Saturday, 25 September 2010

Analisa Film Pengkhianatan G 30 S/PKI ala Arifin C Noer

Analisa Film G 30 S/PKI

Sepanjang hidup saya hanya ada dua film yang paling saya suka, Forrest Gump dan G 30 S/PKI ala Arifin C Noer. Forrest Gump saya suka karena kedalaman makna filosofinya dalam persoalan bakti kepada negara. 'Orang yang tulus berbakti pada negara tanpa imbal balik apapun hanya bisa dilakukan oleh orang dungu' sementara dalam film G 30 S/PKI yang paling saya suka sinematika-nya, inilah film terbaik sejarah yang saya pernah tonton bila dilihat dari sisi filmis-nya. Mulai dari pemeran-pemerannya yang sangat natural, mirip, penempatan dan setting dalam memulai narasi.

Nah persoalan narasi ini setelah dewasa saya baru memahami bahwa memang film ini adalah film yang tidak jujur, tapi pengarah film ini sangat baik dalam mengelola jalan cerita termasuk unsur pemaknaan yang ada dalam film tersebut. Ada beberapa hal yang saya catat dalam film ini yang kemudian menggiring bahwa G 30 S/PKI adalah sebuah peristiwa kekejaman yang 'seakan-akan terjadi hanya disebabkan dari "Pihak Sana" bukan sebagai rangkaian cerita dialektis saling mempengaruhi antara "Pihak Sana" dan "Pihak Sini". Narasi itu tergambar sebagai berikut :

1. Penggambaran Bung Karno sakit keras :

Sukarno adalah pribadi yang hidup, jiwanya bergelora tapi dalam film itu ia digambarkan sedang sakit keras, semangat hidupnya nyaris tak ada. Di dalam cerita ini pemeran Bung Karno, Umar Khayam kerjanya hanya di tempat tidur atau berjalan seperti orang bingung. Bahkan adegan pertama dimulai dengan penggambaran sakitnya Bung Karno.

Pesan dari tampilnya Bung Karno yang sakit ini adalah "Raja Sedang Sakit" dalam negara yang demokrasinya gagal, sakitnya raja akan selalu melahirkan suasana kalut, takut, dan mencekam karena akan terjadi bayangan perang suksesi. Disini yang siap dalam perang suksesi adalah PKI yang selalu digambarkan rapat terus menerus. Padahal di masa terjadinya Penculikan Untung sebelum dan sesudah Bung Karno dalam kondisi bugar, ia bagai banteng ketaton jadi penggambaran Bung Karno di dalam ranjang yang kusam adalah sebuah pesan sesuai dengan jalan cerita yang diinginkan oleh pembuat film dan penyokong fim itu.

2. Setelah adanya tampilan raja sakit itu, kemudian digambarkan dua sisi masyarakat, satu kelompok kelas menengah yang isinya seorang laki-laki pensiunan bicara terus menerus dengan isteri dan anaknya yang sedang latihan drumband dengan mengetuk-ngetukkan meja. Dan penggambaran kedua adalah orang Miskin, gelandangan yang baru tiba di Jakarta. Pesan dari film ini adalah masyarakat terdidik resah dengan kondisi negara yang kacau balau sementara rakyat gelandangan ada dimana-mana. Kontras semakin bisu setelah penggambaran Istana Sukarno dengan tampilan gelandangan, secara tersembunyi film itu ingin mengesankan bahwa Sukarno yang hidup bagai raja, sementara rakyatnya tidur di pinggir jalan dan kelaparan. Padahal realitasnya di jaman itu Sukarno begitu dielu-elukan rakyatnya, walaupun rakyatnya miskin tapi jiwa rakyat masih mendukung Bung Karno sebagai pemimpin mereka, bahkan di saat itu Bung Karno berdiri di pihak rakyat jelata berhadap-hadapan vis a vis dengan kelompok elite yang secara status quo menolak revolusi Bung Karno yang mengganggu kenyamanan mereka.

3. Rapat-rapat PKI dan asap rokok terus menerus. Digambarkan dalam rangkaian sebelum kejadian penculikan rapat-rapat PKI terjadi, dan asap mengepul dimana-mana. Pesan dari adegan ini adalah seluruh gerakan dari semua proses dialektis politik seakan-akan terjadi karena PKI, PKI dianggap sebagai pusat penyadaran dari aktivitas Pra Penculikan para Jenderal. Padahal sebelum terjadinya gerakan Untung, kegiatan intelijen tidak hanya dilakukan PKI, bahkan PKI sendiri masih bagian kecil dari gerakan itu. Gerakan intel ada yang dari kelompok Bandrio melalui BPI, gerakan Angkatan Darat lewat segala macam move politiknya, gerakan Partai-Partai Politik baik yang sudah disortir macam PSI lewat Gemsos-nya dan pelarian di luar negeri yang membangun jaringan politik internasional, Masyumi yang habis gara-gara PRRI kemudian digantikan posisinya oleh NU, HMI yang bertahan dari ancaman DN Aidit untuk dibubarkan, Gerakan Ganjang Malaysia yang lagi seru-serunya, Sosialisasi Angkatan Ke V yang ditolak Yani, Gerakan diam-diam Nasution yang juga menggunakan agen intel bernama Oejeng Suwargana (banyak diceritakan baik oleh Rosihan Anwar ataupun AM Hanafi), Ditemukannya rekaman rencana Dewan Djenderal oleh beberapa orang Partai yang memuat nama S Parman, dipersiapkan sebagai Jaksa Agung dan banyak lagi selentingan-selentingan yang memang wajar di masa semuanya bersiap dalam pertarungan politik di masa revolusi Sukarno. Tapi yang jelas PKI bukanlah satu-satunya pusat dari pertarungan itu.

4. DN Aidit dan asap rokok. Digambarkan DN Aidit sebagai seorang perokok, padahal yang perokok bukanlah DN Aidit tapi pemeran DN Aidit dalam film itu : Syu'bah Asa. Hanya saja sebagai penguatan karakter orang yang sedang membangun rencana maka asap rokok diperlukan untuk menjadi sebuah arahan bagaimana orang sedang berpikir keras untuk membangun rencana jahatnya sesuai dengan keinginan pembuat film. Dalam peran antagonis di film ini, rokok menjadi salah satu blocking yang menarik.

3. Hadirnya Suharto yang tiba-tiba. Dalam film itu setelah penculikan Untung Suharto ada secara tiba-tiba. Di awal-awal sebelum penculikan seakan-akan Suharto tidak ada dan tidak berperanan. Film ini ingin memesankan : Suharto tidak tahu menahu soal perencanaan dan tidak bermain di prolog Gestapu dan film ini berakhir dalam adegan penggalian lobang buaya dan ditambahi suara rekaman AH Nasution. Film ini hanya menekankan pada aksi penculikan, makanya setelah film G 30 S/PKI sebenarnya ada film lanjutan judulnya 'Supersemar' tapi entah kenapa film lanjutan itu tidak jadi dipertunjukkan, oleh sebab memang penyimpangan Suharto yang paling utama terjadi setelah pasca penculikan seperti penafsiran masalah Supersemar. Padahal dalam kejadian sebenarnya Suharto juga berperanan dalam prolog kejadian Untung seperti : Suharto memerintahkan dengan mengeluarkan radiogram no. T 220/9 pada tanggal 15 September 1965 dan radiogram lanjutan T 230/9 Yon 530 Brawijaya dan Yon 454 'Banteng Raiders' Diponegoro untuk datang ke Jakarta dengan kelengkapan penuh. Sementara pada tanggal 29 September 1965 Suharto melakukan inspeksi ke Pasukan tersebut. Dua Batalyon yang datang inilah yang kemudian terlibat dalam peristiwa penculikan Untung. Selain Resimen Cakrabirawa yang juga digunakan oleh Letnan Kolonel Untung untuk melakukan pekerjaan gilanya. Jadi hadirnya Suharto dalam peristiwa G 30 S/PKI bukanlah tiba-tiba apalagi pada tahun 1978 pada Pledoi Kolonel Latif dinyatakan Suharto dua kali dilapori oleh Latif tentang rencana operasi Latif ini dan Suharto sudah mendapatkan kabar, tapi ini sama sekali tidak pernah ada adegan dalam film itu.

5. Film ini tidak secara jelas siapa yang memerintahkan membunuh para Jenderal itu.

Artinya film G 30 S/PKI yang sangat indah dalam filmis dan wajib tonton lebih menekankan pada histeria massa. Ketakutan-ketakutan yang ditimbulkan seperti peristiwa penginjakan Al Qur'an dan segala macam bentuk kemuraman yang mengelilinginya. Film itu berakhir dengan datangnya fajar dimana gelandangan tadi melihat Jakarta yang cerah seakan-akan hadir sebuah jaman baru. Dari sisi filmis inilah film sejarah terbaik sepanjang masa karena mampu menyodorkan semua pesan dari pembuat film kepada massa. Hanya saja dikemudian waktu manusia Indonesia semakin cerdas tapi sebagai rujukan membuat film sejarah maka film inilah yang harus kita perhatikan sebagai referensi penting.

ANTON

Friday, 24 September 2010

Hatta dan Dunianya yang Jujur


Belajar kejujuran bernegara dari Hatta

"Hatta itu orangnya kering" begitu Bung Karno selalu mengenang Hatta. "Andai ada wanita di sampingnya dalam perjalanan ia tidak akan bicara pada wanita itu, ia tidak pandai menghidupkan suasana, itulah Hatta". Bung Karno adalah pribadi yang hidup, ia menyenangi pembicaraan dan selalu menyenangkan lawan bicaranya. Beda dengan Hatta yang walaupun ramah ia cenderung pendiam dan tekun. Dunia Hatta adalah dunia buku. Tapi diluar itu dunia Hatta adalah dunia kejujuran.

Bila sekarang kita mendengar pejabat berfoya-foya dari dana anggaran negara, mereka tanpa merasa berdosa menggunakan dana anggaran untuk citra dirinya : Naik mobil mewah, dan keluarganya juga ikut-ikutan nikmatin dana anggaran negara ditengah rakyat yang lapar dan naiknya harga-harga. Maka Hatta adalah contoh bagaimana seorang pejabat menjalankan kehidupan yang jujur, bagaimana seorang manusia membaktikan hidup pada negara yang dicintainya. Hatta teliti sekali dalam menggunakan uang, ia hanya menggunakan uang yang memang hak-nya. Ia tidak mau menggunakan mobil dinasnya untuk keluarga, ia tidak mau menggunakan uang negara untuk kepentingan keluarganya dan pribadinya. Uang Negara yang dianggarkan untuknya ya untuk kelancaran pekerjaannya.

Di suatu malam yang tenang pertengahan tahun 1950-an, Hatta membaca koran ia melihat iklan sepatu kulit Bally. Ia ingin memilikinya dan dengan rapi ia menggunting iklan itu dan menyimpannya untuk memotivasi dirinya menabung uang untuk beli sepatu tersebut, tapi ia tidak pernah bisa mewujudkan mimpinya baik semasa menjadi Wakil Presiden ataupun saat ia pensiun. Ketika pensiun Hatta memang kerap mendapat honor dari tulisan-tulisannya di media massa dan sedikit uang pensiun jabatan Wakil Presiden RI, tapi dengan uang sebegitu kecil ia harus membayar listrik dan menghidupi keluarganya dengan cara yang jujur. Mendengar Hatta kesulitan membayar listrik, Gubernur DKI Ali Sadikin langsung membantu Hatta untuk membayar listrik.

