA's handling of the situation, Allen Dulles had his brother John Foster appoint a different Ambassador to Indonesia, one more accepting of the CIA's activities.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In addition to the paramilitary activities, the CIA tried psychological warfare tricks to discredit Sukarno, such as passing rumors that he had been seduced by a Soviet stewardess. To that end, Sheffield Edwards, head of the CIA's Office of Security, enlisted the Chief of the Los Angeles Police Department to help with a porno movie project the CIA was making to use against Sukarno, ostensibly showing Sukarno in the act. Others involved in these efforts were Robert Maheu, and Bing Crosby and his brother.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The Agency tried to keep its coup participation covert, but one "mercenary" met misfortune early. Shot down and captured during a bombing run, Allen Lawrence Pope was carrying all kinds of ID on his person to indicate that he was an employee of the CIA. The U.S. Government, right up to President Eisenhower, tried to deny that the CIA was involved at all, but the Pope revelations made a mockery of this. Not cowed by the foment, as Arbenz had been in Guatemala, Sukarno marshalled those forces loyal to him and crushed the CIA-aided rebellion. Prior to the Bay of Pigs, this was the Agency's single largest failed operation.&lt;/p&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;1959: Copper Mountain&lt;/h4&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;At this point, Freeport Sulphur entered the Indonesian picture. In July, 1959, Charles Wight, then President of Freeport-and reported to be fomenting anti-Castro plots and flying to Canada and/or Cuba with Clay Shaw (see Part I of this article)-was busy defending his company against House Committee accusations of overcharging the Government for the nickel ore processed at the Government-owned plant in Nicaro, Cuba. The Committee recommended that the Justice Department pursue an investigation. Freeport's Moa Bay Mining Company had only just opened, and already the future in Cuba looked bleak. In August, 1959, Freeport Director and top engineer Forbes Wilson met with Jan van Gruisen, managing director of the East Borneo Company, a mining concern. Gruisen had just stumbled upon a dusty report first made in 1936 regarding a mountain called the "Ertsberg" ("Copper Mountain") in Dutch New Guinea, by Jean Jacques Dozy. Hidden away for years in a Netherlands library during Nazi attacks, the report had only recently resurfaced. Dozy reported a mountain heavy with copper ore. If true, this could justify a new Freeport diversification effort into copper. Wilson cabled Freeport's New York headquarters asking for permission and money to make a joint exploration effort with the East Borneo Company. The contract was signed February 1, 1960.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;With the aid of a native guide, Wilson spent the next several months amidst the near-stone age natives as he forged through near impassable places on his way to the Ertsberg. Wilson wrote a book about this journey, called &lt;em&gt;The Conquest of Copper Mountain&lt;/em&gt;. When he finally arrived, he was excited at what he found:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;an unusually high degree of mineralization ... The Ertsberg turned out to be 40% to 50% iron ... and 3% copper ... Three percent is quite rich for a deposit of copper ... The Ertsberg also contains certain amounts of even more rare silver and gold. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;He cabled back a message in prearranged code to the soon-to-be President of Freeport,     Bob Hills in New York:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... thirteen acres rock above ground additional 14 acres each 100 meter depth sampling       progressive color appears dark access egress formidable all hands well advise Sextant       regards.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Thirteen acres" meant 13 million tons of ore above ground. "Color     appears dark" meant that the grade of ore was good. "Sextant" was code for     the East Borneo Company. The expedition was over in July of 1960. Freeport's board was not     eager to go ahead with a new and predictably costly venture on the heels of the     expropriation of their mining facilities in Cuba. But the board decided to at least press     ahead with the next phase of exploration: a more detailed investigation of the ore samples     and commercial potential. Wilson described the results of this effort: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;[M]ining consultants confirmed our estimates of 13 million tons of ore above ground and       another 14 million below ground for each 100 meters of depth. Other consultants estimated       that the cost of a plant to process 5,000 tons of ore a day would be around $60 million       and that the cost of producing copper would be 16ï¿½ a pound after credit for small amounts       of gold and silver associated with the copper. At the time, copper was selling in world       markets for around 35ï¿½ a pound. From these data, Freeport's financial department       calculated that the company could recover its investment in three years and then begin       earning an attractive profit. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The operation proved technically difficult, involving newly invented helicopters and     diamond drills. Complicating the situation was the outbreak of a near-war between the     Dutch-who were still occupying West Irian-and Sukarno's forces which landed there to     reclaim the land as their own. Fighting even broke out near the access road to Freeport's     venture. By mid-1961, Freeport's engineers strongly felt that the project should be     pursued. But by that time, John F. Kennedy had taken over the office of President. And he     was pursuing a far different course than the previous administration. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Kennedy and Sukarno &lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;&lt;em&gt;"No wonder Sukarno doesn't like us very much. He has to sit down with people       who tried to overthrow him." &lt;/em&gt;- President Kennedy, 1961 &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Up until Kennedy's time, the aid predominantly offered to Indonesia from this country     came mostly in the form of military support. Kennedy had other ideas. After a positive     1961 meeting with Sukarno in the United States, Kennedy appointed a team of economists to     study ways that economic aid could help Indonesia develop in constructive ways. Kennedy     understood that Sukarno took aid and arms from the Soviets and the Chinese because he     needed the help, not because he was eager to fall under communist rule. American aid would     prevent Sukarno from becoming dependent on Communist supplies. And Sukarno had already put     down a communist rebellion in 1948. Even the State Department in the United States     conceded that Sukarno was more nationalist than Communist. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;But the pressing problem during Kennedy's short term was the issue of West Irian. The     Dutch had taken an ever more aggressive stance, and Sukarno was assuming a military     posture. America, as allies to both, was caught in the middle. Kennedy asked Ellsworth     Bunker to attempt to mediate an agreement between the Dutch and Indonesian governments.     "The role of the mediator," said Kennedy, "is not a happy one; we are     prepared to have everybody mad if it makes some progress." &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;It did make everybody mad. But it did make progress. Ultimately, the U.S. pressured the     Dutch behind the scenes to yield to Indonesia. Bobby Kennedy was enlisted in this effort,     visiting both Sukarno in Indonesia and the Dutch at the Hague. Said Roger Hilsman in &lt;em&gt;To     Move a Nation&lt;/em&gt;: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;Sukarno came to recognize in Robert Kennedy the same tough integrity and loyalty that       he had seen in his brother, the President, combined with a true understanding of what the       new nationalisms were really all about.&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;So with preliminary overtures having been made to Sukarno and the Hague, Bunker took     over the nitty gritty of getting each side to talk to each other. The Dutch, unwilling to     concede the last vestige of their once-great empire to their foe, pressed instead for West     Irian to become an independent country. But Sukarno knew it was a symbol to his people of     final independence from the Dutch. And all knew that the Papuan natives there had no hope     of forming any kind of functioning government, having only just recently been pushed from     a primitive existence into the modern world. The United Nations voted to cede West Irian     fully to Indonesia, with the provision that, by 1969, the people of West Irian would be     granted an opportunity to vote whether to remain with or secede from Indonesia. Kennedy     seized the moment, issuing National Security Action Memorandum (NSAM) 179, dated August     16, 1962:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;With the peaceful settlement of the West Irian dispute now in prospect, I would like to       see us capitalize on the U.S. role in promoting this settlement to move toward a new and       better relationship with Indonesia. I gather that with this issue resolved the Indonesians       too would like to move in this direction and will be presenting us with numerous requests.       &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;To seize this opportunity, will all agencies concerned please review their programs for     Indonesia and assess what further measures might be useful. I have in mind the possibility     of expanded civic action, military aid, and economic stabilization and development     programs as well as diplomatic initiatives. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Roger Hilsman elaborated on what Kennedy meant by civic action: "rehabilitating     canals, draining swampland to create new rice paddies, building bridges and roads, and so     on." &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Freeport and West Irian&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kennedy's aid in brokering Indonesian sovereignty over West Irian could only have come     as a blow to Freeport Sulphur's board. Freeport already had a positive relationship with     the Dutch, who had authorized the initial exploratory missions there. During the     negotiation period, Freeport approached the U.N., but the U.N. said Freeport would have to     discuss their plans with the Indonesian officials. When Freeport went to the Indonesian     embassy in Washington, they received no response. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lamented Forbes Wilson: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;Not long after Indonesia obtained control over Western New Guinea in 1963,       then-President Sukarno, who had consolidated his executive power, made a series of moves       which would have discouraged even the most eager prospective Western investor. He       expropriated nearly all foreign investments in Indonesia. He ordered American agencies,       including the Agency for International Development, to leave the country. He cultivated       close ties with Communist China and with Indonesia's Communist Party, known as the PKI. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1962 had been a difficult year for Freeport. They were under attack on the stockpiling     issue. Freeport was still reeling from having their lucrative facilities expropriated in     Cuba. And now they sat, staring at a potential fortune in Indonesia. But with Kennedy     giving tacit support to Sukarno, their hopes looked bleak indeed.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Reversal of Fortunes &lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kennedy stepped up the aid package to Indonesia, offering $11 million. In addition, he     planned a personal visit there in early 1964. While Kennedy was trying to support Sukarno,     other forces were countering their efforts. Public dissent in the Senate brewed over     continuing to aid Indonesia while the Communist party there remained strong. Kennedy     persisted. He approved this particular aid package on November 19, 1963. Three days later,     Sukarno lost his best ally in the west. Shortly, he would lose the aid package too. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sukarno was much shaken by the news of Kennedy's death. Bobby made the trip the     President had originally planned to take, in January, 1964. Cindy Adams asked Sukarno what     he thought of Bobby, and got more than she asked for:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;Sukarno's face lit up. "Bob is very warm. He is like his brother. I loved his       brother. He understood me. I designed and built a special guest house on the palace       grounds for John F. Kennedy, who promised me he'd come here and be the first American       President ever to pay a state visit to this country." He fell silent. "Now he'll       never come." &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;Sukarno was perspiring freely. He repeatedly mopped his brow and chest. "Tell me,       why did they kill Kennedy?" &lt;/p&gt;     &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sukarno noted with irony that the very day Kennedy was assassinated, his Chief of     Bodyguards was in Washington to study how to protect a president. Looking to the future,     he was not optimistic:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;I know Johnson ... I met him when I was with President Kennedy in Washington. But I       wonder if he is as warm as John. I wonder if he will like Sukarno as John Kennedy, my       friend, did. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;LBJ and Indonesia&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;As others have noted, foreign policy changed rapidly after Kennedy's death. Donald     Gibson says in his book &lt;em&gt;Battling Wall Street&lt;/em&gt;, "In foreign policy the changes     came quickly, and they were dramatic." Gibson outlines five short term changes and     several long term changes that went into effect after Kennedy's death. One of the short     term changes was the instant reversal of the Indonesian aid package Kennedy had already     approved. Hilsman makes this point as well: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;One of the first pieces of paper to come across President Johnson's desk was the       presidential determination ... by which the President had to certify that continuing even       economic aid [to Indonesia] was essential to the national interest. Since everyone down       the line had known that President Kennedy would have signed the determination routinely,       we were all surprised when President Johnson refused.&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Someone at Freeport was so pleased with Johnson's behavior that he supported his     presidential run in 1964: Augustus C. "Gus" Long.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Long had been Chairman at Texas Company (Texaco) for many years. In 1964, he and a     bunch of other conservative, largely Republican business moguls, joined together to     support Johnson over Goldwater. The group, calling themselves the National Independent     Committee for Johnson, included such people as Thomas Lamont, Edgar Kaiser of Kaiser     Aluminum, Robert Lehman of Lehman Brothers, Thomas Cabot of Cabot Corporation of Boston,     and many other luminaries of the business world.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Long had two toes in the Indonesian fray-one for Freeport, one for Texaco. In 1961,     Caltex-jointly owned by Standard Oil of California (Socal) and Texas Company (Texaco)-was     one of the three major oil companies in Indonesia forced to operate under a new contract     with Sukarno's government. Under the new terms, 60% of all profits had to be given to the     Indonesian government. So he had two reasons to be concerned by Kennedy's support of     Sukarno's brand of nationalism, which threatened the interests of both companies in which     he had a substantial stake.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In Part I, we mentioned that Long had done "prodigious volunteer work" for     Presbyterian Hospital in New York, said by a former employee of their PR firm, the Mullen     Company, to be a "hotbed of CIA activity." Now we add that Long was elected     President of Presbyterian Hospital two years running-1961 and 1962. In 1964, Long retired     his role as Chairman of Texaco. He would be reinstated as Chairman in 1970. What did he do     in the interim? &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In March of 1965, Long was elected a director of Chemical Bank-another     Rockefeller-controlled company.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In August of 1965, Long was appointed to the President's Foreign Intelligence Advisory     Board, where he would approve and suggest covert activities.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In October of 1965, covert activities sealed Sukarno's fate. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;1965: The Year of Living Dangerously&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;After Kennedy's death, Sukarno had grown ever more belligerent towards the West. The     British were busy forming a new country out of Indonesia's former trading partners Malaya     and Singapore, called "Malaysia." Since the area included territory from which     the CIA had launched some of its 1958 activities, Sukarno was justifiably concerned by     what he felt was an ever tightening noose. On January 1, 1965, Sukarno threatened to pull     Indonesia out of the United Nations if Malaysia was admitted. It was and he did, making     Indonesia the first nation ever to pull out of the U.N. In response to U.S. pressure on     Sukarno to support Malaysia, he cried, "to hell with your aid." He built up his     troops along the borders of Malaysia. Malaysia, fearing invasion, appealed to the U.N. for     support. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;By February, Sukarno could see the writing on the wall: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;JAKARTA, Indonesia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Feb. 23 (UPI)-President Sukarno declared today that Indonesia could       no longer afford freedom of the press. He ordered the banning of anti-Communist       newspapers. ...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"I have secret information that reveals that the C.I.A. was using the Body for the       Promotion of Sukarnoism to kill Sukarnoism and Sukarno," he said. "That's why I       banned it." &lt;/span&gt;(&lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt;, 2/24/65) &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The country was in disarray. Anti-American demonstrations were frequent. Indonesia quit     the International Monetary Fund and the World Bank. The press reported that Sukarno was     moving closer to the Chinese and Soviets. Sukarno threatened to nationalize remaining U.S.     properties, having already taken over, for example, one of the biggest American operations     in Indonesia, the Goodyear Tire and Rubber Company. And then, in an unexpected move,     Singapore seceded from Malaysia, weakening the newly formed state bordering Indonesia. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;With American money interests threatened, all the usual carrots of foreign aid shunted,     no leverage via the IMF or World Bank, and Freeport's Gus Long on the President's Foreign     Intelligence Advisory Board, it was only a matter of time, and not much, at that. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;October 1, 1965: Coup or Counter-Coup? &lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;INDONESIA SAYS PLOT TO DEPOSE SUKARNO IS FOILED BY ARMY CHIEF; POWER FIGHT BELIEVED       CONTINUING &lt;/p&gt;     &lt;/blockquote&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;KUALA LUMPUR, Malaysia.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Oct. 1-An attempt to overthrow President Sukarno was foiled       tonight by army units loyal to Gen. Abdul Haris Nasution, the Indonesian radio announced.       ... &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p style="font-style: italic;"&gt;In Washington, a State Department spokesman said Friday the situation in Indonesia was       "extremely confused." Robert J. McCloskey told a news conference the State       Department was getting reports from the American Embassy at Jakarta, but "it is not       presently possible to attempt any evaluation, explanation, or comment."&lt;/p&gt;       &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Late yesterday, a mysterious group calling itself the 30th of September Movement seized       control of Jakarta.&lt;/p&gt;       &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Colonel Untung, who had announced over the Indonesian radio that he was the leader of       the movement, said the group had seized control of the Government to prevent a       "counterrevolutionary" coup by the Generals' Council. (&lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt;,       10/2-3/65, International Edition) &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In a strange, convoluted move, a group of young military leaders killed a bunch of     older, centrist leaders who, they claimed, were going to-with the help of the CIA-stage a     coup against Sukarno. But what happened in the aftermath of this turned Indonesia into one     of the bloodiest nightmares the world has ever seen. This original counter-coup was     branded a coup attempt instead, and painted as brightly Red as possible. Then, in the     disguise of outrage that Sukarno's authority had been imperiled, Nasution joined with     General Suharto to overthrow the "rebels." What started ostensibly to protect     Sukarno's authority ended up stripping him of it wholly. The aftermath is too horrible to     describe in a few words. The numbers vary, but the consensus lies in the range of 200,000     to over 500,000 people killed in the wake of this "counter-coup." Anyone who had     ever had an association with the Communist PKI was targeted for elimination. Even &lt;em&gt;Time&lt;/em&gt;     magazine gave one token accurate description of what was happening: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;According to accounts brought out of Indonesia by Western diplomats and independent       travelers, Communists, Red sympathizers and their families are being massacred by the       thousands. Backlands army units are reported to have executed thousands of Communists       after interrogation in remote rural jails. ... Armed with wide-bladed knives called       parangs, Moslem bands crept at night into the homes of Communists, killing entire families       and burying the bodies in shallow graves. ... The murder campaign became so brazen in       parts of rural East Java that Moslem bands placed the heads of victims on poles and       paraded them through villages. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The killings have been on such a scale that the disposal of the corpses has created a     serious sanitation problem in East Java and northern Sumatra, where the humid air bears     the reek of decaying flesh. Travelers from those areas tell of small rivers and streams     that have been literally clogged with bodies; river transportation has at places been     impeded. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Latter day thumbnail histories frequently depict the actions like this: "An     abortive Communist coup in 1965 led to an anti-Communist takeover by the military, under     Gen. Suharto." (Source: &lt;em&gt;The Concise Columbia Encyclopedia&lt;/em&gt;.) But the truth is     far more complex. A persuasive indicator for this lies in the following item, cited in a     remarkable article by Peter Dale Scott published in the British journal &lt;em&gt;Lobster&lt;/em&gt;     (Fall, 1990). Scott quotes an author citing a researcher who, having been given access to     files of the foreign ministry in Pakistan, ran across a letter from a former ambassador     who reported a conversation with a Dutch intelligence officer with NATO, which said,     according to the researcher's notes, &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;"Indonesia was going to fall into the Western lap like a rotten apple."       Western intelligence agencies, he said, would organize a "premature communist coup       ... [which would be] foredoomed to fail, providing a legitimate and welcome opportunity to       the army to crush the communists and make Soekarno a prisoner of the army's       goodwill." The ambassador's report was dated December 1964.&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Later in this article, Scott quotes from the book&lt;em&gt; The CIA File&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;"All I know," said one former intelligence officer of the Indonesia events,       "is that the Agency rolled in some of its top people and that things broke big and       very favorable, as far as we were concerned." &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ralph McGehee, a 25-year veteran of the CIA, also implicated the agency in an article,     still partially censored by the CIA, published in &lt;em&gt;The Nation&lt;/em&gt; (April 11, 1981): &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;To conceal its role in the massacre of those innocent people the C.I.A., in 1968,       concocted a false account of what happened (later published by the Agency as a book,       Indonesia-1965: The Coup That Backfired). That book is the only study of Indonesia       politics ever released to the public on the Agency's own initiative. At the same time that       the Agency wrote the book, it also composed a secret study of what really happened. [one       sentence deleted.] The Agency was extremely proud of its successful [one word deleted] and       recommended it as a model for future operations [one-half sentence deleted]. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Freeport After Sukarno&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;According to Forbes Wilson, Freeport had all but given up hope of developing its     fabulous find in West Irian. But while the rest of the world's press was still trying to     unravel the convoluted information as to who was really in power, Freeport apparently had     an inside track. In the essay mentioned earlier, Scott cites a cable (U.S. delegation to     the U.N.) which stated that Freeport Sulphur had reached a preliminary     "arrangement" with Indonesian officials over the Ertsberg in April of 1965,     before there could legitimately have been any hope in sight. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Officially, Freeport had no such plans until after the October 1965 events. But even     the official story seemed odd to Wilson. As early as November, a mere month after the     October events, longtime Chairman of Freeport, Langbourne Williams, called Director Wilson     at home, asking if the time had now come to pursue their project in West Irian. Wilson's     reaction to this call is interesting: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;I was so startled I didn't know what to say.&lt;/p&gt;     &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;How did Williams know, so soon, that a new regime was coming to power? Sukarno was     still President, and would remain so formally until 1967. Only deep insiders knew from the     beginning that Sukarno's days were numbered, and his power feeble. Wilson explains that     Williams got some "encouraging private information" from "two executives of     Texaco." Long's company had managed to maintain close ties to a high official of the     Sukarno regime, Julius Tahija. It was Tahija who brokered a meeting between Freeport and     Ibnu Sutowo, Minister of Mines and Petroleum. &lt;em&gt;Fortune&lt;/em&gt; magazine had this to say     about Sutowo (July 1973): &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;As president-director of Pertamina [the Government's state-owned oil company],       Lieutenant General Ibnu Sutowo receives a salary of just $250 a month, but lives on a       princely scale. He moves around Jakarta in his personal Rolls-Royce Silver Cloud. He has       built a family compound of several mansions, which are so large that guests at his       daughter's wedding party could follow the whole show only on closed-circuit television. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;... The line between Sutowo's public and private activities will seem hazy to Western       eyes. The Ramayan Restaurant in New York [in Rockefeller Center-author's note], for       example, was bankrolled by various U.S. oil-company executives, who put up $500,000 to get       into a notoriously risky sort of business. Presumably its backers were motivated at least       in part by a desire to be on amiable terms with the general. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;But beyond these dubious accolades, a hint of something else, as well was revealed: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sutowo's still small oil company played a key part in bankrolling those crucial       operations &lt;/span&gt;[during the October 1965 events.]&lt;/p&gt;     &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Given the wealth of evidence that the CIA was deeply involved in this operation, it     seems equally likely that Sutowo was acting as a conduit for their funds. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;After Sukarno's fall from power, Sutowo constructed a new agreement that allowed oil     companies to keep a substantially larger percent of their profits. In an article entitled     "Oil and Nationalism Mix Beautifully in Indonesia" (July, 1973), &lt;em&gt;Fortune&lt;/em&gt;     labeled the post-Sukarno deal "exceptionally favorable to the oil companies." &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In 1967, when Indonesia's Foreign Investment Law was passed, Freeport's contract was     the first to be signed. With Kennedy, Sukarno, and any viable support for Indonesian     nationalism out of the way, Freeport began operations. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In 1969, the vote mandated by the Kennedy brokered U.N. agreement on the question of     West Irian independence was due. Under heavy intimidation and the visceral presence of the     military, Irian "voted" to remain part of Indonesia. Freeport was in the clear. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;The Bechtel Connection &lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gus Long was a frequent dinner partner of Steve Bechtel, Sr., owner with CIA Director     John McCone, of Bechtel-McCone in Los Angeles in the thirties. McCone and Bechtel, Sr.     made a bundle off of World War II, split, and went their not so separate ways. Writes     author Laton McCartney in &lt;em&gt;Friends in High Places: The Bechtel Story&lt;/em&gt;, &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;[I]n 1964 and 1965, CIA director John McCone and U.S. ambassador to Indonesia Howard       Jones briefed Steve Bechtel Sr. on the rapidly deteriorating situation in Indonesia.       Bechtel, Socal, Texaco ... had extensive dealings in that part of the world and were       concerned because Indonesia's President Sukarno was nationalizing U.S. business interests       there. ... In October 1965, in what a number of CIA alumni have since charged was an       Agency-backed coup, Sukarno was ousted and replaced by President Suharto, who proved far       more receptive to U.S. business interests than his predecessor.&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bechtel was no stranger to the CIA. Bechtel Sr. had been a charter member of the CIA     conduit Asia Foundation from its inception as Allen Dulles' brainchild. Former CIA     Director Richard Helms himself joined Bechtel, as an "international consultant"     in 1978. Said a former executive, Bechtel was: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;loaded with the CIA ... The agency didn't have to ask them to place its agents ...       Bechtel was delighted to take them on and give them whatever assistance they needed. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bechtel Sr.'s "oldest and closest friend in the oil industry," Gus Long, had     a problem. Freeport's project was far more difficult than they had foreseen, and they     needed outside help. The mountainous path to the "copper mountain" made     extraction nearly impossible. Freeport hired Bechtel to help them construct the     appropriate infrastructure to turn their dreams into reality. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bechtel came with extras. Freeport needed additional financing for their costly     Indonesian project. Bechtel Sr. had gotten himself appointed to the advisory committee of     the Export-Import (Exim) bank after a long period of cozying up to Exim bank president     Henry Kearns. Freeport was not happy with the lack of progress and costs of Bechtel's     operation. Forbes Wilson threatened to drop them from the project. Bechtel Sr. jumped in,     saying he would make the project Bechtel's top priority. He also guaranteed them $20     million in loans from the Exim bank. When the Exim bank's engineer didn't think that     Freeport's project seemed commercially viable and wouldn't approve their loan, Bechtel Sr.     called Kearns, and the loan went through over the objections of the bank's engineer. Three     years later, Kearns would resign from the bank when it revealed the bank had made generous     loans to several projects in which Kearns was personally invested. Although Senator     Proxmire called it "the worst conflict of interest" he had ever seen in     seventeen years in the Senate, the Justice Department declined to prosecute. Said     Proxmire:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;It will appear to millions of American citizens that there is a double standard in the       law, one for the ordinary citizen and quite another for those who hold high positions in       government and make thousands of dollars in personal profit as a result of official       actions. