Wednesday, 30 November 2011

Obrolan ringan Beckham Syahrini pada saat Dinner

Dalam dinner tadi malam, david beckham berusaha untuk ramah terhadap syahrini
Beckham : " Do U like salad ?"Dikira nanyain sholat, Syahrini menjawab : "Oh yes, five times a day."
Beckham : " Wow, that's very healthy. What kind of dressing ...do you like for salad ?"
Syahrini : "Mukena, of course."
Si Beckham berfikir keras 'that must be a new dressing for salad I never knew it before'

Sampai di bagian chinese food, Si Jambul Khatulistiwa berusaha membalas keramahan Beckham . Bahasa Inggris pas-pasan, tapi nekad :
Syahrini (sambil nyendok mie yg masih panas) : " Do you like mie ?"
Beckham (bingung, dipikirnya me, saya) : "Eeeemmm....yes. With all respect."
Syahrini (dg mantap menimpali) : "Mmmm ... still hot you know"
Beckham : ?!-+@% :D=D=))

Monday, 28 November 2011

Kronologis

1630 : Banten mulai dikuasai Belanda
1775 : Seluruh wilayah Mataram Islam dikuasai Belanda
1830 : Belanda bisa menghancurkan separatis terbesar sepanjang sejarah Jawa : Pangeran Diponegoro, sekaligus melancarkan bisnis konsesi-konsesi perkebunan, lelang lahan dilangsungkan di Jerman, Perancis dan Inggris dalam road show pemerintahan Hindia Belanda yang diketuai Van den Bosch. Dalam Road Show
1830-1835 didapatkan hasil 4,5 juta gulden untuk investasi perkebunan, terbesar adalah pengusaha dari Jerman. Sekaligus Jerman menyediakan pasukan bayaran untuk memperkuat armada pengamanan investasi di Belanda.

1907 : Amerika Serikat mulai menempatkan Konsulat Jenderal dan tugas utamanya adalah memperhatikan perkembangan ekonomi Hindia Belanda.

1909 : Kebijakan Intelijen pertama Jepang setelah kemenangan Jepang atas Russia yaitu menyelidiki seluruh aspek Imperialisme Eropa Barat di Asia Pasifik sekaligus mengestimasi pengalihan Koloni-Koloni ke tangan Jepang bila terjadi Perang Asia Pasifik dan membebaskan Asia dimana Asia akan dikonsolidasikan ke dalam sebuah pasar domestik besar bernama Asia Timur Raya. Lalu Jepang melakukan pengiriman seribu orang di Jawa, Sumatera, Malaya, Thailand dan Filipina dengan operasi paling rahasia yang disebut Operasi Sakura. Rata-rata Intel Jepang menggunakan toko-toko sebagai pusat intel mereka. Pangkat Intel dimulai dari Kapten sampai Kolonel.

1910 : Seluruh Atjeh dikuasai Belanda dan Van Heutz berpidato di Istana Gambir atas kemenangan Belanda menguasai Atjeh. Van Heutz mengarahkan pada politik perang menaklukkan seluruh kerajaan di Bali yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda.

1938 : Belanda menolak persekutuan Pribumi-Belanda untuk mengantisipasi kedatangan Jepang.
1939 : Belanda melakukan pembelian senjata ringan dalam jumlah besar lewat perusahaan senjata di Singapura dan melakukan kerjasama dengan Inggris untuk bersiap menghadapi sekutu. Pusat kerjasama politik dan intelijen di tunjuk oleh perjanjian itu adalah Kota Bandung.
1940 : Belanda mulai mendatangkan kapal-kapal tempur ukuran besar di Laut Surabaya.
1942 : Jepang masuk
1945 : Kaum Sosialis memerdekakan Indonesia 17 Agustus 1945
1967 : Indonesia dijajah lagi oleh Amerika Serikat dengan Jenderal Suharto sebagai Presiden boneka AS.

1974 : Ada usaha Jepang untuk merebut pasar domestik Amerika Serikat

1978 : Suharto mendapat perlawanan politik besar mahasiswa yang menggugat untuk menggantikan dirinya.

1979 : Suharto berhasil menggebuk mahasiswa lewat politik NKK/BKK Daoed Joesoef.

1985 : Suharto merasa tidak nyaman dengan kekuatan Islam yang mulai membesar dan isu adanya impor revolusi Iran. Tak ada jalan lain bagi Suharto kecuali menggunakan kekuatan Sukarnois untuk muncul ke muka dan memanfaatkan nasionalisme kiri untuk menutupi gerakan penggembosan PPP.

1986 : Foto Sukarno diarak warga Jakarta dan kemudian menyebar jadi alat politik jalanan, sementara Suharto diam-diam menggebuk PPP lalu menempatkan John Naro sebagai kartu politik penting di PPP. Gus Dur berhasil diajak masuk ke Golkar dan ikut-ikutan merusak PPP. Megawati dinominasikan oleh kader PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, Drs. Suryadi dan Megawati mulai jadi bintang politik oposisi paling fenomenal sepanjang sejarah Orde Baru.

1988 : Amerika Serikat memenangkan pasar domestik sejak diciptakan Paket-Paket ala Sumarlin yang menderegulasi seluruh Perbankan dan Pasar Modal.

1988 : Suharto merasa capek menjadi boneka AS ia mulai melirik Jerman Barat sebagai kekuatan baru ekonomi dunia sebagai kiblat ekonomi, pandangan Suharto ini dipengaruhi oleh BJ Habibie.

1989 : Politik Indonesia memanas ketika Sudharmono yang dituduh mengetahui atas peristiwa Madiun 1948, dan mulai dimusuhi kelompok Benny Moerdani. Perpecahan ini sebagai awal konflik internal militer fase kedua setelah peristiwa Pekan Baru 1980. Permusuhan Bennya Moerdani terhadap klik muda Suharto juga menjadi bagian penting dalam rentetan kejatuhan Suharto kelak.

1992 : Kekuatan nasionalisme kiri pro Sukarno bangkit dan malah kebablasan kemana-mana menjadi peluru politik besar, yang memanfaatkan justru bukan hanya PNI lama atau eks tapol dan kekuatan-kekuatan yang dipinggirkan pada era pendongkelan Sukarno tapi juga kelompok PSI yang dulu ikut mendongkel Bung Karno.

1993 : Politik pembantaian terhadap Megawati dimulai

1994 : Permadi di sebuah seminar menantang Amin Rais untuk mencalonkan diri jadi Presiden RI, hal ini ditanggapi intel dengan amat berlebihan.

1996 : Ibu Negara, Bu Tien meninggal dunia. Suharto melakukan blunder paling memalukan sepanjang karir politiknya yaitu : penyerangan ke markas PDIP dimana tidak semua Jenderal menyetujui termasuk penolakan Jenderal Suyono menantu eks ajudan Sukarno : Brigjen Sugandhi.

1997 : Paket-Paket Sumarlin menjadi senjata makan tuan, Bank-bank yang banyak didirikan pedagang Glodok (bahkan ada ibu2 jualan kue bisa bikin Bank) menjadi sumber defisit negara akibat kredit besar-besaran yang hanya disalurkan pada kelompok bisnisnya sendiri.

1998 : Amerika Serikat menjatuhkan Pemerintahan Boneka buatannya sendiri : Suharto.
1999 : Amerika Serikat mulai melakukan test case atas pelepasan Timor Timur untuk menguji kekuatan militer Indonesia, ternyata dalam kasus Timtim tak terduga kekuatan Sosial menjadikan korban di pihak Indonesia.

2000 : Mulai bermunculan orang-orang kaya baru yang memanfaatkan krisis 1998 dengan membeli perusahaan kolaps dengan harga murah dan saluran dana ini adalah sisa-sisa rezim lama. Kekuatan modal kaum kaya baru inilah yang kelak jadi patron penting dalam sejarah politik permodalan pada era demokrasi reformasi. Kaum kaya ini masuk ke parpol-parpol dan menjadi cukong politik.

2002 : Megawati melakukan dansa politik dengan PM Cina, sekaligus mulai menasbihkan Indonesia akan jadi sekutu terbesar di Cina. Masuknya Megawati ke lingkaran Cina membuat Amerika Serikat marah besar.