Di tahun 1980 Hatta meninggal dengan tenang, Jakarta berduka. Indonesia menangis dan di laci Hatta masih tersimpan guntingan iklan sepatu Bally yang tidak sempat dibeli Hatta karena kurang uang.

Hatta meninggalkan warisan yang luar biasa terhadap negeri ini, terhadap bangsa kita, bersama Sukarno ia menjaminkan kepalanya untuk kemerdekaan bangsanya, ia meninggalkan Warisan Konstitusi UUD 1945, warisan pemikiran-pemikiran tentang demokrasi dan negara yang dibangun pada rasionalitas. Tapi untuk membeli sepatu pun ia tidak mampu.

Maka pejabat yang dengan bermewah-mewah pada anggaran negara untuk kepentingan pribadinya, milyaran uang dianggarkan hanya untuk pakaian dinas, maka pejabat yang berombongan kunjungan ke daerah hanya untuk makan-makan dan senang-senang, ke luar negeri berpergian tanpa arah dan sebab dengan menggunakan uang rakyat, lihatlah pada sehelai kertas iklan Hatta tentang sepatu Bally..............

ANTON

Ali Sadikin, Djakarta dan Mimpi Sukarno


Ali Sadikin, Djakarta dan Mimpi Sukarno

Suatu waktu di tengah kemelut akibat Gestapu 1965, Bung Karno duduk di depan Istana Negara. Pikirannya menerawang, ada satu soal yang belum ia selesaikan. "Membangun Djakarta". Dulu pemerintahan Hindia Belanda sudah membangun sebuah kota model kolonial yang terbaik sedunia, Bandung namanya. Kota Bandung pernah dipamerkan dalam Pameran Kota-Kota Kolonial di Paris sekitar tahun 1920-an sebagai kota paling cantik yang dibangun pada permulaan abad 20. Bung Karno berpikir, ia ingin Djakarta menjadi Jiwa dari bangsa Indonesia, kota yang teratur tapi dinamis. Kota yang menjadi poros revolusi struktur masyarakat Indonesia. Inti dari Revolusi Sukarno adalah kemandirian, Mandiri total sebagai bangsa. Dengan mandiri maka sebuah bangsa akan membangun kebudayaaannya sendiri, membangun ekonomi kerakyatannya sendiri dan membangun karakter yang kuat.

Bung Karno memang terpukau dengan kota-kota di Negara Komunis yang disana sini banyak monumen, tapi Bung Karno juga sedari muda jatuh cinta dengan kota-kota di Amerika Serikat, saat ia berkunjung ke AS ia minta diantar untuk melihat taman-taman kota, pusat-pusat seni dan yang paling favorit bagi Bung besar ini adalah 'mengunjungi museum'. Bung Karno melihat ada dua fungsi dalam sebuah kota. Jiwa yaitu Monumen yang merupakan petilasan akan kenangan perjalanan hidup sebuah bangsa dan Gedung yang merupakan fungsi ruang bagi sebuah warga kota bergerak. Monumen dan Gedung akan selalu menjadi paralel dalam pembangunan kota impian bagi Bung Karno. "Djakarta ini sebuah kampung besar, sebuah big village dan Djakarta dalam cepat harus dibangun sebagai kota Internasional...untuk itu aku harus mencari orang yang bisa memimpin sebuah kota besar. Seorang pemimpin yang paham Accynering, City Planning, Architectuur, dia harus tau soal sampah, tau bagaimana mengatur selokan dan keras kepala. Seorang pemimpin yang bisa melihat jauh ke depan tanpa mengeluhkan kekurangan. Bung Karno berpikir keras......

Esok paginya, Bung Karno memanggil beberapa stafnya termasuk Waperdam Leimena. "Coba sodorkan aku beberapa nama untuk pimpin ini kota Djakarta..!" perintah Bung Karno. Salah seorang menyebut Henk Ngantung, Bung Karno terdiam 'Henk itu susah, dia dijepit posisinya...dan dia sudah memimpin kota Djakarta. lalu Leimena bilang "Bagaimana kalau Ali Sadikin?" Bung Karno menoleh pada Leimena "Pak Lei, bukankah Ali sekarang sudah jadi menteri?"...Leimena bilang, orang yang paling keras di Djakarta ya Ali Sadikin. Kemudian salah seorang dari pertemuan itu nyeletuk :"Mayor Sjafei kalah gahar ketimbang Jenderal Ali"....Bung Karno tertawa. Coba siapkan pelantikan untuk Ali Sadikin.

Pada tanggal 28 April 1966, di Istana Negara Bung Karno melantik Ali Sadikin. Bung Karno berpidato dalam pelantikan Ali ini dengan penuh semangat, matanya menyala-nyala, ia gembira melihat salah satu pemuda Indonesia akan memimpin sebuah kota. Ali Sadikin tampak seolah-olah bayangan kecil Bung Karno. "Ali kamu akan memimpin kota, itu bukan pekerjaan gampang, tetapi Insya Allah doe je best, agar engkau dalam memegang kegubernuran Djakarta Raya sekian tahun lagi orang masih mengingat, die heeft Ali Sadikin Gedaan - Inilah perbuatan Ali Sadikin. Bismillah, mulailah engkau punya pekerjaan" Tutup Pidato Bung Karno. Dan Bung Karno pun maju menyematkan tanda jabatan kegubernuran, tinggal Ali Sadikin yang pusing bukan maen.

Bagaimana tidak, ia mewarisi satu sistem pemerintahan daerah yang tidak teratur. Administrasinya berantakannya, dan yang paling sinting lagi ia hanya memiliki anggaran sangat terbatas. Sekitar 66 juta per tahun. Bagi Ali Sadikin ini proyek mustahil. Tapi Ali Sadikin agak tertolong oleh kasus carut marutnya take over kekuasaan sehingga ia ada waktu untuk berpikir tentang arah kebijakan umum kota. Ali Sadikin di satu sisi sangat loyal pada Bung Karno tapi realitas kekuasaan sudah pelan-pelan bergeser ke Suharto, dan pilihan Bung Karno benar adanya, Suharto nggak bakalan berani ciduk Ali Sadikin karena bekingan KKO-nya sangat kuat, disamping itu memang Ali terkenal keras dengan Komunis jauh sebelum Suharto belagak anti Komunis. Pak Harto tidak berani secara frontal berhadapan dengan Ali.

Suatu waktu di tahun 1969, Ali pernah melihat Bung Karno secara sepintas dan Ali menangis. Ia melihat Bung Karno yang dirusak kesehatannya oleh tentara-tentara Orde Baru duduk tak berdaya disiksa sakit, kepala Bung Karno yang botak dan badannya lemah. Bung Karno agak sedikit mengenali Ali ditengah ingatannya yang dulu terkenal kuat itu melemah akibat penyakit ginjal yang merusak kondisi mental psikisnya Bung Karno berkata lirih. "Ali...Djakarta..Ali...Djakarta" kata Bung Karno terbata-bata. Dan Ali dalam hati membatin, "aku harus jaga amanat Bung Karno ini, bagaimanapun ini kota kecintaan bangsa Indonesia, kota kesayangan Bung Karno...". Setahun setelah pertemuan itu Bung Karno meninggal.

Suatu waktu Ali Sadikin menyetir sendiri mobilnya ke kantor Gubernuran. Ali biasa berangkat jam 5.30 pagi, ia sengaja melihat seisi kota. Ali senang incognito jalan-jalan ke pasar untuk melihat stok sayuran di Djakarta, mengontrol selokan dan sudetan kali. Di satu tempat dekat Pasar Santa Kebayoran Baru ia melihat segerombolan orang bermain gaple. .."Teng" ia mendapat ilham. Ia berputar-putar sejenak di dalam kota Djakarta dan berpikiran tentang judi ini. Sesampainya di kantor ia berteriak dan memanggil staf-nya. "Hai, coba kau cari peraturan tentang judi". Setelah stafnya mengambil data peraturan Ali baru tau ternyata Pemda bisa mengambil pajak dari judi lewat peraturan daerah no.11 tahun 1957. "Kamu, panggil Pak Djumatidjin, ke ruangan saya" Djumatidjin adalah pegawai senior di Pemda DKI. "Pak Djum, apa bisa Pemda DKI narik itu uang judi buat pajek?" kata Ali sambil tangannya mendekap dada, matanya melebar."Bisa Pak, dasar aturannya ada". Lalu Ali berkata singkat "Saya perintahkan adakan judi legal dan dipajekin. Hasilnya buat saya bikin ini Djakarta baik..laksanakan". Pak Djumatidjin dan beberapa orang staff Ali menyahut bersamaan 'Siap Pak'.

Dan dengan cepat tindakan Ali ini mendapat sambutan para jago judi se Djakarta terutama Cina-cina yang suka sekali dengan judi. Kasino banyak dibentuk, pajak judi terus mengalir ke Kas Pemda. Ledakan kas luar biasa. Tapi Ali bukanlah jenis pejabat korup, ia berbakti pada tugasnya. Uang Judi itu ia arahkan ke pos-pos pembangunan infrastruktur, sekolah-sekolah rakyat, pusat-pusat kesenian, taman hiburan rakyat macam Ragunan, gelanggang olahraga dan Pasar-pasar rakyat. Ali sudah menaburkan benih bahwa pada sebuah kota itu keteraturan, dinamika yang terpisah dan kebudayaan menjadi satu kesatuan. Suatu kota yang harus punya iramanya sendiri. Ia harus punya jiwa, ia punya badan, janganlah satu kota hanya menempatkan manusia menjadi besi-besi tua yang berjalan. Ali menjadikan Djakarta sebagai kota dimana manusia menemui kemanusiaannya.

Di satu waktu Ali disidang oleh anggota DPRD terhadap dana judi. Dengan lantang Ali berkata pada mereka :"Oke Saudara-saudara sekalian, ini memang dana judi. Tapi kalau kalian mengharam dana judi, itu hak saudara-saudara, silahken Saudara naik helikopter karena jalan-jalan yang mulus itu saya bangun dari dana judi!"......Ali memang pemarah tapi tegas. Ia tiap pagi kerjanya mengontrol saluran selokan, kali-kali besar di Djakarta ia perintahkan untuk dibersihkan bantarannya, Ia kumpulkan seniman dan menanyakan problem-problem masyarakat pada seniman dan sastrawan. Ali sadar bahwa jiwa sebuah bangsa, teriakan sebuah bangsa itu yang bisa menangkap seniman dan sastrawan. Ali melindungi kesenimanan dan kepengarangan dengan mengadakan kompetisi, pemda sendiri yang membiayai.

Tahun 1974 kepopuleran Ali sudah mencapai puncak. Ada dua rivaal Suharto saat itu, Jenderal KKO Ali Sadikin dan Jenderal Mitro Gendut, Jenderal Mitro sempat menegur Ali "Pak Ali, saya tidak mau ambil pusing berita soal bapak digadang-gadang jadi Presiden RI, tapi tolong kalau bapak bicara ke mahasiswa jangan memanas-manasi situasi" ditegur begitu Ali diam saja. Tak lama setelah Malari meletus Mitro tersingkirkan.