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bechtel denies allegations from former employees that it spread over $3 million in cash     around Indonesia in the early '70s.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Unhappily Ever After &lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The tragedy of the Kennedy assassination lies in the legacy left in the wake of his     absence. Without his support, Indonesia's baby steps toward a real, economic independence     were shattered. Sukarno, hardly a saint and with plenty of problems, nonetheless was     trying to assure that business deals with foreigners left some benefit for the     Indonesians. Suharto, in dire contrast, allowed foreigners to rape and pillage Indonesia     for private gain, at the price of lives and the precious, irreplaceable resources of the     Indonesians. Cindy Adams wrote a book about her experiences with Sukarno, called &lt;em&gt;My     Friend the Dictator.&lt;/em&gt; If Sukarno was a dictator, what term exists for Suharto? &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Freeport's Grasberg mine in Indonesia is one of the largest copper and gold reserves in     the world. But the American based company owns 82% of the venture, while the Indonesian     government and a privately held concern in Indonesia split the remaining percent. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;How much influence does Freeport carry in Indonesia? Can they really say they have     Indonesia's best interests at heart? &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Kissinger and East Timor&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In 1975, Freeport's mine was well into production and highly profitable. Future     Freeport Director and lobbyist Henry Kissinger and President and ex-Warren Commission     member Gerald Ford flew out of Jakarta having given the Indonesian Government under     Suharto what State Department officials later described as "the big wink."     Suharto used the Indonesian military to take over the Portuguese territory of East Timor,     followed by a mass slaughter that rivaled the 1965 bloodbath. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Says a former CIA operations officer who was stationed there at the time, C. Philip     Liechty: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;blockquote&gt;       &lt;p&gt;Suharto was given the green light [by the U.S.] to do what he did. There was discussion       in the embassy and in traffic with the State Department about the problems that would be       created for us if the public and Congress became aware of the level and type of military       assistance that was going to Indonesia at that time. ... Without continued heavy U.S.       logistical military support the Indonesians might not have been able to pull if off. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In 1980, Freeport merged with McMoRan-an oil exploration and development company headed     by James "Jim Bob" Moffett. The two become one, and Moffett (the "Mo"     in McMoRan) eventually became President of Freeport McMoRan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Friends in High Places&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In 1995, Freeport McMoRan managed to spin off it's Freeport McMoRan Copper &amp;amp; Gold     Inc. subsidiary into a separate entity. The Overseas Private Investment Corporation (OPIC)     wrote Freeport McMoRan Copper and Gold that they planned to cancel their investment     insurance based on their poor environmental record at their Irian project, stating     Freeport has "posed an unreasonable or major environmental, health, or safety hazard     in Irian Jaya." &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Freeport didn't sit still over this cancellation. Kissinger executed a major lobbying     effort (for which he is paid $400,000 a year), meeting with officials at the State     Department and working the halls of Capitol Hill. Sources close to the matter, according     to Robert Bryce in a recent issue of the &lt;em&gt;Texas Observer&lt;/em&gt;, say Freeport hired     former CIA director James Woolsey in the fight against OPIC. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Freeport, now headquartered in New Orleans, manages to keep friends in high places. In     1993, the head of the pro-Suharto congressional lobby was the Senator from Louisiana,     Bennett Johnson. Representative Robert Livingston, of Louisiana, invested in Freeport     Copper and Gold while the House debated and voted on H.R. 322-the Mineral Exploration and     Development Act. And when Jeffery Shafer, one of the directors of OPIC, recently was     nominated for an appointment to Undersecretary of National Affairs, it was another     Louisiana pol, this time Senator John Breaux, who voted to block the appointment until     Shafer provided an explanation of OPIC's cancellation of Freeport's insurance. Jim Bob     Moffett, head of Freeport McMoRan, is listed in &lt;em&gt;Mother Jones&lt;/em&gt;' online "MoJo     Wire Coin-Op Congress" survey of the top 400 people who gave the most money in     campaign contributions. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Freeport's actions abroad are not the only one's worth tracking. In Louisiana itself,     Freeport and three other companies (two of which Freeport later acquired) petitioned for a     special exemption to the Clean Water Act in order to legally dump 25 billion pounds of     toxic waste into the Mississippi river. Citizens protested, and Freeport's petition was     denied. Freeport then lobbied for the weakening of Clean Water Act restrictions. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The citizens of Austin, Texas, have fought to block a Freeport plan for a real estate     development that will foul Barton Springs, a popular outdoor water park there. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;According to a recent article in &lt;em&gt;The Nation&lt;/em&gt; (July 31/August 7, 1995), Freeport     is part of the National Wetlands Coalition, a group which wrote much of the language of a     bill designed to eliminate E.P.A. oversight of wetlands areas, freeing them for     exploitation. The same coalition has also lobbied to weaken the Endangered Species Act. &lt;em&gt;The     Nation&lt;/em&gt; revealed that Freeport's political action committee since 1983 has paid     members of congress over $730,000. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Scandal at UT &lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Freeport's record caused an uproar at the University of Texas at Austin recently. The     university's geology department, which has done research under contract for Freeport, was     recently given $2 million dollars by Jim Bob Moffett for a new building. The school's     Chancellor, William Cunningham, wanted to name the building after his friend and co-worker     (Cunningham is also a Freeport Director) Moffett. Many on campus protested this     development. Anthropology professor Stephen Feld resigned his position with the university     over this issue, saying UT was "no longer a morally acceptable place of     employment." The protests about Cunningham's conflict of interest-serving UT and     Freeport-led to Cunningham's resignation last December. He resigned a day after Freeport     threatened to sue three professors at the University who had been loudest in protest.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Poised on the Brink &lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;While moral victories are lauded in Texas, the real terror continues at Freeport's     plant in Indonesia. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In March of 1996, just as our last issue went to press, riots broke out at the Freeport     plant in Irian Jaya (the current name for West Irian). Thousands were marching in the     streets around the Freeport plant, where the military had as recently as December held and     tortured in Freeport mining containers the people who lived and protested in that region.     The protests are deeply rooted in the desire for the independence of the Papuans, the     Amungme, and the many native inhabitants of Irian Jaya who were never Dutch, and never     really Indonesian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;As we go to print, Indonesian sources report that the military has taken over the     numerous Freeport Security stations around the mine. "Military Exercises" are     intimidating the people who in March rioted at Freeport, causing the plant to lose two     days of work and millions of dollars. Although no curfew has been called, people report a     fear of being out at night.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The native Amungme tribes, the Papuans, and others are still hoping to retain     independence from what they see as only a new form of colonialism: subservience to     Freeport's interests. According to a &lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt; article (4/4/96), Freeport is     the largest single investor in Indonesia. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;With Kennedy's support, Indonesia had a chance for real economic independence. The     peoples of Irian were promised a real vote for self-government. But when Kennedy was     killed, a military dictatorship was installed and paid off so that the interests of     businesses like Freeport have been given higher priority than any demands of the natives     whose resources are still being pillaged. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sometimes, what we don't understand about today's news is what we don't know about the     Kennedy assassination. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-5750678432426697406?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/5750678432426697406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=5750678432426697406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5750678432426697406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5750678432426697406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/jfk-indonesia-cia-and-freeport-sulphur.html' title='JFK, Indonesia, CIA and Freeport Sulphur'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oGKYMRq9JNc/Ttr5qWrknLI/AAAAAAAAA5I/53sXUR7hD38/s72-c/JFK%2BJohnson.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-463287500252786788</id><published>2011-12-02T13:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T13:41:19.073-08:00</updated><title type='text'>Kita dibesarkan dalam sejarah kekerasan yang sama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-blgIbA-g9ns/TtlFqLfkFDI/AAAAAAAAA48/PkIc35ABqQI/s1600/Jual%2Bnegara.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 309px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-blgIbA-g9ns/TtlFqLfkFDI/AAAAAAAAA48/PkIc35ABqQI/s400/Jual%2Bnegara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681648995846591538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bangsa ini sudah mengalami kekerasan politik paling biadab di muka bumi, demi kelangsungan ekonomi Amerika Serikat dan Inggris. Orang-orang Jawa mengalami luka batin paling dalam terhadap kekerasan tentara ketika Gestapu 65, mereka digebuki oleh pemuda-pemuda pro tentara menyeret orang-orang yang dianggap pro PKI atau pendukung Sukarno, mereka diikat dan dibuang ke jurang atau kali-kali, seluruh sungai-sungai dari Klaten sampai Surabaya banjir darah. Keluarga-keluarga terpecah, lapangan-lapangan jadi eksekusi pembunuhan yang mengerikan, Ribuan intelektual kita dihina kemanusiaannya dibuang ke Pulau Buru. Demi apa? demi hegemoni AS.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;The Moment of Truth Sukarno, puncak dari totalitas kebenaran Sukarno juga berada pada titik Gestapu 65 ini, ketika seorang wartawan Belanda bernama Willem Oltmans berucap pada Sukarno "Sudahlah Bapak bubarkan saja PKI" Sukarno menatap Willem Oltmans, dan memegang tangannya "Wim, kamu kira aku tak tau yang terjadi sekarang, aku belum ucapkan PKI dibubarkan saja sudah ribuan dibunuh, apalagi kalau aku keluarkan ucapan bubarkan PKI". Inilah kebesaran Sukarno, ia membiarkan dirinya dikutuk oleh banyak orang tapi ia tahu jikalau PKI dibubarkan pembantaian akan menjadi-jadi, ini akan mengorbankan kepentingan nasional, apa itu : PERSATUAN..... Sukarno akhirnya tahu ia harus mati untuk itu. Tapi ia mati dengan totalitas kebenaran yang dipegangnya sejak ia mulai memasuki gelanggang politik sebagai panggung idealismenya : PERSATUAN NASIONAL sebagai modal untuk membentuk KeIndonesiaan yang tidak menindas. Di tangan Sukarno kesatuan bisa terbentuk tanpa keluar darah, seluruh pemberontakan ia maafkan bila kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Pembantaian-pembantaian demi kekuasaan investasi asing bukan saja dialami orang Papua sekarang, tapi juga dialami orang Aceh, dialami orang Sulawesi, di Bali ribuan orang dibunuh atas nama konflik PKI-PNI. Hak-hak tanah adat jadi rebutan, beberapa keturunan Cina-Bali masih merasakan perih itu. Kita sebagai anak bangsa dibesarkan oleh tragedi seperti apa yang dialami Papua.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Jadi tidak benar apabila dikatakan Jawa menjajah Papua, Jakarta menjajah Papua. Kondisi sekarang ini setelah kematian Sukarno kita memang dijajah. Jangan sampai nanti Papua lepas generasi muda sudah kehilangan modal utamanya. Amerika Serikat sudah melihat kecenderungan anak-anak muda Indonesia sekarang lebih ke arah Sosialisme, mereka gandrung dengan Hugo Chavez, Evo Moralez, atau Ahmadinedjad. Anak-anak muda sekarang sudah bebas membaca buku-buku Tan Malaka, sudah bebas mendengarkan pidato-pidato Sukarno, mereka tidak lagi dibutakan sejarah. Mereka membuat film-film tentang kekayaan freeport, mereka menggugat ketidakadilan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Mereka inilah yang akan tumbuh pada lima atau sepuluh tahun mendatang, mengancam keamanan investasi Amerika Serikat, anak-anak muda sekarang beda dengan kelompok muda dididikan Orde Baru, mereka lahir dari situasi kritis dan penuh akses informasi. -AS mengantisipasi bila tidak ada gerakan politik yang bisa mengamankan investasi AS di Papua, maka Nasionalisasi perusahaan asing dan tambang-tambang asing tinggal tunggu waktu. -Kekerasan di Papua, bukanlah kekerasan Jawa, bukanlah kekerasan rakyat Indonesia terhadap orang Papua. Tapi kekerasan diluar daya jangkau kekuasaan rakyat ini yang dikebiri pemerintahan boneka.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Papua adalah bagian dari Indonesia, rakyat merasa satu seperti berteriak saat Rully Nere menggocek bola sampai Okto, mereka adalah satu. Tapi Pemerintahan yang sekarang membuktikan dirinya tidak berani, memamerkan diri seolah jadi pemerintahan satelit Amerika. Bila memang mau referendum itu harus mengikuti seluruh rakyat Indonesia, karena rakyat inilah pemilik sah tanah air Indonesia, dari Sabang Sampai Merakuke.&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Kita dibesarkan dalam sejarah kekerasan yang sama, dan sudah jadi jalan hidup anak muda untuk membebaskan sejarah penjajahan ekonomi. Demi masa depan Indonesia ditengah kekerasan yang terjadi sekarang, tetap usahakan batin orang-orang Irian Barat menjadi satu batin dengan rakyat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-463287500252786788?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/463287500252786788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=463287500252786788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/463287500252786788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/463287500252786788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/kita-dibesarkan-dalam-sejarah-kekerasan.html' title='Kita dibesarkan dalam sejarah kekerasan yang sama'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-blgIbA-g9ns/TtlFqLfkFDI/AAAAAAAAA48/PkIc35ABqQI/s72-c/Jual%2Bnegara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-7141835029773051450</id><published>2011-12-02T13:14:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T13:36:18.119-08:00</updated><title type='text'>Secuil kisah buku Biografi Pak Harto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-c8Yx5qJieoA/TtlBR6Dmo3I/AAAAAAAAA4w/Wajb0mQhu2Y/s1600/Buku%2BPak%2BHarto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 274px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-c8Yx5qJieoA/TtlBR6Dmo3I/AAAAAAAAA4w/Wajb0mQhu2Y/s400/Buku%2BPak%2BHarto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681644180802544498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang bilang Pak Harto kejam, tapi tau nggak buku apa yang dia paling suka? ternyata buku biografi cinta Inggit Garnasih dengan Sukarno "Kuantarkan Kau Ke Gerbang" Pak Harto bacanya sampe nangis. Pada akhir tahun 1982 asisten Suharto Gufron Dwipayana dateng ke Cendana karena dipanggil Pak Harto dia disuruh buat biografi Suharto. Cuman Pak Harto nggak mau yang bikin selain Ramadhan KH atau kerap dipanggil Atun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Dwipayana trus dipanggil tiap jum'at sore, tapi Ramadhan KH agak gemetar kalo dia harus terus menghadap, siapa yang nggak takut ama Pak Harto saat itu dan Pak Harto juga nampaknya menjaga jarak. Untuk mendeskripsikan ketakutan orang sama Pak Harto adalah ucapan Adam Malik di depan Pram, selepas Pram keluar dari Pulau Buru tahun 1978. Suatu saat Pram ketemu Adam Malik dikantornya waktu Pram berusaha membatalkan tindakan jaksa agung yang membredel buku Gadis Pantai dan minta bantuan Adam Malik "Kamu tau Pram, aku saja bisa di dor sama ini orang" bayangkan Adam Malik saja takut sama Pak Harto.....Nah, Atun ngeri kalo dia salah nulis bisa-bisa di dor juga minimal di bui. Akhirnya Atun menolak, tapi Gufron terus memaksa. Ngeri sama keadaan lalu Atun setuju menuliskan buku biografi Pak Harto. Atun hanya ketemu Pak Harto dua kali, selebihnya Gufron yang merekam omongan Suharto dan dijadikan bahan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena tulisan dengan dasar kengerian itulah, buku Biografi Suharto nggak begitu hidup, beda dengan buku biografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams, sebagai penulis malah Cindy bebas menemui Bung Karno kapan saja, tapi Bung Karno agak genit juga ia suka cium Cindy Adams. Karena lugas inilah buku Biografi Sukarno "Penjambung Lidah Rakjat Indonesia" adalah buku paling baik dan monumental dalam sejarah penulisan biografi di Indonesia. Buku ini dirilis tahun 1966 dan diterjemahkan oleh Mayor Abdul Bar Salim, bagi saya inilah terjemahan terbaik buku berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dan lucunya di buku ini yang meng-endorse adalah Suharto. Padahal saat itu Suharto adalah bawahan Sukarno. Karena ada endorse dari Suharto yang penuh puja puji inilah buku "Sukarno : Penjambung Lidah Rakyat Indonesia" tidak bisa diberangus, dan gara-gara buku ini ingatan rakyat akan Sukarno terus menjalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya karya Ramadhan KH hampir semuanya memiliki daya hidup imajinasi. Karya Biografi Atun yang terbaik justru biografi Jenderal Sumitro yang ditulis dengan bahasa orang pertama,"aku". Ini mirip dengan buku Biografi Sukarno. Dalam buku Sumitro itu kemarahan, rasa tidak suka, kebencian, sikap iri, narsis bisa tergambar jelas sekaligus kenaifan dan kecerdasan Jenderal Mitro. Disini nampaknya Atun bebas menulis, sikap lugas Mitro ini mungkin dipengaruhi oleh pergaulannya dengan orang-orang PSI pada awal tahun 1970-an terutama dengan Sudjatmoko. Padahal sebelum tahun 1970-an Jenderal Mitro ini amat dekat dengan PNI radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal biografi Pak Harto tadi, setelah proyek bukunya selesai. G Dwipayanan meninggal. Atun ingin menagih bayaran proyek buku tersebut. Akhirnya Atun dipanggil ke Cendana. Tapi Pak Harto entah kenapa menolak untuk ketemu dengan Atun. Oleh ajudannya saat itu Kolonel Wiranto, Atun diantarkan ke garasi dan bilang ke Atun :"Pak Ramadhan ini mobil buat bapak" lalu Atun melihat mobil Toyota Accord merah baru dan joknya masih dibungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Sampai sekarang masih jadi misteri kenapa Pak Harto tidak pernah mau menemui penulis biografinya sendiri, suatu hal yang aneh. Buku biografi Pak Harto karya Ramadhan KH akhirnya jadi buku rujukan paling penting dalam memahami pribadi Suharto. 70% sumber indeks di buku riset Elson berasal dari buku Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan. Sulit memahami Suharto dalam konteks kesejarahannya tanpa membaca buku Atun ini sebagai bahan referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-7141835029773051450?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/7141835029773051450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=7141835029773051450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7141835029773051450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7141835029773051450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/12/secuil-kisah-buku-biografi-pak-harto.html' title='Secuil kisah buku Biografi Pak Harto'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-c8Yx5qJieoA/TtlBR6Dmo3I/AAAAAAAAA4w/Wajb0mQhu2Y/s72-c/Buku%2BPak%2BHarto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8052946316982062246</id><published>2011-11-30T03:39:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T04:01:33.992-08:00</updated><title type='text'>Obrolan ringan Beckham Syahrini pada saat Dinner</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-TOccrITt7DA/TtYamv8fJMI/AAAAAAAAA4k/ZvCcc0xgVvM/s1600/gosip.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TOccrITt7DA/TtYamv8fJMI/AAAAAAAAA4k/ZvCcc0xgVvM/s400/gosip.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680757232981976258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam dinner tadi malam, david beckham berusaha untuk ramah terhadap syahrini&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beckham : " Do U like salad ?"Dikira nanyain sholat, Syahrini menjawab : "Oh yes, five times a day."&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beckham : " Wow, that's very healthy. What kind of dressing ...do you like for salad ?"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Syahrini : "Mukena, of course."&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Si Beckham berfikir keras 'that must be a new dressing for salad I never knew it before'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di bagian chinese food, Si Jambul Khatulistiwa berusaha membalas keramahan Beckham . Bahasa Inggris pas-pasan, tapi nekad :&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Syahrini (sambil nyendok mie yg masih panas) : " Do you like mie ?"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beckham (bingung, dipikirnya me, saya) : "Eeeemmm....yes. With all respect."&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Syahrini (dg mantap menimpali) : "Mmmm ... still hot you know"&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beckham : ?!-+@% :D=D=))&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8052946316982062246?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8052946316982062246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8052946316982062246' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8052946316982062246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8052946316982062246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/obrolan-ringan-beckham-syahrini-pada.html' title='Obrolan ringan Beckham Syahrini pada saat Dinner'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-TOccrITt7DA/TtYamv8fJMI/AAAAAAAAA4k/ZvCcc0xgVvM/s72-c/gosip.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2121278149787236059</id><published>2011-11-28T20:22:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T20:24:10.796-08:00</updated><title type='text'>Kronologis</title><content type='html'>&lt;h6 style="font-family: arial; font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;1630  : Banten mulai dikuasai Belanda&lt;br /&gt;1775  : Seluruh wilayah Mataram Islam dikuasai Belanda&lt;br /&gt;1830 : Belanda bisa menghancurkan separatis terbesar sepanjang sejarah Jawa : Pangeran Diponegoro, sekaligus melancarkan bisnis konsesi-konsesi perkebunan, lelang lahan dilangsungkan di Jerman, Perancis dan Inggris dalam road show pemerintahan Hindia Belanda yang diketuai Van den Bosch. Dalam Road Show&lt;br /&gt;1830-1835 didapatkan hasil 4,5 juta gulden untuk investasi perkebunan, terbesar adalah pengusaha dari Jerman. Sekaligus Jerman menyediakan pasukan bayaran untuk memperkuat armada pengamanan investasi di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1907 : Amerika Serikat mulai menempatkan Konsulat Jenderal dan tugas utamanya adalah memperhatikan perkembangan ekonomi Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1909 : Kebijakan Intelijen pertama Jepang setelah kemenangan Jepang atas Russia yaitu menyelidiki seluruh aspek Imperialisme Eropa Barat di Asia Pasifik sekaligus mengestimasi pengalihan Koloni-Koloni ke tangan Jepang bila terjadi Perang Asia Pasifik dan membebaskan Asia dimana Asia akan dikonsolidasikan ke dalam sebuah pasar domestik besar bernama Asia Timur Raya. Lalu Jepang melakukan pengiriman seribu orang di Jawa, Sumatera, Malaya, Thailand dan Filipina dengan operasi paling rahasia yang disebut Operasi Sakura. Rata-rata Intel Jepang menggunakan toko-toko sebagai pusat intel mereka. Pangkat Intel dimulai dari Kapten sampai Kolonel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1910 : Seluruh Atjeh dikuasai Belanda dan Van Heutz berpidato di Istana Gambir atas kemenangan Belanda menguasai Atjeh. Van Heutz mengarahkan pada politik perang menaklukkan seluruh kerajaan di Bali yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1938  : Belanda menolak persekutuan Pribumi-Belanda untuk mengantisipasi kedatangan Jepang.&lt;br /&gt;1939 : Belanda melakukan pembelian senjata ringan dalam jumlah besar lewat perusahaan senjata di Singapura dan melakukan kerjasama dengan Inggris untuk bersiap menghadapi sekutu. Pusat kerjasama politik dan intelijen di tunjuk oleh perjanjian itu adalah Kota Bandung.&lt;br /&gt;1940  : Belanda mulai mendatangkan kapal-kapal tempur ukuran besar di Laut Surabaya.&lt;br /&gt;1942  : Jepang masuk&lt;br /&gt;1945  : Kaum Sosialis memerdekakan Indonesia 17 Agustus 1945&lt;br /&gt;1967  : Indonesia dijajah lagi oleh Amerika Serikat dengan Jenderal Suharto sebagai Presiden boneka AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1974  : Ada usaha Jepang untuk merebut pasar domestik Amerika Serikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1978  : Suharto mendapat perlawanan politik besar mahasiswa yang menggugat untuk menggantikan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1979  : Suharto berhasil menggebuk mahasiswa lewat politik NKK/BKK Daoed Joesoef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1985 : Suharto merasa tidak nyaman dengan kekuatan Islam yang mulai membesar dan isu adanya impor revolusi Iran. Tak ada jalan lain bagi Suharto kecuali menggunakan kekuatan Sukarnois untuk muncul ke muka dan memanfaatkan nasionalisme kiri untuk menutupi gerakan penggembosan PPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1986 : Foto Sukarno diarak warga Jakarta dan kemudian menyebar jadi alat politik jalanan, sementara Suharto diam-diam menggebuk PPP lalu menempatkan John Naro sebagai kartu politik penting di PPP. Gus Dur berhasil diajak masuk ke Golkar dan ikut-ikutan merusak PPP. Megawati dinominasikan oleh kader PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, Drs. Suryadi dan Megawati mulai jadi bintang politik oposisi paling fenomenal sepanjang sejarah Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1988 : Amerika Serikat memenangkan pasar domestik sejak diciptakan Paket-Paket ala Sumarlin yang menderegulasi seluruh Perbankan dan Pasar Modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1988 : Suharto merasa capek menjadi boneka AS ia mulai melirik Jerman Barat sebagai kekuatan baru ekonomi dunia sebagai kiblat ekonomi, pandangan Suharto ini dipengaruhi oleh BJ Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1989 : Politik Indonesia memanas ketika Sudharmono yang dituduh mengetahui atas peristiwa Madiun 1948, dan mulai dimusuhi kelompok Benny Moerdani. Perpecahan ini sebagai awal konflik internal militer fase kedua setelah peristiwa Pekan Baru 1980. Permusuhan Bennya Moerdani terhadap klik muda Suharto juga menjadi bagian penting dalam rentetan kejatuhan Suharto kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1992 : Kekuatan nasionalisme kiri pro Sukarno bangkit dan malah kebablasan kemana-mana menjadi peluru politik besar, yang memanfaatkan justru bukan hanya PNI lama atau eks tapol dan kekuatan-kekuatan yang dipinggirkan pada era pendongkelan Sukarno tapi juga kelompok PSI yang dulu ikut mendongkel Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1993    : Politik pembantaian terhadap Megawati dimulai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994 : Permadi di sebuah seminar menantang Amin Rais untuk mencalonkan diri jadi Presiden RI, hal ini ditanggapi intel dengan amat berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1996 : Ibu Negara, Bu Tien meninggal dunia. Suharto melakukan blunder paling memalukan sepanjang karir politiknya yaitu : penyerangan ke markas PDIP dimana tidak semua Jenderal menyetujui termasuk penolakan Jenderal Suyono menantu eks ajudan Sukarno : Brigjen Sugandhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1997 : Paket-Paket Sumarlin menjadi senjata makan tuan, Bank-bank yang banyak didirikan pedagang Glodok (bahkan ada ibu2 jualan kue bisa bikin Bank) menjadi sumber defisit negara akibat kredit besar-besaran yang hanya disalurkan pada kelompok bisnisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1998  : Amerika Serikat menjatuhkan Pemerintahan Boneka buatannya sendiri : Suharto.&lt;br /&gt;1999 : Amerika Serikat mulai melakukan test case atas pelepasan Timor Timur untuk menguji kekuatan militer Indonesia, ternyata dalam kasus Timtim tak terduga kekuatan Sosial menjadikan korban di pihak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000 : Mulai bermunculan orang-orang kaya baru yang memanfaatkan krisis 1998 dengan membeli perusahaan kolaps dengan harga murah dan saluran dana ini adalah sisa-sisa rezim lama. Kekuatan modal kaum kaya baru inilah yang kelak jadi patron penting dalam sejarah politik permodalan pada era demokrasi reformasi. Kaum kaya ini masuk ke parpol-parpol dan menjadi cukong politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002 : Megawati melakukan dansa politik dengan PM Cina, sekaligus mulai menasbihkan Indonesia akan jadi sekutu terbesar di Cina. Masuknya Megawati ke lingkaran Cina membuat Amerika Serikat marah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003 : Yudhoyono, selaku Menteri mengatakan tanpa malu di depan Pejabat AS : "Amerika Serikat adalah negara kedua bagi saya, saya tak peduli dengan kesalahan-kesalahannya" Pernyataan Yudhoyono ini mengakui atas dua hal : 1. Yudhoyono tidak bersikap kritis atas sejarah pembantaian 3 juta nyawa di Indonesia dan pengiriman ribuan orang ke kamp kerja paksa Pulau Buru dimana AS ikut bertanggung jawab atas tragedi tersebut. 2. Yudhoyono siap menjadi Pemimpin boneka yang baru. Sekaligus menjawab pertanyaan besar AS : "Siapakah yang harus dipilih selain Megawati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004   : Amerika Serikat sudah menemukan sekutu politiknya yang paling bisa diandalkan : Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2011   : Amerika Serikat menempatkan pangkalan militernya di Darwin, Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah adalah pengulangan terus menerus dan sudah menjadi takdir sejarah bahwa Indonesia merupakan sejarah dari pengulangan-pengulangan intervensi asing yang selalu saja menimbulkan korban jiwa dan rakyat yang tinggal di dalamnya tak pernah sejahtera.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2121278149787236059?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2121278149787236059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2121278149787236059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2121278149787236059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2121278149787236059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kronologis.html' title='Kronologis'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2803097471982620611</id><published>2011-11-28T08:55:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T08:57:32.657-08:00</updated><title type='text'>satu-satunya permata</title><content type='html'>&lt;h6 style="text-align: justify; font-weight: normal;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Indonesia adalah satu-satunya permata tunggal milik AS yang masih kokoh untuk jadi negara budak mereka, Presiden SBY masih sempat bilang AS adalah negeri keduanya, Malaysia-Brunei-Singapore jelas milik Inggris, Filipina masih dibawah pengaruh AS tapi Pinoy tak memiliki apa-apa kecuali perkebunan-perkebunan sisa jaman lama, Thailand sejak awal sudah netral, Vietnam dan Myanmar pasti satu kaukus dengan RRC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu negara hegemoni AS runtuh di Amerika Latin. Pertama kali adalah Venezuela, disusul Argentina, Bolivia dan Brazil. Sementara Mexico kekuatan anti AS mulai menguat walaupun pemerintahannya yang sekarang masih dibawah kontrol AS. Kanada lama-lama juga tidak mau dekat dengan Amerika Serikat yang mulai sakit, Inggris cemas bila Kanada akan diakuisisi walaupun itu kelihatannya tak mungkin, tapi dalam soal perebutan sumber daya alam maka kepentingan nasional yang diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Russia sudah mulai sembuh dari penyakit ekonominya yang ditinggalkan sejak jaman Gorby dan Yeltsin. Keluarga-keluarga sindikat mafia Russia yang tadinya adalah penjahat terorganisir kini diam-diam sudah menjadi jaringan pengusaha konglomerat dan memperkokoh ekonomi Russia. Agenda politik terpenting Putin adalah ekonomi Berdikari, ia mengoreksi seluruh kesalahan ekonomi yang dimulai sejak era Brezhnev dan mengakibatkan kebangkrutan ekonomi di era Gorby, kunci-kunci penting ekonomi diserahkan pada swasta ini sama persis apa yang dilakukan Lenin di awal pemerintahannya sekitar tahun 1919-1922. Hanya saja Lenin terlalu cepat mati dan memunculkan Stalin yang justru menggebuk pertanian untuk dikonversi jadi industri, pertanian individu diubah menjadi pertanian kolektif yang menyebabkan kelaparan, Putin tidak ingin mengulangi kesalahan Stalin ia mengandalkan impor pangan, tapi ia meneruskan program industrialisasi di dalam negeri mirip Stalin yang kemudian jadi kekuatan besar ekonomi dunia saat perjanjian Yalta 1945 di tepi pantai Krim ditandangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brasil, Russia, India dan Cina (BRIC) jadi kekuatan dunia baru, menenggelamkan dunia lama seperti Eropa dan Amerika Serikat. Pasar domestik diantara mereka saja sudah cukup untuk menggerakkan dunia, peradaban dunia kembali kepada abad 12 dimana Asia masih menjadi pusat dunia. BRIC ini menurut istilah Ahmadinedjad adalah sebuah Kekuatan Negara-Negara Baru. Sesungguhnya ini sudah diramalkan lama oleh Bung Karno, tentang New Emerging Forces, tapi sayang Jenderal lulusan Schakel MULO macam Harto nggak tau pemikiran abstraks Sukarno, maka benarlah kata Mayjen S Parman menurut transkrip yang pernah dicoba diungkap pada prolog Gestapu 65 : "Harto iku pendidikane opo, kok arep-arep melu ngurus negoro". Ini soal Dewan Djenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang masih banyak generasi muda masih banyak meludahi Sukarno hanya gara-gara soal suka perempuan ataupun tetek bengek urusan penjarakan Sutan Sjahrir tahun 1960 yang di dalam dunia politik era itu adalah jamak. Toh, Sjahrir dulu bersama Amir Sjafruddin juga perintahkan penjarakan Tan Malaka dan kawan-kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nasib kita masih jadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2803097471982620611?