2003 : Yudhoyono, selaku Menteri mengatakan tanpa malu di depan Pejabat AS : "Amerika Serikat adalah negara kedua bagi saya, saya tak peduli dengan kesalahan-kesalahannya" Pernyataan Yudhoyono ini mengakui atas dua hal : 1. Yudhoyono tidak bersikap kritis atas sejarah pembantaian 3 juta nyawa di Indonesia dan pengiriman ribuan orang ke kamp kerja paksa Pulau Buru dimana AS ikut bertanggung jawab atas tragedi tersebut. 2. Yudhoyono siap menjadi Pemimpin boneka yang baru. Sekaligus menjawab pertanyaan besar AS : "Siapakah yang harus dipilih selain Megawati".

2004 : Amerika Serikat sudah menemukan sekutu politiknya yang paling bisa diandalkan : Yudhoyono.

2011 : Amerika Serikat menempatkan pangkalan militernya di Darwin, Australia.

Sejarah adalah pengulangan terus menerus dan sudah menjadi takdir sejarah bahwa Indonesia merupakan sejarah dari pengulangan-pengulangan intervensi asing yang selalu saja menimbulkan korban jiwa dan rakyat yang tinggal di dalamnya tak pernah sejahtera.

satu-satunya permata

Indonesia adalah satu-satunya permata tunggal milik AS yang masih kokoh untuk jadi negara budak mereka, Presiden SBY masih sempat bilang AS adalah negeri keduanya, Malaysia-Brunei-Singapore jelas milik Inggris, Filipina masih dibawah pengaruh AS tapi Pinoy tak memiliki apa-apa kecuali perkebunan-perkebunan sisa jaman lama, Thailand sejak awal sudah netral, Vietnam dan Myanmar pasti satu kaukus dengan RRC.

Satu persatu negara hegemoni AS runtuh di Amerika Latin. Pertama kali adalah Venezuela, disusul Argentina, Bolivia dan Brazil. Sementara Mexico kekuatan anti AS mulai menguat walaupun pemerintahannya yang sekarang masih dibawah kontrol AS. Kanada lama-lama juga tidak mau dekat dengan Amerika Serikat yang mulai sakit, Inggris cemas bila Kanada akan diakuisisi walaupun itu kelihatannya tak mungkin, tapi dalam soal perebutan sumber daya alam maka kepentingan nasional yang diutamakan.

Russia sudah mulai sembuh dari penyakit ekonominya yang ditinggalkan sejak jaman Gorby dan Yeltsin. Keluarga-keluarga sindikat mafia Russia yang tadinya adalah penjahat terorganisir kini diam-diam sudah menjadi jaringan pengusaha konglomerat dan memperkokoh ekonomi Russia. Agenda politik terpenting Putin adalah ekonomi Berdikari, ia mengoreksi seluruh kesalahan ekonomi yang dimulai sejak era Brezhnev dan mengakibatkan kebangkrutan ekonomi di era Gorby, kunci-kunci penting ekonomi diserahkan pada swasta ini sama persis apa yang dilakukan Lenin di awal pemerintahannya sekitar tahun 1919-1922. Hanya saja Lenin terlalu cepat mati dan memunculkan Stalin yang justru menggebuk pertanian untuk dikonversi jadi industri, pertanian individu diubah menjadi pertanian kolektif yang menyebabkan kelaparan, Putin tidak ingin mengulangi kesalahan Stalin ia mengandalkan impor pangan, tapi ia meneruskan program industrialisasi di dalam negeri mirip Stalin yang kemudian jadi kekuatan besar ekonomi dunia saat perjanjian Yalta 1945 di tepi pantai Krim ditandangani.

Brasil, Russia, India dan Cina (BRIC) jadi kekuatan dunia baru, menenggelamkan dunia lama seperti Eropa dan Amerika Serikat. Pasar domestik diantara mereka saja sudah cukup untuk menggerakkan dunia, peradaban dunia kembali kepada abad 12 dimana Asia masih menjadi pusat dunia. BRIC ini menurut istilah Ahmadinedjad adalah sebuah Kekuatan Negara-Negara Baru. Sesungguhnya ini sudah diramalkan lama oleh Bung Karno, tentang New Emerging Forces, tapi sayang Jenderal lulusan Schakel MULO macam Harto nggak tau pemikiran abstraks Sukarno, maka benarlah kata Mayjen S Parman menurut transkrip yang pernah dicoba diungkap pada prolog Gestapu 65 : "Harto iku pendidikane opo, kok arep-arep melu ngurus negoro". Ini soal Dewan Djenderal.

Sayang masih banyak generasi muda masih banyak meludahi Sukarno hanya gara-gara soal suka perempuan ataupun tetek bengek urusan penjarakan Sutan Sjahrir tahun 1960 yang di dalam dunia politik era itu adalah jamak. Toh, Sjahrir dulu bersama Amir Sjafruddin juga perintahkan penjarakan Tan Malaka dan kawan-kawannya.

Inilah nasib kita masih jadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa.

Sunday, 27 November 2011

Generasi Yang Besar di Tahun 80-an.....

Generasi yang dibesarkan tahun 80-an, adalah generasi di Tepi Tapal Batas Loncatan Jaman :

I GREW UP in the 80's. - We are the last generation who learned to play in the street, we are the 1st who've played video games, and were the last to record songs of the radio on cassettes and we are the pioneers of walkmans and chatrooms. - We learned how to program the VCR before anyone else, play with Atari, Super Nintendo & Genesis. - We also believed that the internet would be a free world. ...- We are the generation of the Thunder Cats, Power Rangers, Ninja Turtles, Transformers, Saved by the Bell, The Fresh Prince of Bel-Air, and Martin - Traveled in cars without seat belts or air-bags -lived without cell phones. - We didn't have 99+ television stations, flat screens, surround sound, mp3's, Ipods, Facebook, or Twitter, but nevertheless we had a GREAT Time!

Dibalik Sejarah Partai dan Kota

Kalau dipelajari ternyata setiap kota-kota di Indonesia ini memiliki sejarah kepartaian yang amat erat kaitannya dengan jejak sejarah Partai dan kebanyakan dari kejadian-kejadian besar yang amat mempengaruhi Partai di masa lalu.

Cirebon :

Tak disangka ternyata Cirebon ini adalah basis PSI (Partai Sosialis Indonesia) hampir seluruh kejadian penting PSI selalu bermula di Cirebon, mulai dari Prok...lamasi Kemerdekaan ala dokter Sudarsono yang kelak jadi tokoh penting PSI, agenda pembentukan PSI setelah bubar kongsi dengan PS-Sjahrir Amir, ataupun ketika Sukarno dan Angkatan Darat melakukan bredel terhadap PSI. Gemsos, gerakan muda sosialis PSI juga banyak lahir dari kota ini. Tokoh terpenting PSI yang masih hidup dan sekarang jadi sesepuh PKS, Suripto lahir di kota ini.

Semarang-Solo :

Kota Semarang dan Solo selalu selamanya akan jadi basis PKI. Pemogokan-pemogokan yang dilakukan gerakan komunis di masa silam adalah bagian tak terlepaskan dari sejarah kota Semarang. Sementara hampir semua tokoh-tokoh penting PKI yang lari dikejar tentara entah mengapa selalu sembunyi di kota Solo.

Yogyakarta :

Yogyakarta ini basis terpenting PNI, sulit memisahkan alam bawah sadar orang Yogya dengan Bung Karno, inilah kenapa di tahun 1970-an awal ada gejolak batin bagi orang Yogya ketika Sultan HB IX memilih Golkar sebagai basis mesin politiknya, saat itu penduduk Yogya terpecah, setia pada Sultan atau tetap mengenang Bung Karno sebagai bagian terindah dalam hidup mereka.

Jakarta :

Jakarta adalah basis penting Partai Murba, partai bentukan Tan Malaka. Walaupun ketika Murba berdiri, Jakarta bukanlah bagian dari gerakan Murba seperti di Yogya dan Solo, tapi setelah kematian Tan Malaka, Jakarta adalah pusat dari segala gerakan orang-orang Murba. Hampir semua anak didik Tan Malaka lahir dari sebuah toko buku di Pasar Senen bekas dimana Adam Malik sering nongkrong tiap pagi sambil baca komik dan meracau. Di kota inilah para pejuang-pejuang akhir Murba meneteskan air matanya ketika mereka menyaksikan Murba digabung ke PDI lewat fusi paksa 1973.