Ali Sadikin maju terus, proyek Taman Mini ali oke..Ali juga memanggil Ciputra dan berkata "Pak Tji, saya mau itu Ancol jadi pantai mirip Ipanema atau Copacabana.." Ciputra tertawa dan berkata "segera pak" PT Jaya yang merupakan pelaksana proyek dari proyek2 Pemda melaksanakan dengan cepat.

Ali Sadikin sudah mengajarkan pada kita tentang makna sebuah kota. Kota harus menjadi ruang gerak yang dinamis bagi penduduknya, ia menjadi pusat ekonomi tapi juga harus punya jiwa. Kota adalah ruang terbuka, ia ruang publik dan disitulah nafas harus dihirup sepuas-puasnya. Kota yang dikurung gedung hanya untuk kepentingan Kebendaaan akan mejadi kota yang bisu, kota yang beku tidak ada dinamika. Kota sudah selayaknya sebagai tempat sarang seniman, sastrawan dan budayawan. Tempat berkumpulnya atlet-atlet membina tubuhnya. Kota harus memiliki museum, dari museum sebuah masyarakat bisa banyak mengerti bagaimana kekikinia dibentuk. Kota harus memberikan akses ekonomi pada seluruh rakyat, bukan satu lapisan elite saja, kota mustinya tempat produktif sebuah pemikiran bangsa dibentuk bukannya malah tempat konsumtif yang berlebihan dan mendangkalkan daya pikir.

Kini Djakarta tumbuh tanpa konsep, setelah Ali disingkirkan dan dijadikan warga negara kelas dua karena keterlibatannya dalam Petisi 50, Djakarta gagal berkembang secara teratur. Gubernur-Gubernur Djakarta setelah Ali Sadikin bukanlah orang berpikiran ke depan, mereka sibuk menangkapi becak tapi mobil impor terus banjir tanpa mau peduli membangun sarana transportasi massal. Padahal Ali sudah membuatkan rencana pembangunan subway dan beberapa sarana angkut transportasi massal tahun 1976 tapi sudah keburu digusur Suharto.

Bahkan ada seorang Gubernur Jakarta yang berkata "Kita kekurangan Mall" Pusat-pusat perbelanjaan macam Mall mewah harus dibangun seribu lokasi lagi.

Padahal Ali Sadikin membangun pasar tanah abang, yang dibangun adalah ekonomi rakyat, bukan ekonomi elite. Yang dibangun adalah infrastruktur untuk rakyat bukan kepuasan elite, ruang terbuka mustinya dibangun untuk kecerdasan bukan melatih ketumpulan warga kota. Kini warga kota Djakarta seakan dikelilingi tembok kapitalis, tidak ada ruang yang nyaman yang bisa dimasuki tanpa harus membayar. Kota kita adalah kota dimana uang menjadi Tuhan dan manusia terbudaki karenanya...Kota yang tidak lagi mengantarkan manusia menemui kemanusiaannya.

ANTON

Wednesday, 22 September 2010

Intelektualitas Sukarno





Intelektualitas Sukarno

Tidak seperti SBY yang menggunakan intelektualitas hanya sebagai alat pencitraan seperti kelulusannya dari IPB dan menggondol gelar S3 bertepatan dengan Pemilu 2004 yang seolah-olah mencitrakan dirinya adalah calon Presiden RI yang lebih intelek dibandingkan Megawati yang tidak pernah lulus kuliah. - Maka intelektualitas Presiden Sukarno adalah intelektualitas sejati, bukan intelektualitas artifisial model SBY yang penuh dengan pencitraan, Intelektualitas Sukarno adalah kecerdasan yang dibangun lewat proses yang panjang, ia bukan saja pembaca buku yang rakus tapi ia juga berkelahi langsung dalam kehidupan.

Intelektualitas Sukarno kerap mencengangkan banyak pemimpin dunia. Sampai-sampai Perdana Menteri Nehru berkata kepada anaknya Indira Gandhi "Bila kamu ada permasalahan yang tidak kamu mengerti tanyalah pada Pamanmu, Sukarno". De Gaulle yang awalnya tidak menyukai Sukarno karena ia mengesankan Sukarno hanyalah pemimpin Asia yang doyan perempuan, tapi setelah bertemu dengan Sukarno, De Gaulle mengatakan "Saya baru saja bertemu dengan orang paling cerdas di muka bumi ini dan dia adalah Sukarno" De Gaulle mengagumi wawasan Sukarno yang sedemikian luas dan kepandaian Sukarno berbicara bahasa Perancis.

Dalam dunia akademis Sukarno diganjar 26 Gelar Doktoral Honoris Causa. Dan ini merupakan gelar pengakuan akademik terbanyak yang dimiliki seorang Presiden dimanapun di dunia ini.

Sukarno adalah seorang pembelajar, semasa kecil ia membacai buku ditengah gulita malam dengan lilin, ia terus membaca buku. Saat dia menjadi Presiden Istana Negara dan semua tempat yang ditinggali Bung Karno dipenuhi dengan buku. Ia juga sangat informatif dan memiliki kepandaian yang tinggi dalam merangkai sesuatu. Ia membangun kultur bangsanya sebagai bangsa yang cerdas. Kepemimpinan Sukarno membuat kita belajar terhadap banyak hal, termasuk memahami bahwa kepemimpinan yang buruk rupa adalah kepemimpinan yang mengandalkan Pencitraan semu.

Saturday, 21 August 2010

Hukum-Hukum Revolusi Menurut Bung Karno.

Gambar Atas : Bung Karno ditengah-tengah rakyat Indonesia

Bung Karno menjelaskan pada rakyat tentang Hukum-Hukum Revolusi. Inilah pemimpin otentik, bukan jenis pemimpin yang nggak mutu dan senang curhat.

Apa hukum-hukum Revolusi itu? Hukum-hukum Revolusi itu, kecuali garis-besar romantika, dinamika, dialektika yang sudah kupaparkan tadi, pada pokoknya adalah :

Pertama, Revolusi mesti punya kawan dan punya lawan, dan kekuatan-kekuatan Revolusi harus tahu siapa lawan dan siapa kawan; maka harus ditarik garis pemisah yang terang dan harus diambil sikap yang tepat terhadap kawan dan terhadap lawan Revolusi;

Kedua, Revolusi yang benar-benar Revolusi bukanlah “revolusi istana” atau “revolusi pemimpin”, melainkan Revolusi Rakyat; oleh sebab itu, maka Revolusi tidak boleh “main atas” saja, tetapi harus dijalankan dari atas dan dari bawah;

Ketiga, Revolusi adalah simfoninya destruksi dan konstruksi, simfoninya penjebolan dan pembangunan, karena destruksi atau penjebolan saja tanpa konstruksi atau pembangunan adalah sama dengan anarki, dan sebaliknya; konstruksi atau pembangunan saja tanpa destruksi atau penjebolan berarti kompromi, reformisme;

Keempat, Revolusi selalu punya tahap-tahapnya; dalam hal Revolusi kita : tahap nasional-demokratis dan tahap Sosialis, tahap yang pertama meretas jalan buat yang kedua, tahap yang pertama harus dirampungkan dulu, tetapi sesudah rampung harus ditingkatkan kepada tahap yang kedua; - inilah dialektik Revolusi;

Kelima, Revolusi harus punya Program yang jelas dan tepat, seperti dalam Manipol kita merumuskan dengan jelas dan tepat : (A) Dasar/Tujuan dan Kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia; (B) Kekuatan-kekuatan Revolusi Indonesia; (C) Sifat Revolusi Indonesia; (D) Hari-depan Revolusi Indonesia dan (E) Musuh-musuh Revolusi Indonesia. Dan seluruh kebijaksanaan Revolusi harus setia kepada Program itu;

Keenam, Revolusi harus punya soko-guru yang tepat dan punya pimpinan yang tepat, yang berpandangan jauh kemuka, yang konsekwen, yang sanggup melaksanakan tugas-tugas Revolusi sampai pada akhirnya, dan Revolusi juga harus punya kader-kadernya yang tepat pengertiannya dan tinggi semangatnya.

PIDATO BUNG KARNO (TAHUN “VIVERE PERICOLOSO”–17 Agustus 1964)

Malari 1974, Titik Balik Indonesia Paling Radikal


Gambar Atas : Kebakaran di Sekitar Senen 15 Januari 1974 dimana banyak kelompok Preman digunakan untuk memperkeruh keadaan, kekacauan di tengah kota inilah yang digunakan sebagai alasan penindasan terhadap kelompok Mahasiswa dan Intelektual Kritis. Untuk mengelabui penindasan ini kelompok Islam digunakan sebagai alat kamuflase pembersihan politik.

Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang ...dari sejumlah toko perhiasan.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.

PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.

Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan “jenderal kalajengking” (scorpion general).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono “didubeskan”, diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden”. Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Malari sebagai wacana

Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai “petrus” (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ.

Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN.

Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan “Petisi 24 Oktober”.

Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru.

Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166).

Sebaliknya, “dokumen Ramadi” mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu Jenderal Soemitro.

Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo?

Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap.

Bunda Teresa dan Alam Pikirannya.....

Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; tapi bagaimanapun, berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah.

Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri; tapi bagaimanapun, berbahagialah.

Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; tapi bagaimanapun, jadilah sukses.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; tapi bagaimanapun, bangunlah.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah. Bagaimanapun, berikan yang terbaik
dari dirimu.

Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu,
Bukan urusan antara engkau dan mereka.

Bauhaus dan Kita....


Di bidang musik Beatles adalah revolusionernya yang mengubah warna
musik dunia. Di bidang Arsitektur aliran Bauhaus mengubah secara
revolusioner bentuk arsitektur. Di Bandung banyak sekali bangunan
bergaya bauhaus.

Di Bandung banyak sekali bangunan bergaya Bauhaus, contoh yang paling ekstrim adalah bangunan Hotel Savoy Homann yang dibangun seturut bentuk jenjang-jenjang sawah di pegunungan. Lihat saja bentuk jajaran balkonnya mirip persawahan di Bali dan Jawa.

Apa itu Bauhaus :

Bauhaus, adalah sebuah aliran (gaya) arsitektur yang didirikan oleh Walter Gropius pada tahun 1919. Pelopor International Style dan mengenalkan konsep "form follows function", yaitu bentuk bangunan mengikuti fungsi yang ada pada bangunan tersebut. Bauhaus memiliki pengaruh besar terhadap arsitektur dunia.

Aliran Bauhaus juga dikenal dengan faham-fahamnya yang bersifat revolusioner dan universal.

Kelahiran Bauhaus didahului dengan terbentuknya Deutscher Werkbund pada 9 October 1907 di Munchen, Jerman yang digagas oleh dua arsitek,yaitu Theodor Fischer dan Hermann Mutheseus. Deutscher Werkbund merupakan nama kelompok diskusi yang terdiri dari seniman muda, arsitek muda , penulis muda, pengrajin muda, dan kelangan industri.
Pada awalnya,kelompok ini beranggotakan 12 seniman dan 12 pemilik industri dan dianggap kelompok kelas menengah waktu itu.

Tujuan didirikan kelompok ini untuk mencari solusi dalam meningkatkan kualitas produk-produk desain Jerman. Selan itu, diskusi ini juga mengarah pada usaha melepaskan diri dari idiom-idiom desain konservatif yang telah berkembang di daratan Eropa, termasuk Jerman selama berabad-abad. Karena hal itu, Deutscher Werkbund dikenal sebagai pionir Modernism dalam bidang arsitektur.