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2803097471982620611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2803097471982620611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2803097471982620611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2803097471982620611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/satu-satunya-permata.html' title='satu-satunya permata'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6976431168688742923</id><published>2011-11-27T20:22:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T20:26:34.303-08:00</updated><title type='text'>Generasi Yang Besar di Tahun 80-an.....</title><content type='html'>&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Generasi yang dibesarkan tahun 80-an, adalah generasi di Tepi Tapal Batas Loncatan Jaman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I GREW UP in the 80's. - We are the last generation who learned to play in the street, we are the 1st who've played video games, and were the last to record songs of the radio on cassettes and we are the pioneers of walkmans and chatrooms. - We learned how to program the VCR before anyone else, play with At&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;ari, Super Nintendo &amp;amp; Genesis. - We also believed that the internet would be a free world. ...- We are the generation of the Thunder Cats, Power Rangers, Ninja Turtles, Transformers, Saved by the Bell, The Fresh Prince of Bel-Air, and Martin - Traveled in cars without seat belts or air-bags -lived without cell phones. - We didn't have 99+ television stations, flat screens, surround sound, mp3's, Ipods, Facebook, or Twitter, but nevertheless we had a GREAT Time!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6976431168688742923?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6976431168688742923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6976431168688742923' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6976431168688742923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6976431168688742923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/generasi-yang-besar-di-tahun-80.html' title='Generasi Yang Besar di Tahun 80-an.....'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6260446303351408810</id><published>2011-11-27T19:47:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T20:23:25.223-08:00</updated><title type='text'>Dibalik Sejarah Partai dan Kota</title><content type='html'>&lt;h6 style="text-align: justify; font-weight: normal;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Kalau dipelajari ternyata setiap kota-kota di Indonesia ini memiliki sejarah kepartaian yang amat erat kaitannya dengan jejak sejarah Partai dan kebanyakan dari kejadian-kejadian besar yang amat mempengaruhi Partai di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka ternyata Cirebon ini adalah basis PSI (Partai Sosialis Indonesia) hampir seluruh kejadian penting PSI selalu bermula di Cirebon, mulai dari Prok&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;lamasi Kemerdekaan ala dokter Sudarsono yang kelak jadi tokoh penting PSI, agenda pembentukan PSI setelah bubar kongsi dengan PS-Sjahrir Amir, ataupun ketika Sukarno dan Angkatan Darat melakukan bredel terhadap PSI. Gemsos, gerakan muda sosialis PSI juga banyak lahir dari kota ini. Tokoh terpenting PSI yang masih hidup dan sekarang jadi sesepuh PKS, Suripto lahir di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang-Solo :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Semarang dan Solo selalu selamanya akan jadi basis PKI. Pemogokan-pemogokan yang dilakukan gerakan komunis di masa silam adalah bagian tak terlepaskan dari sejarah kota Semarang. Sementara hampir semua tokoh-tokoh penting PKI yang lari dikejar tentara entah mengapa selalu sembunyi di kota Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta ini basis terpenting PNI, sulit memisahkan alam bawah sadar orang Yogya dengan Bung Karno, inilah kenapa di tahun 1970-an awal ada gejolak batin bagi orang Yogya ketika Sultan HB IX memilih Golkar sebagai basis mesin politiknya, saat itu penduduk Yogya terpecah, setia pada Sultan atau tetap mengenang Bung Karno sebagai bagian terindah dalam hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta adalah basis penting Partai Murba, partai bentukan Tan Malaka. Walaupun ketika Murba berdiri, Jakarta bukanlah bagian dari gerakan Murba seperti di Yogya dan Solo, tapi setelah kematian Tan Malaka, Jakarta adalah pusat dari segala gerakan orang-orang Murba. Hampir semua anak didik Tan Malaka lahir dari sebuah toko buku di Pasar Senen bekas dimana Adam Malik sering nongkrong tiap pagi sambil baca komik dan meracau. Di kota inilah para pejuang-pejuang akhir Murba meneteskan air matanya ketika mereka menyaksikan Murba digabung ke PDI lewat fusi paksa 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit melepaskan jiwa kota Padang dengan Masjumi, orang Minangkabau ini orang paling eksentrik se Indonesia, mereka bisa melahirkan Islam yang amat fanatik tapi juga gerakan Komunis lahir dari otak orang-orang Minang. Di antara suku-suku se Indonesia, orang Minanglah yang paling banyak memproduksi gagasan-gagasan politik dan salah satunya adalah Masjumi. Masjumi menjadi gerakan politik Islam urban dan sebagai lambang kekuatan Islam di luar Jawa menandingi gerakan Islam yang lahir di Jawa seperti Muhammadiyah dan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kota bukan hanya barisan tembok-tembok, tapi ia juga menyimpan banyak kejadian tentang masa lalu........&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6260446303351408810?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6260446303351408810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6260446303351408810' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6260446303351408810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6260446303351408810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/dibalik-sejarah-partai-dan-kota.html' title='Dibalik Sejarah Partai dan Kota'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1706021384834379255</id><published>2011-11-27T19:18:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T19:20:46.262-08:00</updated><title type='text'>Kita adalah Ibu Kandung dari Keadaan ini</title><content type='html'>&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Selama kita mengagumi dan menganggap ukuran prestasi adalah kepemilikan benda-benda, ukuran gengsi sosial itu adalah kekayaan dengan berapa jumlah di rekening kita, derajat kemanusiaan dinilai dari kemampuan kita mengakumulasi kekayaan selama itu pula sistem negeri ini akan selalu melahirkan bajingan-bajingan politik dengan anggaran negara sebagai pusar seluruh kerja politik mereka, demokrasi hany&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;a akan menghasilkan sebarisan kaum dungu yang tak tau malu, dan agama hanya memproduksi orang yang pintar bicara dan menjual ayat dengan harga murah. Budayawan-budayawan kita berubah menjadi pedagang pandai menghitung rekening di setiap pertunjukan, pelukis-pelukis kita tidak lagi merenung dengan kegilaan fantasinya tapi malah asik mengestimasi harga gorengan lelang di pasar lukisan dunia. Sastrawan-sastrawan kita menulis hanya untuk uang atau hanya bisa terlihat hebat di mata kawan-kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu marah dengan keadaan yang kian memburuk ini, tapi kita sendiri adalah ibu kandung dari keadaan ini, kitalah yang melahirkan kondisi bejat seperti ini. Tanpa sadar, kita mengagumi orang-orang yang pandai korupsi, tanpa sadar ibu-ibu lebih menyukai memiliki menantu seorang pejabat pajak yang pandai tilap laporan-laporan pajak ketimbang seorang guru yang jujur, kita lebih menghargai politikus yang memiliki duit trilyunan ketimbang pejuang kemanusiaan yang bertarung sendirian di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah mengagumi kekuatan benda-benda, berhentilah mengagumi kekayaan, karena hakikat kemanusiaan itu diletakkan sejauh mana manusia berguna bagi masyarakatnya, bagaimana manusia bisa menjadikan hidupnya lebih baik bagi orang lain, karena inilah inti ajaran hidup yang selalu dipesankan oleh orang-orang tua kita yang tau bagaimana menikmati hidup dengan nada tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kembalilah pada kemanusiaanmu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1706021384834379255?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1706021384834379255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1706021384834379255' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1706021384834379255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1706021384834379255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kita-adalah-ibu-kandung-dari-keadaan.html' title='Kita adalah Ibu Kandung dari Keadaan ini'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-7868875952318483657</id><published>2011-11-27T09:57:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T10:54:53.547-08:00</updated><title type='text'>Rasa Keindonesiaan......</title><content type='html'>&lt;h6 style="text-align: justify; font-weight: normal;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Abis baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya, tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan&lt;span class="text_exposed_show"&gt; di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton, saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya lagi orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun, bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu tentang kerinduan pada bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai bangsa adalah hal yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri, namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-7868875952318483657?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/7868875952318483657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=7868875952318483657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7868875952318483657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7868875952318483657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/rasa-keindonesiaan.html' title='Rasa Keindonesiaan......'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2466993055298445718</id><published>2011-11-27T04:15:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T04:35:22.454-08:00</updated><title type='text'>Motivasi Ala Sukarno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-D9h_MTNH3zA/TtIuAJS02XI/AAAAAAAAA4Y/9uhezmmoaPY/s1600/Sukarno%2Bmelawan%2BAmerika.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-D9h_MTNH3zA/TtIuAJS02XI/AAAAAAAAA4Y/9uhezmmoaPY/s400/Sukarno%2Bmelawan%2BAmerika.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679652660097374578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Apabila Mario Teguh hanya menciptakan kata-kata motivasinya sebagai candu bagi pendengarnya, maka Bung Karno menciptakan kata-kata menjadi sebuah wujud, sebuah gerak, menjadi sebuah alur drama perjalanan bangsa ini, dialah orang yang mampu menggerakkan jutaan orang untuk berbuat untuk mimpi yang sama, membeli cita-cita yang sama -Sebuah kebesaran dan kehormatan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu ka&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;limat motivasi Sukarno : "Bangsa yang tidak percaya pada kemampuan dirinya sebagai bangsa, tidak berhak menjadi bangsa yang merdeka." Dan katanya lagi, "Jangan mengeluh, karena mengeluh pertanda kelemahan jiwa. Kita harus sanggup digembleng oleh keadaan. Hampir hancur lebur bangun kembali, hampir hancur lebur bangun kembali."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2466993055298445718?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2466993055298445718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2466993055298445718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2466993055298445718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2466993055298445718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/motivasi-ala-sukarno.html' title='Motivasi Ala Sukarno'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-D9h_MTNH3zA/TtIuAJS02XI/AAAAAAAAA4Y/9uhezmmoaPY/s72-c/Sukarno%2Bmelawan%2BAmerika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1995603761930228446</id><published>2011-11-26T21:35:00.001-08:00</published><updated>2011-11-26T21:37:12.724-08:00</updated><title type='text'>Kisah Jembatan Bung Karno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-REv_qz_X6gc/TtHMbcgFB-I/AAAAAAAAA4M/N7N20sfqNNc/s1600/jembatan-ampera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-REv_qz_X6gc/TtHMbcgFB-I/AAAAAAAAA4M/N7N20sfqNNc/s400/jembatan-ampera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679545376970180578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kisah Jembatan Bung Karno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1923 seorang Residen Palembang Le Cocq de Ville menyusuri sungai Musi. Ia melihat sekeliling sungai dan banyaknya perahu yang lalu lalang, kemudian kapalnya merapat ke sebuah rumah kepala lingkungan di tepi Sungai Musi. Di sana Le Ville bertanya “Kenapa seberang Ulu dan Seberang Ilir ini tidak disatukan jembatan?” tanya De Ville sambil tangannya menunjuk arah dua tempat itu. Kepala lingkungan menjawab dengan sopan “Dulu waktu pembentukan Gemente (Pemerintahan Kota) Palembang sekitar tahun 1906, ide ini pernah ada...tapi kabarnya tidak jadi karena Batavia sedang sibuk urusan di tempat lain, saya waktu itu juga hadir dalam pertemuan di Gemente”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Ville berpikir keras ide ini hebat juga, ia ingin meninggalkan kenangan sebagai pembangun Jembatan besar di Sungai Musi. Pada tahun 1924, de Ville berangkat ke Batavia, sesampainya di Batavia ia diajak ke tempat peristirahatan Gubernur Jenderal di Buitenzorg Bogor. Sesampainya di Bogor, Gubernur Jenderal bertanya pada de Ville “Bagaimana pembangunan kota Palembang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Ville menjawab “saya ingin Batavia membangun Jembatan di Sungai Musi”. Gubernur Jenderal mengangguk-angguk “Sebenarnya dulu sudah mau dibangun, tapi Batavia sedang sibuk bangun kota Bandung, konsentrasi diarahkan kesana semua, terbukti kontes kota-kota kolonial di Afrika Selatan Bandung jadi kota koloni terbaik sedunia”.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Ville mengeluarkan rencana jembatan yang dibuat oleh arsitek temannya. Gubernur Jenderal menyimak gambar tersebut kemudian memerintahkan ajudannya untuk menyimpan gambar. Pada tahun 1928 ada kabar bahwa Jembatan akan dibangun, tapi kemudian rencana itu dibatalkan karena sedang ada resesi dunia di tahun 1929, Batavia mengambil kebijakan untuk proyek raksasa semuanya dihentikan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa dengan batalnya rencana ini, de Ville memesankan kepada beberapa pemimpin di Palembang untuk tetap berjuang dalam membangun Jembatan Sungai Musi. Idee de Ville ini justru terlaksana ketika Hindia Belanda bangkrut dan Palembang dikuasai oleh orang-orang Republik. Pada tahun 1956 dibentuklah Parlemen Daerah Peralihan Awal untuk Kota Palembang. Beberapa pemimpin Palembang hadir dalam rapat pleno Parlemen Peralihan itu, seperti Penguasa Perang Daerah Kolonel Harun Sohar, Gubernur Palembang H.A Bastari dan walikota Palembang M. Ali Amin. Dalam rapat itu usulan besarnya adalah membangun Jembatan di Sungai Musi, disepakati nama Jembatan itu adalah Jembatan Musi. Setelah rapat pleno usai, beberapa pemimpin berkumpul di ruang pertemuan gubernuran untuk membahas pembangunan Jembatan Musi yang sudah disetujui Parlemen Daerah (DPRD), mereka sepakat untuk mengumpulkan modal awal dulu. Pada tahun 1957, panitia kemudian berhasil mengumpulkan modal awal Rp. 30.000,-. Di tahun itu juga kemudian beberapa orang mengusulkan agar melapor ke Djakarta untuk meminta anggaran pembangunan Jembatan Musi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pemimpin Palembang seperti Gubernur Bastari, Penguasa Perang Daerah Kolonel Harun Sohar, Walikota Ali Amin dan seorang pengusaha bernama Indra Caya, berusaha menemui Bung Karno. Saat itu Bung Karno baru saja pulang dari lawatannya ke beberapa negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno dilapori ajudannya Kolonel Sugandhi tentang adanya beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai Tim Pembangunan Jembatan Musi akan menemui dirinya. Sukarno membaca surat permintaan bertemu, dengan singkat Bung Karno berkata pada Gandhi “Segera pertemukan pada saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim itu akhirnya diundang sore hari untuk menikmati teh panas dan beberapa panganan gorengan. Mereka bicara di beranda Istana Negara sambil melihat-lihat taman. Sukarno bercerita soal dirinya yang Insinyur “Dulu saya ini hanya bangun jembatan-jembatan kecil, bikin jembatan se-iprit, kecil....saya tidak suka sebenarnya, saya suka dengan Jembatan yang mampu menggugah daya sadar, bukan saja Jembatan yang mampu membangunkan kekuatan ekonomi rakyat, tapi juga jembatan yang mampu menjadikan lambang dari kota itu, Jembatan itu harus aman, harus memberikan rasa aman kepada yang menggunakannya, jangan sampai dibangun lantas roboh, dibangun lantas roboh...dibangun lantas roboh....itu pernah terjadi di Belanda, makanya orang Belanda sangat hati-hati jikalau sedang membangun Jembatan, hitungannya teliti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Gubernur menyerahkan rencana pembangunan Jembatan kepada Bung Karno. Melihat rancangannya yang sedemikian sederhana Bung Karno menolak. “Saya akan buat yang lebih bagus lagi untuk Rakyat Palembang” lalu beberapa bertanya soal pendanaan. “Bagaimana dengan pendanaannya Pak...?” tanya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tak usah pusing, urusan itu aku yang urus...yang penting bagaimana rakyat Palembang mampu mendapatkan kebanggaannya sekaligus meningkatkan kesejahteraannya lewat pembangunan Jembatan ini....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukarno sudah memperhitungkan dengan baik, pembangunan Jembatan ini tidak akan memberatkan anggaran negara, ia tahu bahwa Perdana Menteri Djuanda sedang mempersiapkan tanda tangan pampasan perang Djepang. Pada tahun 1955 sebenarnya Pampasan Jepang itu akan cair, tapi Indonesia bersikeras Djepang harus membayar sekitar 17,7 Milyar Dollar karena Indonesia kehilangan 4 juta nyawa selama Indonesia di jajah Djepang. Sebenarnya dana Pampasan Perang Djepang ini adalah desakan sekutu pada konferensi di San Fransisco 1951 agar Djepang membayar ganti rugi kepada negara-negara eks jajahan. Namun Djepang selalu berkelit dan malah membuat rencana besar pampasan ini akan diubah bentuknya jadi pembukaan pasar domestik. Akhirnya Djepang hanya mau mengeluarkan 200 juta dollar untuk biaya pampasan Jepang, penghapusan hutang dan bantuan jangka panjang 400 juta dollar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1958 Sukarno sudah mendapatkan kabar dari Perdana Menteri Djuandan bahwa sekitar 20 juta dollar tahap pertama pampasan Jepang akan segera disetujui. Berdasarkan dari kabar inilah Sukarno menyusun salah satu rencananya membangun Jembatang Sungai Musi. Pada tahun 1960, dana benar-benar cair dan dimulailah Jembatan Musi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukarno meminta kepada arsitek Jembatan Musi ini agar membangun boulevard di kedua sisi jembatan. Jembatan Musi dibangun dengan arsitek Jepang yang memang amat paham bagaimana membangun Jembatan di wilayah dengan resiko gempa tinggi. Sukarno meminta agar Jembatan itu bisa bertahan 100 tahun bahkan lebih, ahli-ahli Jepang itu menyanggupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1965, Jembatan itu selesai dibangun dan rakyat Palembang memberikan nama Jembatan itu “Jembatan Bung Karno”. Sebagai rasa terima kasih mereka kepada Presidennya yang telah berjuang membangun Jembatan di tengah kota Palembang dan menjadi kebanggaan rakyat Palembang. Tapi konspirasi Gestapu 65 membuat Sukarno terpuruk, saat ramai-ramainya demonstrasi 1966, Jembatan Bung Karno diganti namanya menjadi “Jembatan Ampera” Ampera ini singkatan “Amanat Penderitaan Rakyat”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1995603761930228446?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1995603761930228446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1995603761930228446' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1995603761930228446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1995603761930228446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kisah-jembatan-bung-karno.html' title='Kisah Jembatan Bung Karno'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-REv_qz_X6gc/TtHMbcgFB-I/AAAAAAAAA4M/N7N20sfqNNc/s72-c/jembatan-ampera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2567053968089453679</id><published>2011-11-25T05:09:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T05:11:55.940-08:00</updated><title type='text'>Tentang Rasa Syukur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OWuBFGou8MY/Ts-UBGDnHjI/AAAAAAAAA4A/ERNDyTgBARc/s1600/makan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 312px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OWuBFGou8MY/Ts-UBGDnHjI/AAAAAAAAA4A/ERNDyTgBARc/s400/makan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678920401664024114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersukurlah kamu bisa makan ditempat layak, bisa makan enak dengan tenang. Kerna jutaan diluar sana saudara-saudara kita sebangsa masih mengais-ngais untuk mencari nasi, masih makan dari tempat yang terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya kemerdekaan bila tidak membuat orang tertawa, bila tidak bisa menembus batas-batas kemiskinan. Negara ini didirikan bukan untuk memperkaya segelintir orang, bukan untuk memperkaya orang-orang berseragam. Ketika kita melihat Anggaran Jamuan Makan Gubernur DKI 4,9 Milyar dan Anggaran Makan Pemda DKI 19 Milyar. Lalu kenapa rakyatnya masih mengais-ngais sampah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini didirikan agar menjadi rumah bersama, bukan jembatan yang memisahkan antara kamu dan aku, antara yang kaya dan miskin. Kemiskinan bukanlah takdir tapi sebuah kesalahan pengurusan dalam masyarakat, ketika kemiskinan kau anggap takdir maka detik itu juga engkau telah menghina Tuhan yang memberikan hadiah terbesar bagi manusia : Berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembalikan Indonesia Raya kedalam ranah kemanusiaannya, sebuah negara yang bisa mengembalikan manusia pada fungsi kemanusiaannya. Dan tak ada yang lebih besar daripada fungsi kemanusiaan kecuali dia bisa makan dengan cara yang terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikirlah, karena agamamu selalu mengajarkan manusia untuk berpikir.........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2567053968089453679?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2567053968089453679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2567053968089453679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2567053968089453679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2567053968089453679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/tentang-rasa-syukur.html' title='Tentang Rasa Syukur'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OWuBFGou8MY/Ts-UBGDnHjI/AAAAAAAAA4A/ERNDyTgBARc/s72-c/makan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8404377697289895542</id><published>2011-11-25T05:06:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T05:08:09.192-08:00</updated><title type='text'>Menulis Menghilangkan Rasa Sedih</title><content type='html'>Aksara yang kau tulis dalam kesedihan adalah air matamu, aksara yang menghiburmu. Saat kau menyusun kalimat yang tepat, detik itu juga kau sedang menafsirkan kesedihanmu. Menulis itu menguburkan rasa sedih dan merupakan daya hidup di hatimu untuk memaafkan dan membuatmu merasa damai. -Menulislah ketika engkau sedang bersedih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8404377697289895542?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8404377697289895542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8404377697289895542' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8404377697289895542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8404377697289895542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/menulis-menghilangkan-rasa-sedih.html' title='Menulis Menghilangkan Rasa Sedih'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8179990789986943131</id><published>2011-11-25T05:04:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T05:05:49.087-08:00</updated><title type='text'>Akibat Perceraian Jaman Sekarang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;70% perceraian dini (usia pernikahan dibawah 5 tahun) terjadi karena pasangan gagap menghadapi realitas kapitalisme. Pengertian-pengertian kita selama ini bahwa pernikahan adalah ruang sakral terhadap cinta sesungguhnya sudah hancur ketika kapitalisme menjadi satu-satunya ruang hidup kita. Relasi kita tidak lagi didasari pada hubungan saling mencintai karena ruang kapitalisme itu sudah mengasingkan gegap cinta itu ke sudut gelap. Perjuangan membangun rumah kehidupan tidak lagi didasarkan pada daya hidup saling menyayangi tapi didasari pada siapa memanfaatkan siapa? - Konsumerisme-lah yang menyebabkan ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pasangan di jaman lalu, melandaskan pernikahan pada status sosial, pekerjaan dan latar belakang keluarga juga meletakkan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan sosial dengan meletakkan relasi yang tidak seimbang antara kekuasaan lelaki dan ketidakberdayaan perempuan sehingga perempuan tidak bisa menjadi diri yang sebenarnya dan kebanyakan dari langgengnya pernikahan itu pada hubungan saling ketertindasan, maka di jaman sekarang relasi seperti itu sudah hancur. Relasi-relasi yang didasarkan pada pandangan konvensional (status sosial, pekerjaan suami atau latar belakang keluarga) tidak lagi menjadi landasan penting, yang terpenting adalah terciptanya arus kas yang lancar untuk menghidupkan kebahagiaan. Kebahagiaan dalam relasi kapitalisme adalah imajinasi-imajinasi konsumtif yang kemudian dijadikan ukuran dalam meletakkan kebahagiaan keluarga. Ketika suami tidak berdaya menghadapi kegagapan dalam menjelaskan relasi kapitalisme ini maka pernikahan diujung kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pasangan muda yang kaget melihat relasi ini karena tertutupnya gambaran cinta seperti screen saver romantis yang menutupi dunia realitas. Realitas kita adalah realitas kapitalisme, setiap hirupan nafasmu adalah nafas kapitalisme, semua imajinasi kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kapitalisme dan ketika kita mencari alternatif-alternatif diluar itu maka kita akan terasingkan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan relasi kapitalisme inilah yang menjadikan alasan terpenting bagi terciptanya sebuah perceraian dengan selubung macam-macam : Ketidaksesuaian paham, perselingkuhan, keyakinan, gaya hidup dan pertikaian antar keluarga besar. Jadi sebelum engkau mengerti tentang hakikat pernikahan, mengerti dulu-lah tentang bagaimana struktur masyarakat bekerja, hubungan bisa dibangun berdasarkan apa? dan bagaimana sebuah relasi bisa bekerja dengan baik pada situasi-situasi kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ustadz Anton.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8179990789986943131?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8179990789986943131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8179990789986943131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8179990789986943131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8179990789986943131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/akibat-perceraian-jaman-sekarang.html' title='Akibat Perceraian Jaman Sekarang'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-310676723815022888</id><published>2011-11-25T04:58:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T05:00:40.585-08:00</updated><title type='text'>Alam Sumatera Barat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-cFEM_Umq8mI/Ts-RZkg4PgI/AAAAAAAAA30/SUSL68xhLpg/s1600/alam%2Bsumatera%2Bbarat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 293px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cFEM_Umq8mI/Ts-RZkg4PgI/AAAAAAAAA30/SUSL68xhLpg/s400/alam%2Bsumatera%2Bbarat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678917523621821954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Sumatera Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampungku jauh di mata&lt;br /&gt;pada selendang senja atau redup udara pagi&lt;br /&gt;degup angin pelan-pelan menutup telinga&lt;br /&gt;getar suara adzan di waktu subuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampungku jauh di mata&lt;br /&gt;terkenang bila aku duduk sendirian di beranda&lt;br /&gt;pada kota sepi, dimana tak ada lagi ikatan-ikatan&lt;br /&gt;Aku rindu pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampungku jauh di mata&lt;br /&gt;Derai sudah air mata, kerna aku rindu bau tanah wangi setelah hujan&lt;br /&gt;aku rindu tawa kawan-kawan di tepi surau&lt;br /&gt;Pada pematang demi pematang&lt;br /&gt;kita mencari belut dan tunas hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu...Rindu..aku pada biru gunung&lt;br /&gt;pada air bening seperti mata Tuhan yang menetes&lt;br /&gt;Pada kicau burung di pagi waktu, pada nyanyian-nyanyian kegembiraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kampungku...kampungku&lt;br /&gt;kuning sawah, hijau daun&lt;br /&gt;pelupuk mata ini menjadi layar lebar kenangan-kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada senja yang turun&lt;br /&gt;Pada matahari yang ranum&lt;br /&gt;aku rindu pulang pada kampungku yang jauh di mata&lt;br /&gt;tempat dimana Tuhan memberikan kedamaian.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANTON DATUK TAN MALAKA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-310676723815022888?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/310676723815022888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=310676723815022888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/310676723815022888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/310676723815022888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/alam-sumatera-barat.html' title='Alam Sumatera Barat'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cFEM_Umq8mI/Ts-RZkg4PgI/AAAAAAAAA30/SUSL68xhLpg/s72-c/alam%2Bsumatera%2Bbarat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2871879582828960188</id><published>2011-11-25T04:50:00.003-08:00</published><updated>2011-11-25T04:52:19.997-08:00</updated><title type='text'>Tentangmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-V9Z1scM5J6Q/Ts-PXAFFCRI/AAAAAAAAA3o/ErC2zNPp17c/s1600/daun%2Bmapple.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-V9Z1scM5J6Q/Ts-PXAFFCRI/AAAAAAAAA3o/ErC2zNPp17c/s400/daun%2Bmapple.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678915280458549522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu, belasan tahun yang lalu&lt;br /&gt;Aku bertanya pada arus kali yang menggerus batu-batu&lt;br /&gt;Aku bertanya pada harum tanah yang dimandikan embun pada pagi waktu&lt;br /&gt;Aku bertanya pada tubuhmu yang dahulu wangi kopi&lt;br /&gt;............: Dimanakah janji harus diletakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bunga-bunga jaman yang mekar kerna benih ditangan&lt;br /&gt;Pada aksara biru laut yang dituliskan burung-burung camar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan yang mati&lt;br /&gt;Kenangan yang mati&lt;br /&gt;Ejaan namamu yang mati&lt;br /&gt;Makna-makna yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun kering jatuh di samping jendela&lt;br /&gt;Janjimu sudah lenyap dimakan rayap waktu&lt;br /&gt;Dahan kering gambar wajahmu&lt;br /&gt;Satu-satu gugur pada tinta pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini sepi sudah&lt;br /&gt;Mengenang bulan itu, belasan tahun yang lalu&lt;br /&gt;Wajahmu&lt;br /&gt;Arus kali&lt;br /&gt;Wangi Kopi&lt;br /&gt;Embun batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......................: Memoar Rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTON, Agustus 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2871879582828960188?