Padang :

Sulit melepaskan jiwa kota Padang dengan Masjumi, orang Minangkabau ini orang paling eksentrik se Indonesia, mereka bisa melahirkan Islam yang amat fanatik tapi juga gerakan Komunis lahir dari otak orang-orang Minang. Di antara suku-suku se Indonesia, orang Minanglah yang paling banyak memproduksi gagasan-gagasan politik dan salah satunya adalah Masjumi. Masjumi menjadi gerakan politik Islam urban dan sebagai lambang kekuatan Islam di luar Jawa menandingi gerakan Islam yang lahir di Jawa seperti Muhammadiyah dan NU.

Sebuah kota bukan hanya barisan tembok-tembok, tapi ia juga menyimpan banyak kejadian tentang masa lalu........

Kita adalah Ibu Kandung dari Keadaan ini

Selama kita mengagumi dan menganggap ukuran prestasi adalah kepemilikan benda-benda, ukuran gengsi sosial itu adalah kekayaan dengan berapa jumlah di rekening kita, derajat kemanusiaan dinilai dari kemampuan kita mengakumulasi kekayaan selama itu pula sistem negeri ini akan selalu melahirkan bajingan-bajingan politik dengan anggaran negara sebagai pusar seluruh kerja politik mereka, demokrasi hanya akan menghasilkan sebarisan kaum dungu yang tak tau malu, dan agama hanya memproduksi orang yang pintar bicara dan menjual ayat dengan harga murah. Budayawan-budayawan kita berubah menjadi pedagang pandai menghitung rekening di setiap pertunjukan, pelukis-pelukis kita tidak lagi merenung dengan kegilaan fantasinya tapi malah asik mengestimasi harga gorengan lelang di pasar lukisan dunia. Sastrawan-sastrawan kita menulis hanya untuk uang atau hanya bisa terlihat hebat di mata kawan-kawannya.

Kita selalu marah dengan keadaan yang kian memburuk ini, tapi kita sendiri adalah ibu kandung dari keadaan ini, kitalah yang melahirkan kondisi bejat seperti ini. Tanpa sadar, kita mengagumi orang-orang yang pandai korupsi, tanpa sadar ibu-ibu lebih menyukai memiliki menantu seorang pejabat pajak yang pandai tilap laporan-laporan pajak ketimbang seorang guru yang jujur, kita lebih menghargai politikus yang memiliki duit trilyunan ketimbang pejuang kemanusiaan yang bertarung sendirian di tengah masyarakat.

Berhentilah mengagumi kekuatan benda-benda, berhentilah mengagumi kekayaan, karena hakikat kemanusiaan itu diletakkan sejauh mana manusia berguna bagi masyarakatnya, bagaimana manusia bisa menjadikan hidupnya lebih baik bagi orang lain, karena inilah inti ajaran hidup yang selalu dipesankan oleh orang-orang tua kita yang tau bagaimana menikmati hidup dengan nada tertawa.

Sekali lagi, kembalilah pada kemanusiaanmu.

Rasa Keindonesiaan......

Abis baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya, tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton, saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.

Hebatnya lagi orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun, bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu tentang kerinduan pada bangsanya.

Mencintai bangsa adalah hal yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri, namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.

Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........

Motivasi Ala Sukarno


Apabila Mario Teguh hanya menciptakan kata-kata motivasinya sebagai candu bagi pendengarnya, maka Bung Karno menciptakan kata-kata menjadi sebuah wujud, sebuah gerak, menjadi sebuah alur drama perjalanan bangsa ini, dialah orang yang mampu menggerakkan jutaan orang untuk berbuat untuk mimpi yang sama, membeli cita-cita yang sama -Sebuah kebesaran dan kehormatan Indonesia Raya.

Inilah salah satu kalimat motivasi Sukarno : "Bangsa yang tidak percaya pada kemampuan dirinya sebagai bangsa, tidak berhak menjadi bangsa yang merdeka." Dan katanya lagi, "Jangan mengeluh, karena mengeluh pertanda kelemahan jiwa. Kita harus sanggup digembleng oleh keadaan. Hampir hancur lebur bangun kembali, hampir hancur lebur bangun kembali."

Saturday, 26 November 2011

Kisah Jembatan Bung Karno



Kisah Jembatan Bung Karno

Pada tahun 1923 seorang Residen Palembang Le Cocq de Ville menyusuri sungai Musi. Ia melihat sekeliling sungai dan banyaknya perahu yang lalu lalang, kemudian kapalnya merapat ke sebuah rumah kepala lingkungan di tepi Sungai Musi. Di sana Le Ville bertanya “Kenapa seberang Ulu dan Seberang Ilir ini tidak disatukan jembatan?” tanya De Ville sambil tangannya menunjuk arah dua tempat itu. Kepala lingkungan menjawab dengan sopan “Dulu waktu pembentukan Gemente (Pemerintahan Kota) Palembang sekitar tahun 1906, ide ini pernah ada...tapi kabarnya tidak jadi karena Batavia sedang sibuk urusan di tempat lain, saya waktu itu juga hadir dalam pertemuan di Gemente”.

De Ville berpikir keras ide ini hebat juga, ia ingin meninggalkan kenangan sebagai pembangun Jembatan besar di Sungai Musi. Pada tahun 1924, de Ville berangkat ke Batavia, sesampainya di Batavia ia diajak ke tempat peristirahatan Gubernur Jenderal di Buitenzorg Bogor. Sesampainya di Bogor, Gubernur Jenderal bertanya pada de Ville “Bagaimana pembangunan kota Palembang?”

De Ville menjawab “saya ingin Batavia membangun Jembatan di Sungai Musi”. Gubernur Jenderal mengangguk-angguk “Sebenarnya dulu sudah mau dibangun, tapi Batavia sedang sibuk bangun kota Bandung, konsentrasi diarahkan kesana semua, terbukti kontes kota-kota kolonial di Afrika Selatan Bandung jadi kota koloni terbaik sedunia”.....

De Ville mengeluarkan rencana jembatan yang dibuat oleh arsitek temannya. Gubernur Jenderal menyimak gambar tersebut kemudian memerintahkan ajudannya untuk menyimpan gambar. Pada tahun 1928 ada kabar bahwa Jembatan akan dibangun, tapi kemudian rencana itu dibatalkan karena sedang ada resesi dunia di tahun 1929, Batavia mengambil kebijakan untuk proyek raksasa semuanya dihentikan dulu.

Kecewa dengan batalnya rencana ini, de Ville memesankan kepada beberapa pemimpin di Palembang untuk tetap berjuang dalam membangun Jembatan Sungai Musi. Idee de Ville ini justru terlaksana ketika Hindia Belanda bangkrut dan Palembang dikuasai oleh orang-orang Republik. Pada tahun 1956 dibentuklah Parlemen Daerah Peralihan Awal untuk Kota Palembang. Beberapa pemimpin Palembang hadir dalam rapat pleno Parlemen Peralihan itu, seperti Penguasa Perang Daerah Kolonel Harun Sohar, Gubernur Palembang H.A Bastari dan walikota Palembang M. Ali Amin. Dalam rapat itu usulan besarnya adalah membangun Jembatan di Sungai Musi, disepakati nama Jembatan itu adalah Jembatan Musi. Setelah rapat pleno usai, beberapa pemimpin berkumpul di ruang pertemuan gubernuran untuk membahas pembangunan Jembatan Musi yang sudah disetujui Parlemen Daerah (DPRD), mereka sepakat untuk mengumpulkan modal awal dulu. Pada tahun 1957, panitia kemudian berhasil mengumpulkan modal awal Rp. 30.000,-. Di tahun itu juga kemudian beberapa orang mengusulkan agar melapor ke Djakarta untuk meminta anggaran pembangunan Jembatan Musi.

Beberapa pemimpin Palembang seperti Gubernur Bastari, Penguasa Perang Daerah Kolonel Harun Sohar, Walikota Ali Amin dan seorang pengusaha bernama Indra Caya, berusaha menemui Bung Karno. Saat itu Bung Karno baru saja pulang dari lawatannya ke beberapa negara.

Bung Karno dilapori ajudannya Kolonel Sugandhi tentang adanya beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai Tim Pembangunan Jembatan Musi akan menemui dirinya. Sukarno membaca surat permintaan bertemu, dengan singkat Bung Karno berkata pada Gandhi “Segera pertemukan pada saya”.