Deutscher Werkbund dikenal sebagai The International Style berkat Henry Russel Hitchcock dan Philip Johnson pada pameran Arsitektur Modern di The Museum of Modern Art-New York pada tahun 1932.

Deutscher Werkbund terpecah menjadi dua karena perbedaan ideologi, yaitu :
1. Typisierung yang dipimpin oleh Peter Behrens dan Mutheseus
2. Kunstwollen yang dipimpin oleh Henry van de Velde, Hugo Hearing, Hans Poelzig, Walter Gropius dan Bruno Taut.

Walter Gropius kelak mendirikan Bauhaus di kota Wiemar (yang merupakan kota Acropolis (negara kota) berbentuk republik yang baru saja berdiri) di Jerman pada tahun 1919.

Peran Bauhaus dalam Desain

Bauhaus berasal dari kata Bauen yang artinya to built dan Haus yang artinya house. Bauhaus merupakan seolah yang didirikan oleh Walter Gropius Pada awalnya, Bauhaus ini merupakan pengembangan pendidikan seni dan kerajinan yang dikelola oleh Henry van de Velde yang menekankan praktek ketrampilan di berbagai industri.

Menjelang Perang Dunia pertama, 1914, Henry van de Velde (tokoh Art Nouveau) yang mempimpin sekolah seni dan kerajinan Weimar, mengundurkan diri dan kembali ke negara asalnya-Belgia. Hal ini disebabkan karena sikap radikal warga Jerman terhadap warga asing. Selama perang dunia, sekolah ini ditutup. Warga Jerman yang pada awalnya menyambut gembira perang dunia pertama, pada akhirnya muncul keraguan dan sikap anti perang mulai bermunculan, yaitu pada tahun 1916 dan 1917. Para seniman dan arsitek menerbitkan manifesto dan petisi anti perang.

Pada tahun 1971 Walter Gropius,seorang arsitek menyatakan bahwa para intelektual harus melakukan perpindahan atau pergantian front, dari medan pertempuran fisik menuju medan pertempuran budaya. Ia menganggap sistem Werkbund Jerman ketinggalan zaman sehingga perlu reformasi pendidikan seni rupa. Saat perang usai, Walter mengirimkan proposal sebuah perombakan pendidikan dan sekolah seni rupa yang disetujui oleh pemerintah pada saat itu. Bauhaus berdiri saat Jerman masih mengalami keresahan sosial ekonomi akibat perang dunia pertama.

1919,Walter ditunjuk sebagai direktur sekolah yang baru didirikan, yaitu : ” Staatliches Bauhaus-Weimar “

Tujuan dari sekolah ini, yaitu seniman dan kriyawan bekerja sama untuk menciptakan bangunan masa depan.

Bruno Taut adalah seorang yang sangat berpengaruh pada Gropius. Ia yang mengajak pertama kali membangun rumah untuk rakyat dan meminta keterlibatan setiap cabang seni dalam arsitektur.

Dalam manifesto, Gropius menulis, ” Mari kita bersama-sama menciptakan bangunan masa depan, di mana segala sesuatunya menyatu dalam sebuah bentuk, arsitektur, patung , dan lukisan.” (Droste,1990 :18)

Perkembangan dan perhatian Gropius terhadap modernisme dan indutrialisasi tampak dari perubahan motto sekolah Bauhaus dari ” A unity of art and hadicraft “ menjadi ” Art and Technology, a new unity “. Romantisme dan ekspresionisme digantikan oleh desain terapan yang sangat rasional dan dapat diproduksi secara massal menggunakan mesin.

Pada dasarnya, Bauhaus berupaya meningkatkan mutu desain di era industri.

Karya seni lukis Bauhaus kebanyakan berbentuk kubisme dan ekspresionisme yang merupakan pengaruh dari pelukis modern Rusia bergaya konstruktivisme.

Revolusi desain oleh Bauhaus berintikan penolakan secara formal terhadap sejarah seni yang disebut anti historism padam asyarakat yang sangat konservatif antitesis dari lembaga yang sama di Paris,Prancis,Ecole des Beaux Arts yang mengutamakan pendidikan sejarah seni dan hal inilah yang memberi pengaruh sangat besar terhadap perkembangan desain dan industri di dunia sampi saat ini.

Sekolah Bauhaus

Sekolah Bauhaus berdiri pada tahun 1919,di mana sekolah ini merupakan penggabungan dari 2 sekolah seni, yaitu Kunstgewerbeschule (Grand Ducal Saxon School of Art and Crafts) dan Hochschule fuer Bildendekunst ( Grand Ducal Saxon Academy of Fine Arts).

Misi Bauhaus adalah mengajarkan pendidikan arsitektur ,seni,desain dan creft sebagai sebuah kesatuan bersama teknologi.

Dengan sistem pendidikan Bauhaus pada awalnya menyerupai sistem yang terdapat pada kuil-kuil Budha Shaolin dengan tema sentralnya di bidang desain.

Para mahasiswa diberi pendidikan desain dengan metoda kerja praktek yang di selingi ritual latihan pernafasan, latihan disik, meditasi dan begetarian serta memanfaatkan bengkel praktek dan kantin sebagai pusat interaksi sosial antar warga Bauhaus, terutama antara master dan murid.

Sistem pengajaran ini diperkenalkan oleh Johannes Itten.

Pada tahun 1925, Bauhaus pindah ke Dessau dengan identitas yang lebih jelas sebagai Institute of Design, dengan pengajarnya Joseph Albers, Marcel Breuer dan Gunta Stolzl. Antara tahun 1928- 1930 ,dibawah pengelolaan Meyer, desain-desain yang dihasilkan Bauhaus mencapai sukses secara komersial.

Namun pada bulan April 1933, Bauhaus ditutup oleh pemerintah Nazi Jerman . Sebagian staf pengajar dan pengelolanya pindah ke Amerika dan thun 1937, Moholy Nagy membangun New Bauhaus di Chicago, sedangkan Gropius menjadi guru besar arsitektur di Universitas Harvard.

Dalam perkembangan sejarah sekolah Bauhaus di bagi menjadi 2 periode ,yaitu Periode Weimar ,1919-1924 dan Periode Dessau , 1925-1932.

Perpindahan sekolah Bauhaus ke Weimar disebabkan tekanan politis dari pemerintah Weimar yang menganggap Bauhaus dengan prinsip universalisme nya tidak punya rasa nasionalisme.

Secara singkat,dapat disebutkan beberapa prinsip yang berlaku dalam pengajaran Bauhaus :

- dipengaruhi seni ekspresionisme

- menggunakan garis Bauhutte

- menggabungkan seniman dan kriyawan

- pendekatan rasionalisme dan desain untuk mesin

Bauhaus memiliki cita-cita utopia membangun masyarakat spiritual baru. Bengkel kaca patri, kayu dan metal diajarkan oleh para seniman dan kriyawan, menggunakan metode kerja dari Bauhutte: master (guru) – journeyman (pengembara) – apprentice (murid magang).

Para pe-desain yang pernah menjadi Direktur Bauhaus :

- Walter Gropius ( memimpin hingga 1928)

- Johannes Itten

- L.Mies Van der Rohe (1886-1969)

Van der Rohe adalah seorang arsitek terkemuka yang menjadi direktur terakhir. Terkenal dengan ungkapannya ” Less is more “ Ide-ide baru diajarkan ketika Paul Klee dan Vassilly Kandinsky mengajar di Bauhaus tahun 1920 dan 1922. Klee menggabungkan seni rupa modern dengan seni primitif dan gambar anak dalam menciptakan gambar dna lukisan yang memperngaruhi komunikasi visual. Menurut Kandinsky, warna dan bentuk memiliki nilai-nilai spiritual dan makna tersendiri.

Rabindranath Tagore, Manusia Berpikiran Raksasa dari India

Gambar Atas : Rabindranath Tagore dan Pengaruhnya dalam Peradaban Pemikiran dunia (Polemik antara Pane dan Sutan Takdir berkisar pada pertarungan antara Tagore dengan Filsafat Praksis John Dewey ala Amerika Serikat).

Rabindranath Tagore (bahasa Bengali: Rabindranath Thakur; lahir di Jorasanko, Kolkata, India, 7 Mei 1861 – wafat 7 Agustus 1941 pada umur 80 tahun) juga dikenal dengan nama Gurudev, adalah seorang Brahmo Samaj, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali. Ia terlahir dalam keluarga Brahmana Bengali, yaitu Brahmana yang tinggal di wilayah Bengali, daerah di anakbenua India antara India dan Bangladesh. Tagore merupakan orang Asia pertama yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra (1913).

Tagore mulai menulis puisi sejak usia delapan tahun, ia menggunakan nama samaran “Bhanushingho” (Singa Matahari) untuk penerbitan karya puisinya yang pertama pada tahun 1877, dan menulis cerita pendek pertamanya pada usia enam belas tahun. Ia mengenyam pendidikan dasar di rumah (Home Schooling), dan tinggal di Shilaidaha, serta sering melakukan perjalanan panjang yang menjadikan ia seorang yang pragmatis dan tidak suka/patuh pada norma sosial dan adat. Rasa kecewa kepada British Raj membuat Tagore memberikan dukungan pada Gerakan Kemerdekaan India dan berteman dengan Mahatma Gandhi. Dan juga dikarenakan rasa kehilangan hampir segenap keluarganya, serta kurangnya penghargaan dari Benggala atas karya besarnya, Universitas Visva-Bharati.

Beberapa karya besarnya antara lain Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), dan Ghare-Baire (The Home and the World), serta karya puisi, cerita pendek dan novel dikenal dan dikagumi dunia luas. Ia juga seorang reformis kebudayaan dan polymath yang memodernisasikan seni budaya di Benggala. Dua buah lagu dari aliran Rabindrasangeet (sebuah aliran lagu yang ia ciptakan) kini menjadi lagu kebangsaan Bangladesh (Amar Shonar Bangla) dan India (Jana Maha Gana).

MASA-MASA AWAL (1861 - 1901)

Tagore memiliki nama kecil "Rabi", lahir di Jasanko Mansion, adalah putra dari Debendranath Tagore dan Sarada Devi, anak bungsu dari empat belas bersaudara. Setelah menjalani upacara Upanayanam di usia sebelas tahun, (suatu prosesi upacara yang menandai bagi seorang anak laki-laki untuk memasuki masa Brahmacari, masa menuntut ilmu.) Tagore bersama ayahnya meninggalkan Kolkata pada tanggal 14 Februari 1873 untuk melakukan perjalanan panjang di India selama beberapa bulan, mengunjungi Shantiniketan dan Amritsar sebelum mencapai Dalhousie, sebuah bukit peristirahatan di kaki Himalaya. Di sini, Tagore belajar sejarah, ilmu perbintangan (astronomi), ilmu pengetahuan modern dan Bahasa Sansekerta dan mempelajari serta mendalami karya sastra klasik dari Kālidāsa. Pada 1877, ia menjadi orang terkemuka ketika menghasilkan beberapa karya, termasuk puisi panjang dalam gaya Maithili, yang dirintis oleh Vidyapati. Sebagai sekedar lelucon, ia menyatakan bahwa ini merupakan karya yang hilang dari Bhānusimha, sebuah sastra dari aliran Vaishnava. Ia juga menulis "Bhikharini" (1877; "Wanita Pengemis" — cerita pendek pertama dalam Bahasa Bengali) dan juga “Sandya Sangit” (1882) — termasuk di dalamnya puisi yang sangat terkenal "Nirjharer Swapnabhanga" (The Rousing of the Waterfall).