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2871879582828960188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2871879582828960188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2871879582828960188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2871879582828960188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/tentangmu.html' title='Tentangmu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-V9Z1scM5J6Q/Ts-PXAFFCRI/AAAAAAAAA3o/ErC2zNPp17c/s72-c/daun%2Bmapple.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-7846040429183346787</id><published>2011-11-25T04:43:00.001-08:00</published><updated>2011-11-25T04:50:13.719-08:00</updated><title type='text'>Tragedi Ellyas Pical</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-JR1RF1O3RZ0/Ts-ONbcrgHI/AAAAAAAAA3c/jmwGq3tuezA/s1600/pical.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 203px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JR1RF1O3RZ0/Ts-ONbcrgHI/AAAAAAAAA3c/jmwGq3tuezA/s400/pical.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678914016494977138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tragedi Ellyas Pical&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu ditahun 2008 saya pernah datang bersama teman saya ke markas Pertina di Gedung KONI Senayan untuk bertemu dengan Sjamsul Harahap. Kebetulan teman saya ada urusan dengan Sjamsul Harahap. Setelah berbicara dengan Sjamsul saya keluar ruangan dan sekelebat melihat sosok Elly Pical. Teman saya yang sering liat Elly Pical di Senayan berkata "Elly Pical sering jalan sendirian disana, nggak tau apa yang dikerjakan" Saya tertegun dan berpikir lama. Kenangan saya meloncat ke pertengahan tahun 1985. Saat itu rakyat Indonesia sedang demam Pical, waktu Pical melawan Judo Chun jalan-jalan di Jakarta nyaris kosong, semua orang tegang di depan layar televisi. Semua orang Indonesia melonjak kegirangan di depan TVRI saat Pical terus melayangkan Uppercut kiri-nya yang fenomenal itu, saat itu rakyat Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pical adalah fenomena dia lahir sebagai anak miskin di Saparua, Ambon, kerjanya mencari mutiara alam tiap hari dia menyelam sehingga kupingnya separuh budeg. Ia gambaran anak bangsa yang miskin dan bertahan hidup. Pical kecil menyenangi Ali dan sering nonton Ali di TVRI. Ia kerap diam-diam berlatih sendirian di ladang sagu untuk menjadi seorang petinju. Dan kehidupan Pical adalah drama itu sendiri. Di tahun 1985 Pical menjadi bintang dalam benak bangsa Indonesia. Di tahun 1985 dunia olahraga Indonesia memang menuju puncaknya sebelum merosot hancur setelah tahun 1990. Saat itu sepakbola kita mampu berbicara di tingkat Internasional orang2 macam Rully Nere, Djoko Malis atau Bambang Nurdiansjah menjadi idola di masanya. Liem Swie King lagi jaya-jayanya. Namun Pical adalah fenomena tersendiri karena dia merupakan juara dunia Indonesia yang pertama. Teriakan : Elly...Elly...Elly menjadi teriakan wajib di tahun-tahun itu melengkapi banyak peristiwa macam bom cilandak atau penyerbuan tentara ke Tanjung Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kegembiraan di masa lalu, kebanggaan di masa lalu tidak terlihat pada wajah Elly Pical di masa itu. Tangannya yang rada gemetar tidak memperlihatkan bahwa tangan kiri itu pernah dijuluki sebagai Rudal Exoceet, seperti Rudal buatan Perancis yang digunakan Inggris buat gempur Argentina di Pulau Malvinas. Tangan itu seperti tangan yang lelah. Bangsa ini tidak pernah mampu memuliakan orang yang berjasa pada negara, orang banyak makmur bukan dari kerja keras tangannya tapi dari mencuri : Mencuri uang pajak, memark up anggaran atau membobol bank. Tangan jujur seperti Elly Pical yang tidak pernah mengambil uang rakyat, bahkan pernah membuat orang Indonesia bangga pada bangsanya hanya kadang-kadang diangkat untuk memarkir mobil........Hidup memang tragedi dan tragedi selalu memilih di tempat yang sistem masyarakatnya kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTON&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-7846040429183346787?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/7846040429183346787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=7846040429183346787' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7846040429183346787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7846040429183346787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/tragedi-ellyas-pical.html' title='Tragedi Ellyas Pical'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JR1RF1O3RZ0/Ts-ONbcrgHI/AAAAAAAAA3c/jmwGq3tuezA/s72-c/pical.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2686323586088019398</id><published>2011-11-25T04:39:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T04:42:28.497-08:00</updated><title type='text'>Menyelamatkan Perkawinan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-wUVfKNY1oyU/Ts-NCKf8E_I/AAAAAAAAA3Q/dHdIAYgBtDQ/s1600/menyelamarkan%2Bperkawinan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-wUVfKNY1oyU/Ts-NCKf8E_I/AAAAAAAAA3Q/dHdIAYgBtDQ/s400/menyelamarkan%2Bperkawinan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678912723455054834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelamatkan Perkawinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam di sebuah kafe yang sepi ada seorang suami&lt;br /&gt;yang merasa bosan dengan kehidupan perkawinannya, ia curhat dengan sahabatnya….”Aku sudah tidak mencintai isteriku lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat itu menjawab dengan mata teduh “pulanglah dan&lt;br /&gt;cintailah dia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami itu mendesah dan memainkan sendok kecil untuk mengaduk&lt;br /&gt;cappucino, “Kamu tidak mengerti, aku sudah tidak punya perasaan cinta lagi, aku&lt;br /&gt;merasa hampa di depan dia”. Sahabat itu tersenyum dan berkata lagi “Pulanglah&lt;br /&gt;dan cintailah dia”. Suami itu menggelengkan kepala matanya menatap ke&lt;br /&gt;langit-langit kafe. “Sahabatku, bila aku pulang ke rumah dan berkata cinta&lt;br /&gt;padanya, berarti aku membohongi diriku sendiri, aku sudah tidak memiliki&lt;br /&gt;perasaan itu lagi…dan bila itu aku lakukan, aku sudah tidak jujur…” kata suami&lt;br /&gt;itu dengan nada suara yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ibumu mencintaimu?” kata sahabat itu. “Tentunya”&lt;br /&gt;jawab suami itu tegas. “Satu minggu setelah kau keluar dari Rumah Sakit&lt;br /&gt;bersalin, dan kau menangis ditengah malam terus-terusan, kau berteriak di saat&lt;br /&gt;bayi dan ibumu kurang tidur, berjalan di lantai yang dingin dan mengganti&lt;br /&gt;popokmu, apakah ia menikmati ini semua?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami itu termenung dan menggelengkan kepala lalu ia&lt;br /&gt;menunduk dan menjawab pelan. “Tidak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat itu berkata lagi “Kalau begitu apakah secara emosi&lt;br /&gt;ibumu tidak mencintaimu lagi?”….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahabatku, ukuran mencintai itu bukan karena ibumu&lt;br /&gt;menikmati mengganti popokmu di tengah malam melainkan karena ibumu ‘RELA’&lt;br /&gt;melakukan itu walaupun hal itu tidak disukainya. Nah, pernikahan tidak hanya&lt;br /&gt;didasari rasa cinta, tapi ia lebih dari itu pernikahan adalah nama lain dari&lt;br /&gt;‘KOMITMEN’…saat pertama kali kau menikahi isterimu pasti karena kau&lt;br /&gt;mencintainya, kau menyayanginya, kau melihat matanya seperti pagi yang indah,&lt;br /&gt;dan gunung biru di tengah musim semi….namun cinta yang menggebu-gebu akan padam&lt;br /&gt;seiring berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kawan ingat KOMITMEN yang menjadikan cinta&lt;br /&gt;menggebu-gebu itu menjadi cinta yang matang dan dewasa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang disebut cinta sejati, kawan?...cinta sejati&lt;br /&gt;adalah cinta yang tumbuh dalam hati dan tidak didasari kecurigaan, hitungan&lt;br /&gt;untung rugi, cinta yang rela berkorban demi orang yang dikasihinya, cinta yang&lt;br /&gt;menembus batas-batas halangan dengan sikap ikhlas. Ada orang berkata “aku cinta kamu”..berarti :&lt;br /&gt;“Aku ingin memilikimu dan biarlah kamu sebentuk apa yang aku pikirkan” itu&lt;br /&gt;adalah cinta yang egois, itu adalah perasaan yang kau lakukan secara sepihak&lt;br /&gt;tanpa memikirkan hak dari pasanganmu, dan ingat sebuah keluarga tidak hanya&lt;br /&gt;tentang kau dan dia, kau dan cintamu, tapi keluarga juga menyangkut&lt;br /&gt;kenangan-kenangan yang akan diceritakan anak-anakmu di masa depan, kenangan tentang kebahagiaan keluarga, kenangan tentang kehangatan rumah tangga dan kenangan bagaimana bapaknya mencintai ibunya dengan caranya yang khas. Pahamilah komitmen&lt;br /&gt;dalam pernikahanmu karena komitmenmu itulah yang membuatmu menjadi dewasa dalam&lt;br /&gt;menumbuhkan hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen itu harus kau jalani melampaui perasaan&lt;br /&gt;kekanak-kanakanmu, perasaan bosanmu dan perasaan hampamu, jalani itu dan&lt;br /&gt;pulanglah, cintai isterimu sepenuh hati seperti kau bertanggung jawab terhadap&lt;br /&gt;kehidupan”….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2686323586088019398?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2686323586088019398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2686323586088019398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2686323586088019398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2686323586088019398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/menyelamatkan-perkawinan.html' title='Menyelamatkan Perkawinan'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wUVfKNY1oyU/Ts-NCKf8E_I/AAAAAAAAA3Q/dHdIAYgBtDQ/s72-c/menyelamarkan%2Bperkawinan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6698271894439313321</id><published>2011-11-25T04:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T04:34:16.610-08:00</updated><title type='text'>Resensi Film Mice and Man</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-dFZ8L_TJ8BI/Ts-LKy5rmiI/AAAAAAAAA3E/HlRSCV430KQ/s1600/mice%2Band%2Bman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 360px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dFZ8L_TJ8BI/Ts-LKy5rmiI/AAAAAAAAA3E/HlRSCV430KQ/s400/mice%2Band%2Bman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678910672716143138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Milton (Gary Sinise) ialah seorang yang cerdas sekaligus sinis, sedangkan Lennie Small (John Malkovich), kebalikan dari namanya merupakan seorang bertubuh tinggi besar, punya kekuatan fisik mengerikan, namun dengan kondisi mental ter&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;batas. Perilakunya bagai anak kecil dan sangat menurut kepada George, karena hanya dialah yang mau menemani dan melindungi Lennie. Mereka adalah buruh pendatang yang mencari lahan kerja di sebuah lahan pertanian di Soledad. Mereka mempunyai mimpi, suatu hari akan menempati lahan pertanian milik sendiri, dengan tanah berhektar-hektar; sebuah rumah. Lennie dan George selalu mengulang-ulang cerita tentang mimpi mereka, terutama Lennie yang dijanjikan George akan memelihara kelinci dan memegangi mereka. George punya kegemaran memegangi benda-benda halus, namun tak pernah menyadari efek mengerikan dari genggaman tangan kekarnya. Sampailah mereka pada lahan yang dituju dengan rangkaian peristiwa yang menunggu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Penggambaran tidak terlalu berbeda dari versi novelnya, yang bagi saya jauh lebih kelam dan menyentuh dari versi layar lebarnya ini. Justru kekuatan film terletak pada akting Malkovich yang dialektis dengan watak dingin Sinise. George menjadi pribadi yang satu-satunya ditaati Lennie. Meskipun Lennie -dalam bahasa awam- "terbelakang", namun George selalu sabar dan melindunginya dari bahaya, termasuk dari ancaman Curley si anak majikan. Model persahabatan yang sangat jarang ditemui, apalagi di masa sekarang, walau pada akhirnya George harus menentukan pilihan, namun keputusan itu demi "kebaikan" mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Ini adalah kisah tentang persahabatan dan mimpi dari orang-orang tertindas. Tipikal dari karya sastra Amerika yang selalu mengutarakan nasib kaum marjinal (dan bertolak belakang dari realitas Amerika sebagai suatu Negara). Kaum tertindas yang bahkan dalam proses bermimpi pun mereka harus mengalami kepahitan. Hal inilah yang sampai saat ini saya jadikan pegangan dalam memandang "kesastraan" sebuah tulisan fiksi. Apakah karya tersebut mampu menyuarakan realitas atau tidak. Sekaligus catatan tambahan bagi proses produksi film-film (adaptasi novel) yang seharusnya mau melirik pada sejarah karya fiksi kita yang sangat potensial dijadikan wahana kritis dan edukatif, bukan kontra-produktif. Sebab, seberat apa pun sebuah tema, film -sebagaimana fungsinya sebagai media estetis populer- selalu mampu mereproduksinya tanpa meninggalkan fungsi dasarnya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Pada akhirnya, hampir sama seusai saya membaca novelnya. Film ini sekali lagi mengguratkan kengerian akan kehidupan, dan apa yang seharusnya digenggam erat dalam memaknainya; humanisme.(dikutip dari : Sastro Fadjar)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6698271894439313321?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6698271894439313321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6698271894439313321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6698271894439313321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6698271894439313321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/resensi-film-mice-and-man.html' title='Resensi Film Mice and Man'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-dFZ8L_TJ8BI/Ts-LKy5rmiI/AAAAAAAAA3E/HlRSCV430KQ/s72-c/mice%2Band%2Bman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8275928557532322952</id><published>2011-11-25T04:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T04:30:33.459-08:00</updated><title type='text'>Renungan Hari Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-rw-Oj6s-Z1w/Ts-KSbK1J5I/AAAAAAAAA24/xLGloWSfCOU/s1600/renungan%2Bhari%2Bini.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-rw-Oj6s-Z1w/Ts-KSbK1J5I/AAAAAAAAA24/xLGloWSfCOU/s400/renungan%2Bhari%2Bini.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678909704272947090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Renungan Hari Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan adalah pelajaran dari Tuhan yang menegur semua rencana hidupmu. Ketika engkau gagal sesungguhnya Tuhan sedang memberikanmu rencana terbaiknya, jangan takut dengan kegagalan, karena setiap kegagalan adalah mesin yang bisa menghidupkan keberhasilanmu. Dengan kegagalanmu justru kau bisa melihat "suatu jalan untuk tidak berhasil" dan itu bisa mengajari kehidupan pada orang lain sehingga engkau menjadi pribadi yang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kamu jatuh, itu adalah awal kebangkitanmu. Tidak ada orang yang sehat jatuh tidak berdiri. Hidupmu adalah proses yang bercerita tentang kejatuhan, kebangkitan dan rasa senang. Nikmati saja, dan jangan mengeluhkan pada Tuhan, karena ingat Tuhan sudah memberikan hidup padamu dengan gratis, yang diminta darimu hanyalah kemampuanmu bersabar untuk membentuk kehidupan sesuai dengan kemanusiaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika engkau merasa salah memilih sesuatu, janganlah mengeluh jalani pilihanmu dengan hati yang gembira. Karena kunci kegembiraan bukan pada pilihanmu tapi pada kegembiraanmu dalam menjalani pilihan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah pemberian dan langkah terbaik ketika kita menerima adalah berterima kasih, ketika kamu berterima kasih pada Tuhan maka kamu akan diberikan kehidupan dengan keindahan warna warni bunga di musim semi. Janganlah mengeluh karena mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah terlena dengan pujian karena pujian adalah hinaan yang belum terwujud, dan jangan marah oleh hinaan karena dengan hinaan kau sedang mengumpulkan kemuliaan. Bersikaplah biasa saja. Seimbang dan sewajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiduplah dengan selalu tertawa, jangan kau bangunkan kehidupanmu dengan rasa marah. Karena apapun yang dimulai dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTON&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8275928557532322952?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8275928557532322952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8275928557532322952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8275928557532322952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8275928557532322952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/renungan-hari-ini.html' title='Renungan Hari Ini'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-rw-Oj6s-Z1w/Ts-KSbK1J5I/AAAAAAAAA24/xLGloWSfCOU/s72-c/renungan%2Bhari%2Bini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6150018044595298465</id><published>2011-11-25T00:30:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T00:32:55.833-08:00</updated><title type='text'>Antre Blackberry diskon dan Masyarakat Konsumtif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-FaFyEt-lAj8/Ts9SpLW2AoI/AAAAAAAAA2s/LrCB9qLGRPk/s1600/antre%2Bblackberry.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 375px; height: 247px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-FaFyEt-lAj8/Ts9SpLW2AoI/AAAAAAAAA2s/LrCB9qLGRPk/s400/antre%2Bblackberry.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678848522514203266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kerumunan anak-anak muda yang antre blackberry dengan potongan 50% itu mengantri masuk jurusan teknik, berduyun duyun antre masuk fakultas pertanian,peternakan, antre berdesak-desakan ingin masuk kuliah di jurusan IT.....membayangkan Teknologi dan industri bisa hidup kembali dan ada di garda depan bangsa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya biaya pendidikan tidak dimahalkan, semangat bangsa membangkitkan rakyatnya untuk belajar dan mempertajam otak, mungkin daya hidup kita tidak diperbudak oleh benda-benda. Rekayasa pasar domestik oleh modal Internasional adalah membentuk masyarakat yang tumpul bagai robot sehingga ia tidak memiliki daya kritis lagi masuk ke dalam substansinya sebagai manusia, ia hanya merasa hidup bila mengonsumsi sesuatu, tidak ada lagi passion disini, tidak ada lagi gairah kemanusiaan dan kecerdasan yang ada hanya nafsu pada sesuatu yang bersifat kebendaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas generasi muda-lah yang menyadarkan arah hidup yang sudah salah kaprah ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6150018044595298465?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6150018044595298465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6150018044595298465' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6150018044595298465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6150018044595298465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/antre-blackberry-diskon-dan-masyarakat.html' title='Antre Blackberry diskon dan Masyarakat Konsumtif'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FaFyEt-lAj8/Ts9SpLW2AoI/AAAAAAAAA2s/LrCB9qLGRPk/s72-c/antre%2Bblackberry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-573209892462774343</id><published>2011-11-24T21:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T21:34:03.874-08:00</updated><title type='text'>Sukarno, ACFTA dan Bangkrutnya Indonesia di Bawah SBY</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-KV3gOpmt3ho/Ts8opa56bWI/AAAAAAAAA2g/X8wdY92tJeA/s1600/karno%2Bdan%2Basia%2Bpasifik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 331px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-KV3gOpmt3ho/Ts8opa56bWI/AAAAAAAAA2g/X8wdY92tJeA/s400/karno%2Bdan%2Basia%2Bpasifik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678802347199458658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1928 Sukarno senang sekali memperhatikan arah politik dunia, setiap bacaan ia arahkan pada arah politik dunia atau geopolitik. Bila di tahun-tahun sebelumnya Sukarno amat menyukai bacaan dengan landasan-landasan ilmu pikir murni, seperti Komunisme, Kapitalisme, Pan Islamisme ataupun sejarah, maka sejak awal 1928 Sukarno mulai memperhatikan apa yang terjadi dalam politik Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pada satu saat ia berjumpa dengan wartawan dan meminta mengulas terus apa yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, Sukarno merasa sudah ada perkembangan di Jerman karena pemerintahan Weimar sudah amat buruk, Hitler mulai menunjukkan pesonanya di depan Angkatan Darat Jerman, Inggris sedang mengalami kesulitan, sementara Amerika Serikat lagi menikmati masa jaya-jayanya ekonomi kapitalis liberal sebelum akhirnya hancur pada tahun 1929 akibat depresi besar yang terjadi berkat permainan spekulasi saham yang berlebihan, spekulasi inilah yang kemudian menjadikan Amerika mengirim bisnismen-bisnismennya ke Jerman untuk melobi pihak Eropa dan mengadu domba mereka sehingga terjadi Perang Besar, jika perang besar terjadi maka Amerika Serikat bisa menggerakkan perekonomiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukarno senang sekali dengan peta politik Internasional ia kerap menandai jajahan Inggris dengan tinta biru, jajahan Belanda dengan tinta merah dan jajahan Perancis ia coret dengan garis bergelombang. Suatu hari Sukarno kedatangan temannya dari Singapura yang membawa dua buku berjudul Seapower in the Pacific dan “The Great Pacific War” karangan Hector Charles Bywater. Bywater adalah seorang jurnalis Amerika yang mengikuti perkembangan politik dunia, ia melakukan pengamatan apa yang terjadi dalam konstelasi-konstelasi kekuatan dunia itu, dalam renungannya Bywater menuliskan bahwa “kelak suatu hari akan terjadi perebutan kekuasaan di Lautan Pasifik antara Kekaisaran Jepang dengan Amerika Serikat dalam memperebutkan wilayah Asia Pasifik”. Dalam bukunya Bywater menuliskan bahwa serangan itu bermula dari pengeboman Pangkalan Militer Amerika Serikat di Filipina – (walaupun kemudian terjadi tahun 1942 bahwa yang dibombardir justru dari Pearl Harbour). Sukarno berpikir dalam-dalam soal yang diberikan Bywater ini, ia merenung dan membawa pulpennya lalu menuliskan catatannya diatas kertas : “Apabila Filipina diserbu Jepang, maka Jepang akan masuk lewat dua kemungkinan : Jawa atau langsung dari Pangkalan Militernya di Okinawa. Andai Jawa yang dikuasai maka otomatis ia akan menguasai Nusantara, penguasaan Jawa ini akan sedikit banyak mengusir Belanda. Lalu Sukarno teringat pada ramalan Jayabaya yang sudah amat dikenal dalam cerita-cerita rakyat (folklore) orang Jawa : “Kelak akan ada bangsa cebol berkulit kuning yang akan menguasai Jawa seumur jagung” seumur jagung adalah kalimat idiom dari kata waktu “singkat” . Akan ada penguasaan waktu yang amat singkat. Di titik inilah Sukarno menandai pertaruhan politiknya. “Pertarungan yang amat singkat akan menjadikan pertaruhan politik Indonesia ke depan, pertaruhan jangka panjang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menggeluti pemikiran Bywater, Sukarno mengarahkan seluruh daya politiknya pada pertarungan Internasional untuk memanfaatkan kesempatan bagi Indonesia. Ia paham bila pertarungan itu dibawa ke dalam, maka Indonesia belum kuat, harus mempermainkan politik Internasional untuk kemerdekaan Indonesia dan keuntungan-keuntungan strategis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1929, Sukarno sekali lagi menemukan Amerika Serikat menemui depresi ekonomi besar. Sukarno melakukan hitung-hitungan politik, bila Amerika Serikat mengalami depresi besar maka yang terjadi adalah Amerika membutuhkan modal. Sukarno berpikir bahwa satu-satunya cara mendapatkan modal Amerika harus menciptakan perang baru – (teori Sukarno ini sampai sekarang masih digunakan Amerika dalam mengelola konflik politik Internasional yang pada ujung-ujungnya adalah penguasaan sumber-sumber minyak bumi dan penguasaan alam). Sukarno juga melihat sumber daya alam Indonesia sebagai sumber logistik terbesar dalam Perang Asia Pasifik. Kebangkitan fasisme di penjuru dunia menarik perhatian Sukarno, kebangkitan fasisme adalah tahap akhir dari kebangkrutan Kapitalis ini yang Sukarno baca dari analisa-analisa ekonom Komunis tentang Kapitalisme. Sukarno sendiri akhirnya lebih setuju dengan tulisan yang menyatakan “Fasisme akan mati dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan kodrat pertumbuhan masyarakat” Kematian fasisme ini menjadikan Sukarno akan mempermainkan Jepang bila kelak Jepang datang. Sukarno sendiri dengan daya ciptanya sudah memperkirakan kemerdekaan Indonesia akan terjadi pada Agustus 1945. Ini juga kelak menjadi naskah sandiwara tonil yang ia lakukan di Flores dengan judul sama : Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan arsitektur geopolitik Sukarno inilah yang kemudian menjadi landasan kerja politik Sukarno, tinggal dia bagaimana menyadarkan rakyat tentang arah masa depan. Lalu setiap waktu Sukarno berpidato soal Perang Pasifik ini. Laporan-laporan Intel Belanda menyebutkan Pidato Sukarno tentang Perang Pasifik ini akan amat diperhatikan oleh banyak orang, tapi yang lebih menakutkan apabila kemudian Amerika Serikat atau Jepang memperhatikan apa omongan Sukarno, maka ini akan memancing kekuatan luar negeri untuk hajar Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya Sukarno dianggap anak manis dalam Pergerakan Nasional di Indonesia, tapi dengan gagasannya soal Perang Asia Pasifik maka Sukarno dianggap memancing keributan yang lebih berbahaya lagi yaitu “Masuknya kekuatan Internasional dalam menggugat jajahan Belanda” dalam hal ini Jepang. Pada tanggal 28 Desember 1929, Sukarno diundang oleh Raden Mas Sujudi dari Yogyakarta untuk berbicara di depan rapat politik kaum kebangsaan di Solo. Sukarno datang dan berpidato di Solo dengan penuh semangat dan gayanya yang dramatik : Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu tidak lama lagi, Perang Pasifik menggeledek menyambar-nyambar membelah angkasa, ”Apabila, Samudera Pasifik merah oleh darah, dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”. Disini Sukarno terus menerus menulis tentang kemerdekaan yang akan terjadi, artinya Sukarno memberikan visi agar rakyat Indonesia bersiap. Dan tulisan Sukarno memang dibaca hampir seluruh rakyat Indonesia yang terdidik lewat koran-koran, -hal yang menunjukkan betapa tulisan Sukarno bisa menjadikan alam bawah sadarnya adalah ucapan Jenderal Nasution ketika ditawari oleh agen asing untuk memberontak melawan Sukarno tapi Nasution menolak dan menjawab dengan tegas “Sejak saya kecil, sejak saya tak tau apa artinya Nasionalisme, Sukarno-lah yang mengajari saya lewat tulisan-tulisannya di koran-koran tentang Nasionalisme, dialah yang menyadari saya tentang sebuah KeIndonesiaan di masa saya muda” begitu juga dengan catatan Deliar Noer semasa ia kecil, semasa ia kanak-kanak di usia 8 tahun Deliar Noer mencatatkan di bukunya sebagai tulisan anak kecil ia menulis : “Kelak aku akan jadi Sukarno, akan jadi Hatta” ini berarti tulisan Sukarno memang sudah tersebar amat luas di seluruh wilayah Hindia Belanda dan mempengaruhi banyak orang. Tulisan ini kemudian menjadi tanggung jawab bagi Sukarno mengarahkan ke arah mana rakyat harus bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukarno sudah melihat Perang Asia Pasifik sebagai alat paling penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Disini Sukarno sudah melakukan sebuah Pemetaan yang jelas dan tahapan-tahapan pasti kepada rakyat Indonesia. Gara-gara pidato di atas Sukarno kemudian ditangkap oleh Polisi Belanda, Rumah Sujudi digerebek dan seluruh rombongan Sukarno digelandang ke halaman lalu disuruh ganti pakaian di halaman dan kemudian diangkut truk ke Stasiun Tugu Yogyakarta, dimasukkan ke Gerbong Khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung untuk diadili. Di depan Landraad (Pengadilan) Sukarno berkata terus menerus tentang sumber daya alam yang dikeruk Belanda. Disana Sukarno digetok hukuman 4 tahun penjara hanya karena membela nasib bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Sukarno demi bangsanya sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan pemerintahan SBY sekarang. Apakah anda masih ingat sewaktu SBY masih jadi Menkopolkam di tahun 2003 dan bertemu dengan seorang penggede Amerika Serikat, SBY mengatakan tanpa tau malu : “I love the United States, with all its faults. I consider it my second country.” (Saya mencintai Amerika Serikat, dengan segala kesalahan-kesalahannya, Saya akui Amerika Serikat ini adalah Negara Kedua bagi Saya). Ucapan model apa ini!! ....bagaimanapun ucapan ini dilakukan oleh seorang Pemimpin bukan seorang warga biasa dalam situasi emosional. Seorang Pemimpin bangsa hanya harus memiliki satu loyalitas, ya kepada bangsanya sendiri. Lalu apa yang terjadi pada ACFTA 2010. ACFTA adalah perjanjian perdagangan Bebas antara ASEAN-CINA, disini Indonesia masuk ke dalam wilayah perjanjian 2010. Tapi Indonesia sama sekali tidak mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Perdagangan Bebas dengan Cina, coba anda perhatikan ada apa dibalik gagapnya SBY terhadap persoalan ACFTA ini, SBY sama sekali tidak melakukan gebrakan kepada rakyatnya “Ayo bangun infrastruktur, ayo kita mulai siap bertanding” tapi ia malah asik dengan dirinya sendiri, dana anggaran digarong dimana-mana sehingga rakyat tidak kuat bertanding dalam iklim Perdagangan Bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hal ini adalah permainan, dengan tidak siapnya Indonesia berdagang dengan Cina, maka rakyat akan marah-marah dengan Cina, lalu kenapa? Itulah yang ditakuti Amerika Serikat. Cina akan menjadi kekuatan paling penting di Asia Tenggara, Ekonomi Cina secara bertahap akan membangkrutkan dominasi Ekonomi Amerika Serikat yang sudah direbutnya dengan membunuhi 3 juta nyawa orang Indonesia lewat rekayasa Gestapu 65, Menggulingkan Sukarno, Membangun Pemerintahan buas Militer Orde Baru dan memenjarakan ribuan orang untuk kesalahan yang tak dimengertinya. Inilah landasan ekonomi Amerika Serikat dibangun di Indonesia. Sementara Cina membangun ekonominya sendiri masuk ke Pasar tanpa membunuhi satu-pun orang Indonesia, tapi Amerika marah karena pasarnya direbut, lalu datanglah Obama ke KTT Asean di Bali. Lewat perantaraan SBY pula Amerika Serikat melakukan kontrak dagang dengan ASEAN. Amerika Serikat menempatkan Pangkalan Militernya di Darwin untuk menggertak Cina. Disini rakyat Indonesia tetap harus jadi milik Amerika Serikat. Apa yang dilakukan SBY bisa diindikasikan begitu Pro-nya SBY kepada Amerika Serikat sehingga ia seakan-akan menghambat jalur pertarungan antara ekonomi rakyat Indonesia untuk bersiap menghadapi Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusaknya kerangka pemikiran SBY adalah selama 7 tahun pemerintahannya ia tidak menjalankan gebrakan ekonomi yang mengarahkan pada perubahan politik dagang Internasional. Tak ada satupun analisa-analisa yang keluar tentang ekonomi dagang Internasional dimana Indonesia harus menempatkan dirinya, tak ada satupun kebijakan yang menyeluruh untuk membangkitkan Indonesia dalam pertarungan dagang ke depan. Obsesinya sama sekali hampa, dan ia sibuk dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi bahaya masa depan, yaitu : Bahaya Imperialisme Dagang dan Modal. Jaringan-jaringan perdagangan kita akan ditutup oleh kekuatan modal Internasional, ini akan berdampak pada bangkrutnya ekonomi rakyat, gerakan muda harus memperhatikan dengan amat serius ekonomi perdagangan Internasional agar jangan nanti kita hanya jadi perluasan Pasar Cina atau tetap menjadi budak Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ekonomi rakyat bangkrut, maka tak ada lagi yang ada dalam diri kita kecuali badan. Dan bila badan menjadi satu-satunya hak milik yang diperdagangkan maka selamanyalah kita tetap akan jadi kuli, jadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa. Kita harus membangun kembali kerangka ekonomi dan strategi menyeluruh sekaligus merumuskan keadaan-keadaan seperti yang dilakukan Sukarno dalam membentuk peta ke arah Indonesia merdeka. Inilah yang harus kita lakukan untuk menerobos dan membongkar kembali apa yang sesungguhnya terjadi dalam keIndonesiaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton, akhir November 2011.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-573209892462774343?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/573209892462774343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=573209892462774343' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/573209892462774343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/573209892462774343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/sukarno-acfta-dan-bangkrutnya-indonesia.html' title='Sukarno, ACFTA dan Bangkrutnya Indonesia di Bawah SBY'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-KV3gOpmt3ho/Ts8opa56bWI/AAAAAAAAA2g/X8wdY92tJeA/s72-c/karno%2Bdan%2Basia%2Bpasifik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1917406207055790086</id><published>2011-11-24T06:46:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T06:50:56.337-08:00</updated><title type='text'>Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Tersedu</title><content type='html'>&lt;h6 style="font-weight: bold; font-family: arial; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Aku pernah jatuh cinta sebelumnya. Rasanya seperti narkotik. Mula-mula mendatangkan euforia penyerahan diri, lalu berikutnya kau menginginkan lebih banyak. Kau belum kecanduan, tapi kau menyukai sensasinya dan kau masih bisa mengendalikan semuanya. Kau memikirkan orang yang kau cintai selama 2 menit dan melupakannya selama 3 jam.Tapi kemudian kau terbiasa dengan orang itu, dan mulai bergantung sep&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;enuhnya pada mereka. Sekarang kamu memikirkannya 3 jam dan melupakannya selama 2 menit. Kalau ia tak ada, kau merasa seperti pecandu yang selalu membutuhkan morfin. Dan seperti halnya pecandu yg akan mencuri dan mempermalukan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan mereka. Kau pun bersedia melakukan apa saja demi cinta"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-weight: bold; font-family: arial; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;(Novel di tepi sungai piedra aku duduk dan tersedu - paulo coelho)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1917406207055790086?