Tim itu akhirnya diundang sore hari untuk menikmati teh panas dan beberapa panganan gorengan. Mereka bicara di beranda Istana Negara sambil melihat-lihat taman. Sukarno bercerita soal dirinya yang Insinyur “Dulu saya ini hanya bangun jembatan-jembatan kecil, bikin jembatan se-iprit, kecil....saya tidak suka sebenarnya, saya suka dengan Jembatan yang mampu menggugah daya sadar, bukan saja Jembatan yang mampu membangunkan kekuatan ekonomi rakyat, tapi juga jembatan yang mampu menjadikan lambang dari kota itu, Jembatan itu harus aman, harus memberikan rasa aman kepada yang menggunakannya, jangan sampai dibangun lantas roboh, dibangun lantas roboh...dibangun lantas roboh....itu pernah terjadi di Belanda, makanya orang Belanda sangat hati-hati jikalau sedang membangun Jembatan, hitungannya teliti”.

Lalu Gubernur menyerahkan rencana pembangunan Jembatan kepada Bung Karno. Melihat rancangannya yang sedemikian sederhana Bung Karno menolak. “Saya akan buat yang lebih bagus lagi untuk Rakyat Palembang” lalu beberapa bertanya soal pendanaan. “Bagaimana dengan pendanaannya Pak...?” tanya mereka.

“Kalian tak usah pusing, urusan itu aku yang urus...yang penting bagaimana rakyat Palembang mampu mendapatkan kebanggaannya sekaligus meningkatkan kesejahteraannya lewat pembangunan Jembatan ini....”

Sukarno sudah memperhitungkan dengan baik, pembangunan Jembatan ini tidak akan memberatkan anggaran negara, ia tahu bahwa Perdana Menteri Djuanda sedang mempersiapkan tanda tangan pampasan perang Djepang. Pada tahun 1955 sebenarnya Pampasan Jepang itu akan cair, tapi Indonesia bersikeras Djepang harus membayar sekitar 17,7 Milyar Dollar karena Indonesia kehilangan 4 juta nyawa selama Indonesia di jajah Djepang. Sebenarnya dana Pampasan Perang Djepang ini adalah desakan sekutu pada konferensi di San Fransisco 1951 agar Djepang membayar ganti rugi kepada negara-negara eks jajahan. Namun Djepang selalu berkelit dan malah membuat rencana besar pampasan ini akan diubah bentuknya jadi pembukaan pasar domestik. Akhirnya Djepang hanya mau mengeluarkan 200 juta dollar untuk biaya pampasan Jepang, penghapusan hutang dan bantuan jangka panjang 400 juta dollar.

Tahun 1958 Sukarno sudah mendapatkan kabar dari Perdana Menteri Djuandan bahwa sekitar 20 juta dollar tahap pertama pampasan Jepang akan segera disetujui. Berdasarkan dari kabar inilah Sukarno menyusun salah satu rencananya membangun Jembatang Sungai Musi. Pada tahun 1960, dana benar-benar cair dan dimulailah Jembatan Musi.

Sukarno meminta kepada arsitek Jembatan Musi ini agar membangun boulevard di kedua sisi jembatan. Jembatan Musi dibangun dengan arsitek Jepang yang memang amat paham bagaimana membangun Jembatan di wilayah dengan resiko gempa tinggi. Sukarno meminta agar Jembatan itu bisa bertahan 100 tahun bahkan lebih, ahli-ahli Jepang itu menyanggupinya.

Pada tahun 1965, Jembatan itu selesai dibangun dan rakyat Palembang memberikan nama Jembatan itu “Jembatan Bung Karno”. Sebagai rasa terima kasih mereka kepada Presidennya yang telah berjuang membangun Jembatan di tengah kota Palembang dan menjadi kebanggaan rakyat Palembang. Tapi konspirasi Gestapu 65 membuat Sukarno terpuruk, saat ramai-ramainya demonstrasi 1966, Jembatan Bung Karno diganti namanya menjadi “Jembatan Ampera” Ampera ini singkatan “Amanat Penderitaan Rakyat”.

Friday, 25 November 2011

Tentang Rasa Syukur




Bersukurlah kamu bisa makan ditempat layak, bisa makan enak dengan tenang. Kerna jutaan diluar sana saudara-saudara kita sebangsa masih mengais-ngais untuk mencari nasi, masih makan dari tempat yang terbuang.

Apalah artinya kemerdekaan bila tidak membuat orang tertawa, bila tidak bisa menembus batas-batas kemiskinan. Negara ini didirikan bukan untuk memperkaya segelintir orang, bukan untuk memperkaya orang-orang berseragam. Ketika kita melihat Anggaran Jamuan Makan Gubernur DKI 4,9 Milyar dan Anggaran Makan Pemda DKI 19 Milyar. Lalu kenapa rakyatnya masih mengais-ngais sampah?

Negara ini didirikan agar menjadi rumah bersama, bukan jembatan yang memisahkan antara kamu dan aku, antara yang kaya dan miskin. Kemiskinan bukanlah takdir tapi sebuah kesalahan pengurusan dalam masyarakat, ketika kemiskinan kau anggap takdir maka detik itu juga engkau telah menghina Tuhan yang memberikan hadiah terbesar bagi manusia : Berpikir.

Kembalikan Indonesia Raya kedalam ranah kemanusiaannya, sebuah negara yang bisa mengembalikan manusia pada fungsi kemanusiaannya. Dan tak ada yang lebih besar daripada fungsi kemanusiaan kecuali dia bisa makan dengan cara yang terhormat.

Berpikirlah, karena agamamu selalu mengajarkan manusia untuk berpikir.........

Menulis Menghilangkan Rasa Sedih

Aksara yang kau tulis dalam kesedihan adalah air matamu, aksara yang menghiburmu. Saat kau menyusun kalimat yang tepat, detik itu juga kau sedang menafsirkan kesedihanmu. Menulis itu menguburkan rasa sedih dan merupakan daya hidup di hatimu untuk memaafkan dan membuatmu merasa damai. -Menulislah ketika engkau sedang bersedih.

Akibat Perceraian Jaman Sekarang

70% perceraian dini (usia pernikahan dibawah 5 tahun) terjadi karena pasangan gagap menghadapi realitas kapitalisme. Pengertian-pengertian kita selama ini bahwa pernikahan adalah ruang sakral terhadap cinta sesungguhnya sudah hancur ketika kapitalisme menjadi satu-satunya ruang hidup kita. Relasi kita tidak lagi didasari pada hubungan saling mencintai karena ruang kapitalisme itu sudah mengasingkan gegap cinta itu ke sudut gelap. Perjuangan membangun rumah kehidupan tidak lagi didasarkan pada daya hidup saling menyayangi tapi didasari pada siapa memanfaatkan siapa? - Konsumerisme-lah yang menyebabkan ini semua.

Bila pasangan di jaman lalu, melandaskan pernikahan pada status sosial, pekerjaan dan latar belakang keluarga juga meletakkan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan sosial dengan meletakkan relasi yang tidak seimbang antara kekuasaan lelaki dan ketidakberdayaan perempuan sehingga perempuan tidak bisa menjadi diri yang sebenarnya dan kebanyakan dari langgengnya pernikahan itu pada hubungan saling ketertindasan, maka di jaman sekarang relasi seperti itu sudah hancur. Relasi-relasi yang didasarkan pada pandangan konvensional (status sosial, pekerjaan suami atau latar belakang keluarga) tidak lagi menjadi landasan penting, yang terpenting adalah terciptanya arus kas yang lancar untuk menghidupkan kebahagiaan. Kebahagiaan dalam relasi kapitalisme adalah imajinasi-imajinasi konsumtif yang kemudian dijadikan ukuran dalam meletakkan kebahagiaan keluarga. Ketika suami tidak berdaya menghadapi kegagapan dalam menjelaskan relasi kapitalisme ini maka pernikahan diujung kehancuran.

Banyak pasangan muda yang kaget melihat relasi ini karena tertutupnya gambaran cinta seperti screen saver romantis yang menutupi dunia realitas. Realitas kita adalah realitas kapitalisme, setiap hirupan nafasmu adalah nafas kapitalisme, semua imajinasi kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kapitalisme dan ketika kita mencari alternatif-alternatif diluar itu maka kita akan terasingkan dalam masyarakat.