Karena ingin menjadi seorang pengacara, Tagore mendaftar di sekolah umum di kota Brighton, Inggris pada tahun 1878; kemudian melanjutkan di University College London, tapi pada tahun 1880 ia kembali ke Bengali tanpa gelar sarjana, dikarenakan ayahnya telah menjodohkan ia dengan seorang gadis, bernama Mrinalini Devi, yang kemudian dinikahi pada 9 Desember 1883; mereka memiliki lima orang anak, empat di antaranya meninggal sebelum menginjak usia dewasa. Pada tahun 1890, Tagore mulai mengelola usaha keluarganya di Shelidah, sebuah wilayah yang sekarang masuk bagian negara Bangladesh. Dikenal sebagai "Zamindar Babu" Tagore melakukan perjalanan melintasi perkebunan yang sangat luas, untuk mengumpulkan uang sewa, serta memberi berkat pada para penduduk desa. Dalam periode ini, periode Sadhana (1891 — 1895, diambil dari salah satu majalah yang diterbitkannya) ia berada dalam masa-masa yang sangat produktif, di mana lebih dari setengah dari tiga volume dan delapan puluh empat karya "Galpaguchchha" ditulis. Dengan gaya ironi dan emosional yang kental, ia menggambarkan kehidupan di Benggala, kebanyakan adalah kehidupan di pedesaan.

SHANTINIKETAN (1901—1932)

Pada tahun 1901, Tagore meninggalkan Shelidah dan pindah ke Shantiniketan (Benggala Barat) tinggal di Ashram yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1863, di sini mendirikan sebuah sekolah percobaan, sekolah di ruang terbuka, dengan pohon rindang, taman yang indah dan perpustakaan. Dan di sini pula, istri ia serta dua orang anaknya meninggal. Ayah ia juga meninggal pada 19 Januari 1905. Setelah kepergian ayahnya, ia mulai menerima pendapatan bulanan sebagai bagian dari warisan orang tuanya; ia juga menerima pendapatan dari Maharaja Tripura, hasil dari penjualan perhiasan keluarga, dari rumah sewa di daerah Puri serta hak royalti atas karya-karyanya. Melalui karya-karya ia memiliki banyak pengikut baik masyarakat Bengali, maupun pembaca di luar, dan ia mempublikasikan beberapa karya seperti "Naivedya" (1901) dan "Kheya" (1906) dan karya-karya puisi ia digubah menjadi puisi bebas, yang tidak lagi mengikuti pakem dan irama, tanpa menghilangkan ciri sebagai sebuah karya puisi. Pada tanggal 14 November 1913 Tagore memenangkan Penghargaan Nobel di Bidang Sastra. Menurut pihak Akademi Swedia sebagai penyelenggara, Tagore memenangkan Penghargaan Nobel berkat idealisme dalam berkarya dan karya-karyanya yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris mudah diterima bagi pembaca di barat, termasuk diantaranya adalah: Gitanjali: Song Offerings (1912). Sebagai tambahan, Kerajaan Inggris menawarkan gelar kebangsawanan pada tahun 1915; yang diterimanya, namun belakangan dilepaskan sebagai bentuk protes terhadap pembantaian massal di Amritsar, di mana tentara kolonial melakukan penembakan terhadap rakyat sipil tanpa senjata, membunuh sekitar 379 orang.

Pada 1921, Tagore bersama Leonard Elmhirst, seorang pakar ekonomi pertanian, mendirikan sekolah yang belakangan diberi nama Shriniketan di Surul, sebuah kampung dekat Asrama di Shantiniketan. Melalui ini ia sendiri bermaksud menyediakan tempat alternatif, bagi gerakan Swaraj, yang digalang Mahatma Gandhi yang mana sebelumnya gerakan ini sempat ia kritik. Ia merekrut para sarjana, penyumbang dana serta pekerja dari berbagai negara untuk menjalankan sekolah ini. Membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan dengan cara memperkuat diri di sektor pendidikan. Pada tahun 1930an ia juga memberikan perhatian lebih terhadap kaum Dalit (kelompok kasta rendahan).

MASA SENJA (1932—1941)

Dalam dasawarsanya yang terakhir, Tagore tetap mendapat sorotan publik, secara terbuka mengkritik Gandhi karena mengatakan bahwa gempa bumi yang hebat pada 15 Januari 1934 di Bihar merupakan pembalasan ilahi karena menindas kaum Dalit. Ia juga meratapi kemerosotan sosial-ekonomi yang mulai terjadi di Bengali dan kemiskinan yang merajalelal di Kolkata. Ia mengungkapkannya secara terinci dalam sebuah puisi tak berirama seratus baris dengan teknik visi ganda yang kering kelak digunakan oleh Satyajit Ray dalam filmnya Apur Sansar. Tagore juga menyusun 15 jilid tulisan, termasuk karya-karya prosa liris Punashcha (1932), Shes Saptak (1935), dan Patraput (1936). Ia terus bereksperimen denagn mengembangkna lagu-lagu prosa dan sendratari, termasuk Chitrangada (1914), Shyama (1939), dan Chandalika (1938), dan menulis novel-novel Dui Bon (1933), Malancha (1934), dan Char Adhyay (1934). Tagore mengembangkan minatnya terhadap sains dalam tahun-tahun terakhirnya, dan menulis Visva-Parichay (kumpulan esai) pada 1937. Ia menjelajahi biologi, fisika, dan astronomi; sementara itu, puisinya — yang mengandung naturalisme yang luas — menggarisbawahi rasa hormatnya terhadap hukum-hukum ilmiah. Ia juga menjalin proses sains (termasuk naratif para ilmuwan) ke dalam banyak cerita yang terkandung dalam buku-buku seperti Se (1937), Tin Sangi (1940), dan Galpasalpa (1941).

SEBUAH PETUALANGAN

Tagore memiliki jiwa petualangan yang sangat besar. Antara tahun 1878 dan 1932, ia mengunjungi lebih dari tigapuluh negara di lima benua, perjalanan ini sangat penting artinya dalam mengenalkan karya-karyanya, serta memapa...rkan ide-ide politiknya kepada kalangan non-Bengali. Sebagai contoh, pada tahun 1912, ia mengirimkan karya-karya yang telah diterjemahkan ke Inggris, yang mengesankan para misionaris, dan anak didik Gandhi; Charles F. Andrews, William Butler Yeats; seorang sastrawan dari Irlandia, Ezra Pound, Robert Bridges, Ernest Rhys, Thomas Sturge Moore, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan kemudian, Yeats menulis kata pengantar untuk Gitanjali yang diterjemahkan dalam bahasa inggris, sementara Andrews bergabung dengan Tagore di Santiniketan. Pada 10 November 1912, Tagore melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan Inggris Raya, tinggal di Butterton, Staffordshire. Dari tanggal 3 Mei 1916 sampai April 1917, Tagore ceramah dan kuliah keliling Jepang dan Amerika Serikat. Ia juga menulis esai "Nasionalisme di India", yang menerima kritikan dan juga menuai pujian, (termasuk para pasifis termasuk dari Romain Rolland). Setelah kembali ke India, Tagore, 63 tahun, mengunjungi Peru atas undangan pemerintahan Peru Tagore, dan dilanjutkan dengan mengunjungi Meksiko setelahnya. Kedua negara mengucurkan sumbangan senilai $100,000 bagi sekolah Shantiniketan (Visva-Bharati) sebagai penghargaan atas kunjungaannya ke kedua negara tersebut. Setelah itu, ia mengadakan kunjungan ke Buenos Aires, Argentina pada 6 November 1924, dan tinggal di Villa Miralrío dan menjadi tamu dari Victoria Ocampo; seorang intelektual dari Argentina. Selanjutnya ia pulang ke Bengali pada Januari 1925. Pada 30 Mei 1926, Tagore menginjakkan kakinya di Napoli, Italia; ia bertemu dengan diktator berkuasa Benito Mussolini di Roma pada hari berikutnya. Pada awalnya mereka memiliki hubungan yang hangat, dan berakhir saat Tagore dengan terang-terangan berbicara menentang Mussolini pada 20 Juli 1926.

Pada 14 Juli 1927, Tagore beserta dua sahabatnya berangkat menuju Asia Tenggara selama empat bulan — mengunjungi Bali, Jawa, Kuala Lumpur, Malaka, Penang, Siam dan Singapura. Catatan perjalanan ini terkumpul dalam karya yang berjudul "Jatri". Pada awal 1936, ia meninggalkan Bengala untuk sebuah perjalanan panjang menuju Eropa dan Amerika Serikat. Dalam kunjungan kembali ke Inggris, dimana saat itu lukisannya sedang dipamerkan di London dan Paris, ia tinggal di Birmingham. Di sana ia menulis materi kuliah untuk kelas yang dikenal sebagai "Kuliah Hibbert" di Universitas Oxford dan menjadi pembicara di pertemuan tahunan Perkumpulan Kristen London. Disini, (dialamatkan pada hubungan antara Inggris dengan India, sebuah topik yang ia terus perjuangkan dan pertahankan selama lebih dari dua tahun kedepan) ia berbicara mengenai "dark chasm of aloofness". Kemudian ia mengunjungi Aga Khan III, tinggal di Dartington Hall, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Denmark, Swiss, dan Jerman dari bulan Juni hingga pertengahan September 1930, lalu berlanjut hingga Uni Soviet. Terakhir, pada bulan April 1932, Tagore — yang sebelumnya telah mengenal mistikus Persia terkenal, Hafez — diundang secara pribadi sebagai tamu kehormatan Shah Reza Pahlevi untuk mengunjungi Iran. Sebagaimana seorang petualang, Tagore bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang orang penting dan kenamaan, termasuk di antaranya Henri Bergson, Albert Einstein, Robert Frost, Thomas Mann, George Bernard Shaw, H.G. Wells and Romain Rolland. Perjalanan terakhir Tagore tersiar dengan luas, termasuk saat mengunjungi Persia, Irak (di tahun 1932) dan Sri Lanka pada tahun 1933, menajamkan opini-opininya berkenaan dengan nasionalisme dan kemanusian.

KARYA SANG MAESTRO

Reputasi Tagore di dunia sastra sangat menonjol terutama pada karya-karya puisinya, meskipun ia juga menulis novel, esai, cerita pendek, catatan perjalanan, cerita drama, dan ribuan lagu. Mengenai karya-karya prosa yang dihasilkan, cerita pendek adalah yang paling mendapatkan perhatian; tentu saja, ia tercatat sebagai orang yang merintis karya cerita pendek dalam Bahasa Bengali. Karya-karyanya sering menjadi perhatian karena irama yang unik, lirik-lirik yang mengandung pujian bagi alam semesta, serta lirik-lirik yang bernada optimis. Dan juga, banyak dari cerita yang ditulisnya diambil dari kehidupan sehari-hari yang sederhana — kehidupan manusia biasa.