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1917406207055790086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1917406207055790086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1917406207055790086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1917406207055790086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/di-tepi-sungai-piedra-aku-duduk-dan.html' title='Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Tersedu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8361938763975557949</id><published>2011-11-24T06:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T06:43:41.032-08:00</updated><title type='text'>Kepada Siapa Aku Harus Berterima Kasih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata blog aku kalau dimaintain bisa 10.000 visitors unique/hari. Kalo nggak dikelola cuman 2000-an pengunjung/hari. Inilah pentingnya menumbuhkan kelolaan agar semua rapi dan tumbuh dengan baik. Enak juga ngeblog ya, bisa memetakan waktu saat itu kita sedang berpikir apa. Aku gaptek blog aja dibuatin sama &lt;a href="http://www.facebook.com/titiana.adinda" hovercardx="/ajax/hovercard/user.php?id=572945030"&gt;Titiana Adinda&lt;/a&gt; dulu tahun 2007. Facebook dibikinin sama Raisa dulu. Twitter dibikinin sama Miagina Amal, seorang penerjemah Paulo Coelho : "Di tepi Sungai Piedra, Aku duduk dan Tersedu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Blog itu gara-gara dulu sering nulis di Forum Pembaca Kompas bikin isu-isu yang bikin heboh, daripada dibuang dibikininlah sama dia supaya tulisannya nggak hilang padahal aku nulis kalo dihitung sudah lebih dari 5.000-an artikel tapi ya itu karena sembrono yang terselamatkan hanya sedikit artikel, eh sekarang usianya sudah 4 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog sudah seperti buku harian, kadang-kadang kita lupakan. Kadang-kadang kita butuh untuk menulis. Tapi bagi saya, menulis adalah melatih berpikir kreatif, menulis adalah sebuah bentuk meditasi dengan caranya yang unik, menulis adalah sebuah alat pencongkel klep-klep penghambat cara berpikir kita yang seperti mesin -berulang-ulang, menjadi cara berpikir kita yang mampu keluar kotak logika yang sudah dibangun oleh pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang baik adalah tulisan yang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dia bisa muncul tiba-tiba dari sebuah ide.&lt;br /&gt;2. Dia muncul ketika membaca sebuah tulisan lain&lt;br /&gt;3. Dia muncul karena direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun sebab munculnya sebuah ide penulisan, untuk menghasilkan tulisan yang baik latihlah dirimu menjadi seorang automatical writer. Seorang penulis yang menghasilkan karya enak dibaca rata-rata seorang automatical writer, misalnya ketika ia menulis sebuah kejadian, ia mampu merangkai kejadian itu hanya dengan berpikir ketika ia memencet tuts, bukan berpikir ia membaca buku-buku dan membeonya, apalagi terlalu banyak kutipan. Penulis yang kerap menulis dengan banyak kutipan lalu bahasanya tidak imajinatif akan selalu melahirkan tulisan yang membosankan, mungkin anda benar secara fakta, tapi karya anda tidak enak dibaca. Idealnya ketika kita menulis kita harus sudah hapal diluar kepala semua referensi, inilah pentingnya melatih pikiran agar menjadi fotografis dan bisa menjelaskan kenapa penulis-penulis yang enak dibaca seperti Pram yang menulis di Pulau Buru hanya bermodalkan ingatan akan referensinya, seperti Tan Malaka yang menulis Madilog di kontrakannya di samping kandang kambing dengan ingatan fotografis data-datanya, seperti Sukarno yang membuat pledoi di atas kaleng untuk kencingnya di sel Penjara Sukamiskin tanpa satupun data. Karena apa? karena ia sudah melatih pikirannya agar fotografis. Dulu Mochtar Lubis hanya perlu membawa mesin tik dan menaruhnya di bufet dia dalam 10 menit sudah bisa buat dia Tajuk Rencananya yang hasilnya adalah mendepak ibnu sutowo dari Pertamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melatih daya imbang ketika kau menulis dan berpikir dengan waktu bersamaan latihlah kemampuan menulis setiap hari. Jangan takut dengan bahasa yang berantakan, karena bahasa yang berantakan hanya persoalan grammar, dalam bahasa yang berantakan kamu sedang mencari karakter dari tulisanmu. Penulis yang baik adalah penulis yang iramanya memiliki karakter, ketika karakter itu sudah terbentuk maka tulisanmu bisa hidup… karena apa? Karena ada jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang hidup bukanlah tulisan yang teliti dalam menggambarkan objek atau ruang-ruang kalimat tapi ia yang menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana namun memiliki daya tafsir yang kuat, ini artinya : seorang pembaca akan terperanjat daya sadarnya, ketika daya sadarnya terperanjat ia akan tertarik terus menerus membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terpenting ketika engkau menulis usahakan libatkan emosimu, memang menulis dengan melibatkan emosi akan terkesan subjektif, tapi ketika emosi itu menjadi energi dalam tulisan ia akan menggetarkan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu SD saya senang mengetik dengan mesin ketik merek royal, awalnya cerita-cerita sederhana seperti melihat rumput manila dan batu-batu taman, tukang mie ayam yang lewat, atau sepeda BMX dan kejadian-kejadian di sore waktu. Saya ingat sekali waktu itu bisa jadi 3 (tiga) halaman. Tulisannya masih berantakan, tapi lumayan enak dibaca, lalu sejak umur 10 tahunan saya menghapal seluruh isi Ensiklopedi Americana, karena dulu belum jamannya google. Maka ensiklopedi adalah penting, kebetulan alm. Bapak saya suka gaya-gayaan, dia doyan pamer, dulu waktu saya umur 6 tahun dia beli buku ensiklopedi lengkap untuk dipajang di ruang tamu “Biar keliatan orang pinter” itu katanya. Tapi ternyata buku yang awalnya cuman buat pamer itu menjadi amat penting bagi saya untuk melakukan ‘drive’. – Apa itu ‘drive’ drive adalah istilah saya dalam menggunakan ketika saya menulis arahnya sudah terbaca, ini artinya : drive itu referensi kita sudah tau, tinggal kita mencocokkannya saja dengan sumber. Dulu sebelum jaman internet menulis dengan drive agak susah, karena setiap saat kita cocokkan kembali dengan buku, gara-gara hal itu saya capek dan akhirnya saya harus hapal dulu isi buku, cara menghapal isi buku itu mudah, gunakan imajinasi, isi buku itu kau anggap saja sebagai sebuah film yang bermain di kepalamu, ketika kepalamu memutar film itu maka kau meninggalkan kesan, kesan itulah yang bisa dijadikan tapal-tapal dalam kau melakukan drive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk baca ensiklopedi awalnya dulu susah, karena emang nggak bisa bahasa Inggris, sampai sekarangpun bahasa Inggris saya jelek, tapi akhirnya saya bisa membaca tulisan bahasa Inggris dengan baik, rahasianya adalah kita nggak usah paham semua perbendaharaan tapi kita sudah paham tata letak kalimat dimana kalimat yang kita paham sama yang kita nggak paham akan menemukan titik temunya. – Tentunya yang dibaca tidak semuanya, karena saya tidak menyukai bidang-bidang seperti : biologi, kimia dan matematika. Tapi saya amat menyukai sejarah, negara, sosial, politik, filsafat, geografi, tokoh (biografi), kehidupan (way of life), sastra, seni dan budaya – intinya saya suka segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia. – Di Ensiklopedia Americana, untuk entry-entry itu sudah lumayan lengkap. Dari hapal entry-entry itu kemudian berkembang dengan maen dokumen, dulu saya amat menyukai jalan-jalan ke pasar buku bekas, atau pasar loak yang saya cari adalah dokumen. Dengan mencari ke pasar loak, kita bisa mendapati betapa kayanya Indonesia dengan terbitan-terbitan buku intelektualitas di masa lalu. Dulu pemerintahan Hindia Belanda selalu mengeluarkan buku catatan yang dinamakan almanak, setiap kejadian remeh mereka catat juga, lalu buku-buku catatan yang banyak orang tidak tahu, bisa kita dapatkan di tukang-tukang loak. Saya suka mencari itu sejak SMP, tapi sekarang sudah tidak ada lagi karena ada : Google..!. Namun bagusnya semua dokumen itu saya hapal luar kepala, sehingga ketika saya membaca suatu tulisan kita bisa merangkai, sampai sejauh ini untuk soal yang saya minati belum ada hal-hal baru yang mengagetkan saya, daya entry google berbahasa Indonesia atau Inggris untuk soal-soal yang saya minati seperti sejarah atau politik masih soal-soal yang ada didokumen-dokumen lama. – Bahkan menurut saya entry didalam google tidak lengkap bila dijadikan referensi, kita harus memerlukan buku, subjek pada entry google hanya separuh-paruh, sampai saat ini data informasi yang memiliki daya gedor dokumen cetak, tapi saya kira dalam 10 tahun ke depan semuanya sudah terdigital ini artinya dunia paperless menjadi realitas yang paling nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya untuk mengetahui kamu penulis automatical writer atau tidak cobalah kamu duduk di computer dan menulis sesuatu ide : apa saja. Kalau bisa sampai 20 halaman tanpa henti itulah yang disebut automatical writer, ini artinya selain kamu bisa menulis tanpa harus angkat pantat dari kursi atau membeo dari tulisan lain, kamu terlatih untuk berpikir otentik, kamu terlatih bisa membangun karakter dari tulisanmu. Saya sering melatih ini, awalnya saya hanya kuat 5 halaman dengan spasi rapat, tapi lama kelamaan bisa 20 halaman sekali duduk. Tapi tidak harus 20 halaman, satu halamanpun tak apa-apa yang penting berani menulis. Saya suka menulis banyak novel berisi ribuan halaman, atau menulis data-data yang sengaja saya tak publish, sampai saat ini saya tidak mau mempublish karena memang belum waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terpenting dari semua, hargai karyamu sendiri. Biar orang lain nggak suka, tapi kamu suka. Pada hakikatnya seorang penulis adalah orang yang menggerakkan dunia ini terus berputar, mungkin dia bukan orang yang bertindak, mungkin ia orang pengeritik terus menerus, mungkin ia orang yang cemas, tapi sebuah tulisan yang baik akan selalu melahirkan opini. Memang opini tak selalu melahirkan kekuatan, tapi kekuatan selalu dilahirkan dari opini. Dari situlah sejarah bisa kita ubah ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini blog saya sudah berumur empat tahun. Terimakasih untuk Titiana Adinda, Raisa Fathia Premiera dan Miagina Amal yang telah membantu kegaptekan saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8361938763975557949?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8361938763975557949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8361938763975557949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8361938763975557949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8361938763975557949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kepada-siapa-aku-harus-berterima-kasih.html' title='Kepada Siapa Aku Harus Berterima Kasih'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1044311401312097472</id><published>2011-11-24T00:30:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T00:31:54.522-08:00</updated><title type='text'>Sosialisme Kita</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h6  {mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-outline-level:6;  font-size:7.5pt;  font-family:"Times New Roman";} span.messagebody  {mso-style-name:messagebody;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;"&gt;Tujuan didirikannya Negara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; itu adalah membentuk Negara Sosialis. Sosialisme ini bukan dalam pengertian dibawah satelit Sovjet Uni seperti yang dituduhkan oleh Intel Inggris, AS dan Agen-agen rahasia Van Mook di Australia dalam laporannya kepadanya komandan sekutu Sir Mountbatten di Kolombo awal Agustus 1945, tetapi sebuah kenyataan sejarah bahwa Sosialisme Indonesia itu sosialisme yang lahir otentik dari pemikir-pemikir sejarah Indonesia seperti : Sukarno, Tan Malaka, Hatta ataupun Sjahrir. Mereka itu adalah intelektual yang terlepas dalam sejarah komprador, baik komprador Amerika Serikat maupun Komprador Sovjet Uni.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Adalah Tan Malaka yang pertama kali dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari Imperialisme Sovjet Uni dan membentuk Partai Rahasia bersama Soebakat dan Tamim dengan nama PARI (Partai Rakjat Indonesia) dengan doktrin massa MURBA (berasal dari kata sanskrit yang artinya : Rakyat). Tan Malaka mengenalkan ide bersatunya dunia Islam dan Sosialisme yang di Moskow pada awal tahun 1920-an yang ditolak oleh banyak faksi di Sovjet Uni termasuk penolakan dari Stalin. Dan ketika penolakan itu terjadi, malamnya Tan Malaka mendapatkan pencerahan bahwa Stalinis hanya akan menghasilkan bentuk Imperialisme baru, sementara ia berhadapan langsung dengan bangsanya : Indonesia. Dari sanalah ia mengusung pemikiran peradaban ASLIA (Asia-Australia) sebagai peradaban yang berdiri sendiri, baik sejarah pembebasannya maupun kegiatan ekonominya.&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Lalu Tan Malaka melihat arah sejarah perkembangan yang sama. Tan Malaka melihat kekuatan dunia Islam sebagai pengimbang Imperialisme Amerika, ternyata apa yang diramalkan Tan Malaka benar sekarang ini, Amerika sangat takut dengan kekuatan dunia Islam. Untuk itu Amerika terus mendekat pada Arab Saudi untuk tetap memelihara adat-adat kuno dan berusaha meninggalkan Islam yang moderat dan progresif, untuk itulah Arab Saudi dan Kuwait ditemani seraya mengebom Irak, mengancam Iran dan membuat lapar anak-anak di Jalur Gaza, Palestina. Apa yang dipikirkan Tan Malaka : Islam adalah darah dalam tubuh Indonesia benar adanya. Islam harus bersatu dengan ide-ide sosialisme nasional Indonesia Raya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Di tahun 1927 di Bandung, Sukarno juga menulis tapi bukan tulisan tentang Sosialisme yang Sukarno tulis adalah Persatuan. Banyak orang mengira Persatuan dalam bahasa Sukarno adalah sekedar bersatunya suku-suku, bersatunya budaya-budaya dan bersatunya kelompok-kelompok, padahal Sukarno menciptakan persatuan itu lebih jauh lagi yaitu kerangka “JALAN BERPIKIR”. Bagi Sukarno, Persatuan itu adalah sebuah jalan membentuk antitesis-antitesis dari tesis-tesis keadaan yang terjadi sehingga melahirkan sintesis. Dari Persatuan ini kemudian akan terdefinisi jenis keadaan apa untuk Indonesia Raya.&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Ide-ide Sosialisme Ekonomi yang paling gamblang adalah justru dari Hatta. Pokok pemikiran Hatta ini akan menjadi bintang dalam sejarah ekonomi masa depan manusia, Pemikiran Hatta jauh melampaui jamannya. Bahkan di jaman kita sekarang. Ide-ide Hatta tentang ekonomi adalah ekonomi yang tidak menjadi akumulator modal dan dikuasai individu atau korporasi raksasa, tapi ekonomi yang menjadi mesin pembentukan kesejahteraan bersama. Bagi Hatta tidak ada objek dalam ekonomi, semua yang manusia yang terlibat dalam ekonomi adalah subjek. Ekonomi Koperasi Hatta jangan dipahami sebagai Koperasi-Koperasi yang kita kenal sekarang, tapi lebih maju sebagai sebuah bentuk fragmen modal yang adil sebagai sebuah kegiatan bersama dengan tujuan-tujuan memakmurkan kehidupan anggota sesuai dengan peran masing-masing, kalau saja gagasan Hatta ini dibawa ke dalam lingkup makro maka kita akan mengenal ekonomi-ekonomi berjejaringan atau ekonomi cluster sehingga ekonomi dan hasil-hasilnya akan langsung mengenai kehidupan rakyat banyak.&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Ketakutan banyak orang bahwa Sosialisme itu adalah Stalinis, ekonomi sosialisme adalah Korea Utara adalah sebuah kebodohan karena kurangnya wawasan dalam memahami titik-titik penting jalannya sejarah kita. Pendiri bangsa kita tidak menyukai pembelengguan, mereka adalah anak-anak kandung dari sejarah pembebasan. Jadi ketika sistem Sosialisme itu ditawarkan maka Sosialisme itu sederhana saja definisinya, bacalah UUD 1945 asli (yang tanpa amandemennya) disana dengan amat jelas sosialisme kita, terutama pasal 33.&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Sosialisme kita adalah membangun Puskesmas-Puskesmas dengan fasilitas RS lengkap untuk rakyat dengan gratis, Sosialisme kita adalah Menggratiskan seluruh biaya-biaya pendidikan, menghapuskan pajak penerbitan dan penjualan buku yang tinggi, membangun jaringan internet dengan seluas-luasnya, membangun fungsi-fungsi sosial dan memaksa pejabat untuk hidup sederhana.&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Sosialisme kita tidak akan menahan ekonomi modal biarlah pengusaha-penguasa berkembang seperti bunga-bunga yang mekar di musim semi, tapi Sosialisme kita juga tidak akan mengijinkan modal raksasa mendikte perekonomian rakyat, rakyat banyak harus jadi subjek utama dalam kegiatan ekonomi, kepemilikan tanah harus dibatasi lebih dari 10 hektar harus dimiliki sebuah serikat kerja atau negara, tak ada kepemilikan pribadi atau modal raksasa.&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Sosialisme ini adalah penggalian sejarah dari pemikiran masa lampau pendiri bangsa, sehingga kita akan tersadarkan : Untuk apa Indonesia Raya harus berdiri................&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Tan Malaka pernah berkata di tahun 1948 : Kita tidak akan menjadi antek Amerika Serikat, pun tidak akan menjadi budak Moskow. Kita adalah generasi pembebas dari sebuah bangsa merdeka, merdeka pikirannya dan merdeka jiwanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1044311401312097472?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1044311401312097472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1044311401312097472' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1044311401312097472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1044311401312097472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/sosialisme-kita_24.html' title='Sosialisme Kita'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-4893290809427948813</id><published>2011-11-23T22:44:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T22:54:39.371-08:00</updated><title type='text'>SBY dan Simulacra Pesta Perkawinan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h6  {mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-outline-level:6;  font-size:7.5pt;  font-family:"Times New Roman";} span.messagebody  {mso-style-name:messagebody;} span.textexposedshow  {mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="messagebody"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12pt;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;Hampir seluruh kelas menengah kritis di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mencemooh pernikahan hedonis yang ditayangkan di TV-TV. Tapi ada target audience yang lebih besar lagi, yaitu mereka yang terbiasa nonton tv di pagi waktu, biasanya mereka ini dari kelompok emak-emak dan anak-anak muda yang amat nyaman dengan kehidupan keluarga. &lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta perkawinan bagi sebagian or&lt;/span&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;ang &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; adalah fase terpenting dalam kehidupan orang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; termasuk bagian dari tangga paling signifikan eksistensi dirinya di tengah masyarakat. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; adviseer politik SBY pasti sudah tahu ini dan memperhitungkan acara yang seakan-akan memblok semua stasiun TV. Serentak ada sebuah gerakan simulacra (tontonan artifisial) yang menyentak ruang alam bawah sadar manusia &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yaitu sebuah idealisme pesta pernikahan bagaimana selayaknya diadakan. Sasaran yang ditembak disini adalah fase-fase kehidupan SBY sebagai seorang bapak mampu mengantarkan anaknya ke dalam dunia kehidupan, walaupun seluruh substansi bagaimana si anak kemudian menantang kehidupan menjadi tak lagi penting. Acara ini adalah puncak dari fenomena politik sekarang yang merupakan sebuah "Politik Tontonan" bukan politik aktif yang melibatkan rakyat banyak sebagai subjek dan pelaku politik sebagai agen-agen subjek. &lt;/span&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tontonan, dunia simulacra simbol menjadi amat penting ketimbang realitas. Persepsi adalah realitas itu sendiri, disini SBY menggunakan persepsi-persepsi keluar dari tautan realitas. Seperti borosnya pesta pernikahan kemudian dipersepsikan sebagai sebuah kesakralan, penggunaan Istana Negara dipersepsikan sebagai agar ia tidak meninggalkan kerja sehari-hari sebagai Presiden RI dan tontonan hampir di semua stasiun TV, dipersepsikan sebagai ia yang hadir ditengah masyarakat, hadir di tengah-tengah rakyat dan membawa teladan tentang sebuah perhelatan keluarga dimana ini akan jadi teladan bagi perhelatan-perhelatan keluarga se Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi yang terpenting dari semua ini adalah mengemas acara yang sesungguhnya adalah penggiringan ‘awareness’ terhadap citra SBY sebagai sebuah bentuk investasi politik di masa mendatang kepada banyak ibu-ibu dan kelompok yang sudah mencapai kemapanan keluarga. Investasi politik itu akan terlihat dalam pertarungan 2014 dimana kelompok yang didukung SBY tentu akan membawa garis pencitraan lingkup domestik-keluarga sebagai kekuatan politiknya, sementara lawan-lawan SBY belum jelas mau apa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12pt;" &gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk melawan dan membongkar arus simulacra SBY ini adalah dengan membentuk jaringan realisme politik, menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan simulacra politik dengan terus menggenjot ke ruang public apa yang sesungguhnya terjadi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ini : -Penggarongan Sumber Daya Alam, Perampokan Anggaran Negara,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kemiskinan yang semakin meluas dan tidak terjaminnya kesejahteraan rakyat banyak lewat fungsi-fungsi sosial Negara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12pt;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h6 style="text-align: justify; font-family: arial; font-weight: bold;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h6  {mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-outline-level:6;  font-size:7.5pt;  font-family:"Times New Roman";} span.messagebody  {mso-style-name:messagebody;} span.textexposedshow  {mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="messagebody"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12pt;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-4893290809427948813?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/4893290809427948813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=4893290809427948813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4893290809427948813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4893290809427948813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/sby-dan-simulacra-pesta-perkawinan.html' title='SBY dan Simulacra Pesta Perkawinan'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-3106659990827451820</id><published>2011-11-22T08:10:00.000-08:00</published><updated>2011-11-22T08:59:54.612-08:00</updated><title type='text'>Ketika Sukarno Menikahkan anaknya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-y4MclaemgL8/TsvKzyYyrrI/AAAAAAAAA2U/ZMBmfZrBUJM/s1600/bk-nikahnya-rachmawati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 253px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-y4MclaemgL8/TsvKzyYyrrI/AAAAAAAAA2U/ZMBmfZrBUJM/s400/bk-nikahnya-rachmawati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677854746278538930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1969 Sukarno ditengah sakit ginjalnya yang parah menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati Sukarnoputeri dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy. Pernikahan itu jauh dari kemewahan, dalam kondisi yang amat prihatin. Pernikahan cukup berlangsung di rumah Ibu Fatmawati di Jalan Sriwijaya Kebayoran.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat Bung Hatta datang ke pernikahan itu dan memberi selamat kepada Rachma. Tiba-tiba terbuka pintu ada beberapa tentara. di antara kerumunan tentara ada Bung Karno yang memakai jas hitam agak kedodoran dengan muka bengkak-bengkak datang ke pernikahan anaknya itu. Ketika melihat kehadiran Bung Karno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya termasuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno dan menciumi suaminya itu. Sukarno berusaha tertawa tapi jelas ia sudah amat kepayahan.  Sementara di luar rumah berita kedatangan Sukarno mulai diketahui banyak orang, dari tukang becak sampai tukang dagangan berlarian ke depan pagar rumah Sriwijaya mereka berteriak-teriak : “Hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno”  komandan tentara kaget dan memerintahkan agar Sukarno tidak terlalu lama di rumah Sriwijaya, ia harus segera pulang ke Wisma Yaso.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Inilah satu-satunya pernikahan Bung Karno untuk anaknya yang ia hadiri. Sebuah tragedi memilukan dari seorang yang mendirikan bangsa ini. Seorang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk Indonesia Raya. Seorang yang membebaskan bangsanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-3106659990827451820?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/3106659990827451820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=3106659990827451820' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3106659990827451820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3106659990827451820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/ketika-sukarno-menikahkan-anaknya.html' title='Ketika Sukarno Menikahkan anaknya'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-y4MclaemgL8/TsvKzyYyrrI/AAAAAAAAA2U/ZMBmfZrBUJM/s72-c/bk-nikahnya-rachmawati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-5785974174712284533</id><published>2011-11-22T05:41:00.000-08:00</published><updated>2011-11-22T05:56:22.135-08:00</updated><title type='text'>Rapat Raksasa Lapangan Ikada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-K73jMuyAJk8/Tsun7l5-xqI/AAAAAAAAA2I/FJDNKM1L9xo/s1600/rapat%2Braksasa%2Bikada.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 181px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-K73jMuyAJk8/Tsun7l5-xqI/AAAAAAAAA2I/FJDNKM1L9xo/s400/rapat%2Braksasa%2Bikada.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677816397460063906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Mengungkap Rapat Ikada : Ketika Tan Malaka Menguji Kekuatan Sukarno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; Peristiwa Lapangan Ikada 19 September 1945, bukan semata-mata sebuah demo biasa, atau sebuah acara kumpul bareng yang melibatkan ratusan ribu orang, sebuah gerakan terorganisir awal dalam sejarah Indonesia modern untuk membentuk jaringan perlawanan terhadap kemungkinan datangnya Belanda yang membonceng sekutu, sekaligus sebuah st&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;atemen kepada pihak luar bahwa Indonesia telah memiliki pemerintahannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Rapat Ikada 19 September 1945 ini bermula di Bogor, pada sebuah gang sempit di rumah Pak Karim, seorang penjahit dimana di belakang rumahnya itu ada seseorang paling legendaris dalam pergerakan perjuangan Indonesia di tahun 1920-an dan merupakan orang yang paling inspiratif bagi para pemuda agar mereka keluar dari rumah nyaman mereka lalu membentuk sebuah bangsa Merdeka. Tan Malaka menulis dua buku yang amat berpengaruh kepada banyak para orang pergerakan :”Massa Actie dan Naar de Republiek”. Kemunculan Tan Malaka pertama kali ke permukaan publik banyak diragukan orang, selain itu Tan Malaka masih dihinggapi perasaan curiga kepada siapapun, sebagai akibat selama lebih dari 20 tahun dikejar-kejar untuk dibunuh oleh intel-intel Belanda dan Inggris. Tan Malaka pertama kali bertemu dengan seseorang bernama Achmad Soebardjo di Djakarta, tapi Soebardjo merahasiakan pertemuan ini, nama Tan Malaka belum keluar dulu, karena Soebardjo sendiri masih belum bisa menentukan siapa lawan siapa kawan, begitu juga dengan Tan Malaka. Soebardjo adalah kawan lama Tan Malaka yang bisa dipercaya, mereka berkawan akrab sewaktu di Belanda. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Di kalangan gerakan pemuda ada dua kelompok : kelompok pertama dipimpin Erie Soedewo, yang amat moderat, pilihan politiknya berunding melulu tapi karena mereka terpelajar dan bagian dari elite mahasiswa waktu itu, mereka memiliki akses kuat ke Sukarno dan Hatta. Kelompok dibawah Erie Soedewo ini dikenal sebagai kelompok Prapatan 10. Sementara kelompok lain adalah pemuda-pemuda otodidak, pemberani, dididik langsung dari situasi kegelisahan rakyat, mereka adalah kelompok yang dulunya banyak ngumpul-ngumpul di Pasar Senen. Mereka ini sangat radikal dalam memilih jalan politik mereka, mereka pengen adanya perang sehingga Indonesia bisa berdiri secara utuh, mandiri dan tidak bergantung pada kepentingan asing. Kelompok ini disebut Menteng 31, dalam jalur Menteng 31 ini dibuatlah sebuah Komite, bernama Komite Van Actie &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Komite Van Actie ini terdiri dari 11 orang salah satunya adalah Maruto Nitimihardjo (orang yang paling dituakan di Kelompok Menteng 31), Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Sayuti Melik, Wikana dan Chaerul Saleh. Mereka juga punya lingkaran dua untuk menggerakkan ini salah satunya adalah DN Aidit. Kelompok Menteng 31 ini kemudian menjadi kekuatan penggerak dalam Revolusi Djakarta pada jam-jam pertama. Suatu hari Maruto dikabari akan kedatangan Tan Malaka. Pandu yang mendengar ini berkata “Tan Malaka sudah sering bertemu dengan Bung Karno” Maruto menjawab : “Apa benar itu Tan Malaka asli?, jangan-jangan itu Tan Malaka palsu yang membuat langkah-langkah pemuda menjadi salah arah dan membuat pemuda hanya jadi kepentingan Jepang”. Esoknya Maruto didatangi seseorang dan mendapatkan sebuah alamat Tan Malaka tinggal. “Dia tinggal di Bogor, pada sebuah gang sempit di rumah seorang penjahit bernama Pak Karim”. Kata seseorang kurir. Lalu Maruto mencari beberapa kawannya untuk mengetahui kebenaran itu. “Apa benar ini Tan Malaka?” kata Maruto kepada Pandu, Adam Malik dan Sukarni dan beberapa orang tokoh pemuda Menteng 31. Lalu salah seorang dari mereka mengusulkan “kita cari saja orang-orang yang mengenal Tan Malaka langsung, di Pasar Senen banyak orang Minang yang dulu kenal Tan Malaka”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Lalu dibawa beberapa orang yang mengaku kenal Tan Malaka asli sewaktu Tan Malaka masih di Bukittinggi, selain itu disiapkan pertanyaan-pertanyaan soal Massa Actie yang merupakan hasil pemikiran politik penting Tan Malaka. Ketika bertemu mereka semuanya terpesona dengan Tan Malaka yang saat itu dikenal dengan nama Iljas Hussein. Tan Malaka menguraikan Massa Actie dengan amat detil dan membuat mereka mulai ngeh, selain itu Maruto menggeret salah seorang yang kenal dengan Tan Malaka tadi ke luar rumah “Apa benar itu Tan Malaka asli?” tanya Maruto. “benar”...jawab orang itu. “dasarnya apa?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Di dunia ini hanya satu orang yang saya pernah lihat orang punya daun telinga besar, ya sebesar Tan Malaka itu” Maruto menahan tawa mendengar jawaban keluguan orang yang mengaku kenal Tan Malaka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Lalu Maruto masuk kembali ke dalam rumah dan menanyai pada Tan Malaka “Apakah Bapak Tan bersedia untuk bertempur dengan Djepang?” jawab Tan Malaka. “Bukan hanya bersedia tapi harus!..Djepang harus diperangi, begitu juga nanti Belanda atau Inggris atau siapa saja pasukan asing harus diperangi”. Detik itu juga Maruto tersadar inilah Tan Malaka asli, karena Tan Malaka palsu tak mungkin mau bila disuruh melawan Djepang. Maruto bersikap sangat hati-hati karena sebelumnya memang banyak muncul Tan Malaka palsu, yang disuruh Jepang pidato di tengah rakyat. Bahkan di Bukittinggi, Tan Malaka palsu sempat di elu-elukan rakyat banyak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Di dalam pertemuan Bogor itu pula Tan Malaka menguraikan efektifnya sebuah gerakan. Tan Malaka lalu menguraikan dengan detil konsep perjuangannya. “Saya ingin tahu kepada kalian apa tujuan kemerdekaan itu?” para pemuda diam saja, karena mereka tau ini pertanyaan retoris. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Tujuan kemerdekaan itu adalah pembebasan, kesejahteraan dan total kita lepas dari kepentingan-kepentingan asing yang memperbudak bangsa ini. Di dalam memperdjoangkan kemerdekaan” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Apa ada strategi ke depan dalam perdjoangan ini, kita harus berperang atau berunding dengan musuh?” kata seseorang yang kemudian disorakin temannya “kayak anak Prapatan 10 saja berunding” Seluruh ruangan tertawa. Namun selanjutnya ruangan menjadi sunyi ketika Tan Malaka berdehem. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Kalahnya Djepang saat ini belum merupakan penyelesaian dari seluruh akhir perang. Perang besar akan diikuti perang-perang kecil. Banyak dari bangsa-bangsa di dunia ini akan menuntut kemerdekaan baru, mereka Atlantic Charter sebagai acuan kemerdekaan, tapi sayangnya negara-negara penjajah walaupun mereka teken Atlantic Charter, mereka tak mau buru-buru lepaskan negara jajahan, negara mereka sudah hancur akibat digempur Jerman, mereka akan memeras habis-habisan negara jajahan, mereka akan terus memperbudak rakyat di negara jajahan atas persoalan dimana negara jajahan itu tak mengerti” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Lalu Tan Malaka berdiam sejenak dan memandang lurus ke arah pintu. Ia berdiri dan masuk ke biliknya lalu keluar kembali membawa sebuah buku. Entah apa maksudnya, buku itu ditaruh saja di meja kecil yang penuh dengan debu sisa rokok. “Aku sudah mempelajari ini semua dalam perkiraan-perkiraan sejarahku, dalam pikiranku, semuanya...inilah masa depan itu sesungguhnya. Tapi masa depan itu tak mudah untuk kita begitu saja, masa depan itu harus direbut satu persatu. Melihat kejadian saat ini saya yakin Belanda akan masuk ke Indonesia, mereka akan mengincar kota-kota yang kaya, mereka akan masuk ke daerah yang banyak kilangnya, mereka masuk ke daerah perkebunan karena itu sumber logistik mereka, lalu mereka akan menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi banyak orang Indonesia untuk membatalkan kemerdekaan, mereka akan mengadu domba antar orang Indonesia sendiri. Mereka menggunakan orang-orang Indonesia yang pro Belanda untuk berunding sehingga mengesankan bahwa di dalam wilayah ini persoalannya bukan intervensi asing tapi sebuah konflik antar manusia di dalamnya, sebuah konflik internal bangsa, diatas itulah Belanda akan menguasai Indonesia kembali”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Lalu dengan apa kita harus melawan” tanya Sukarni dengan mata melotot. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Caranya Belanda harus digempur terus menerus, jangan sampai mereka bisa mengekspor hasil-hasil perkebunan yang mereka kuasai. Kita mungkin kalah senjata tapi kita menang orang, orang kita banyak, semakin luas wilayah kita kuasai Belanda tidak akan mampu melawan, mereka habis berperang, sumber dana mereka tiris, mereka tidak punya dana besar untuk melakukan perlawanan amat luas ini, itulah kemenangan kita, kita harus melakukan perjuangan menyeluruh. Di dalam perjuangan itu harus juga ada langkah taktis, yaitu : pengakuan hukum dari negara lain. Bangsa-bangsa Kapitalis tak akan mungkin mau mengakui, kita butuh pengakuan negara-negara Islam dan negara-negara Sosialis. Sementara dengan kelompok Islam kalian jangan memusuhi, justru mereka amat penting terhadap pergerakan perjuangan ini, di Indonesia Islam itu ibarat darah dalam tubuh manusia, sekarang giliran kalian mampu tidak menggerakkan semua itu?....kalian harus melakukan krachtproef, suatu uji kekuatan. Bagaimanapun pemerintahan Indonesia memang sudah ada, tapi kenyataannya apa? Seluruh jajaran administrasi kenegaraan, kepolisian dan birocratie functie masih di tangan Djepan. Ini artinya bila tak ada gerakan dari kalian, maka Djepang akan segera menandatangani pengalihan inventaris Indonesia ini ke tangan sekutu sebagai bagian dari pampasan perang. Inikah yang kalian mau?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Jadi kita harus perang?” tanya Sukarni lagi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; “Itulah jalan satu-satunya, dan kamu buktikan dulu apakah massa rakyat mau ikut kalian hei pemuda? Kalian harus bakar itu massa rakyat, buat mereka berkumpul, dengan begini kalian akan mengukur kekuatan kalian, dan ketaatan itu akan dibuktikan di depan banyak orang asing di Indonesia sehingga mereka akan paham siapa yang memerintah rakyat sesungguhnya”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Pertemuan itu berlangsung berjam-jam sampai akhirnya rombongan Menteng 31 pulang dengan membawa kesepakatan akan diadakan rapat besar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Satu minggu sesudah pertemuan itu kelompok Menteng 31 berkunjung ke Prapatan 10, sebelumnya mereka bertengkar karena soal Djohan Noer yang maunya perang total, dan kemudian anak-anak muda Prapatan 10 memilih Erie Soedewo tokoh pemuda yang lebih moderat, aleman dan dekat dengan Sukarno-Hatta. Anak-anak Menteng 31 memaksa Prapatan 10 untuk segera melakukan rapat besar “Paksa itu Sukarno untuk mau berpidato di depan rakyat”. Setelah melalui perdebatan panas akhirnya anak-anak Prapatan 10 menyetujui untuk pengaruhi Sukarno. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Tanggal 15 September 1945, sekutu melakukan penerjunan payung beberapa marinir Inggris, selain itu sekutu sudah mendaratkan lima kapal perang di Tanjung Priok. Pendaratan sekutu ini memicu dikeluarkannya surat oleh Jenderal Nagano untuk seluruh pihak agar jangan ada pertemuan-pertemuan besar yang membuat marah sekutu. Surat pengumuman ini dibawa Pandu ke meja sekretariat Menteng 31. Sukarni yang membaca surat selebaran itu langsung merobek dan menggebrak meja “benar kata Tan Malaka kita harus mengumpulkan massa rakyat” Malamnya ada kabar Tan Malaka yang masih dikenal sebagai Iljas Hussein bersedia pidato di bioskop Maxim, Cikini. Beberapa orang menjaminkan pertemuan Tan Malaka ini akan aman. Di depan bioskop Maxim, Tan Malaka berpidato luar biasa “Kita harus membangun kekuatan sendiri untuk bertempur, berani menegakkan kepala untuk sebuah kehormatan Indonesia. Kemerdekaan harus dicapai dengan tangan sendiri” begitu salah satu isi pidato Tan Malaka sambil ia mengangkat tangannya terlihat jam-nya diikat di tengah lengan, bukan hal yang biasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Setelah pertemuan di Bioskop Maxim, ada seseorang bernama Gatot Tarunomihardjo datang ke Prapatan 10 dengan membawa uang 35.000 rupiah, tolong diberikan kepada Erie Soedewo, Kemal dan Piet Mamahit. Mereka bertiga terperanjat setelah dilapori ada kiriman duit Tan Malaka. Kiriman duit itu adalah sumbangan Tan Malaka untuk anak muda yang akan segera membentuk pasukan perang. Dan perlu dicatat inilah modal awal pembentukan angkatan bersenjata Republik Indonesia, duit dari Tan Malaka. – Kelompok Prapatan 10 akhirnya mengirim Soejono Judodibroto menemui Tan Malaka di Bogor. Cerita tentang Gatot ini kelak dikemudian hari menimbulkan banyak pertentangan, namun yang jelas adalah Gatot memperoleh banyak uang dari Bank-Bank Jepang dan kemudian dengan royal diberikan kepada sekutu.-. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Tanggal 17 September, Sukarno mengumpulkan anggota kabinetnya. Di mejanya ia sudah menerima dua surat : Rencana rapat raksasa oleh Pemuda dan kedua adalah Surat edaran Jenderal Nagano untuk mengadakan larangan demonstrasi. Sukarno kemudian memutuskan di depan kabinet membatalkan ini, rapat berlangsung alot bahkan sampai jam 5 pagi. Ketika subuh datang, pertemuan kabinet dibubarkan. Tanggal 18 September 1945 jam 9 pagi, juru bicara pemerintah : Sukardjo Wirjopranjoto akan berdialog dengan wartawan, tapi kemudian Sukardjo meminta kepada Achmad Soebardjo. Soekardjo berpikir di depan anak-anak muda wartawan berhati panas ini tentunya akan menimbulkan kemarahan apabila isi dari surat pemerintah adalah melarang demonstrasi. Lalu Achmad Soebardjo tampil di depan wartawan, singkat saja ia bicara tentang pembatalan kumpul-kumpul di Koningsplein dan menolak surat Jenderal Nagano. Sontak saja wartawan-wartawan yang baru kemaren merebut kantor-kantor berita Jepang itu mengamuk dan membuat pertanyaan panas. Tapi Soebardjo terus bersikukuh atas keputusan pemerintah. Namun desakan begitu kuat, hingga akhirnya Soebardjo menuruti maunya pemuda agar disampaikan pada Sukarno. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Di lapangan, Sukarni dan kawan-kawannya sudah mengumpulkan massa, mereka menemui jaringan yaitu kepala-kepala desa, jago-jago lokal dan kyai-kyai untuk mengumpulkan massa, ternyata massa yang datang ratusan ribu. Pagi itu tanggal 19 September 1945 orang-orang datang berduyun-duyun membawa bendera merah putih, bapak ibu sekeluarga menggendong anaknya, anak-anak kecil tertawa gembira, “Lebaran...lebaran kita” kata salah seorang penduduk yang dengan ketawa sambil pake jas yang kedodoran dateng ke Lapangan Ikada. Beberapa orang bahkan menertawai tentara Jepang, dan mengolok-olok mereka. Seorang anak kecil dilaporkan melepaskan celananya dan memamerkan pantat di depan serdadu Jepang. Lainnya bersorak gembira “Merdeka....merdeka...kami ingin lihat Sukarno, kami ingin lihat Sukarno”. Di lapangan para pemuda sibuk mengatur barisan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Jam 10 pagi tiba-tiba ada rombongan besar dari Karawang, gerobak-gerobak juga datang dari Bekasi, banyak yang datang dari luar Djakarta, seluruh penduduk Kebon Sirih sampai Cikini sudah berkumpul. Orang-orang dari Tanjung Priok membawa bambu runcing, beberapa orang Bugis membawa badik dan orang Jawa membawa kerisnya. Semuanya menunggu pidato Sukarno. Puluhan Ribu rakyat bernyanyi-nyanyi di siang yang panas menunggu Sukarno. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Sementara itu Sukarno mencak-mencak di gedung KNIP, ia marah-marah setelah dapat laporan banyak juga anak kecil yang datang. Seluruh menteri rapat untuk memutuskan apa pemimpin Republik memunculkan diri mereka di depan publik dengan ancaman tembakan Jepang dan puluhan ribu rakyat dipertaruhkan, sebuah korban nyawa yang sia-sia menurut pendapat sebagian menteri. Awalnya sidang berlangsung alot cuman untuk memutuskan keluar menemui rakyat apa tidak. Memang saat itu pertaruhannya adalah nyawa para menteri itu sendiri, banyak ketakutan. Mereka takut ada penembak gelap, mereka takut adanya serbuan pasukan Jepang sementara panser-panser sudah disiapkan di seluruh lapangan, tapi rakyat seperti tak takut lagi. Dokter Samsi Sastrawidagda mondar mandir sambil mulutnya terus meracau : ‘Het wordt en bloedbad en onnodig bloedvergiten. Hei is onzinnig om toe te geven aan di jonge heethofden.’ (wah, ini akan terjadi pembantaian dan tertumpah darah sia-sia. Ini semangat pemuda yang keterlaluan....!”). Sidang berlangsung amat lama dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, mereka tidak makan siang karena suasana amat tegang. Beberapa kali menteri-menteri itu mendongak ke atas saat mendengar suara pesawat. Seseorang menyenggol kawannya dan berbisik “mungkin itu pesawat sekutu”. Ada juga menteri yang cuek dan ngantuk berat karena dua hari yang lalu tidak tidur karena sidang sampai pagi membahas soal Jenderal Nagano. Sukarno terus menimbang-nimbang seraya ia mendapatkan laporan terus menerus perkembangan di lapangan. Sukarni yang mengatur semua kegiatan lapangan datang ke gedung KNIP dan mengetuk pintu “Gimana sudah kelar keputusannya” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Beberapa menteri berteriak pada Sukarni “Sabar dulu” lalu Sukarni menutup pintu. Dua jam kemudian Sukarni membuka pintu lagi dan melongokkan kepala ke arah meja kabinet dan para menteri itu “Bagaimana putusan?” seorang menteri menoleh kepada Sukarni sembari menjawab ogah-ogahan “Belum” lalu Sukarni menutup pintu dengan suara amat keras “Brakkkk....!!!” semuanya kaget, nampak benar kemarahan Sukarni. Menteri Penerangan Sukardjo Wirjopranoto langsung nyeletuk kesal “Kayaknya Sukarni mau bunuh kita ini”........Rapat terus berlangsung tapi belum ada keputusan para menteri, Iwa Kusumasumantri sampai tertidur dan berkali-kali dibangunkan Sukarno. Iwa mengusap matanya dan melihat pada Sukarno “Gimana, No sudah ada putusan” jawab Sukarno “Belum” lalu Iwa melanjutkan tidurnya lagi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Jam 3 sore tidak ada keputusan. Waktu terus berdetak. Rakyat sudah kelelahan menunggu Sukarno. Sudah ada yang mulai berteriak-teriak. Lalu Sukarno berdiri sendirian dan berkata karena semua menteri tampaknya banyak yang takut maka ia pasang badan, biarlah ia yang ditembakin Jepang, mati di depan rakyatnya. Karena ini adalah pertaruhan untuk masa depan Indonesia : “Saudara-saudara Menteri dengarkan putusan saya, Saya akan pergi ke lapangan Rapat. Untuk menentramkan rakyat yang sudah berjam-jam menunggu, saya tidak akan memaksa saudara-saudara untuk ikut saya, yang mau tinggal di rumah boleh, yang mau ikut saya terserah”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Langsung jam setengah tiga sore keputusan rapat sudah diambil. Sukarno akan berbicara di depan rakyat sebagai simbol pemimpin dan pemerintahan. Banyak menteri yang lebih memilih ikut Sukarno dan beresiko nyawa mereka ditembaki Jepang. Di lapangan Tan Malaka sudah menunggu, sementara Sukarno akan datang dari gedung KNIP, rombonganpun datang. Di dalam lapangan rombongan dihentikan orang Jepang, seorang perwira Kolonel Miyamoto. Sukarno marah dengan penghadangan ini, sementara Hatta terus mencoba berdebat. Tiba-tiba dari arah belakang Tan Malaka berteriak keras dengan bahasa Minang :”Eh, Hatta Engkau debat ini bertele-tele, hentikan debat rakyat sudah gelisah...”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Akhirnya perwira itu didorong salah seorang pemuda Indonesia bersenjata dengan muka siap tempur, perwira itu mengalah lalu Bung Karno berjalan menuju podium dan berpidato singkat “Saudara-saudara, saudara-saudara......saya tahu bahwa saudara berkumpul disini untuk melihat Presiden kalian dan mendengarkan perintahnya. Apabila saudara-saudara masih mempercayai ini maka dengarkanlah perintah saya yang pertama kepada saudara-saudara : bubarlah, pulanglah dengan tenang ke rumah masing-masing tunggu perintah dari pemimpin-pemimpin ditempatmu masing-masing ...”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Serentak puluhan ribu orang membubarkan diri, ini yang membuat pengamat dan intel-intel asing tercengang. Bahkan Van Der Post intel Inggris yang mengirimkan anak buahnya untuk mencatat kejadiannya mendapatkan laporan sedemikian dramatis : “Ada seorang Ambon yang pro Belanda berdiri ditengah orang banyak dan menunggu, kegemparan luar biasa menghanyutkan dirinya dan semua orang yang disana. Pada saat Bung Karno datang, jantungnya berdegup keras dan ia hampir semaput. Apa yang dilakukan Bung Karno itu adalah memerintahkan agar semua orang pulang, dan suasana masih bergetar, oleh kegemparan luar biasa. Orang Ambon itu pergi bersama rakyat, dan belakangan ia melaporkan ‘peristiwa itu adalah pengalaman paling hebat dalam hidupnya’. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Pertemuan Lapangan Ikada adalah pertemuan batin, pertemuan rasa cinta dalam membentuk sebuah bangsa. Disini bertemu berupa-rupa kepentingan. Tan Malaka yang ingin mengetest kekuatan Sukarno dan efektifitas pemuda, Sukarno yang dengan berani gantung leher demi sebuah pemerintahan yang dipimpinnya, kenekatan pemuda mengadakan sebuah keputusan yang amat berani dan para intel-intel asing yang sedang memperhatikan perkembangan sebuah pemerintahan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Rasa mengharukan Rapat Ikada ini bisa digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer yang saat itu juga hadir dan menangis melihat berdirinya sebuah bangsa. Di Pulau Buru pada sebuah kamp kerja paksa Orde Baru ia mengirimkan surat pada anaknya : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;   &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Et,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Pada waktu Proklamasi diucapkan, tak ada yang menduga, di Indonesia bakal meletup suatu revolusi, menjamah daratan dan perairan. Pengucapnya, Soekarno, ideolog, brahmana, mewakili para ideolog, para Brahmana Indonesia, dari ujung rambut sampai telapak kaki, menyuarakan Proklamasi itudengan keraguan – ragu terhadap masa lewat rakyatnya yang dikenalnya belum cukup mewakili kekuatan dan kemauan politik, ragu terhadap masa mendatang yang diwakili oleh kemungkinan tindakan kekerasan dari pihak bala tentara Jepang lain yang mendukung Proklamasi, lebih lagi pada Sekutu, pemenang Perang Dunia II.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Proklamasi kemerdekaan diucapkan. Kenyataannya: seperti dalam dongengan, suatu krisi revolusioner mendadak menyingkap didepan mata, seperti tabir itu tiba-tiba terbuka dan panggung terpampang. Belum, Et, belum revolusi itu sendiri. Krisis revolusioner itu adalah titik puncak keadaan sosial, ekonomi dan politik. Orang sudah tak lagi lebih lama dapat menenggang keadaan yang morat-marit, kemelaratan yang sudah menghalau orang ke lubang atau tepian kuburan, dan di bidang politik dan kekuasaan ada terjadi vakum. Pendeknya, pada waktu itu, barang siapa jadi melihat keadaan dan berani tampil memimpin, dia akan jadi pemimpin. Dan, Et, krisis revolusioner yang menjadi puncak keadaan ini, sayang, bukan karena faktor subyektif Indonesia, dia berjalan secara sosial-alamiah, karena dimungkinkan oleh vakum kekuasaan kolonial. Sayang. Ya, sayang. Sekiranya pendorong utamanya faktor subyektif Indonesia, perkembangan akan menjadi lain, lebih jernih, lebih terpimpin. Apa daya, justru pare ideolognya sendiri ragu sudah pada titik awal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Waktu Soekarno-Hatta hendak bicara di hadapan rapat raksasa di Lapangan Ikada (lapangan Gambir bagian tenggara) kami bertiga sudah siap mendengarkan di lapangan itu. Yang kumaksud dengan kami adalah Abdul Kadir Hadi, Soekirno dan aku sendiri. Kami memasuki lapangan dari jalan raya di selatannya. Waktu itu di pinggir kanan jalan telah berderet beberapa tank dan panser Jepang. Di antarab dua kendaraan baja itu kami masuk, ke lapangan. Tanpa kecurigaan. Tanggal berapa waktu itu? 19 September 1945!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Lapangan itu benar-benar sudah penuh dengan barisan yang bersaf-saf. Setiap padanya membawa papan nama kesatuannya – Barisan Pelopor dan Banteng seluruh Jakarta. Juga pada luarnya di belakang barisan ini berjubel orang-orang seperti kami, tanpa ikatan organisasi. Sorak-sorai dan pekikan semua barisan di depan dan tengokan kepala mereka kearah selatan, tiba-tiba membuat kami bertiga menjadi sadar: gelora suara yang membelah langit itu ternyata ditujukan kepada tentara Jepang. Mereka pada bersenjata bambu runcing, parang, dan mungkin juga belati atau keris. Dengan sendirinya kami bertiga, yang tidak bersenjata, terbungkuk-bungkuk mencari batu. Aku sendiri mendapat tidak lebih dari tiga yang kumasukkan ke dalam kantong celana. Satu tetap dalam genggaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Rasanya begitu lama kami menunggu dalam ketegangan. Yang diharap-harapkan tak kunjung muncul. Nah, waktu iring-iringan memasuki jalan tepian bagian selatan lapangan – bukan yang kami lalui waktu masuk – dari kejauhan nampak mobil-mobil itu dihentikan oleh serdadu Jepang. Rasanya kami tak habis-habis menunggu. Barisan-barisan semakin riuh-rendah mengelu-elukan Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil Presiden RI pertama. Insiden itu membikin suasana semakin tegang. Tak ada yang bisa mendengar pembicaraan diantara mereka. Sesuatu yang tidak beres terasa mengawang di udara. Dan di geladak panggung tinggi, seperti sebuah menara pengintaian, berdiri beberapa serdadu Jepang bersenjata. Pengeras suara yang memberitakan kedatangan Presiden dan Wakil Presiden tak berdaya menghadapi sorak-sorai dan pekik-jerit. Akhirnya iring-iringan berjalan terus. Dan waktu Presiden tampil, keadaan menjadi senyap. Di podium suaranya terdengar lunak: tenang, pulanglah dengan tenang. Kemudian rombongan meninggalkan tempat. Takkan ada tambahan pada kata-kata lunak tersebut. Hanya protokol menunjukkan jalan keluar lapangan – jalan yang baru ditinggalkan iring-iringan Soekarno-Hatta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Barisan demi barisan, tanpa membubarkan diri, meninggalkan lapangan melalui jalan yang telah ditentukan. Sorak-sorai, pekik-jerit, dan debu membubung memenuhi jalanan yang menjadi sempit. Di pinggiran jalan berjajar pohon palma, di bawahnya deretan truk terbuka dengan serdadu Jepang di geladaknya, semua bersenjata senapan bersangkur terhunus. Di tubuh jalanan: barisan-barisan yang berjejal. Serdadu-serdadu itu menghalau setiap orang yang dianggapnya terlalu dekat pada truknya. Menghalau dengan bedilnya dari atas geladak truk. Mula-mula tidak terjadis sesuatu. Tetap jalanan semakin mejadi padat. Barisan-barisan semakin melebar. Para serdadu Jepang semakin sibuk menghalau. Sembari memekin dan bersorak-sorai orang mulai membela diri dari ancaman bayonet dengan bambu runcing mereka. Massa yang gusar karena gagal mendengarkan Presidennya, mabuk oleh pekik, sorak-sorai, dan anggar laras senapan berbayonet dengan bambu runcing ….. dan itulah untuk pertama kali aku saksikan, bagaimana orang Indonesia sama sekali tidak lagi takut pada Dai Nippon dengan militernya yang mahsyur akan kekejaman dan kekejiannya. Krisis revolusioner sedang berkembang. Dan aku lihat, Et, seseorang dari barisan menghunus pedang dan menebas tangan salah seorang serdadu Jepang. Beberapa dari jarinya putus. Tetapi insiden tak berkembang lebih lanjut. Mereka tidak terprovokasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Inggris, atas nama Sekutu, mendarat. Dari R. Moedigdo, pamanku, seorang redaktur Domei, yang telah menjadi Antara, kudengar salah seorang rekannya, Sipahutar, salah seorang pendiri kantor berita itu pada tahun 30-an, berniat mendirikan panitia penyambutan. Tantangan, caci-maki dan penolakan dari rekan-rekannya membikin niat itu buyar. Tentara Inggris mulai membebaskan orang-orang Eropa tawanan Jepang dari kamp-kamp di wilayah Jakarta. Para bekas tawanan itu sebagian mereka persenjatai dan mulai menembaki penduduk. Juga serdadu-srdadu Jepang. Para pemuda Jakarta mulai menjaga keamanan lingkungannya masing-masing. Masa ini biasa dinamai “jaman siap”. Gelombang teriakan “siap” melanda lingkungan yang dimasuki oleh serdadu atau bekas tawanan yang mengamuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Sekarang krisis revolusioner itu beralih menjadi Revolusi yang sebenarnya. Kalau tadinya para pemuda mempersenjatai diri dan menjaga keamanan lingkungannya dari amukan Jepang dan bekas tawanan, di Medan Senen para paria sudah meninggalkan lingkungannya dan mulai menyerang. Mungkin ada orang Indonesia yang sudah jadi merah mukanya mendengar dongengku ini: Revolusi Indonesia dimulai oleh para paria Medan Senen. Apa boleh buat, itulah justru kesaksian yang dapat kuberikan. Yang menggerebak mukanya boleh punya dongeng sendir, sekiranya punya kesaksian lain. Dalam Abad ke-13 pun seorang paria yang mengawali babak Jawa-Hindu, meninggalkan Hindu-Jawa. Orang itu tak lain dari Ken Arok. Suksesnya menyebabkan sang paria ini diangkat menjadi putera Brahmana, Syiwa dan Wisynu sekaligus. Orang melupakan kenyataan: sebagai paria dia berada di luar semua kasta Hindu yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Hanya saja paria Medan Senen tak mampu mengangkat diri jadi pimpinan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-5785974174712284533?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/5785974174712284533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=5785974174712284533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5785974174712284533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5785974174712284533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/rapat-raksasa-lapangan-ikada.html' title='Rapat Raksasa Lapangan Ikada'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-K73jMuyAJk8/Tsun7l5-xqI/AAAAAAAAA2I/FJDNKM1L9xo/s72-c/rapat%2Braksasa%2Bikada.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6708915818444265819</id><published>2011-11-18T22:41:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T22:45:00.397-08:00</updated><title type='text'>Hubungan antara Kekuasaan Jawa dan Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-QUbd0a4N4yA/TsdQQFpEZ9I/AAAAAAAAA18/FSMQuYg7tOg/s1600/raja%2Bjawa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 304px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-QUbd0a4N4yA/TsdQQFpEZ9I/AAAAAAAAA18/FSMQuYg7tOg/s400/raja%2Bjawa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676594092646361042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Kekuasaan antara Jawa dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini kita menyaksikan silap lidah SBY terhadap Yogyakarta yang kemudian malah diperkuat oleh sikap leda lede (plin plan) SBY terhadap klarifikasi pernyataan 26 November 2010. Reaksi SBY ditanggapi sangat keras dan mengundang pertanyaan "Ada apakah sebenarnya hubungan filosofis kekuasaan antara Jawa dan Indonesia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kekuasaan kita menunjukkan bahwa pemenang politik di Indonesia adalah mereka yang memahami bagaimana kekuasaan Jawa bekerja. Sukarno dan Suharto adalah contoh paling baik orang yang memahami cara pikir orang Jawa dan memanfaatkannya untuk membangun kekuasaan. Pada saat hampir semua intelektual Indonesia mengagumi teori-teori asing dari mulai Karl Marx, Fabian, Keynes sampai teori Mao maka Sukarno dan Suharto justru memenangi sejarah dengan menguasai teori Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan generasi muda saat ini mereka begitu kagum dengan Neoliberalisme Amerika Serikat, kagum dengan Sosialisme Hugo Chavez, Islamnya Ahmadinejad atau kagum dengan pembangunan raksasa Cina. Tapi mereka sedikitpun tidak ingin mempelajari secara detil struktur Jawa dalam mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang Indonesia maka mereka tidak paham bagaimana bekerjanya sejarah di negeri ini. Dan yang lebih luar biasa lagi Susilo Bambang Yudhoyono orang nomor satu di negeri ini yang lahir dari wilayah kultur Mataraman malah menyabet dengan lidahnya perasaan orang Jawa sampai-sampai saat ini ia mengalami delegitimasi politik setidaknya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berbasis budaya Mataraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling kita ingat tentang kekuasaan Jawa bagi masyarakat publik sesungguhnya justru dari film rekayasa Orde Baru. G 30 S/PKI saat DN Aidit yang diperankan Sju'bah Asa mengucapkan "Jawa adalah kunci". Disinilah kesadaran awal tentang kekuasaan terbentuk, atau ketika Hatta berucap pada Deliar Noer pada tahun 1959 "Sedikit lagi kekuasaan Sukarno akan jatuh" tapi Deliar Noer menjawab dalam hati "Hatta tidak mengerti bagaimana kekuasaan Jawa" ternyata Deliar benar Sukarno malah terus berkuasa dengan demokrasi terpimpinnya dan justru dijatuhkan bukan oleh orang yang berpendidikan barat, oleh orang yang poliglot dan mampu memahami teori-teori penting barat tapi dari orang yang berpikiran sederhana, bermimpi dan berpikir dalam bahasa Jawa dan orang yang sama sekali tidak pernah membaca buku dialah Suharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sejarah bisa menjelaskan hal ini? Kekuasaan Jawa dibentuk oleh dua hal : yang rasional dan irasional. Rasionalitasnya terletak pada komitmen atau perjanjian suksesi sementara irasionalitasnya terletak pada sakralitas. Sukarno menggunakan komitmen yaitu : Kontrak 17 Agustus dan dia menjadi kekuasaan sedemikian sakral lengkap dengan pencitraan yang luar biasa berhasil dari cara berpakaian sampai berpidato bak dalang nomor satu. Sementara Suharto melakukan kontrak komitmennya diletakkan pada Triumvirat 1966 dan sakralitasnya diletakkan bagaimana cara dia menjalankan kekuasaan dengan idiom-idiom Jawa yang justru sangat efektif dalam menjalankan apa kemauannya. Lalu konfigurasi Jawa yang digunakan Sukarno dan Suharto tidak dipelajari oleh Presiden-Presiden setelah Suharto. Seperti Habibie yang terlalu one man show, kebanyakan bicara dan tidak menjadikan kekuasaannya sakral, Gus Dur yang gagal memisahkan formalitas dan informal, terlalu banyak bercanda dan tidak menjadikan kekuasaan berjarak dengan masyarakat banyak yang menjadikan struktur kekuasaan bersifat acak, lalu Megawati yang tidak menjadikan dirinya berkesan di orang banyak sebagai "Orang Bijak" ia mematutkan wajahnya seperti pemimpin mutung dan yang terparah adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak memanfaatkan posisi Sri Sultan dan ini merupakan anomali paling parah sepanjang sejarah kekuasaan di Indonesia, karena Sukarno di tahun 1945 bisa mendapatkan legitimasi politiknya di Jawa karena Sultan sementara Suharto bisa berani lawan Bung Karno karena Sultan masuk formasi Triumvirat. SBY malah mendelegitimasikan kemenangannya di Jawa berhadapan dengan kekuasaan Jawa sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan itu tidak harus dilihat semata-mata sebagai bentuk imajinasi seperti yang dikatakan Ben Anderson. Kekuasaan itu diletakkan pada kekuatan batin, kenyamanan terhadap kedudukan pemimpinnya dan nilai-nilai abstraksi yang tidak bisa digambarkan dari sudut rasionalitas. Indonesia dilandasi oleh sikap batin orang Jawa, inilah kenapa orang Jawa mengalah tidak mau menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa Nasional, orang Jawa jarang terlihat berkonflik dengan suku manapun di Indonesia dan Orang Jawa cenderung disukai bila merantau dan berdiam di satu tempat. Karena pada dasarnya orang Jawa itu menyukai keseimbangan, ia ibarat air dan selalu mengikuti arus tapi ada satu nilai-nilai Jawa yang paling fundamental dan tidak boleh dirusak : Harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jawa melihat harmoni adalah kekuasaan tertinggi dalam dunia pikirannya dan caranya bertindak. Harmoni ini juga yang melandasi berdirinya negara Indonesia. Dan ucapan SBY pada 26 November 2010 merupakan serangan serius terhadap landasan harmoni. Sebuah landasan paling dasar berdirinya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTON&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6708915818444265819?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6708915818444265819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6708915818444265819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6708915818444265819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6708915818444265819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/hubungan-antara-kekuasaan-jawa-dan.html' title='Hubungan antara Kekuasaan Jawa dan Indonesia'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QUbd0a4N4yA/TsdQQFpEZ9I/AAAAAAAAA18/FSMQuYg7tOg/s72-c/raja%2Bjawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-4918469676286547107</id><published>2011-11-18T22:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T22:36:08.047-08:00</updated><title type='text'>Suharto lapor kepada Sultan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-WktbrKMxDwI/TsdOQ3RgpII/AAAAAAAAA1w/Bq04HqOo7aA/s1600/suharto%2Blapor%2Bkepada%2Bsultan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 289px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-WktbrKMxDwI/TsdOQ3RgpII/AAAAAAAAA1w/Bq04HqOo7aA/s400/suharto%2Blapor%2Bkepada%2Bsultan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676591906946065538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharto siap masuk ke Kota Yogyakarta dan mengadakan barisan defile kemenangan atas Belanda pada bulan Juni 1949. Sebelum masuk Ke Kota Yogyakarta Suharto melapor kepada Menteri Pertahanan Republik Indonesia sekaligus penguasa kota Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX. "Sinuwun pasukan sudah siap masuk tapi saya harap maklum, pasukan saya tidak mengenakan seragam dan kondisi kotor". Sultan menjawab "Ndak apa-apa Mas Harto, asal kamu dan semua pasukanmu berjalan dengan rasa bangga, nanti tolong dipersiapkan semua pengamanan untuk serah kunci kota Yogyakarta" Suharto menjawab 'Siap Sinuwun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk ke dalam kota pasukan Suharto mengamankan Sri Sultan, karena masih ada lima sektor pasukan yang belum masuk dan ada beberapa pos Belanda yang harus dihadapi Sri Sultan, ada cerita rakyat bahwa Sri Sultan bisa menjadi tujuh orang dalam satu waktu. Ini sama persis dengan kejadian Sukarno yang belah menjadi empat orang saat penembakan Idul Adha di tahun 1960-an.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-4918469676286547107?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/4918469676286547107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=4918469676286547107' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4918469676286547107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4918469676286547107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/suharto-lapor-kepada-sultan.html' title='Suharto lapor kepada Sultan'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-WktbrKMxDwI/TsdOQ3RgpII/AAAAAAAAA1w/Bq04HqOo7aA/s72-c/suharto%2Blapor%2Bkepada%2Bsultan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-4098702187511712379</id><published>2011-11-18T22:26:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T22:27:53.868-08:00</updated><title type='text'>Konsep Berbicara Di Berbagai Negara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-k22M535L0M8/TsdMS_nWpWI/AAAAAAAAA1k/eHvzHlbhcho/s1600/Konsep%2BCara%2BBerbicara%2Bdi%2BBerbagai%2BNegara.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-k22M535L0M8/TsdMS_nWpWI/AAAAAAAAA1k/eHvzHlbhcho/s400/Konsep%2BCara%2BBerbicara%2Bdi%2BBerbagai%2BNegara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676589744521651554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;INI sejumlah kata mutiara dari berbagai negara, berkaitan dengan etika berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Inggris: Gunakanlah kata-kata yang lembut, tapi kerahkan argumentasi yang kuat! Artinya? Yang penting apa yang kau ucapkan, bukan bagaimana mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dari Prancis: Tunggu sampai malam, sebelum mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang cerah.... Artinya? Jangan terlalu cepat menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda : "Tidak ada satupun kalimat berbahasa perancis disini!" artinya : Semuanya sudah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia : "Bersikaplah santun dalam berbahasa maka kau akan tetap memakai celana" artinya : Berbicaralah yang santun maka kejahatan yang kita lakukan tidak akan terbongkar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-4098702187511712379?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/4098702187511712379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=4098702187511712379' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4098702187511712379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4098702187511712379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/konsep-berbicara-di-berbagai-negara.html' title='Konsep Berbicara Di Berbagai Negara'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-k22M535L0M8/TsdMS_nWpWI/AAAAAAAAA1k/eHvzHlbhcho/s72-c/Konsep%2BCara%2BBerbicara%2Bdi%2BBerbagai%2BNegara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-7585181247836533276</id><published>2011-11-18T22:10:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T22:13:13.345-08:00</updated><title type='text'>Dari Office Boy ke Vice Presiden Citibank</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Q031uF4_jIs/TsdI1a7HlPI/AAAAAAAAA1Y/fw-svn-A96o/s1600/kisah%2Binspirasi%2BPak%2BHoutman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Q031uF4_jIs/TsdI1a7HlPI/AAAAAAAAA1Y/fw-svn-A96o/s400/kisah%2Binspirasi%2BPak%2BHoutman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676585937921348850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Houtman yang hanya tamatan SMA,tetapi suka menolong dgn senang hati,mau belajar setelah 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita danimpian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalanJakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraanberpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak.Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit,sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubahnasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkanlamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila adagedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannyasebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit,&lt;br /&gt;Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada&lt;br /&gt;suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya&lt;br /&gt;Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff&lt;br /&gt;mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB&lt;br /&gt;bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang&lt;br /&gt;tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-7585181247836533276?