Landasan relasi kapitalisme inilah yang menjadikan alasan terpenting bagi terciptanya sebuah perceraian dengan selubung macam-macam : Ketidaksesuaian paham, perselingkuhan, keyakinan, gaya hidup dan pertikaian antar keluarga besar. Jadi sebelum engkau mengerti tentang hakikat pernikahan, mengerti dulu-lah tentang bagaimana struktur masyarakat bekerja, hubungan bisa dibangun berdasarkan apa? dan bagaimana sebuah relasi bisa bekerja dengan baik pada situasi-situasi kapitalisme.

Al Ustadz Anton.

Alam Sumatera Barat




Alam Sumatera Barat

Kampungku jauh di mata
pada selendang senja atau redup udara pagi
degup angin pelan-pelan menutup telinga
getar suara adzan di waktu subuh

Kampungku jauh di mata
terkenang bila aku duduk sendirian di beranda
pada kota sepi, dimana tak ada lagi ikatan-ikatan
Aku rindu pulang

Kampungku jauh di mata
Derai sudah air mata, kerna aku rindu bau tanah wangi setelah hujan
aku rindu tawa kawan-kawan di tepi surau
Pada pematang demi pematang
kita mencari belut dan tunas hijau

Rindu...Rindu..aku pada biru gunung
pada air bening seperti mata Tuhan yang menetes
Pada kicau burung di pagi waktu, pada nyanyian-nyanyian kegembiraan

kampungku...kampungku
kuning sawah, hijau daun
pelupuk mata ini menjadi layar lebar kenangan-kenangan

Pada senja yang turun
Pada matahari yang ranum
aku rindu pulang pada kampungku yang jauh di mata
tempat dimana Tuhan memberikan kedamaian.......

(ANTON DATUK TAN MALAKA)

Tentangmu


Bulan itu, belasan tahun yang lalu
Aku bertanya pada arus kali yang menggerus batu-batu
Aku bertanya pada harum tanah yang dimandikan embun pada pagi waktu
Aku bertanya pada tubuhmu yang dahulu wangi kopi
............: Dimanakah janji harus diletakkan

Pada bunga-bunga jaman yang mekar kerna benih ditangan
Pada aksara biru laut yang dituliskan burung-burung camar

Pelabuhan yang mati
Kenangan yang mati
Ejaan namamu yang mati
Makna-makna yang mati

Daun kering jatuh di samping jendela
Janjimu sudah lenyap dimakan rayap waktu
Dahan kering gambar wajahmu
Satu-satu gugur pada tinta pena.

Malam ini sepi sudah
Mengenang bulan itu, belasan tahun yang lalu
Wajahmu
Arus kali
Wangi Kopi
Embun batu

......................: Memoar Rindu.


ANTON, Agustus 2010.

Tragedi Ellyas Pical


Tragedi Ellyas Pical

Suatu waktu ditahun 2008 saya pernah datang bersama teman saya ke markas Pertina di Gedung KONI Senayan untuk bertemu dengan Sjamsul Harahap. Kebetulan teman saya ada urusan dengan Sjamsul Harahap. Setelah berbicara dengan Sjamsul saya keluar ruangan dan sekelebat melihat sosok Elly Pical. Teman saya yang sering liat Elly Pical di Senayan berkata "Elly Pical sering jalan sendirian disana, nggak tau apa yang dikerjakan" Saya tertegun dan berpikir lama. Kenangan saya meloncat ke pertengahan tahun 1985. Saat itu rakyat Indonesia sedang demam Pical, waktu Pical melawan Judo Chun jalan-jalan di Jakarta nyaris kosong, semua orang tegang di depan layar televisi. Semua orang Indonesia melonjak kegirangan di depan TVRI saat Pical terus melayangkan Uppercut kiri-nya yang fenomenal itu, saat itu rakyat Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia.

Pical adalah fenomena dia lahir sebagai anak miskin di Saparua, Ambon, kerjanya mencari mutiara alam tiap hari dia menyelam sehingga kupingnya separuh budeg. Ia gambaran anak bangsa yang miskin dan bertahan hidup. Pical kecil menyenangi Ali dan sering nonton Ali di TVRI. Ia kerap diam-diam berlatih sendirian di ladang sagu untuk menjadi seorang petinju. Dan kehidupan Pical adalah drama itu sendiri. Di tahun 1985 Pical menjadi bintang dalam benak bangsa Indonesia. Di tahun 1985 dunia olahraga Indonesia memang menuju puncaknya sebelum merosot hancur setelah tahun 1990. Saat itu sepakbola kita mampu berbicara di tingkat Internasional orang2 macam Rully Nere, Djoko Malis atau Bambang Nurdiansjah menjadi idola di masanya. Liem Swie King lagi jaya-jayanya. Namun Pical adalah fenomena tersendiri karena dia merupakan juara dunia Indonesia yang pertama. Teriakan : Elly...Elly...Elly menjadi teriakan wajib di tahun-tahun itu melengkapi banyak peristiwa macam bom cilandak atau penyerbuan tentara ke Tanjung Priok.

Tapi kegembiraan di masa lalu, kebanggaan di masa lalu tidak terlihat pada wajah Elly Pical di masa itu. Tangannya yang rada gemetar tidak memperlihatkan bahwa tangan kiri itu pernah dijuluki sebagai Rudal Exoceet, seperti Rudal buatan Perancis yang digunakan Inggris buat gempur Argentina di Pulau Malvinas. Tangan itu seperti tangan yang lelah. Bangsa ini tidak pernah mampu memuliakan orang yang berjasa pada negara, orang banyak makmur bukan dari kerja keras tangannya tapi dari mencuri : Mencuri uang pajak, memark up anggaran atau membobol bank. Tangan jujur seperti Elly Pical yang tidak pernah mengambil uang rakyat, bahkan pernah membuat orang Indonesia bangga pada bangsanya hanya kadang-kadang diangkat untuk memarkir mobil........Hidup memang tragedi dan tragedi selalu memilih di tempat yang sistem masyarakatnya kacau.

ANTON

Menyelamatkan Perkawinan



Menyelamatkan Perkawinan

Pada suatu malam di sebuah kafe yang sepi ada seorang suami
yang merasa bosan dengan kehidupan perkawinannya, ia curhat dengan sahabatnya….”Aku sudah tidak mencintai isteriku lagi”

Sahabat itu menjawab dengan mata teduh “pulanglah dan
cintailah dia”

Suami itu mendesah dan memainkan sendok kecil untuk mengaduk
cappucino, “Kamu tidak mengerti, aku sudah tidak punya perasaan cinta lagi, aku
merasa hampa di depan dia”. Sahabat itu tersenyum dan berkata lagi “Pulanglah
dan cintailah dia”. Suami itu menggelengkan kepala matanya menatap ke
langit-langit kafe. “Sahabatku, bila aku pulang ke rumah dan berkata cinta
padanya, berarti aku membohongi diriku sendiri, aku sudah tidak memiliki
perasaan itu lagi…dan bila itu aku lakukan, aku sudah tidak jujur…” kata suami
itu dengan nada suara yang lemah.

“Apakah ibumu mencintaimu?” kata sahabat itu. “Tentunya”
jawab suami itu tegas. “Satu minggu setelah kau keluar dari Rumah Sakit
bersalin, dan kau menangis ditengah malam terus-terusan, kau berteriak di saat
bayi dan ibumu kurang tidur, berjalan di lantai yang dingin dan mengganti
popokmu, apakah ia menikmati ini semua?”

Suami itu termenung dan menggelengkan kepala lalu ia
menunduk dan menjawab pelan. “Tidak”

Sahabat itu berkata lagi “Kalau begitu apakah secara emosi
ibumu tidak mencintaimu lagi?”….



“Sahabatku, ukuran mencintai itu bukan karena ibumu
menikmati mengganti popokmu di tengah malam melainkan karena ibumu ‘RELA’
melakukan itu walaupun hal itu tidak disukainya. Nah, pernikahan tidak hanya
didasari rasa cinta, tapi ia lebih dari itu pernikahan adalah nama lain dari
‘KOMITMEN’…saat pertama kali kau menikahi isterimu pasti karena kau
mencintainya, kau menyayanginya, kau melihat matanya seperti pagi yang indah,
dan gunung biru di tengah musim semi….namun cinta yang menggebu-gebu akan padam
seiring berjalannya waktu.

Tapi, kawan ingat KOMITMEN yang menjadikan cinta
menggebu-gebu itu menjadi cinta yang matang dan dewasa….