NOVEL DAN NON FIKSI

Tagore menulis delapan novel dan empat novela, termasuk Chaturanga, Shesher Kobita, Char Odhay dan Noukadubi. Ghare Baire (The Home and the World) — melalui kacamata Nikhil seorang zamindar idealis — bercerita tentang kebangkitan nasionalisme di India, terorisme dan semangat keagamaan dalam gerakan Swadeshi; sebuah ungkapan jujur dari seorang Tagore atas apa yang berkecamuk dalam hatinya. Dan tentu saja, karya novel ini ditutup dengan kesuraman, pertentangan dan kekerasan antara sektarian Hindu-Islam, dan Nikhil terluka parah. Gora mengambil tema yang sama, yang akhirnya menjadi sebuah kontroversi berkenaan dengan "Identitas India". Sebagaimana hal-nya dengan Ghare Baire, permasalahan tentang identitas diri (Jāti), kebebasan pribadi dan agama dikemas dalam sebuah cerita keluarga dengan bumbu cinta segitiga. Karya lain yang tak kalah hebatnya adalah Yogayog (Nexus), dimana Kumudini sang pahlawan wanita terkoyak diantara konflik dalam diri maupun dari luar. Disini Tagore mencoba mencurahkan sisi feminin dalam dirinya, melalui kesedihan ia menggambarkan kesengsaraan dan kematian seorang wanita bengali yang terperangkap dalam kehamilan, kewajiban sebagai wanita serta kehormatan wanita; secara simultan ia mengungkapkan penolakan atas sistem oligarki di tanah Bengala.

Karya-karya novel yang lainnya, menggambarkan suasana yang lebih menggembirakan: Shesher Kobita (diterjemahkan dua kali — Puisi Terakhir dan Lagu Perpisahan) banyak mengandung puisi dan rangkaian irama yang ditulis oleh karakter utamanya. Juga mengandung elemen satir — sindiran — bergaya post-modern yang kontroversial, dimana karakter pembantu dengan senang hati menyerang nilai-nilai lama, ketinggalan zaman, yang secara kebetulan, atas nama Rabindranath Tagore. Walaupun karya novel-nya adalah karya yang paling sedikit mendapat apresiasi diantara karya yang lainnya pada masa itu, pada masa kini malah mendapat perhatian untuk diangkat dan diadaptasi ke dalam karya film, oleh para sutradara seperti: Satyajit Ray. Diantara karya novel yang diangkat ke film, adalah Choker Bali dan Ghare Baire; banyak soundtrack yang dipakai dari film ini merupakan lagu-lagu yang diciptakan olehnya yang juga menciptakan aliran dalam berlagu yang dikenal dengan: rabindrasangit. Tagore juga banyak menghasilkan karya-karya non-fiksi, yang dalam penulisannya banyak mengambil topik dari Sejarah India hingga ilmu bahasa (Linguistik), dan juga termasuk karya otobiografi, catatan perjalanan, esai dan materi kuliah dan ceramah di berbagai belahan dunia yang kumpulkan dalam beberapa bagian, ikut didalamnya adalah Iurop Jatrir Patro (Surat dari Eropa) dan Manusher Dhormo (Agama Manusia).

MUSIK DAN SENI RUPA

Tagore juga seorang musisi dan pelukis yang berbakat, yang telah mencipta dan menulis sekitar 2.230 lagu. Termasuk diantaranya rabindrasangit (Inggris: "Tagore Song"), yang mana kini telah menjadi bagian dalam kebudayaaan bangsa Bengali. Karya-karya musik Tagore, tidak dapat dipisahkan begitu saja dari karya sastranya, kebanyakan dari karya sastra tersebut menjadi lirik untuk lagu ciptaannya. Utamanya terpengaruh oleh gaya thumri, musik klasik dari Hindustani, mereka memainkan seluruh tangga nada dari emosi jiwa manusia, dimulai dari lagu-lagu pujian yang bergaya Brahmo, hingga komposisi yang bergaya erotis. Karya musiknya mengemulasi gaya warna musik klasik india, raga; dimana pada saat yang bersamaan, lagu-lagunya cenderung menirukan melodi dan irama raga secara tepat, dia juga memasukkan berbagai unsur 'musik raga' dalam karya musiknya dalam mencipta karyanya.

CERITA PENDEK

Karya Nandalall Bose yang merupakan ilustrasi dari karya cerpen Tagore yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris berjudul "The Hero", diterbitkan pada 1913 oleh Macmillan.
Masa empat tahun dari 1891 hingga 1895, dikenal s...ebagai periode "Sadhana" (salah satu nama majalah yang diterbitkan oleh Tagore). Pada masa ini merupakan masa paling produktif dalam berkarya, menghasilkan lebih dari setengah karya yang dikemas dalam tiga volume Galpaguchchha, yang merupakan kumpulan karya cerita, memuat delapan puluh empat karya. Sebagaimana biasa ceritanya merupakan cerminan Tagore atas kehidupan dan lingkungannya, dituangkan dalam ide-ide modern dan potongan potongan cerita yang dirajut dalam pikiran sebagai sebuah cerita utuh dan mengesankan. Tagore umumnya menghubungkan satu cerita dengan cerita sebelumnya dengan kekuatan dari kegembiraan dan keriangan yang spontanitas; karakteristik ini terkoneksi dengan sangat baik sekali dengan kehidupan sehari hari Tagore di Patisar, Shajadpur dan Shilaidaha saat dia mengelola tanah milik keluarganya yang sangat luas. Disana, ia melindungi kehidupan masyarakat miskin; dengan cara ini Tagore menganalisa kehidupan mereka dengan memasuki kehidupan mereka lebih dalam. Dalam karya "The Fruitseller from Kabul", Tagore berbicara sebagai penduduk kota dan novelis yang juga menjadi pedagang dari Afganistan. Ia mencoba untuk menyelami rasa-memiliki oleh para penduduk urban di India yang lama terjebak dalam keduniawian dan dibatasi oleh kemelaratan, memberi impian dalam kehidupan yang lain di batasi oleh jarak dan kejamnya alam pegunungan: "Di suatu pagi di musim gugur, pada tahun ketika raja tua datang dan pergi untuk menaklukan; dan aku, yang tak pernah beranjak dari pojokan di Kolkata, membiarkan pikiranku mengembara ke seluruh dunia. Dalam setiap persinggahan di negara lain, hatiku tak pernah berubah... takkan jatuh tuk merajut jaringan mimpi: pegunungan, celah, hutan...". Banyak cerita Galpaguchchha yang lainnya ditulis pada periode "Sabuj Patra" (1914-1917; juga merupakan nama majalah Tagore yang lainnya).

Golpoguchchho (Kumpulan cerita) merupakan kesusastraan fiksi Bengali yang paling populer, dijadikan sebagai subyek dalam banyak karya film dan seni teater yang meraih sukses. Film Charulata garapan Satyajit Ray, diangkat dari karya novela yang penuh kontroversi, Nastanirh (The Broken Nest). Dalam Atithi (yang juga diangkat ke film), seorang Brahmana muda belia, Tarapada, berbagi tumpangan perahu dengan seorang zamindar. Anak muda ini menyatakan bahwa dia dulu kabur dari rumah, dan kemudian mengembara berkeliling. Merasa kasihan zamindar tersebut kemudian mengadopsi secara mngejutkan, menjodohkan dengan anak gadisnya sendiri. Yang mana, pada malam sebelum acara pernikahan, Tarapada kabur dari rumah zamindar. Strir Patra ("The Letter from the Wife") mngisahkan akan emansipasi wanita, yang pada masa itu sangat jarang diangkat dalam kesusastraan Bengali. Sang tokoh wanita, Mrinal, istri dari seorang pria kalangan menengah yang menganut pola patriarki — ayah memiliki kekuasaan penuh dalam keluarga) menulis surat ketika ia melakukan perjalanan (bagian dari keseluruhan cerita). Yang menceritakan kekurangan dalam hidup dan perjuangannya; dia akhirnya mengambil keputusan untuk tidak kembali kepada suaminya, dengan sebuah pernyataan "Amio bachbo. Ei bachlum" ("And I shall live. Here, I live"). Dalam karya Haimanti, menggambarkan tentang perkawinan dalam Hindu yang penuh dengan kemalangan dan penderitaan dalam perkawinan wanita Bengali, "penyakit" bermuka dua dalam kehidupan kelas menengah di India, dan bagaimana Haimanti, seorang wanita muda yang sensitif, harus mengorbankan hidupnya. Di bangian akhir, Tagore menyerang secara langsung adat Hindu yang mengagungkan Sita melakukan pengorbanan diri sebagai menentramkan keraguan dari suaminya, Rama. Tagore juga mengungkap ketegangan Hindu-Muslim dalam karya Musalmani Didi, yang dalam beragam cara pandang adalah pewujudan dari sari pati sisi kemanusian Tagore. Dalam karya yang lainnya, Darpaharan memamerkan kesadaran diri, bercerita tentang anak muda yang punya kemauan dan ambisi dalam dunia kesusastraan. Yang meskipun dia mencintai istrinya, ia berharap bisa meniti karir kesusastraannya.

PUISI

Penyanyi lagu-lagu tradisional Bāul di Santiniketan dalam acara festival tahunan
Sajak dan puisi karya Tagore — sangat bervariasi dalam gaya, dari gaya klasik formal hingga gaya jenaka, penuh khayalan maupun riang gembira — meneruskan aliran yang didirikan pujangga Vaishnava (|Bujangga Waisnawa) pada abad 15-16. Tagore juga mendapat pengaruh unsur kebatinan dari para Rsi-Pujangga — termasuk dari Vyasa — yang menulis Upanisad, Bhakta-Sufi mistik Kabir dan Pamprasad. Malahan karya puisinya menjadi penuh inovasi dan dewasa setelah ia membongkar musik tradisional Bengali, termasuk lagu balada yang dinyanyikan oleh para penyanyi tradisional dari Bāul — khususnya penyair Lālan Śāh. Ini — yang digali kembali dan kemudian dipopulerkan oleh Tagore — menyerupai kidung pujian Kartābhajā (populer di abad 19) yang menekankan pada Ketuhanan dan berontak pada keyakinan dan kehidupan sosial ortodok. Pada masa menetap di Shelidah, karya puisinya menekankan pada kekuatan lirik, berbicara lewat maner manus (man within the heart) atau meditasi dalam jivan devata (Tuhan didalam jiwa). Figur ini kemudian membentuk hubungan dengan ketuhanan melalui permohonan kepada semesta alam dan keadaan emosional yang saling mempengaruhi dalam drama kehidupan umat manusia. Tagore menggunakan beberapa teknik dalam puisi Bhānusimha (yang menguraikan rentetan romantisme antara Radha dan Krishna), dimana ia berulangkali melakukan perbaikan-perbaikan melalui pembelajaran selama kurun waktu tujuh puluh tahun. Belakangan, Tagore memberi respon atas kemunculan dari modernisasi dan realisme dalam kesusastraan Bengali dengan menulis karya eksperimental pada tahun 1930-an. Contoh karyanya seperti: Africa and Camalia. Ia juga kadang menulis puisi memakai Shadu Bhasha (salah satu dialek bahasa sansekerta di Bengala); kemudian belakangan ia mulai menggunakan Cholti Bhasha (dialek yang lebih populer). Karya lain yang patut dicatat adalah Manasi, Sonar Tori (Golden Boat), Balaka (Wild Geese —judulnya merupakan metafora untuk perpindahan jiwa), dan Purobi. Sonar Tori merupakan karya puisi yang paling terkenal. "Shunno nodir tire rohinu poŗi / Jaha chhilo loe gêlo shonar tori" — semua yang telah kucapai, telah dibawa keatas perahu emas — tinggal aku yang berada di belakang). Bagaimanapun juga, Gitanjali merupakan karya yang paling dikenal, membawa Tagore meraih Penghargaan Nobel dalam Sastra. Song VII of Gitanjali:

Amar e gan chheŗechhe tar shôkol ôlongkar
Tomar kachhe rakhe ni ar shajer ôhongkar
Ôlongkar je majhe pôŗe milônete aŗal kôre,
Tomar kôtha đhake je tar mukhôro jhôngkar.