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/7585181247836533276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=7585181247836533276' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7585181247836533276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/7585181247836533276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/dari-office-boy-ke-vice-presiden.html' title='Dari Office Boy ke Vice Presiden Citibank'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Q031uF4_jIs/TsdI1a7HlPI/AAAAAAAAA1Y/fw-svn-A96o/s72-c/kisah%2Binspirasi%2BPak%2BHoutman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-137661085780228549</id><published>2011-11-18T22:00:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T22:02:49.614-08:00</updated><title type='text'>Hati Seorang Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-tpn_rxtl5z8/TsdGfe_TDkI/AAAAAAAAA1M/I91NUc2Qu5Q/s1600/hati%2Bseorang%2Bperempuan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 307px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-tpn_rxtl5z8/TsdGfe_TDkI/AAAAAAAAA1M/I91NUc2Qu5Q/s400/hati%2Bseorang%2Bperempuan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676583362032242242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Seorang Perempuan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan terdiam dihadapanmu, sesungguhnya ia memikirkan banyak hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan tidak membantah apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia sedang berpikir dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan memandangmu dengan mata penuh pertanyaan, sesungguhnya dia sedang bertanya dalam dirinya :"Berapa lama aku bisa mempertahankan hubungan ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan menjawab dengan pelan sembari menghembuskan nafas dalam-dalam dan berkata pelan "aku baik-baik saja," sesungguhnya rumah kenyamanannya sedang terbakar, ia merasa hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan menatap matamu dengan bulat tanpa pertanyaan, ia sedang diselimuti perasaan "bahwa kau benar-benar mengagumkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan meletakkan kepalanya di dadamu, maka mimpinya terbang seperti dua merpati dan berharap kau menjadi miliknya untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpamu, maka dia telah membangun rumah masa depannya untukmu. Kamulah masa depan dan mimpi-mimpinya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan berkata "Aku merindukanmu", maka tidak ada seseorang di duniapun yang bisa merindukanmu lebih dari apa yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan ingin kau kembali, maka di tiap paginya akan penuh rasa takut, dia takut akan kenangan luka di masa lalu, karena ia tahu bagaimana perasaan kehilangan........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-137661085780228549?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/137661085780228549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=137661085780228549' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/137661085780228549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/137661085780228549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/hati-seorang-perempuan.html' title='Hati Seorang Perempuan'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-tpn_rxtl5z8/TsdGfe_TDkI/AAAAAAAAA1M/I91NUc2Qu5Q/s72-c/hati%2Bseorang%2Bperempuan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-8453502484266019070</id><published>2011-11-18T21:55:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T21:56:55.417-08:00</updated><title type='text'>Wakil Rakyat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-l-a8rWRORiI/TsdFCETAzRI/AAAAAAAAA1A/k7HWIzkHXDs/s1600/wakil%2Brakyat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-l-a8rWRORiI/TsdFCETAzRI/AAAAAAAAA1A/k7HWIzkHXDs/s400/wakil%2Brakyat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676581757139340562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Sekolah Dasar Ibu Guru mengajarkan Pendidikan Kewarganegaraan dan masuk ke dalam pembahasan wakil rakyat. Ibu Guru memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan pada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru : "Bupati dan Wakil Bupati, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"&lt;br /&gt;Murid: "Bupati, Bu!!!"&lt;br /&gt;Guru : "Gubernur dan Wakil Gubernur, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"&lt;br /&gt;Murid: "Gubernur, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Presiden dan Wakil Presiden, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"&lt;br /&gt;Murid: "Presiden, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Rakyat dan Wakil Rakyat, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"&lt;br /&gt;Murid: "Seharusnya sih Rakyat, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Kok, pakai seharusnya?"&lt;br /&gt;Murid: "Karena sekarang malah terbalik Bu guru."&lt;br /&gt;Guru : "Bagus, terus tanda supaya kita kenal sama Wakil Rakyat kita bagaimana?"&lt;br /&gt;Murid: "Yang pasti mereka suka warna abu-abu."&lt;br /&gt;Guru : "Betul, terus apalagi?"&lt;br /&gt;Murid: "Suka konspirasi politik"&lt;br /&gt;Guru : "Demi apa?"&lt;br /&gt;Murid: "Kepentingan, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Tepat sekali, mereka sering muncul di mana mereka?"&lt;br /&gt;Murid: "Di televisi, Bu!"&lt;br /&gt;Guru : "Karena apa?"&lt;br /&gt;Murid: "Karena skandal dan kasus, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Aduh, anak murid ibu pinter-pinter, terus ciri Wakil Rakyat apalagi?"&lt;br /&gt;Murid: "Pasti sering mendadak tajir, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Darimana, kok bisa gitu?"&lt;br /&gt;Murid: "Diam-diam kan nyolong, Bu. Kalau nggak, dapat hibah gono-gini gak jelas."&lt;br /&gt;Murid: "Dari yang pengin diuntungkan."&lt;br /&gt;Guru : "Terus, Wakil Rakyat kan sering mengadakan sidang, berapa tahun sekali?"&lt;br /&gt;Murid: "Setiap hari, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Kok bisa, alasannya?"&lt;br /&gt;Murid: "Kan biar dapat tunjangan dan komisi rapat."&lt;br /&gt;Guru : "Biasanya yang dibahas apa?"&lt;br /&gt;Murid: "Nggak ada Bu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan."&lt;br /&gt;Guru : "Jadi Rakyat dengan Wakil Rakyat, yang mana bosnya?"&lt;br /&gt;Murid: "Ya, semestinya Rakyat dong, Bu!!"&lt;br /&gt;Guru : "Kenapa semestinya?"&lt;br /&gt;Murid: "Karena aneh, Bu!"&lt;br /&gt;Guru : "Aneh kenapa?"&lt;br /&gt;Murid: "Masak bos kekurangan beras di rumahnya, Bu! Sedangkan Wakilnya malah asyik impor beras."&lt;br /&gt;Guru : "Bagus-bagus, ternyata sebelum diajari kalian sudah banyak tahu tentang Wakil Rakyat ya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-8453502484266019070?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/8453502484266019070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=8453502484266019070' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8453502484266019070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/8453502484266019070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/wakil-rakyat.html' title='Wakil Rakyat'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-l-a8rWRORiI/TsdFCETAzRI/AAAAAAAAA1A/k7HWIzkHXDs/s72-c/wakil%2Brakyat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-617623302531570942</id><published>2011-11-18T21:48:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:50:28.229-08:00</updated><title type='text'>Apalah Artinya Reformasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-cFUfqeej6ZQ/TsdDkbA5tEI/AAAAAAAAA00/AyZ0XXpO6gg/s1600/reformasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 254px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cFUfqeej6ZQ/TsdDkbA5tEI/AAAAAAAAA00/AyZ0XXpO6gg/s400/reformasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676580148329690178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya Reformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya reformasi bung,&lt;br /&gt;bila masuk kuliah kita harus keluar duit empat puluh juta&lt;br /&gt;bila harga bensin tiap semester dinaikkan&lt;br /&gt;bila kita melihat uang rakyat untuk foya-foya orang parlemen&lt;br /&gt;bila para rektor melacurkan ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;dan Televisi-Televisi menjadi sarang informasi pemodal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya reformasi bung,&lt;br /&gt;bila sastra kita berkembang menjadi sastra perduitan&lt;br /&gt;bila kebudayaan kita, menjadi kebudayaan asing tanpa akar&lt;br /&gt;bila seniman kita menjadi politisi mata duitan&lt;br /&gt;dan kebudayaan mundur jauh ke belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya reformasi bung,&lt;br /&gt;Bila Pancasila dikentuti habis-habisan&lt;br /&gt;Bila Agama hanya jadi mainan untuk pemerasan&lt;br /&gt;Bila Rumah Ibadah dibakari dan orang bisa merasa lebih kuasa ketimbang Tuhan&lt;br /&gt;Bila Keragaman menjadi bentuk cibiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah reformasi yang kita hasilkan&lt;br /&gt;Reformasi tanpa pertanggungjawaban&lt;br /&gt;Kita bangga melengserkan Suharto&lt;br /&gt;Tapi kita gagal melengserkan kerakusan diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton, 21 Mei 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-617623302531570942?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/617623302531570942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=617623302531570942' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/617623302531570942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/617623302531570942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/apalah-artinya-reformasi.html' title='Apalah Artinya Reformasi'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cFUfqeej6ZQ/TsdDkbA5tEI/AAAAAAAAA00/AyZ0XXpO6gg/s72-c/reformasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1823349371694444994</id><published>2011-11-18T21:45:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:47:07.776-08:00</updated><title type='text'>Kenapa Denmark Disebut Negara Paling Bahagia?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-BZUVhOAxxIY/TsdC0Dgv23I/AAAAAAAAA0o/Fc7SM81uKyA/s1600/denmark.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-BZUVhOAxxIY/TsdC0Dgv23I/AAAAAAAAA0o/Fc7SM81uKyA/s400/denmark.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676579317387090802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENAPA DENMARK DISEBUT NEGARA PALING BAHAGIA DI DUNIA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Berdasarkan penelitian, orang-orang Denmark sangat bahagia karena mereka selalu merasa hidup mereka cukup. Contentment. Mereka tidak sekaya orang Amerika atau Jepang, tidak punya mobil atau rumah super mewah, tapi mereka bersyukur dengan hidup mereka. Mereka&lt;br /&gt;kemana-mana juga lebih suka jalan kaki atau naik sepeda, karena lebih menyenangkan, santai, dan udaranya juga segar. Dan mereka tidak usah pusing soal banyak hal, dari mobil yang mesti bagus, pembayarannya, perawatannya, bensinnya, atau macet di jalan. Naik sepeda memang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tentu juga ingin hidup lebih baik, sukses, materi, tapi tidak merasa perlu sampai diperbudak kesuksesan. Sukses itu penting, tapi menikmati hidup, keluarga, dan teman adalah nilai hidup yang utama, dan sukses tidak perlu mengganggu hal itu. Pendidikan disana gratis. Begitu juga dengan biaya kesehatan, dan Jaminan penuh untuk Hari tua. 3 hal yang mungkin terpenting dalam hidup, dan mereka menikmatinya dengan gratis berkat pemerintahan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Denmark ternyata juga cenderung punya harapan yang rendah. Mereka berusaha, tapi tidak pernah berharap macam-macam. Ini membuat tiap kesuksesan kecil saja sudah membuat mereka begitu bahagia. Dan bila gagal, mereka lebih gampang menerimanya, dan mereka bisa langsung mulai berusaha lagi. Begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bangsa-bangsa lain yang "tidak bahagia", termasuk banyak negara terkaya di dunia, adalah yang orang-orangnya cenderung tidak pernah puas. Mereka terdikte keinginan dan ambisi-ambisinya. Amerika contohnya punya american dreams. Masalahnya, dan ironi terbesarnya adalah, kalau anda sampai begitu bernafsunya mengejar kebahagiaan (dan kebahagiaan yang lebih besar), anda justru akan terjebak. Terjebak dalam pertempuran merebut kebahagiaan yang tidak pernah berakhir, dan anda justru tidak akan pernah merasakan kebahagiaan itu. Dan ini terbukti secara saintifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Happiness is as a butterfly which, when pursued, is always beyond our grasp. But which if you will sit down quietly, may alight upon you," Nathaniel Hawthorne&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah bangsa paling bahagia di dunia. Denmark. Sebuah bangsa dengan masyarakat yang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bersyukur, bersyukur, bersyukur&lt;br /&gt;2. Punya impian dan keinginan yang realistik&lt;br /&gt;3. Tidak membanding-bandingk an dengan orang lain&lt;br /&gt;4. Jaminan dari pemerintah yang cukup&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1823349371694444994?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1823349371694444994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1823349371694444994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1823349371694444994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1823349371694444994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kenapa-denmark-disebut-negara-paling.html' title='Kenapa Denmark Disebut Negara Paling Bahagia?'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-BZUVhOAxxIY/TsdC0Dgv23I/AAAAAAAAA0o/Fc7SM81uKyA/s72-c/denmark.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-733961677666454577</id><published>2011-11-18T21:38:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:42:31.628-08:00</updated><title type='text'>Mamma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-gLVzCbX84e0/TsdBjLmGx8I/AAAAAAAAA0c/iZi1RlMEgbM/s1600/surat%2Banak%2Bkepada%2Bibunya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-gLVzCbX84e0/TsdBjLmGx8I/AAAAAAAAA0c/iZi1RlMEgbM/s400/surat%2Banak%2Bkepada%2Bibunya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676577927987644354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamma yang tercinta,&lt;br /&gt;Akhirnya kutemukan juga jodohku&lt;br /&gt;Seseorang yang bagai kau:&lt;br /&gt;Sederhana dalam tingkah dan bicara&lt;br /&gt;Serta sangat menyayangiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpupus sudah masa-masa sepiku&lt;br /&gt;Hendaknya berhenti gemetar rusuh&lt;br /&gt;Hatimu yang baik itu&lt;br /&gt;Yang selalu mencintaiku.&lt;br /&gt;Kerna kapal yang berlayar&lt;br /&gt;Telah berlabuh dan ditambatkan.&lt;br /&gt;Dan sepatu yang berat serta nakal&lt;br /&gt;Yang dulu biasa menempuh&lt;br /&gt;Jalan-jalan yang mengkhawatirkan&lt;br /&gt;Dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara&lt;br /&gt;Kini telah aku lepaskan&lt;br /&gt;Dan berganti dengan sandal rumah&lt;br /&gt;Yang tentram, jinak dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamma&lt;br /&gt;Burung dara jantan yang nakal&lt;br /&gt;Yang sejak dulu kau pelihara&lt;br /&gt;Kini terbang dan telah menemu jodohnya&lt;br /&gt;Ia telah meninggalkan kandang yang kau buatkan&lt;br /&gt;Dan tiada akan pulang&lt;br /&gt;buat selama-lamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku,&lt;br /&gt;Aku telah menemukan jodohku&lt;br /&gt;Janganlah engkau cemburu&lt;br /&gt;Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti&lt;br /&gt;Pada waktunya, aku meski kau lepaskan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kata alam, begitu kau mengerti:&lt;br /&gt;Bagai dulu bundamu melepas kau&lt;br /&gt;Kawin dengan ayahku melepaskannya&lt;br /&gt;Untuk mengawinimu&lt;br /&gt;Tentulah sangat berat.&lt;br /&gt;Tetapi itu harus. Mamma!&lt;br /&gt;Dan akhirnya tidak akan begitu berat&lt;br /&gt;Apabila telah dimengerti&lt;br /&gt;Apabila telah didasari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu yang akan datang&lt;br /&gt;Aku akan membawanya kepadamu&lt;br /&gt;Ciumlah kedua pipinya&lt;br /&gt;Berilah tanda salib di dahinya&lt;br /&gt;Dan panggilah dia dengan kata: anakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila malam telah datang&lt;br /&gt;Kisahkan kepadanya&lt;br /&gt;Riwayat para leluhur kita&lt;br /&gt;Yang ternama dan perkasa&lt;br /&gt;Dan biarkan ia nanti&lt;br /&gt;Tidur di sampingmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun anakmu&lt;br /&gt;Sekali waktu nanti&lt;br /&gt;Ia akan melahirkan cucu-cucumu&lt;br /&gt;Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu&lt;br /&gt;Dan kepada mereka&lt;br /&gt;Ibunya akan bercerita&lt;br /&gt;Riwayat yang baik tentang nenek mereka:&lt;br /&gt;Bunda bapak mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman abadi&lt;br /&gt;Dari anakmu yang jauh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(WS Rendra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-733961677666454577?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/733961677666454577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=733961677666454577' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/733961677666454577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/733961677666454577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/mamma.html' title='Mamma'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gLVzCbX84e0/TsdBjLmGx8I/AAAAAAAAA0c/iZi1RlMEgbM/s72-c/surat%2Banak%2Bkepada%2Bibunya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6153147450693123582</id><published>2011-11-18T21:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:30:05.267-08:00</updated><title type='text'>Mengukur Imajinasi Sukarno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-CwObsf0j1wY/Tsc-x1gdw2I/AAAAAAAAA0Q/rzYri8djXCI/s1600/mengukur%2Bimajinasi%2BSukarno.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 255px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CwObsf0j1wY/Tsc-x1gdw2I/AAAAAAAAA0Q/rzYri8djXCI/s400/mengukur%2Bimajinasi%2BSukarno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676574881221559138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengukur Imajinasi Sukarno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari Sukarno adalah sebuah imajinasi, sebuah degup yang mungkin tidak akan pernah berhenti. Sukarno dibesarkan oleh ilmu pengetahuan cara barat, tapi ia selalu berpikir dan bertindak dengan cara-cara Jawa. Orang Jawa tidak pernah menggunakan rasio-rasio yang terukur untuk membangun tindakan, mereka lebih mengedepankan insting-insting yang dipercayainya, mereka membangun tindakan dari rangkaian insting itu. Mustahil mempelajari Sukarno dan apa yang dilakukannya tanpa kita melibatkan banyak unsur kultural, sejarah kekuasaan Jawa, psikologis kekuasaan Jawa, cara orang Jawa melihat masa depan, cara orang Jawa mendalami siklus jaman dan yang terpenting dialektika jaman yang bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak kerja Sukarno adalah tahun 1960-an, yang oleh sejarawan Orde Baru dilabur sebagai tahun kebangkrutan Indonesia. Tapi sadarkah kita? di tahun-tahun itu Indonesia berada pada puncak sejarahnya. Puncak keagungannya? Militer kita terbesar nomor lima di dunia, pengaruh diplomasi kita meliputi hampir separuh dunia. Di luar Amerika Serikat dan Sovjet Uni, Indonesia-lah yang paling berperan dalam dunia politik internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan di masa Sukarno yang diberitakan oleh media-media barat ini tak lebih antrean minyak tanah pada masa SBY, bahkan PKI yang kerap memprotes tindakan pemerintah oleh sejarawan Orde Baru dianggap sebagai penyebab lesunya ekonomi. Analisa ini menjadi lucu karena PKI berada diluar struktur pemerintahan. Ekonomi Indonesia tidak morat-marit sama sekali di Jaman Bung Karno, bahkan bila kita melihat secara EVA (Economics Value Added) rangkaian kinerja Sukarno tahun 1960-1965 memiliki nilai tinggi di masa depan, yaitu apa? -adanya penguasaan secara penuh modal nasional-. Sukarno dengan tahapan-tahapannya mengarahkan negara untuk menguasai modal nasional secara utuh. Dengan penguasaan modal nasional maka ia bermimpi : Biaya kesehatan dibiayai gratis, sekolah anak-anak bangsa gratis, dia bisa membiayai anggaran militer yang kuat dan seluruh Indonesia dibangun pelabuhan-pelabuhan dagang yang kuat serta ramai dan menjadi jalur penting perdagangan dunia. Tapi ekonom cupet, sejarawah tolol banyak melihat sesuatu hanya satu scoupe, satu dimensi, gagal melihat sesuatu dengan gairah keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman Sukarno ketimpangan kekayaan nyaris tak ada. Anak Menteri dan anak rakyat biasa bersekolah di tempat yang sama, naik sepeda dengan merek yang sama, korupsi kalaupun ada jelas penyelesaiannya. Tidak ada kelompok atau orang yang berani korupsi dalam skala raksasa, karena kalau itu terjadi maka beresiko dihadapkan ke regu tembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masa Sukarno mungkin sudah lama berlalu, kita melewati sedemikian lama pengelabuan sejarah Orde Baru, dan sekelompok orang sekarang yang tak percaya bagaimana dunia sosialisme bekerja. Kita dipaksa untuk percaya bahwa Mall-Mall, Ruang Perbelanjaan Kapitalis, Rumah Sakit Mahal, Universitas Mahal adalah masa depan Indonesia, kita dipaksa percaya untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi-mimpi Sukarno menjadi hantu yang menakutkan bagi mereka.............&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6153147450693123582?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6153147450693123582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6153147450693123582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6153147450693123582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6153147450693123582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/mengukur-imajinasi-sukarno.html' title='Mengukur Imajinasi Sukarno'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CwObsf0j1wY/Tsc-x1gdw2I/AAAAAAAAA0Q/rzYri8djXCI/s72-c/mengukur%2Bimajinasi%2BSukarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-3240891317797934952</id><published>2011-11-18T21:25:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T21:26:11.043-08:00</updated><title type='text'>Anak Bajang Menggiring Angin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-AU1rmZtibJI/Tsc92xwBFVI/AAAAAAAAA0E/-lpdQVA33Gk/s1600/Anak%2BBajang%2BMenggiring%2BAngin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 276px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-AU1rmZtibJI/Tsc92xwBFVI/AAAAAAAAA0E/-lpdQVA33Gk/s400/Anak%2BBajang%2BMenggiring%2BAngin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676573866600764754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terimalah perhiasanku ini, Nak," kata Dewi Sukesi. Dan perempuan tua ini pun mengalungkan untaian kembang kenanga di dada Kumbakarna. Mendadak alam pun membalik ke masa lalu. Tanpa malu-malu. Jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Bermain-main anak-anak bajang di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan anak-anak bajang, tapi dengan kapal kematian anak-anak bajang malah berenang-renang menyelami kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan kembang kenanga di mana-mana, dan Dewi Sukesi pun tahu, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu. Sukesi terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga. Ia tahu kegagalannya untuk memperoleh Sastra Jendra ternyata disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri. Dan pada Kumbakarnalah kini penderitaan itu menjadi raja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak Bajang Menggiring Angin, Babak Pembuka Lakon Kumbakarna ~Sindhunata~).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-3240891317797934952?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/3240891317797934952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=3240891317797934952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3240891317797934952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/3240891317797934952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/anak-bajang-menggiring-angin.html' title='Anak Bajang Menggiring Angin'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-AU1rmZtibJI/Tsc92xwBFVI/AAAAAAAAA0E/-lpdQVA33Gk/s72-c/Anak%2BBajang%2BMenggiring%2BAngin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1579102846173492969</id><published>2011-11-18T21:17:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T21:18:40.691-08:00</updated><title type='text'>Pancasila itu Rumah Kita, Bukan Ideologi Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-cHbdLin81mI/Tsc8EeqnLQI/AAAAAAAAAz4/RJMh0WkEFMk/s1600/sukarno%2Bpidato%2Bpancasila.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 394px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cHbdLin81mI/Tsc8EeqnLQI/AAAAAAAAAz4/RJMh0WkEFMk/s400/sukarno%2Bpidato%2Bpancasila.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676571902972734722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila Itu Bukan Ideologi Kita, Tapi Pancasila Adalah Rumah Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanggal ini 66 tahun yang lalu pada sebuah komite persiapan kemerdekaan, Sukarno sebagai ketua bicara kepada banyak anggota yang terdiri dari perwakilan masyarakat, tokoh agama, birokrat dan perwakilan militer Jepang yang saat itu menguasai Indonesia. Bung Karno berpidato tentang bagaimana sebuah negara berdiri, bagaimana sebuah negara memiliki tujuannya, apa dasar-dasar dari tujuan itu. "Itulah yang kusebut sebagai Philosofische grondslag (dasar filosofi) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bangsa harus berdiri dengan konsep. Tanpa itu ia menjadi hampa. Sebuah bangsa harus menyadari sejarahnya, karena dengan sejarahnya ia tahu siapa dirinya. Maka Sukarno berkata pada tahun 1960-an, "Pancasila bukanlah sebuah penemuan raksasa seperti yang ditemukan Marx pada meja-meja perpustakaan London, bukanlah sebuah hasil pergesekan pemikiran-pemikiran seperti yang ditemukan para pemikir Perancis, atau perdebatan-perdebatan dari pendiri Amerika Serikat tapi Pancasila adalah persoalan bagaimana sebuah bangsa bisa mengenang masa lalunya, tau siapa dirinya dan bagaimana dirinya bekerja di tengah masyarakat dan hadir untuk masa depan dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila adalah "Kumpulan kesadaran Kita" maka apabila kita asing dengan Pancasila, itu bukan kita terasingkan dari ideologi atau hapalan-hapalan Pancasila tapi kita terasingkan pada diri kita sendiri, kita terasing dari kesadaran kita. Disadari atau tidak Pancasila adalah definisi dari manusia Indonesia itu sendiri. Baik sebagai impian, sebagai cita-cita dan sebagai manusia yang merumuskan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Indonesia senang bercerita, mendongeng, mencari, beribadah dan amat percaya pada Iman KeTuhanan. Manusia Indonesia pada hakikatnya adalah orang yang mencari Tuhannya. Orang yang mencari bagaimana suasana kebatinan itu bertemu dengan Tuhan, se Atheisnya pun dia, Se Sekulernya pun dia, dia pasti dilandasi pada ajaran-ajaran agamanya, pada dasar-dasar dia punya do'a. Seperti DN Aidit pemimpin PKI, sejak kecil dia khatam mengaji Al Qur'an, sejak muda ia disiplin shalat bagaimana kemudian kehidupannya menjadi amat percaya dengan materialisme yang menafikan nilai-nilai paramateri tapi sebagai manusia Indonesia DN Aidit sekalipun akan berdoa ketika ia menemukan kesulitan dalam hidupnya, karena itulah watak manusia Indonesia sesungguhnya. Ia merupakan gambaran Iman yang naik turun, ia merupakan epos manusia menemukan dirinya dalam gambaran Tuhan. Seperti yang digambarkan Hamka dalam Tasawuf Modern "Manusia harus menciptakan keseimbangan jasmani dan rohani, antara materi dan non materi, lebih dari itu manusia harus aktif di dunia ini" Konsepsi keTuhanan disini adalah KeTuhanan yang aktif, ia punya sejarah di muka bumi sebagai sebuah bentuk kesadaran bahwa manusia mencari Tuhannya. Dan ketika manusia mencari Tuhan, manusia memiliki pengalaman pribadi, pengalaman ini dihargai oleh masyarakat sebagai pengalaman keTuhanan baik itu menggunakan disiplin agama, spiritual atau ritual-ritual yang tidak menyimpang nilai-nilai kemanusiaan. Rumah Ibadah di tengah-tengah masyarakat yang hidup dengan damai adalah sebuah harmoni dasar bahwa Manusia dihargai Kemanusiaannya dalam Mencari dan menemukan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang sudah menemukan Tuhan, sudah menanamkan nilai-nilai KeTuhanan dalam dirinya maka ia mendapatkan nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan maka lahirlah hukum-hukum yang beradab, hukum-hukum yang adil. Konsepsi keadilan ini harus mempertimbangkan dengan detil. “Bahwa Keadilan adalah proses membacai Kemanusiaan, keadilan adalah membangun peradaban, membangun hukum yang tahu tatanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tatanan itu maka manusia diarahkan untuk bersatu. “Persatuan Indonesia” bukanlah kata singkat, ia adalah proses pembentukan peradaban baru, Indonesia Baru, dimana manusia yang jumlahnya terdiri ratusan suku, beratus-ratus bahasa dilebur menjadi “Manusia Indonesia”. Konsepsi Manusia Indonesia inilah yang digadang-gadang Bung Karno sebagai manusia yang akan berhadapan dengan “Manusia Liberal Ekonomistis model Amerika Serikat”, “Manusia Fasisme” seperti Jerman (apa yang terjadi di Jaman Hitler), “Manusia Komunisme” (Seperti yang diproyeksikan Leninisme). Manusia Indonesia akan menjadi model dari pertumbuhan sejarah lingkungan yang mempengaruhi jiwa manusia itu dalam menanggapi perkembangan lingkungan. Jadi Persatuan Indonesia adalah Peradaban kita sendiri, konsepnya bukan saja persatuan wilayah NKRI tapi bersatunya tubuh dengan pikiran terhadap Konsepsi-Konsepsi dasar manusia dalam berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Indonesia adalah Manusia yang bermusyawarah, ia senang berdialog, ia senang membangun komunikasinya lewat nada-nada harmoni, ia tidak dilahirkan dari persaingan, tidak dilahirkan dari definisi-definisi ruang “main benar sendiri”. Manusia Indonesia adalah definisi dari manusia yang senang merumuskan satu hal dengan mendengarkan suara yang lain dan suara masyarakatnya. Inti dari Musyawarah adalah “Terciptanya Harmoni, situasi dimana tidak ada perdebatan-perdebatan yang menyakitkan hati dan menghasilkan kemarahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan Sosial adalah tujuan dari bangsa ini berdiri. Manusia menemukan keadilannya bukan dari apa yang ia butuhkan tapi dari situasi apa yang ia rasakan kemudian perasaan itu menemukan hukum-hukumnya, menemukan apa yang berkembang di tengah masyarakat. Keadilan Sosial adalah situasi dimana kita bisa mendirikan bangunan penting yaitu : Kesejahteraan Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Pancasila itu adalah diri kita sendiri, proyeksi manusia Indonesia menemukan dirinya. Itu adalah karakter dasar dan bukan ideologi yang harus dicekoki. Apabila di hari-hari ini kita lihat ada gerakan agama yang mau menang sendiri, membakari rumah ibadah itu akan berhenti dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan karakter bangsa ini, bila juga kita lihat beberapa orang yang berlagak menjadi barat, berlagak mengalami transformasi intelektual kebarat-baratan kemudian menafikan adanya bangsa, adanya nasionalisme, mentertawakan Sukarno, mentertawakan Sosialisme yang dipikirkan para pendiri bangsa, mengatakan modal asing dan persaingan pasar bebas adalah dewa, maka itu juga akan hancur dengan sendirinya, karena karakter dasar kita akan menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila itu adalah sejarah diri kita, sejarah nilai-nilai kita dia bukan ideologi yang dipaksakan karena Pancasila adalah Rumah Kita Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton Djakarta, 2011.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1579102846173492969?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1579102846173492969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1579102846173492969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1579102846173492969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1579102846173492969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/pancasila-itu-rumah-kita-bukan-ideologi.html' title='Pancasila itu Rumah Kita, Bukan Ideologi Kita'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cHbdLin81mI/Tsc8EeqnLQI/AAAAAAAAAz4/RJMh0WkEFMk/s72-c/sukarno%2Bpidato%2Bpancasila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-834189427771277963</id><published>2011-11-18T21:14:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T21:15:15.233-08:00</updated><title type='text'>Kisah Salmon dan Gerak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zUjUhjO1OI4/Tsc7WXeUBCI/AAAAAAAAAzs/GBkP9ogdwqw/s1600/salmon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 380px; height: 392px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zUjUhjO1OI4/Tsc7WXeUBCI/AAAAAAAAAzs/GBkP9ogdwqw/s400/salmon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676571110768116770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan.&lt;br /&gt;Jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan, agar dalam perjalanan menuju daratan salmon-salmon tersebut tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesti demikian pada kenyataannya banyak salmon yang mati dikolam buatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara nya mereka menyiasatinya?&lt;br /&gt;Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tersebut. Ajaib! Hiu kecil tersebut "memaksa " salmon-salmon itu terus bergerak karena jangan sampai dimangsa.&lt;br /&gt;Akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam membuat kita mati ! Bergerak membuat kita hidup.&lt;br /&gt;Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yg dapat kita tangkap dari gambaran tersebut diatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yg membuat kita diam? Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman (Comfort Zone)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena&lt;br /&gt;Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati. Ironis , bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yg membuat kita bergerak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah, pergumulan dan tekanan hidup.