“Lalu apa yang disebut cinta sejati, kawan?...cinta sejati
adalah cinta yang tumbuh dalam hati dan tidak didasari kecurigaan, hitungan
untung rugi, cinta yang rela berkorban demi orang yang dikasihinya, cinta yang
menembus batas-batas halangan dengan sikap ikhlas. Ada orang berkata “aku cinta kamu”..berarti :
“Aku ingin memilikimu dan biarlah kamu sebentuk apa yang aku pikirkan” itu
adalah cinta yang egois, itu adalah perasaan yang kau lakukan secara sepihak
tanpa memikirkan hak dari pasanganmu, dan ingat sebuah keluarga tidak hanya
tentang kau dan dia, kau dan cintamu, tapi keluarga juga menyangkut
kenangan-kenangan yang akan diceritakan anak-anakmu di masa depan, kenangan tentang kebahagiaan keluarga, kenangan tentang kehangatan rumah tangga dan kenangan bagaimana bapaknya mencintai ibunya dengan caranya yang khas. Pahamilah komitmen
dalam pernikahanmu karena komitmenmu itulah yang membuatmu menjadi dewasa dalam
menumbuhkan hubungan.

Komitmen itu harus kau jalani melampaui perasaan
kekanak-kanakanmu, perasaan bosanmu dan perasaan hampamu, jalani itu dan
pulanglah, cintai isterimu sepenuh hati seperti kau bertanggung jawab terhadap
kehidupan”….

Resensi Film Mice and Man




George Milton (Gary Sinise) ialah seorang yang cerdas sekaligus sinis, sedangkan Lennie Small (John Malkovich), kebalikan dari namanya merupakan seorang bertubuh tinggi besar, punya kekuatan fisik mengerikan, namun dengan kondisi mental ter...batas. Perilakunya bagai anak kecil dan sangat menurut kepada George, karena hanya dialah yang mau menemani dan melindungi Lennie. Mereka adalah buruh pendatang yang mencari lahan kerja di sebuah lahan pertanian di Soledad. Mereka mempunyai mimpi, suatu hari akan menempati lahan pertanian milik sendiri, dengan tanah berhektar-hektar; sebuah rumah. Lennie dan George selalu mengulang-ulang cerita tentang mimpi mereka, terutama Lennie yang dijanjikan George akan memelihara kelinci dan memegangi mereka. George punya kegemaran memegangi benda-benda halus, namun tak pernah menyadari efek mengerikan dari genggaman tangan kekarnya. Sampailah mereka pada lahan yang dituju dengan rangkaian peristiwa yang menunggu.


Penggambaran tidak terlalu berbeda dari versi novelnya, yang bagi saya jauh lebih kelam dan menyentuh dari versi layar lebarnya ini. Justru kekuatan film terletak pada akting Malkovich yang dialektis dengan watak dingin Sinise. George menjadi pribadi yang satu-satunya ditaati Lennie. Meskipun Lennie -dalam bahasa awam- "terbelakang", namun George selalu sabar dan melindunginya dari bahaya, termasuk dari ancaman Curley si anak majikan. Model persahabatan yang sangat jarang ditemui, apalagi di masa sekarang, walau pada akhirnya George harus menentukan pilihan, namun keputusan itu demi "kebaikan" mereka.

Ini adalah kisah tentang persahabatan dan mimpi dari orang-orang tertindas. Tipikal dari karya sastra Amerika yang selalu mengutarakan nasib kaum marjinal (dan bertolak belakang dari realitas Amerika sebagai suatu Negara). Kaum tertindas yang bahkan dalam proses bermimpi pun mereka harus mengalami kepahitan. Hal inilah yang sampai saat ini saya jadikan pegangan dalam memandang "kesastraan" sebuah tulisan fiksi. Apakah karya tersebut mampu menyuarakan realitas atau tidak. Sekaligus catatan tambahan bagi proses produksi film-film (adaptasi novel) yang seharusnya mau melirik pada sejarah karya fiksi kita yang sangat potensial dijadikan wahana kritis dan edukatif, bukan kontra-produktif. Sebab, seberat apa pun sebuah tema, film -sebagaimana fungsinya sebagai media estetis populer- selalu mampu mereproduksinya tanpa meninggalkan fungsi dasarnya tersebut.

Pada akhirnya, hampir sama seusai saya membaca novelnya. Film ini sekali lagi mengguratkan kengerian akan kehidupan, dan apa yang seharusnya digenggam erat dalam memaknainya; humanisme.(dikutip dari : Sastro Fadjar)

Renungan Hari Ini



Renungan Hari Ini

Kegagalan adalah pelajaran dari Tuhan yang menegur semua rencana hidupmu. Ketika engkau gagal sesungguhnya Tuhan sedang memberikanmu rencana terbaiknya, jangan takut dengan kegagalan, karena setiap kegagalan adalah mesin yang bisa menghidupkan keberhasilanmu. Dengan kegagalanmu justru kau bisa melihat "suatu jalan untuk tidak berhasil" dan itu bisa mengajari kehidupan pada orang lain sehingga engkau menjadi pribadi yang bijak.

Ketika kamu jatuh, itu adalah awal kebangkitanmu. Tidak ada orang yang sehat jatuh tidak berdiri. Hidupmu adalah proses yang bercerita tentang kejatuhan, kebangkitan dan rasa senang. Nikmati saja, dan jangan mengeluhkan pada Tuhan, karena ingat Tuhan sudah memberikan hidup padamu dengan gratis, yang diminta darimu hanyalah kemampuanmu bersabar untuk membentuk kehidupan sesuai dengan kemanusiaanmu.

Ketika engkau merasa salah memilih sesuatu, janganlah mengeluh jalani pilihanmu dengan hati yang gembira. Karena kunci kegembiraan bukan pada pilihanmu tapi pada kegembiraanmu dalam menjalani pilihan apa adanya.

Hidup adalah pemberian dan langkah terbaik ketika kita menerima adalah berterima kasih, ketika kamu berterima kasih pada Tuhan maka kamu akan diberikan kehidupan dengan keindahan warna warni bunga di musim semi. Janganlah mengeluh karena mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa.

Janganlah terlena dengan pujian karena pujian adalah hinaan yang belum terwujud, dan jangan marah oleh hinaan karena dengan hinaan kau sedang mengumpulkan kemuliaan. Bersikaplah biasa saja. Seimbang dan sewajarnya.

Hiduplah dengan selalu tertawa, jangan kau bangunkan kehidupanmu dengan rasa marah. Karena apapun yang dimulai dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu.

ANTON

Antre Blackberry diskon dan Masyarakat Konsumtif




Seandainya kerumunan anak-anak muda yang antre blackberry dengan potongan 50% itu mengantri masuk jurusan teknik, berduyun duyun antre masuk fakultas pertanian,peternakan, antre berdesak-desakan ingin masuk kuliah di jurusan IT.....membayangkan Teknologi dan industri bisa hidup kembali dan ada di garda depan bangsa ini...

Seandainya biaya pendidikan tidak dimahalkan, semangat bangsa membangkitkan rakyatnya untuk belajar dan mempertajam otak, mungkin daya hidup kita tidak diperbudak oleh benda-benda. Rekayasa pasar domestik oleh modal Internasional adalah membentuk masyarakat yang tumpul bagai robot sehingga ia tidak memiliki daya kritis lagi masuk ke dalam substansinya sebagai manusia, ia hanya merasa hidup bila mengonsumsi sesuatu, tidak ada lagi passion disini, tidak ada lagi gairah kemanusiaan dan kecerdasan yang ada hanya nafsu pada sesuatu yang bersifat kebendaan.

Tugas generasi muda-lah yang menyadarkan arah hidup yang sudah salah kaprah ini.

Thursday, 24 November 2011

Sukarno, ACFTA dan Bangkrutnya Indonesia di Bawah SBY




Di tahun 1928 Sukarno senang sekali memperhatikan arah politik dunia, setiap bacaan ia arahkan pada arah politik dunia atau geopolitik. Bila di tahun-tahun sebelumnya Sukarno amat menyukai bacaan dengan landasan-landasan ilmu pikir murni, seperti Komunisme, Kapitalisme, Pan Islamisme ataupun sejarah, maka sejak awal 1928 Sukarno mulai memperhatikan apa yang terjadi dalam politik Internasional.