Tomar kachhe khaţe na mor kobir gôrbo kôra,
Môhakobi, tomar paee dite chai je dhôra.
Jibon loe jôton kori jodi shôrol bãshi goŗi,
Apon shure dibe bhori sôkol chhidro tar.

Terjemahan bebas oleh Tagore (Gitanjali, verse VII):

"My song has put off her adornments. She has no pride of dress and decoration. Ornaments would mar our union; they would come between thee and me; their jingling would drown thy whispers."

"My poet's vanity dies in shame before thy sight. O master poet, I have sat down at thy feet. Only let me make my life simple and straight, like a flute of reed for thee to fill with music."

PANDANGAN POLITIK

Pandangan politik Tagore sangat kompleks, dimana ia mengkritik penjajahan bangsa-bangsa eropa, serta mendukung kaum nasionalis India. Namun, ia juga mengkritik gerakan Swadeshi yang dilakukan oleh para pemimpin gerakan nasionalis. Dilain pihak ia memberikan tekanan atas peningkatan taraf pendidikan masyarakat dan bantuan atas diri sendiri bagi bangsa India. Ia juga menghimbau bagi rakyat India untuk menerima bahwa "tidak ada yang perlu dipertanyakan atas revolusi, tetapi pendidikan yang kokoh dan penuh tujuan".

PANDANGAN POLITIK

Pandangan politik Tagore sangat kompleks, dimana ia mengkritik penjajahan bangsa-bangsa eropa, serta mendukung kaum nasionalis India. Namun, ia juga mengkritik gerakan Swadeshi yang dilakukan oleh para pemimpin gerakan nasi...onalis. Dilain pihak ia memberikan tekanan atas peningkatan taraf pendidikan masyarakat dan bantuan atas diri sendiri bagi bangsa India. Ia juga menghimbau bagi rakyat India untuk menerima bahwa "tidak ada yang perlu dipertanyakan atas revolusi, tetapi pendidikan yang kokoh dan penuh tujuan". Namun banyak orang yang tidak menyukai pemikirannya ini. Pada 1916, beberapa orang India mencoba melakukan pembunuhan atas dirinya saat ia berada di sebuah hotel di San Francisco, Amerika Serikat. Namun mereka urung melakukan pembunuhan, setelah mereka mendengarkan dan adu argumentasi dengan Tagore. Tagore juga membuat banyak lagu-lagu perjuangan dan pujian atas gerakan kemerdekaan India. Tagore juga mengembalikan gelar kehormatan yang diberikan oleh Kerajaan Inggris, sebagai bentuk protes atas pembantaian massal di Amritsar pada 1919 yang dikenal dengan Jallianwala Bagh Massacre. Dua buah komposisi musik Tagore yang berbau politik adalah Chitto Jetha Bhayshunyo ("Where the Mind is Without Fear") dan Ekla Chalo Re (If They Answer Not to Thy Call, Walk Alone), mendapatkan perhatian dari masyarakat luas, yang mana belakangan disukai dan dipuji oleh Gandhi. Walaupun hubungannya dengan Gandhi mengalami pasang surut, Tagore merupakan kunci keberhasilan dalam memperbaiki hubungan Gandhi-Ambedkar yang berselisih, bersangkutan dengan pemilahan bagi kaum kasta rendahan dalam pemilihan umum.
Tagore juga mengkritik pendidikan ortodok, menyerang dalam karya cerpen "The Parrot's Training", dimana seekor burung — yang akhirnya mati — dikurung dalam sangkar oleh pengajarnya dan dijejali dengan pelajaran dari buku. Pandangan ini membawa Tagore — saat ia mengunjungi Santa Barbara, California pada 11 Oktober 1917 —: untuk memikirkan sebuah pola universitas baru, berhasrat untuk "menjadikan ashram miliknya di Shantiniketan sebagai benang penghubung antara India dengan dunia ... dan pusat pendidikan umat manusia ... yang melintasi batas bangsa dan geografis. Sekolah — yang kemudian ia namakan Visva-Bharati —; dilakukan peletakan batu pertama pada 22 Desember 1918; dan pembukaannya pada 22 Desember 1921. Disini ia menerapkan stuktur pedagogi brahmacharya dengan menyediakan para guru guna memberikan bimbingan individu bagi para siswa. Tagore bekerja keras untuk mendapatkan dana dan staf pengajar bagi sekolah ini, termasuk mengkontribusikan semua hadiah yang didapatkan dari Penghargaan Nobel yang ia menangkan. Tugasnya sebagai mentor dan pembantu di Shantiniketan membuat ia sibuk; di pagi hari, ia mengajar di kelas dan menyusun buku pelajaran bagi para siswa di siang dan malam harinya. Tagore juga menggalang dana dari Eropa dan Amerika Serikat, antara tahun 1919 hingga 1921

WARISAN SANG MAESTRO

Dampak yang dapat dirasakan pasca kematian Tagore adalah dilaksanakan berbagai festival diseluruh dunia sebagai bentuk penghormatan terhadapnya — sebagai contoh adalah festival tahunan Kabipranam (Ulang Tahun Tagore) di Benggala, Festival Tagore yang digelar setiap tahun di Urbana, Illinois, Amerika Serikat, Rabindra Path Parikrama yaitu sebuah acara napak tilas perjalanan suci dari Kolkatta menuju Shantiniketan, dan acara pembacaan kembali karya-karya sastra Tagore dalam perayaan-perayaan tahunan. Warisan budaya ini terlihat begitu gamblang dalam kehidupan bangsa Bengali, yang menyentuh dalam segenap aspek kehidupan, dari bahasa dan seni hingga sejarah dan kehidupan politik; tentunya juga Amartya Sen, penerima Nobel Sastra, memberikan catatan, bahkan bagi masyarakat Bengali modern, Tagore adalah tokoh besar, seorang pemikir kontemporer yang amat sangat relevan. Tagore mengumpulkan tulisan berbahasa Bengali — Rabīndra Racanāvalī, 1939 — merupakan salah satu harta kekayaan budaya Bengali yang amat berharga, dimana Tagore sendiri diproklamirkan sebagai "pujangga terhebat yang dilahirkan India". Ia juga sangat dikenal di Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur. Ia adalah kunci dalam pendirian Dartington Hall School, sebuah institusi pendidikan progresif; di Jepang, ia memberi pengaruh pada Yasunari Kawabata, seorang penerima penghargaan Nobel juga. Karya-karya Tagore diterjemahkan kedalam banyak bahasa-bahasa di Eropa — sebuah proses yang diawali oleh pakar indologi berkebangsaan Ceko, Vincent Slesny dan penerima penghargaan Nobel Sastra dari Perancis, André Gide — termasuk juga dalam bahasa Rusia, Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol dan yang lainnya. Di Amerika Serikat, Tagore populer saat memberikan kuliah (khususnya pada masa 1916-1917) yang banyak dihadiri pengunjung.
Karya Tagore yang diterjemahkan kedalam bahasa Spanyol membawa pengaruh bagi figur-figur sastra Spanyol, termasuk diantaranya Chileans Pablo Neruda dan Gabriela Mistral, sastrawan Meksiko, Octavio Paz dan sastrawan berkebangsaan Spanyol José Ortega y Gasset, Zenobia Camprubí dan Juan Ramón Jiménez. Antara tahun 1914 dan 1922, pasangan suami istri Jiménez-Camprubí menterjemahkan tidak kurang dari duapuluh dua buah karya Tagore dari bahasa Inggris ke bahasa Spanyol.

Pengaruh Tagore, tidak hanya berkisar di Eropa dan Amerika, di Indonesia pun Tagore dikenal dan di kota Surakarta, salah satu ruas jalan diberi nama sang maestro. Pengaruh-pengaruh Tagore dalam dunia pendidikan, banyak diadopsi oleh para pejuang kemanusiaan, termasuk salah satunya adalah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Shantiniketan menjadi sumber inspirasi beliau dalam mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Selain itu, beranjak dari karya besarnya pula, taman pendidikan Shantiniketan dijadikan sebagai salah satu acuan dalam sistem pelaksanaan pendidikan di Pondok Gontor selain Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Aligarh di India.

Tagore meninggalkan warisan yang teramat besar pada dunia, tidak hanya dengan karya-karya sastra, seni dan budaya, namun pemikiran, filsafat dan kehidupannya terus berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi dunia dan umat manusia.

Menuju Kangen


Menuju Kangen.........

Burung gereja sudah selesai dengan sayap-sayap kecilnya
mencari angin menadah hujan
pada tepi tiang jendela dan siku-siku rumah
mata api hari ini membakar sepi
dan bulan menjadi tengkorak yang dilupakan
putih tanpa nyala

aku kangen
kangen pada selendang yang kau ikatkan di masa-masa lama
jalan-jalan kita dan cerita di tengah malam
aku kangen pada ingatanmu
tentang kolesterol atau darah tinggi

Laut menghitam angkasa menjadi neraka
tak peduli ombak meraksasa sebesar gunung semeru
matamu yang kuingat menusuk tajam pelan-pelan
Terpaksa hidup kutantang sendirian

Sore dulu begitu indah
dengan gagasan dan warna pelangi
seribu kenangan menyerbu bagai roman picisan yang tak kunjung selesai
dan mata hujan menjadi langit-langit setiap bab cerita yang kita bacai

Bunga itu tumbuh pelan
bunga yang kau tanam dengan derasan tanganmu dan doamu di tiap malam
sajadah merah sudah bersimbah air mata
dan lamunan kekesalan menjadi kerak-kerak luka

Aku kangen dan ingin memelukmu
aku rindu pada badai yang membesarkan pikiran
aku rindu pada gairah membangun masa depan yang kau sodorkan
aku rindu pada impian raksasa
aku rindu pada kesederhanaan

Balok-balok kayu dan batu yang sudah kau susun di hatiku
kini sudah menjadi pintu membaja
susah untuk dibuka
mengganti hati, hanyalah urusan tawar-menawar kehidupan
bukan ketulusan, bukan niat menemani

Kesetiaan apakah bisa aku pertahankan
tak peduli aku harus menjadi majnun yang merenungkan layla
tak peduli aku harus menjadi Romeo yang kapiran

Malam ini menepi
esok pagi datang
dan separuh jiwaku hilang
aku kangen
Rinduku adalah sayap-sayap patah yang kehilangan arah
burung tak lagi punya nama
harimau tak lagi prabawa
tanpamu separuh jiwa terbang ke langit jingga

Aku mencintaimu lebih dari tapal batas yang engkau mengerti
aku menyayangimu seperti seorang ibu pada anaknya, tanpa batas waktu

Luka ini sudah menjadi candi batu
diam membisu di hatiku
ruang suci candi hanya menyimpan namamu
dan ketika perkamen-perkamen kisahmu dibuka
hanya kangen yang aku rasai.