&lt;br /&gt;"Inilah si Hiu Kecil itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha bagaimana mengatasi semua pergumulan hidup itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat saat seperti itu biasanya kita akan ingat Tuhan dan berharap kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya syukurilah adanya si "hiu kecil" yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah hidup adalah baik dan perlu, karena itulah yang membuat kita terus bergerak&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-834189427771277963?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/834189427771277963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=834189427771277963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/834189427771277963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/834189427771277963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kisah-salmon-dan-gerak.html' title='Kisah Salmon dan Gerak'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zUjUhjO1OI4/Tsc7WXeUBCI/AAAAAAAAAzs/GBkP9ogdwqw/s72-c/salmon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-5810114998115827903</id><published>2011-11-18T21:10:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:12:59.523-08:00</updated><title type='text'>Generasi Muda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qCXJQkH-dIU/Tsc6neJsX0I/AAAAAAAAAzg/008ZYE9NYD8/s1600/sukarno%2Bmuda.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 280px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qCXJQkH-dIU/Tsc6neJsX0I/AAAAAAAAAzg/008ZYE9NYD8/s400/sukarno%2Bmuda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676570305106829122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Gambar atas : Sukarno sedang menikmati Kopi Tubruk,&lt;br /&gt;di Jalan Braga Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, semakin zamannya maju, idea revolusiner generatornya semakin berusia muda, yang terakhir adalah mark zuckerberg yang saat ini berusia 27 tahun dan menjadi person of the year majalah time 2010, di Indonesia, semakin jamannya maju..., manusia yg muncul semakin menjadi produk brainwashed agama dan ideologi negara, mereka manusia-manusia yang kehilangan orisinalitas pemikirannya/pengalaman empiris inderawinya, soekarno tidak mengalami brainwashed pancasila dan bebas mempelajari segala aliran ideologi, soekarno juga mengkonsepkan nasakom, tapi generasi muda indonesia harus dibrainwashed pancasila... selain juga di brainwashed agama..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-5810114998115827903?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/5810114998115827903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=5810114998115827903' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5810114998115827903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5810114998115827903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/generasi-muda.html' title='Generasi Muda'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qCXJQkH-dIU/Tsc6neJsX0I/AAAAAAAAAzg/008ZYE9NYD8/s72-c/sukarno%2Bmuda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1711572422079421514</id><published>2011-11-18T21:06:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:08:59.843-08:00</updated><title type='text'>Perbandingan sifat Diana dan Kate Middleton</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-mMHlFTX5JQw/Tsc51elzG-I/AAAAAAAAAzU/lOwdq5ODLls/s1600/diana%2Bkate.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 245px; height: 276px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-mMHlFTX5JQw/Tsc51elzG-I/AAAAAAAAAzU/lOwdq5ODLls/s400/diana%2Bkate.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676569446231251938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kate Middleton mau tidak mau terjebak dalam bayang-bayang Diana, tapi tahukah anda diantara kedua orang ini memiliki kepribadian yang amat berbeda. Diana berkepribadian Melankolik sementara Kate berkepribadian Sanguinis, biasanya orang yang berkepribadian Sanguinis bisa menghadapi serbuan perhatian dengan tenang ketimbang orang yang berkepribadian Melankolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian Kate Middleton yang Sanguinis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian yang menyenangkan, ceria, supel, suka bicara dan bercerita. Punya selera humor yang baik. Emosional dan demonstratif. Antusias dan ekspresif. Optimis, Penuh rasa ingin tahu. Berhati tulus, tidak menyimpan dendam dan cepat meminta maaf. Menyukai kegiatan spontan. Dalam bekerja, mengajukan diri secara sukarela untuk bekerja, mengilhami orang lain untuk bergabung dan dapat mempesona orang lain untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendominasi percakapan dan suka membesar-besarkan, egoistis, suka mengeluh, kekanak-kanakan, tidak pernah dewasa. Mudah marah/emosional. Sensitif terhadap yang dikatakan orang tentang dirinya. Melupakan kewajiban. Keyakinan cepat luntur, tidak disiplin, mudah teralihkan perhatiannya. Benci sendirian. Tidak tetap/mudah berubah dan pelupa. Pandai berdalih. Suka mencari perhatian, sorotan dan kasih sayang, dukungan dan penerimaan orang di sekelilingnya. Memutuskan dengan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kepribadian Diana adalah Melankolik, orang yang punya kepribadian Melankolik cenderung menjalani semua kehidupannya dengan perasaan dalam dan ingin sempurna. Diana ingin memiliki cinta yang sempurna, keluarga yang sempurna dan seluruh kasih sayang yang sempurna, karena Pangeran Charles tidak dapat memberikan kasih sayang yang sempurna maka kasih sayang Diana diarahkan kepada cintanya pada kaum yang tertindas, ia menyamakan dirinya dengan mereka, karena Diana sendiri merasa tertindas oleh kehidupan kerajaan yang mengintimidasi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian Diana yang Melankolis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perfeksionis, standar tinggi. Cenderung diam dan pemikir sehingga membutuhkan ruang dan ketenangan supaya bisa berpikir dan melakukan sesuatu. Serius dan bertujuan. Analitis. Berbakat dan kreatif. Berfilsafat dan puitis. Bijaksana, Idealis. Menghargai keindahan. Sensitif kepada orang lain. Berteman dengan hati-hati. Puas ada di belakang layar. Menghindari perhatian. Setia dan mengabdi. Mau mendengarkan keluhan dan mudah terharu. Dalam bekerja: suka keteraturan. Serba tertib dan hati-hati. Rapi dalam perencanaan, hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat yang negatif dan menikmati sakit hati. Citra diri rendah dan merendahkan diri sendiri. Standar suka terlalu tinggi. Sangat memerlukan persetujuan. Mementingkan diri sendiri. Terlalu instropektif. Tertekan karena ketidaksempurnaan. Tidak aman secara sosial. Menarik diri dan menjauh. Suka mengkritik orang lain. Tidak menyukai yang menentang. Mencurigai orang lain, pendendam. Tidak mudah memaafkan dan penuh kontradiksi. Dalam kerjaan : suka memilih pekerjaan sulit. suka ragu-ragu dan melewatkan banyak waktu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-1711572422079421514?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/1711572422079421514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=1711572422079421514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1711572422079421514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/1711572422079421514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/perbandingan-sifat-diana-dan-kate.html' title='Perbandingan sifat Diana dan Kate Middleton'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mMHlFTX5JQw/Tsc51elzG-I/AAAAAAAAAzU/lOwdq5ODLls/s72-c/diana%2Bkate.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-4036401251830466305</id><published>2011-11-18T21:02:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:03:56.423-08:00</updated><title type='text'>Kisah Cinta Palsu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ISVafv32i7c/Tsc4qLuFm4I/AAAAAAAAAzI/V7A68xoDkos/s1600/diana.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 307px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ISVafv32i7c/Tsc4qLuFm4I/AAAAAAAAAzI/V7A68xoDkos/s400/diana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676568152675556226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"William dan Harry, korban kemunafikan cinta Charles, disiplin kaku Kerajaan Inggris, yang menuntut anggota keluarga kerajaan untuk selalu tampil anggun walau di dalam hati remuk. Hidup terpisah, antara dua anak ini dan ibu mereka, sungguh tidak mudah. Sebuah video terkenal memperlihatkan betapa pada suatu kesempatan Putri Diana berlari di sebuah kapal pesiar hanya untuk bisa memeluk dua putranya yang masih di bawah 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi William, ada beban batin. Kisah tragis ibunya turut menghantui. Bagaimana menjadi orang dengan rumah tangga yang langgeng dan tidak retak. Bagaimana memiliki figur istri yang mendekati ibunya dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung Michael dan Carole Middleton, bapak dan ibu Kate, memberi peran kuat bagi William.Charles juga demikian kepada Kate, kini menantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta keduanya tak hanya bertaut karena asmara semata. Kasih mereka bertaut karena dua sisi keluarga. 'Saya menemukan cinta di keluarga Kate,' kata William.&lt;br /&gt;Perpisahan Diana-Charles pernah menjadi berita utama di berbagai media Inggris. Bahkan, hingga mengubah persepsi warga Inggris dari suka menjadi benci monarki. Pernikahan William-Kate menghidupkan banyak hal tentang perlunya cinta sejati, tentang kenangan akan Diana, yang menjadi korban cinta palsu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-4036401251830466305?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/4036401251830466305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=4036401251830466305' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4036401251830466305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/4036401251830466305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/kisah-cinta-palsu.html' title='Kisah Cinta Palsu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ISVafv32i7c/Tsc4qLuFm4I/AAAAAAAAAzI/V7A68xoDkos/s72-c/diana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-6735408982869859390</id><published>2011-11-18T20:57:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T21:00:57.344-08:00</updated><title type='text'>Rindu Rupamu Pada  Tikungan Waktu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-_ljX68_tsMY/Tsc37mZYGmI/AAAAAAAAAy8/Oo3saV2Y6m4/s1600/rindu%2Bdi%2Btikungan%2Bwaktu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 301px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-_ljX68_tsMY/Tsc37mZYGmI/AAAAAAAAAy8/Oo3saV2Y6m4/s400/rindu%2Bdi%2Btikungan%2Bwaktu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676567352382593634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini pada tikungan waktu&lt;br /&gt;aku menunggumu pada sudut jembatan kayu&lt;br /&gt;layu pohon akasia, diterpa angin siang tak kepalang panasnya&lt;br /&gt;panas jakarta menyiksa, kompor besar peradaban&lt;br /&gt;lalu lalang manusia seperti lalat hidup tanpa sebab&lt;br /&gt;aku menunggumu dik......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ilalang yang menegakkan badan ke atas langit&lt;br /&gt;kerut-kerut awan memanjangkan mega&lt;br /&gt;hujan yang datang dipanggil sang pecinta&lt;br /&gt;jendela-jendela sunyi rumah kehidupan&lt;br /&gt;Matahari beku&lt;br /&gt;daun-daun rindu menjadi paku&lt;br /&gt;aku menunggumi dik.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang-gang kecil riuh anak berlarian meninju langit&lt;br /&gt;suara-suara tukang gerobak memecahkan telinga&lt;br /&gt;derit kayu dan lintasan usang waktu&lt;br /&gt;aku menunggumu dik.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpanlah cinta di kantong kayu&lt;br /&gt;kerna cinta hanyalah sampul buku tak berwarna&lt;br /&gt;bila digagas tanpa deras kehidupan&lt;br /&gt;Mata air rindu ini&lt;br /&gt;hanya berisi kenangan-kenangan yang menggerakkan perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggumu pada siang beku&lt;br /&gt;aku menunggumu dik.............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-6735408982869859390?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/6735408982869859390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=6735408982869859390' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6735408982869859390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/6735408982869859390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/rindu-rupamu-pada-tikungan-waktu.html' title='Rindu Rupamu Pada  Tikungan Waktu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_ljX68_tsMY/Tsc37mZYGmI/AAAAAAAAAy8/Oo3saV2Y6m4/s72-c/rindu%2Bdi%2Btikungan%2Bwaktu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-5968688599213742413</id><published>2011-11-18T20:55:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T20:55:36.689-08:00</updated><title type='text'>Aku suka kamu</title><content type='html'>Aku suka caramu bicara&lt;br /&gt;yang seperti merumahkan senja&lt;br /&gt;dengan kayu-kayu kehidupan&lt;br /&gt;tanpa titik koma&lt;br /&gt;tanpa tanda tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka caramu bernyanyi&lt;br /&gt;senandung kecil, tapi menggoyangkan akar cemara&lt;br /&gt;ketika kamu bercerita&lt;br /&gt;seribu novel kehilangan lagaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka caramu melihat kehidupan&lt;br /&gt;tak pernah keliatan ada tangis air mata&lt;br /&gt;tapi biarlah kutebak&lt;br /&gt;kamu adalah anak sunyi kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak sunyi kehidupan tidak pernah mengeluh&lt;br /&gt;karena mengeluh adalah kematiannya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-5968688599213742413?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/5968688599213742413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=5968688599213742413' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5968688599213742413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/5968688599213742413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/aku-suka-kamu.html' title='Aku suka kamu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2176606305163950298</id><published>2011-11-18T15:07:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T15:11:14.825-08:00</updated><title type='text'>Butet Kertaradjasa dan Budi Pekerti</title><content type='html'>Berbudi Pekerti Itu Yang Lebih Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Butet Kertaradjasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Begitu lahir, saya tahu-tahu sudah Kristen.  Semasa kecil, ruang tamu&lt;br /&gt;  rumah saya sering digunakan sebagai tempat  kebaktian kampung. Jadi&lt;br /&gt;ada  ibadah gitu. Tapi karena saya tinggal di  kampung, saya kadang juga&lt;br /&gt; ikut  lebaran. Kalau Idul Fitri, teman-teman  main saya selalu pakai&lt;br /&gt;baju baru.  Karena itu, saya juga merasa berhak  untuk mendapat baju&lt;br /&gt;baru. Ada juga  tradisi sungkeman. Tapi memang, saya  tidak pernah ikut&lt;br /&gt;salat, sekalipun  untuk makan-makan dan baju baru,  saya ikutan. Saya&lt;br /&gt; sekolah di lembaga Katolik, dan  tiba-tiba saya tahu ternyata ada &lt;br /&gt;agama dalam hidup ini. Jadi agama itu  sesuatu yang terberi dalam hidup&lt;br /&gt; saya, tidak melalui proses sosialisasi  yang ketat. Di KTP saya sudah&lt;br /&gt;ada  kolom isian agamanya, dan di situ  sudah ada isinya. Dan memang,&lt;br /&gt;saya  nggak pernah alias jarang datang ke  gereja. Lha wong saya merasa&lt;br /&gt;punya  agama saja waktu bapak dan ibu saya  meninggal, kok! Terakhir&lt;br /&gt;saya ke  gereja ketika masih di SMP. Tapi,  kalau pas natalan, saya&lt;br /&gt;selalu  dikirimi pesan-pesan pendek (SMS).  Seingat saya, saya juga&lt;br /&gt;pernah ke  gereja. Tapi, umatnya heran semua.  Aku jadi malu. Ceritanya&lt;br /&gt; begini. Suatu kali, saya stress karena  ada masalah pribadi.  Terus&lt;br /&gt;saya berpikir, kalau datang ke gereja,  mungkin bisa menyembuhkan &lt;br /&gt;persoalan. Bayanganku begitu. Nah, ketika  sudah mahasiswa dan &lt;br /&gt;berkeluarga, saya datang lagi ke gereja. Tapi,  orang segereja nontonin&lt;br /&gt; saya dengan wajah penuh heran. Makhluk asing  mana yang datang ini, &lt;br /&gt;mungkin begitu pikir mereka. Pendetanya juga  heran. Setelah itu, saya &lt;br /&gt;tak pernah datang lagi. Saya merasa menjadi  makhluk asing yang merebut&lt;br /&gt; perhatian banyak orang yang membuat pribadi  saya risih. Kalau&lt;br /&gt; cuma rajin ke gereja, tapi tindak, perilaku,  tabiat, dan  pikirannya&lt;br /&gt;tidak agamis, apa gunanya?! Kalau saya, orangnya  lebih suka  pada&lt;br /&gt;tindakan. Saya cuma mencoba untuk mewujudkan harmoni  dan hidup yang &lt;br /&gt;baik dalam tindakan dan karya-karya saya. Kalau yang  ritual-ritual dan&lt;br /&gt; serimonial seperti itu, saya memang nggak terbiasa.  Atau boleh dikata,&lt;br /&gt;  saya pemalas. Tapi saya tetap berdoa kalau mau  tidur,&lt;br /&gt;dan orang tidak pernah tahu  itu. Masak saya harus  mengumum-umumkan&lt;br /&gt;yang begituan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, saya  cenderung berpendapat,  perkara privat&lt;br /&gt;seperti itu tidak usah  diomong-omongkan dan tidak perlu &lt;br /&gt;dipamer-pamerkan. Saya beragama karena ada kolom yang &lt;br /&gt;mempertanyakan agama saya apa.  Malah menurut saya, di kolom-kolom &lt;br /&gt;formal urusan negara itu, tidak  usahlah ngurusi yang gitu-gituan. Mau &lt;br /&gt;bertuhan, mau beragama, itu urusan  pribadi orang per orang. Itu kan &lt;br /&gt;bukan perkara publik. Jadi, sebenarnya  tidak perlu soal kolom agama itu&lt;br /&gt;  ada untuk urusan yang di ranah publik.  Hanya untuk bangga-banggaan &lt;br /&gt;soal minoritas-mayoritas?!                                                                                                    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu&lt;br /&gt; kalau  mau nikah, kita juga harus beragama. Dan kebetulan, saya &lt;br /&gt;menikah secara  Islam. Istri saya seorang muslimah, dan alhamdulillah &lt;br /&gt;sudah jadi  hajjah. Sejauh ini, tidak ada masalah.&lt;br /&gt;Aman-aman saja.  Waktu saya kawin tahun  1981, lembaga cacatan sipil&lt;br /&gt;masih mengizinkan  (nikah beda agama). Kakak  saya juga menikah beda&lt;br /&gt;agama di catatan  sipil. Cuma persoalannya, saya  ini menantu seorang&lt;br /&gt;haji. Jadi, mertua  saya itu tidak menghendaki (nikah  beda agama) itu.&lt;br /&gt;Dia pingin saya  nikah secara Islam; dengan ijab-kabul.  Ya… karena itu&lt;br /&gt;permintaannya,  saya penuhi. Untuk saya, apa susahnya  kalau KTP diganti&lt;br /&gt; sebentar.  Terus, saya ganti KTP dan saya sudah sunat. Saya&lt;br /&gt; buktikan itu dan  saya bawa foto saya waktu sunat. Hanya saja,  saya&lt;br /&gt;tidak bisa  ibadah-ibadah. Waktu menjelang ijab-kabul, saya disuruh &lt;br /&gt;salat jamaah,  tapi saya nggak bisa. Seperti apa dan bagaimana salat&lt;br /&gt;itu,  saya tidak  tahu. Yang saya tahu cuma wudlu yang basuh-basuh muka&lt;br /&gt;itu.  Saya lalu  masuk kamar mandi. Tapi, saya lama-lama di situ.&lt;br /&gt;Tiba-tiba,  salat sudah  selesai, dan saya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus saya ijab-kabul&lt;br /&gt; dan langsung  pulang ke  Jogja. Setelah itu, saya ganti KTP lagi jadi&lt;br /&gt;Kristen. Memang, di  negeri ini banyak yang berpikir bahwa&lt;br /&gt; orang tua wajib  mengawinkan  anaknya seagama, supaya hidupnya tetap&lt;br /&gt;berbahagia.  Pertanyaan saya:  jaminannya apa? Saya melihat, orang yang&lt;br /&gt;kawin seagama  juga tidak  kurang yang terjebak dalam proses&lt;br /&gt;kawin-cerai. Malah,  istrinya dipukuli  terus-menerus. Itulah pengalaman&lt;br /&gt; saya waktu ngeyel  sama mertua saya.  Waktu itu, saya dibilang&lt;br /&gt;berbohong, karena sudah Islam  di KTP, menikah  secara Islam, lalu balik&lt;br /&gt; ke Kristen lagi. Saya dianggap  munafik. Lalu,  saya&lt;br /&gt;katakan begini: “Kalau Mami menghendaki menantu yang dalam   hidupnya&lt;br /&gt;hanya menipu, saya akan tetap menjadi Islam, karena saya pasti   akan&lt;br /&gt;tetap menipu diri sepanjang waktu. Sebab, saya pernah berislam   hanya&lt;br /&gt;untuk nyeneng-nyenegin Mami, karena Mami menginginkan ijab-kabul  &lt;br /&gt;secara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau Mami menghendaki menantu yang tidak menipu,  &lt;br /&gt;maka izinkan saya tetap menjadi Kristen, meski telah menikah secara  &lt;br /&gt;Islam. Sebab, kalau saya Kristen, saya tidak akan bohong dalam berdoa, &lt;br /&gt; karena hanya itu yang saya kenal. Kalau sekarang saya dipaksa menjadi &lt;br /&gt; Islam, itu sama saja saya menipu, berbohong. Sebab, hati saya memang  &lt;br /&gt;tidak di situ.” Lalu, saya menambahkan, “Saya menjamin anak Mami pasti &lt;br /&gt; akan baik dengan saya.” Itu yang saya katakan. Ya…&lt;br /&gt;sebenarnya dia  keberatan. Tapi karena saya bandel dan ingin &lt;br /&gt;membuktikan sepanjang  hidup bahwa saya akan memperlakukan dia&lt;br /&gt;sedemikian  rupa menjadi bagian  dari belahan jiwa saya, dia bisa&lt;br /&gt;terima.Urusan agama saya anggap  merupakan urusan privat orang&lt;br /&gt;per orang,  bahkan terhadap istri atau  anak saya sekalipun. Saya tidak&lt;br /&gt;mau ada  urusan keluarga mau beragama  apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran saya, asalkan itu&lt;br /&gt;bisa membuat  yang bersangkutan  berbahagia, saya anggap itu sudah&lt;br /&gt;benar. Jadi, ketika  istri saya  menunaikan kewajiban agamanya, dan dia&lt;br /&gt;bisa intens di situ,  khusuk dan  bahagia, sebagai orang yang beragama&lt;br /&gt;beda dan teman  terdekatnya, saya  harus memberi dia yang terbaik. Saya&lt;br /&gt;ongkosin dia naik  haji.  Sebaliknya, misalkah saya mau naik haji ke&lt;br /&gt;Yerussalem, misalnya,  dia  juga harus mendukung saya. Bahkan, ketika&lt;br /&gt;anak saya diam-diam  menjadi  pengurus masjid, saya oke-oke saja. Hanya&lt;br /&gt; ada satu masalah yang  menurut saya sangat dramatis dalam hidup  saya.&lt;br /&gt;Yaitu, ketika anak saya  mau masuk sekolah dasar. Ini situasi yang  agak&lt;br /&gt; membuat shock, karena  ketika mendaftar ke institusi formal, negara &lt;br /&gt;kita masih mengurusi soal  agama. Dalam formulir pendaftaran, ada &lt;br /&gt;pertanyaan tentang apa agamanya  anak. Padahal, saya ini tidak jelas &lt;br /&gt;agamanya. Kalau dikatakan Kristen,  saya juga tak pernah ke gereja.&lt;br /&gt;Tapi,  dibilang Islam, jelas tidak.Dari  situ, saya bertanya ke&lt;br /&gt;anak saya: “Giras, sekarang kamu akan  masuk  sekolah. Janjinya dulu,&lt;br /&gt;ketika masuk sekolah, kamu akan memutuskan  akan  masuk agama apa.” Saya&lt;br /&gt; tanya begitu, eh… dia nangis. Bagi saya,   peristiwa itu dramatis&lt;br /&gt;banget. Tak ada jawaban darinya waktu itu.   Besoknya, ketika ditanya&lt;br /&gt;lagi, dia nangis lagi. Dia lalu berpikir   begini: “Pa, kalau aku&lt;br /&gt;beragama Islam, nanti kalau Papa mati, yang   mendoakan siapa? Dan kalau&lt;br /&gt; agamaku Kristen, nanti kalau Ibu mati, yang   mendoakan siapa?” Mendengar&lt;br /&gt; pertanyaan itu, aku shock juga.  “Bajigur iki anakku!”  gumamku.&lt;br /&gt;“Mendingan kamu Islam aja deh… Ibumu kan  rajin sembahyang!”  kataku.&lt;br /&gt;Akhirnya, dia berstatus Islam, walaupun sekolahnya di Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi&lt;br /&gt; pekerti itu  yang lebih utama. Misalnya, pemahaman tentang  nilai-nilai&lt;br /&gt; yang perlu  kita anut dalam hubungan sosial. Menurut saya,  itu lebih&lt;br /&gt;penting  daripada yang lain. Saya selalu bilang, kalau mengaku  telah&lt;br /&gt;mendidik  anak saya secara agamis, saya itu bohong. Saya munafik, &lt;br /&gt;karena memang  saya sendiri tidak agamis. Tapi, soal hukum dan &lt;br /&gt;perkara-perkara sosial,  selalu kita diskusikan bareng anak-anak. &lt;br /&gt;Misalnya saya katakan, kalau  melanggar hukum, akibatnya akan begini. &lt;br /&gt;Kalau menyakiti orang, akan  begitu. Kalau kamu memukul orang, akibatnya&lt;br /&gt;  akan begini dan begitu. Jadi,  nilai-nilai yang&lt;br /&gt;universal tetap diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ternyata itu   berhubungan dengan&lt;br /&gt;ajaran agama tertentu, barangkali iya. Tapi aku   memang tidak ngerti&lt;br /&gt;soal agama. Untuk ukuran saya, andaikan dalam hidup   ini dia bisa&lt;br /&gt;membangun keseimbangan yang adil, baik, dan tidak  menyakiti  orang, itu&lt;br /&gt; barangkali sudah benar.Untuk saya, itu  sudah cukup. Tapi kalau&lt;br /&gt;dia (anak saya itu) mau  beragama, jangan  melihat dari diri saya. Untuk&lt;br /&gt; agama, dia bisa cari dari  sekolah atau  masjid tempat beribadahnya.&lt;br /&gt;Sebab, saya pasti tak akan  bisa menolong  untuk hal-hal seperti itu,&lt;br /&gt;karena memang saya tidak  ngerti. Atau, itu  semua barangkali bisa dia&lt;br /&gt;dapat dari ibunya yang hajjah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya&lt;br /&gt;  justru sering dibingungkan oleh perkara agama. Ini berkaitan  dengan &lt;br /&gt;pengalaman pribadi saya. Di keluarga kami, ada bermacam-macam  penganut&lt;br /&gt; agama. Ayah dan ibu saya Kristen. Menantunya yang seagama cuma  ada dua&lt;br /&gt;  orang. Yang lainnya campur-campur; ada yang Kristen, Katolik,  dan ada&lt;br /&gt;  juga Islam. Murid-murid bapak saya itu ada juga yang Hindu. Nah,&lt;br /&gt;  ketika Ibu meninggal, kita semua ingin sekali menghormatinya  secara &lt;br /&gt;seremonial. Karena ibu Kristen, upacaranya dilakukan secara  Kristen. &lt;br /&gt;Tapi, untuk sembahyang, kami memberi semua keluarga kesempatan  yang &lt;br /&gt;sama. Karena menantunya ada yang Islam, dan anaknya juga ada yang  &lt;br /&gt;Islam, mereka dibiarkan sembahyang secara Islam. Yang Katolik juga  &lt;br /&gt;begitu; kita membikin upacara terpisah dengan mengundang seorang pastur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi&lt;br /&gt;  saya heran, yang Islam kok nggak mau. Orang kampung melarang  itu. &lt;br /&gt;Pokoknya, bagi mereka, yang Islam tidak boleh mengadakan upacara  secara&lt;br /&gt;  Islam untuk mayat ibu saya. Jadi, menantu dan anak-anaknya yang &lt;br /&gt;muslim  itu tidak boleh menyembahyangkan ibu saya. Saya itu malah &lt;br /&gt;bingung. Kok  jadi repot, pikir saya. Padahal, ini kan&lt;br /&gt;perkara bagaimana orang   meyakini sesuatu. Barangkali, kalau dalam&lt;br /&gt;Kristen versi saya, itu   mungkin akan menolong perjalanan ibu saya ke&lt;br /&gt;surga—kalaupun surga itu   ada. Terus yang Katolik juga berpikir begitu.&lt;br /&gt; Tapi, ini kok malah   bingung. Dan akhirnya, daripada ribut semua,&lt;br /&gt;urusannya diserahkan pada   yang melayat saja. Mana yang terbaik untuk&lt;br /&gt;yang ngelayat dan maunya   bagaimana, terserah. Kalau&lt;br /&gt;dalam perkara mati, saya mengikuti  ajaran Om saya, bapak Hanung  Gusti&lt;br /&gt;Aksono. Dia bilang begini: “Nak,  kalau aku mati, terserah mereka  yang&lt;br /&gt;hidup. Kalau istri dan anak saya  Islam dan mau menyembahyangkan  saya&lt;br /&gt;secara Islam, silahkan saja! Kalau  kakak-kakak saya yang Kristen  mau&lt;br /&gt;menyembahyangkan secara Keristen,  silahkan! Kalau adik saya yang &lt;br /&gt;Katolik mau menyembahyangkan secara  Katolik, silahkan juga! Itu urusan&lt;br /&gt; orang hidup. Saya kan orang mati. Bahkan ekstrimnya,&lt;br /&gt;andaikan saya  ditaruh di jalan raya, lalu burung  gagak dibiarkan&lt;br /&gt;mencucu’i tubuhku,  saya juga ikhlas. Toh saya juga  nggak ngerti. Itu&lt;br /&gt;perkaranya orang  hidup, bukan perkaranya orang yang  sudah mati.Karena&lt;br /&gt; saya pemuja harmoni, saya tak ingin keluarga  saya menderita  ketika&lt;br /&gt;saya mati. Pokoknya dia harus aman, tenang lahir  dan batin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2176606305163950298?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2176606305163950298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2176606305163950298' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2176606305163950298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2176606305163950298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/butet-kertaradjasa-dan-budi-pekerti.html' title='Butet Kertaradjasa dan Budi Pekerti'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-2017971493716021240</id><published>2011-11-18T15:02:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T15:05:20.728-08:00</updated><title type='text'>Perjalanan Dinas Pejabat Jaman Dulu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-bxdo-3m9xEE/TsbkgOdyiUI/AAAAAAAAAyw/vpg-fENVAJU/s1600/perjalanan%2Bdinas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-bxdo-3m9xEE/TsbkgOdyiUI/AAAAAAAAAyw/vpg-fENVAJU/s400/perjalanan%2Bdinas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676475622637078850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan Dinas Para Menteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal kemerdekaan RI, para menteri bekerja keras untuk menjangkau semua pemimpin-pemimpin di daerah sampai ke Udjung Timur Djawa. Mereka melakukan penataan sistem koordinasi pemerintah agar semua berpihak pada Kelompok Proklamasi Pegangsaan Djakarta. Mereka menggunakan sarana transportasi kereta untuk mengunjungi banyak wilayah di pedalaman Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menunggu di peron tanpa ruang tunggu VIP, tidak berlagak menjadi pedjabat, tidak menggunakan uang dinas macam Studi Banding DPR yang milyaran untuk mempelajari etiket merokok di ruangan. Hidup mereka dibaktikan untuk Negara Indonesia Raya. Bagi kejayaan masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fbPhotoTagList" id="fbPhotoSnowboxTagList"&gt;&lt;span class="fcg"&gt;&lt;br /&gt;— bersama &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507772444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507772444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507772444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Menteri Perhubungan Ali Budiardjo.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507742444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507742444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507742444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507747444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507747444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507747444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Menteri Kesehatan DR. Johannes Leimena&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507757444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507757444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507757444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Menteri Sosial, Maria Ulfah.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507752444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507752444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507752444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Menteri Kemakmuran Adnan Kapau Gani&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507762444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507762444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507762444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Menteri Pendidikan, Tan Po Goan.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507767444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507767444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507767444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Agus Yaman, Orang Dari Badan Penghubung.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; dan &lt;span class="fbPhotoTagListTag tagItem"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="tag[]" value="10150178507737444" type="hidden"&gt;&lt;a class="textTagHovercardLink taggee" tag="10150178507737444" hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=10150178507737444&amp;amp;type=mediatag&amp;amp;media_info=2.470205707443" instant="1"&gt;Perdana Menteri Sutan Sjahrir&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1486631513899190776-2017971493716021240?l=anton-djakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/feeds/2017971493716021240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1486631513899190776&amp;postID=2017971493716021240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2017971493716021240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1486631513899190776/posts/default/2017971493716021240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anton-djakarta.blogspot.com/2011/11/perjalanan-dinas-pejabat-jaman-dulu.html' title='Perjalanan Dinas Pejabat Jaman Dulu'/><author><name>anton-djakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01050180552515718350</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WzUqnAr-4OM/TCYoj0ZeG9I/AAAAAAAAAVY/Dog_78EyvUo/S220/pelabuhan+kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bxdo-3m9xEE/TsbkgOdyiUI/AAAAAAAAAyw/vpg-fENVAJU/s72-c/perjalanan%2Bdinas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1486631513899190776.post-1326529191083495803</id><published>2011-11-18T14:57:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T14:59:31.010-08:00</updated><title type='text'>When I was Young</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-TRQGGRUVExs/TsbjA9521qI/AAAAAAAAAyk/jQiLJWmiT6w/s1600/when%2Bi%2Bwas%2Byoung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 289px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TRQGGRUVExs/TsbjA9521qI/AAAAAAAAAyk/jQiLJWmiT6w/s400/when%2Bi%2Bwas%2Byoung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676473986103826082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesterday, when I was young,&lt;br /&gt;The taste of life was sweet, as rain upon my tongue,&lt;br /&gt;I teased at life, as if it were a foolish game,&lt;br /&gt;The way the evening breeze may tease a candle flame&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The thousand dreams I dreamed, the splendid things I planned,&lt;br /&gt;I always built, alas, on weak and shifting sand,&lt;br /&gt;I lived by night, and shunned the naked light of day,&lt;br /&gt;And only now, I see, how the years ran away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesterday, when I was young,&lt;br /&gt;So many happy songs were waiting to be sung,&lt;br /&gt;So many wild pleasures lay in store for me,&lt;br /&gt;And so much pain, my dazzled eyes refused to see&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I ran so fast that time, and youth at last ran out,&lt;br /&gt;I never stopped to think, what life, was all about,&lt;br /&gt;And every conversation, I can now recall,&lt;br /&gt;Concerned itself with me, and nothing else at all&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesterday, the moon was blue,&lt;br /&gt;And every crazy day, brought something new to do,&lt;br /&gt;I used my magic age, as if it were 