Pernah pada satu saat ia berjumpa dengan wartawan dan meminta mengulas terus apa yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, Sukarno merasa sudah ada perkembangan di Jerman karena pemerintahan Weimar sudah amat buruk, Hitler mulai menunjukkan pesonanya di depan Angkatan Darat Jerman, Inggris sedang mengalami kesulitan, sementara Amerika Serikat lagi menikmati masa jaya-jayanya ekonomi kapitalis liberal sebelum akhirnya hancur pada tahun 1929 akibat depresi besar yang terjadi berkat permainan spekulasi saham yang berlebihan, spekulasi inilah yang kemudian menjadikan Amerika mengirim bisnismen-bisnismennya ke Jerman untuk melobi pihak Eropa dan mengadu domba mereka sehingga terjadi Perang Besar, jika perang besar terjadi maka Amerika Serikat bisa menggerakkan perekonomiannya.

Sukarno senang sekali dengan peta politik Internasional ia kerap menandai jajahan Inggris dengan tinta biru, jajahan Belanda dengan tinta merah dan jajahan Perancis ia coret dengan garis bergelombang. Suatu hari Sukarno kedatangan temannya dari Singapura yang membawa dua buku berjudul Seapower in the Pacific dan “The Great Pacific War” karangan Hector Charles Bywater. Bywater adalah seorang jurnalis Amerika yang mengikuti perkembangan politik dunia, ia melakukan pengamatan apa yang terjadi dalam konstelasi-konstelasi kekuatan dunia itu, dalam renungannya Bywater menuliskan bahwa “kelak suatu hari akan terjadi perebutan kekuasaan di Lautan Pasifik antara Kekaisaran Jepang dengan Amerika Serikat dalam memperebutkan wilayah Asia Pasifik”. Dalam bukunya Bywater menuliskan bahwa serangan itu bermula dari pengeboman Pangkalan Militer Amerika Serikat di Filipina – (walaupun kemudian terjadi tahun 1942 bahwa yang dibombardir justru dari Pearl Harbour). Sukarno berpikir dalam-dalam soal yang diberikan Bywater ini, ia merenung dan membawa pulpennya lalu menuliskan catatannya diatas kertas : “Apabila Filipina diserbu Jepang, maka Jepang akan masuk lewat dua kemungkinan : Jawa atau langsung dari Pangkalan Militernya di Okinawa. Andai Jawa yang dikuasai maka otomatis ia akan menguasai Nusantara, penguasaan Jawa ini akan sedikit banyak mengusir Belanda. Lalu Sukarno teringat pada ramalan Jayabaya yang sudah amat dikenal dalam cerita-cerita rakyat (folklore) orang Jawa : “Kelak akan ada bangsa cebol berkulit kuning yang akan menguasai Jawa seumur jagung” seumur jagung adalah kalimat idiom dari kata waktu “singkat” . Akan ada penguasaan waktu yang amat singkat. Di titik inilah Sukarno menandai pertaruhan politiknya. “Pertarungan yang amat singkat akan menjadikan pertaruhan politik Indonesia ke depan, pertaruhan jangka panjang”.

Sejak menggeluti pemikiran Bywater, Sukarno mengarahkan seluruh daya politiknya pada pertarungan Internasional untuk memanfaatkan kesempatan bagi Indonesia. Ia paham bila pertarungan itu dibawa ke dalam, maka Indonesia belum kuat, harus mempermainkan politik Internasional untuk kemerdekaan Indonesia dan keuntungan-keuntungan strategis lainnya.

Pada tahun 1929, Sukarno sekali lagi menemukan Amerika Serikat menemui depresi ekonomi besar. Sukarno melakukan hitung-hitungan politik, bila Amerika Serikat mengalami depresi besar maka yang terjadi adalah Amerika membutuhkan modal. Sukarno berpikir bahwa satu-satunya cara mendapatkan modal Amerika harus menciptakan perang baru – (teori Sukarno ini sampai sekarang masih digunakan Amerika dalam mengelola konflik politik Internasional yang pada ujung-ujungnya adalah penguasaan sumber-sumber minyak bumi dan penguasaan alam). Sukarno juga melihat sumber daya alam Indonesia sebagai sumber logistik terbesar dalam Perang Asia Pasifik. Kebangkitan fasisme di penjuru dunia menarik perhatian Sukarno, kebangkitan fasisme adalah tahap akhir dari kebangkrutan Kapitalis ini yang Sukarno baca dari analisa-analisa ekonom Komunis tentang Kapitalisme. Sukarno sendiri akhirnya lebih setuju dengan tulisan yang menyatakan “Fasisme akan mati dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan kodrat pertumbuhan masyarakat” Kematian fasisme ini menjadikan Sukarno akan mempermainkan Jepang bila kelak Jepang datang. Sukarno sendiri dengan daya ciptanya sudah memperkirakan kemerdekaan Indonesia akan terjadi pada Agustus 1945. Ini juga kelak menjadi naskah sandiwara tonil yang ia lakukan di Flores dengan judul sama : Agustus 1945.

Penemuan arsitektur geopolitik Sukarno inilah yang kemudian menjadi landasan kerja politik Sukarno, tinggal dia bagaimana menyadarkan rakyat tentang arah masa depan. Lalu setiap waktu Sukarno berpidato soal Perang Pasifik ini. Laporan-laporan Intel Belanda menyebutkan Pidato Sukarno tentang Perang Pasifik ini akan amat diperhatikan oleh banyak orang, tapi yang lebih menakutkan apabila kemudian Amerika Serikat atau Jepang memperhatikan apa omongan Sukarno, maka ini akan memancing kekuatan luar negeri untuk hajar Belanda.

Pada awalnya Sukarno dianggap anak manis dalam Pergerakan Nasional di Indonesia, tapi dengan gagasannya soal Perang Asia Pasifik maka Sukarno dianggap memancing keributan yang lebih berbahaya lagi yaitu “Masuknya kekuatan Internasional dalam menggugat jajahan Belanda” dalam hal ini Jepang. Pada tanggal 28 Desember 1929, Sukarno diundang oleh Raden Mas Sujudi dari Yogyakarta untuk berbicara di depan rapat politik kaum kebangsaan di Solo. Sukarno datang dan berpidato di Solo dengan penuh semangat dan gayanya yang dramatik : Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu tidak lama lagi, Perang Pasifik menggeledek menyambar-nyambar membelah angkasa, ”Apabila, Samudera Pasifik merah oleh darah, dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”. Disini Sukarno terus menerus menulis tentang kemerdekaan yang akan terjadi, artinya Sukarno memberikan visi agar rakyat Indonesia bersiap. Dan tulisan Sukarno memang dibaca hampir seluruh rakyat Indonesia yang terdidik lewat koran-koran, -hal yang menunjukkan betapa tulisan Sukarno bisa menjadikan alam bawah sadarnya adalah ucapan Jenderal Nasution ketika ditawari oleh agen asing untuk memberontak melawan Sukarno tapi Nasution menolak dan menjawab dengan tegas “Sejak saya kecil, sejak saya tak tau apa artinya Nasionalisme, Sukarno-lah yang mengajari saya lewat tulisan-tulisannya di koran-koran tentang Nasionalisme, dialah yang menyadari saya tentang sebuah KeIndonesiaan di masa saya muda” begitu juga dengan catatan Deliar Noer semasa ia kecil, semasa ia kanak-kanak di usia 8 tahun Deliar Noer mencatatkan di bukunya sebagai tulisan anak kecil ia menulis : “Kelak aku akan jadi Sukarno, akan jadi Hatta” ini berarti tulisan Sukarno memang sudah tersebar amat luas di seluruh wilayah Hindia Belanda dan mempengaruhi banyak orang. Tulisan ini kemudian menjadi tanggung jawab bagi Sukarno mengarahkan ke arah mana rakyat harus bertindak.

Sukarno sudah melihat Perang Asia Pasifik sebagai alat paling penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Disini Sukarno sudah melakukan sebuah Pemetaan yang jelas dan tahapan-tahapan pasti kepada rakyat Indonesia. Gara-gara pidato di atas Sukarno kemudian ditangkap oleh Polisi Belanda, Rumah Sujudi digerebek dan seluruh rombongan Sukarno digelandang ke halaman lalu disuruh ganti pakaian di halaman dan kemudian diangkut truk ke Stasiun Tugu Yogyakarta, dimasukkan ke Gerbong Khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung untuk diadili. Di depan Landraad (Pengadilan) Sukarno berkata terus menerus tentang sumber daya alam yang dikeruk Belanda. Disana Sukarno digetok hukuman 4 tahun penjara hanya karena membela nasib bangsanya.