ANTON

Desember, Natal dan Hujan


Desember, Natal dan Hujan

Entahlah, aku selalu menyukai bulan Desember
Bulan penuh rajutan air hujan, genangan di lubang aspal dan selokan
Tentang Desember
Tentang Nyanyian Natal

Desember,
Udara abu-abu, embun malu-malu
pada pucuk cemara, pada ranting yang mendesah
kepada angin, surat-surat yang sudah lama tak dibuka
jalanan usang, cerita lama
tentang masa lalu yang patah
atau sendal koyak menahan sejarah
berlalu tanpa sedikitpun aksara

Pada desember, ketika air hujan menjadi warna jendela
dan perempuan lacur mengharapkan Tuhan di tengah ladang kerjanya

Pada Desember, Ketika air mata melompati pagar hati
seorang laki-laki yang gagal menjadi bapak
kerna tak kuat beli susu di toko.

Pada Desember, ketika malam menepikan bulan
dan permulaan datang menghujankan batang-batang kapas
luruh semua
menjadi kegamangan masa silam

Dunia berputar seturut kipas waktu
dan Desember mengakhirinya dengan sikap ragu

Pada bulan Desember
Kekecewaan dan Harapan menjadi tulang iga kehidupan
Nyanyian Natal disuarakan
Dan Bunda Maria menurunkan tangannya
Pada Bulan Desember, Kasih Tuhan di Langit, Membumikan Manusia...........

ANTON

Salvatore Guillano, Bandit Sisilia yang Legendaris


Sebagaimana kebanyakan orang, ia terjun ke dunia bandit karena keterpaksaan hidup. Ayahnya meninggal, kakak tertuanya dipanggil berperang, otomatis ialah menjadi kepala keluarga yang harus member makan keluarganya. Saat itu Salvatore berusia 20 tahun. Di usia muda dia harus memikul beban sangat berat , menjadi tulang punggung keluarga.

Salvatore memang tidak berumur panjang, Ia tewas usia 28 tahun. Namun kenangan akan perbuatan baiknya tetap hidup di hati rakyat. Dia sempat terjun ke dunia politik. Sikapnya jelas dan tegas, dia anti komunis, anti-mafioso, dia juga salah satu pemimpin pemberontak di Sicilia. Sikapnya yg kerap dan anti Mafioso ini justru menghantarnya pada maut. Ia dibunuh pada 5 Juli 1950 oleh sepupunya sendiri yang telah dibayar oleh Don, pemimpin mafia dari Palermo.

Friday, 20 August 2010

Karakter Orang Bali


Karakter Orang Bali

Logat Buleleng penuh dengan kata-kata yang kasar dan umpatan yang menyebut-nyebut binatang. Tetapi dialog jorok itu tidak menimbulkan pertengkaran, justru itu simbol dari kekerabatan yang kental. Beh, cicinge mara teka, peteka bulu matane, pidan nani teka uli Jawa, begitu sapa seseorang. Yang disapa menjawab, Bangsat cai, dan seterusnya. Mereka tidak bertengkar, malah tertawa-tawa lalu makan bersama menghilangkan rasa kangen. Padahal kalau "bahasa pergaulan" itu diterjemahkan menjadi sangat kasar untuk didengar.

Lain Buleleng, lain pula Gianyar. Bahasanya pelan, iramanya halus, dan penuh basa-basi. Para pelawak itu melukiskan dengan pas, dengan kadar banyolan yang bagus, ketika menceritakan dua sahabat yang lama tak bertemu, lalu saling kunjung, persis seperti orang Buleleng tadi. Demikian akrab obrolan dengan tutur kata yang bagus, sehingga tak terasa waktu sudah terbuang lama. Ketika sang tamu pulang, eh... baru tuan rumah menawarkan minuman. Dong gegeson pesan mulih, tusing ngidih kopi malu?

Bagaimana dengan Karangasem? Tutur bahasanya pun bagus, tak ada umpatan kasar seperti di Buleleng, tetapi juga tak ada basa-basi seperti di Gianyar. Namun, jika salah omong sedikit langsung tersinggung dan nyerocos pergi. Beberapa saat tiba-tiba batu melayang karena ketersinggungan dan salah paham itu menimbulkan marah yang harus segera dilampiaskan.

Ini tentu saja bukan gambaran yang sebenarnya dari perilaku orang Bali, dan tentu saja tak semudah itu mengkotak-kotakkan tabiat orang berdasarkan kabupaten. Namanya saja lawakan, hanya lelucon untuk memancing orang tertawa, meski pun kadang menertawakan diri sendiri.

Betapa pun itu sebuah banyolan. Kasus-kasus yang dijadikan banyolan itu tentulah ada meskipun kemudian dilebih-lebihkan. Bahasa pergaulan di Buleleng memang ada yang sekasar itu, tetapi tidak semua orang Buleleng sekasar itu. Orang Buleleng yang tutur bahasanya bagus jauh lebih banyak lagi. Seperti halnya orang Karangasem yang berperilaku halus, sopan, tak pernah memendam dendam, tentu lebih banyak jumlahnya dibandingkan yang suka berkelahi. Tetapi yang mudah tersinggung, lalu memendam marah dan melampiaskan dengan kekerasan, juga ada. Berbagai kasus perkelahian, baik satu lawan satu maupun banjar lawan banjar, kerap terjadi. Yang menjadi bahan sengketa pun bukan saja harta pribadi, tetapi juga bangunan suci. Kasus Pura Kerandan di Culik, misalnya, berlarut-larut penyelesaiannya. Bahkan Kahyangan Lempuyang Madya, stana Mpu Gni Jaya, menjadi bahan rebutan dari beberapa kelompok umat.

***

APAKAH penduduk Karangasem suka berperang? Kalau membaca sejarah, heroisme rakyat Karangasem itu memang tinggi. Ekspansi tentara Kerajaan Karangasem ke Lombok merupakan sukses besar bagaimana sebuah kerajaan di Bali memperlebar pengaruh politiknya ke seberang lautan. Tak ada sebuah kerajaan lain di Bali selain Karangasem yang punya semangat untuk menaklukkan wilayah yang berbatasan dengan laut, sebuah kisah penyerangan yang penuh dengan perhitungan. Kalau saja tak ada ekspansi itu, barangkali Pulau Lombok, khususnya di Kodya Mataram dan Lombok Barat, tidak bernuansa Bali seperti yang ada sekarang ini.

Apakah tradisi berperang itu diwariskan sampai sekarang? Ini tentu pertanyaan yang sulit dijawab. Apalagi kalau kita mengaitkan kasus-kasus perkelahian dan kekerasan yang kerap terjadi di kabupaten paling timur di Bali ini, tentulah kita tak bisa serta merta menyebutkan ini sebagai sebuah tradisi.

Tetapi, tentu saja heroisme perang itu, dengan simbol-simbol perangnya, bisa didokumentasikan lewat kesenian. Misalnya, gebug ende. Ini kesenian yang menunjukkan kepahlawanan individu, bagaimana memainkan tongkat dan tameng sebagai perisai menghadapi pukulan lawan. Kesenian yang berkembang di Karangasem ini juga terdapat di Lombok, tentunya dengan sedikit variasi.

Perang pandan, seni tradisi yang dikaitkan dengan ritual di Tenganan Pegringsingan, mungkin juga adalah semangat kepahlawanan individu. Namun, apakah ini muncul dari tradisi rakyat Karangasem yang sejak dulu suka berperang? Atau justru ini warisan sangat kuno jauh sebelum Raja Karangasem memutuskan untuk menaklukkan Lombok?

Begitu pula berbagai bentuk tari sakral, seperti baris yang berjenis-jenis itu. Kesenian tradisi ini tetap dipertahankan di wilayah Karangasem dan selalu muncul pada berbagai upacara agama, termasuk upacara di Pura Besakih. Kostum penari, gerak-gerak tarinya, peralatan yang dibawa adalah simbol-simbol perang. Kalau cara-cara persembahyangan sekarang ini mau dijadikan tolok ukur untuk melihat fenomena kesenian tradisi itu, memangnya siapa yang mau diperangi ketika kita memasuki sebuah pura? Apa ada orang bersembahyang sambil menikmati dan membayangkan perang?

Semangat perang memang sangat positif dikemas dalam bentuk seni. Apalagi kalau itu menjadi seni yang khas, semacam gebug ende, perang pandan dan sebagainya. Kekhasan ini tentu saja harus dipertahankan, tetapi sebaiknya dicari juga gerak-gerak yang lebih artistik sebelum melakukan gerak perang.

Dalam gebug ende, misalnya, kedua petarung sebaiknya melakukan gerakan olah seni lebih dulu, sebelum saling pukul. Jadi, tidak seperti yang selama ini terlihat, begitu memasuki arena langsung gedebag-gedebug. Tirulah silat Tabanan atau Jembrana, sebelum berduel ada jurus-jurus manis yang enak dilihat. Atau kalau kita menoleh ke luar, ada kesenian Dayak yang patut dicontoh. Gerak-gerak perangnya diolah sedemikian rupa, sehingga unsur seni lebih menonjol dibandingkan unsur olah raga. Gebug ende sekarang ini masih dominan unsur olah raganya.

Unsur apa pun yang menonjol, olah raga atau seni, semangat perang yang diwariskan oleh rakyat Karangasem haruslah dikemas dalam bentuk budaya. Jangan diwariskan dengan semangat permusuhan.

(Diambil dari beberapa sumber)

Salvador Allende, Penguasa Marxist Amerika Latin Pertama.



Salvador Allende, Icon terakhir tumbangnya penguasa populis yang diruntuhkan oleh militer. Amerika Serikat sering menggunakan kekuatan Militer sebagai 'kebijakan antara' menuju pembukaan Pasar Bebas. Penumbangan Allende, mengikuti sukses CIA di Djakarta, operasi militer yang dipimpin Pinochet 1973 dinamakan "Operation Djakarta"

Salvador Allende bisa dibilang merupakan Kepala Negara berparadigma Marxist pertama yang terpilih secara demokratis lewat PEMILU (bukan lewat revolusi). Allende yang berasal dari The Popular Unity sebuah partai aliansi kekuatan-kekuatan kiri dan progresif Chili menjadi presiden pada PEMILU tahun 1970. Sebagai seorang Marxist, arah kebijakan ekonomi -poltik Allende dapat ditebak bertiup ke arah mana. Sejak Allende berkuasa, pemerintah mengambil alih kepemilikan tambang tembaga dan perusahaan-perusahaan asing lainnya (nasionalisasi). Tahun 1971 dengan persetujuan bulat dari Kongres, Allende melakukan nasionalisasi penuh perusahaan tambang milik perusahaan Amerika Serikat, Kennecot and Annaconda. Allende juga melakukan redistribusi lahan dengan land reform, Lahan yang sebelumnya hanya dikuasai segelintir orang saja segera didistribusikan kepada penghuni yang bekerja dan menggarap.