Apa yang dilakukan Sukarno demi bangsanya sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan pemerintahan SBY sekarang. Apakah anda masih ingat sewaktu SBY masih jadi Menkopolkam di tahun 2003 dan bertemu dengan seorang penggede Amerika Serikat, SBY mengatakan tanpa tau malu : “I love the United States, with all its faults. I consider it my second country.” (Saya mencintai Amerika Serikat, dengan segala kesalahan-kesalahannya, Saya akui Amerika Serikat ini adalah Negara Kedua bagi Saya). Ucapan model apa ini!! ....bagaimanapun ucapan ini dilakukan oleh seorang Pemimpin bukan seorang warga biasa dalam situasi emosional. Seorang Pemimpin bangsa hanya harus memiliki satu loyalitas, ya kepada bangsanya sendiri. Lalu apa yang terjadi pada ACFTA 2010. ACFTA adalah perjanjian perdagangan Bebas antara ASEAN-CINA, disini Indonesia masuk ke dalam wilayah perjanjian 2010. Tapi Indonesia sama sekali tidak mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Perdagangan Bebas dengan Cina, coba anda perhatikan ada apa dibalik gagapnya SBY terhadap persoalan ACFTA ini, SBY sama sekali tidak melakukan gebrakan kepada rakyatnya “Ayo bangun infrastruktur, ayo kita mulai siap bertanding” tapi ia malah asik dengan dirinya sendiri, dana anggaran digarong dimana-mana sehingga rakyat tidak kuat bertanding dalam iklim Perdagangan Bebas.

Sebenarnya hal ini adalah permainan, dengan tidak siapnya Indonesia berdagang dengan Cina, maka rakyat akan marah-marah dengan Cina, lalu kenapa? Itulah yang ditakuti Amerika Serikat. Cina akan menjadi kekuatan paling penting di Asia Tenggara, Ekonomi Cina secara bertahap akan membangkrutkan dominasi Ekonomi Amerika Serikat yang sudah direbutnya dengan membunuhi 3 juta nyawa orang Indonesia lewat rekayasa Gestapu 65, Menggulingkan Sukarno, Membangun Pemerintahan buas Militer Orde Baru dan memenjarakan ribuan orang untuk kesalahan yang tak dimengertinya. Inilah landasan ekonomi Amerika Serikat dibangun di Indonesia. Sementara Cina membangun ekonominya sendiri masuk ke Pasar tanpa membunuhi satu-pun orang Indonesia, tapi Amerika marah karena pasarnya direbut, lalu datanglah Obama ke KTT Asean di Bali. Lewat perantaraan SBY pula Amerika Serikat melakukan kontrak dagang dengan ASEAN. Amerika Serikat menempatkan Pangkalan Militernya di Darwin untuk menggertak Cina. Disini rakyat Indonesia tetap harus jadi milik Amerika Serikat. Apa yang dilakukan SBY bisa diindikasikan begitu Pro-nya SBY kepada Amerika Serikat sehingga ia seakan-akan menghambat jalur pertarungan antara ekonomi rakyat Indonesia untuk bersiap menghadapi Cina.

Rusaknya kerangka pemikiran SBY adalah selama 7 tahun pemerintahannya ia tidak menjalankan gebrakan ekonomi yang mengarahkan pada perubahan politik dagang Internasional. Tak ada satupun analisa-analisa yang keluar tentang ekonomi dagang Internasional dimana Indonesia harus menempatkan dirinya, tak ada satupun kebijakan yang menyeluruh untuk membangkitkan Indonesia dalam pertarungan dagang ke depan. Obsesinya sama sekali hampa, dan ia sibuk dengan dirinya sendiri.

Sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi bahaya masa depan, yaitu : Bahaya Imperialisme Dagang dan Modal. Jaringan-jaringan perdagangan kita akan ditutup oleh kekuatan modal Internasional, ini akan berdampak pada bangkrutnya ekonomi rakyat, gerakan muda harus memperhatikan dengan amat serius ekonomi perdagangan Internasional agar jangan nanti kita hanya jadi perluasan Pasar Cina atau tetap menjadi budak Amerika Serikat.

Bila ekonomi rakyat bangkrut, maka tak ada lagi yang ada dalam diri kita kecuali badan. Dan bila badan menjadi satu-satunya hak milik yang diperdagangkan maka selamanyalah kita tetap akan jadi kuli, jadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa. Kita harus membangun kembali kerangka ekonomi dan strategi menyeluruh sekaligus merumuskan keadaan-keadaan seperti yang dilakukan Sukarno dalam membentuk peta ke arah Indonesia merdeka. Inilah yang harus kita lakukan untuk menerobos dan membongkar kembali apa yang sesungguhnya terjadi dalam keIndonesiaan kita.

Anton, akhir November 2011.

Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Tersedu

Aku pernah jatuh cinta sebelumnya. Rasanya seperti narkotik. Mula-mula mendatangkan euforia penyerahan diri, lalu berikutnya kau menginginkan lebih banyak. Kau belum kecanduan, tapi kau menyukai sensasinya dan kau masih bisa mengendalikan semuanya. Kau memikirkan orang yang kau cintai selama 2 menit dan melupakannya selama 3 jam.Tapi kemudian kau terbiasa dengan orang itu, dan mulai bergantung sepenuhnya pada mereka. Sekarang kamu memikirkannya 3 jam dan melupakannya selama 2 menit. Kalau ia tak ada, kau merasa seperti pecandu yang selalu membutuhkan morfin. Dan seperti halnya pecandu yg akan mencuri dan mempermalukan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan mereka. Kau pun bersedia melakukan apa saja demi cinta"
(Novel di tepi sungai piedra aku duduk dan tersedu - paulo coelho)

Kepada Siapa Aku Harus Berterima Kasih

Ternyata blog aku kalau dimaintain bisa 10.000 visitors unique/hari. Kalo nggak dikelola cuman 2000-an pengunjung/hari. Inilah pentingnya menumbuhkan kelolaan agar semua rapi dan tumbuh dengan baik. Enak juga ngeblog ya, bisa memetakan waktu saat itu kita sedang berpikir apa. Aku gaptek blog aja dibuatin sama Titiana Adinda dulu tahun 2007. Facebook dibikinin sama Raisa dulu. Twitter dibikinin sama Miagina Amal, seorang penerjemah Paulo Coelho : "Di tepi Sungai Piedra, Aku duduk dan Tersedu".

Tentang Blog itu gara-gara dulu sering nulis di Forum Pembaca Kompas bikin isu-isu yang bikin heboh, daripada dibuang dibikininlah sama dia supaya tulisannya nggak hilang padahal aku nulis kalo dihitung sudah lebih dari 5.000-an artikel tapi ya itu karena sembrono yang terselamatkan hanya sedikit artikel, eh sekarang usianya sudah 4 tahun.

Blog sudah seperti buku harian, kadang-kadang kita lupakan. Kadang-kadang kita butuh untuk menulis. Tapi bagi saya, menulis adalah melatih berpikir kreatif, menulis adalah sebuah bentuk meditasi dengan caranya yang unik, menulis adalah sebuah alat pencongkel klep-klep penghambat cara berpikir kita yang seperti mesin -berulang-ulang, menjadi cara berpikir kita yang mampu keluar kotak logika yang sudah dibangun oleh pikiran kita.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang :

1. Dia bisa muncul tiba-tiba dari sebuah ide.
2. Dia muncul ketika membaca sebuah tulisan lain
3. Dia muncul karena direncanakan.

Apapun sebab munculnya sebuah ide penulisan, untuk menghasilkan tulisan yang baik latihlah dirimu menjadi seorang automatical writer. Seorang penulis yang menghasilkan karya enak dibaca rata-rata seorang automatical writer, misalnya ketika ia menulis sebuah kejadian, ia mampu merangkai kejadian itu hanya dengan berpikir ketika ia memencet tuts, bukan berpikir ia membaca buku-buku dan membeonya, apalagi terlalu banyak kutipan. Penulis yang kerap menulis dengan banyak kutipan lalu bahasanya tidak imajinatif akan selalu melahirkan tulisan yang membosankan, mungkin anda benar secara fakta, tapi karya anda tidak enak dibaca. Idealnya ketika kita menulis kita harus sudah hapal diluar kepala semua referensi, inilah pentingnya melatih pikiran agar menjadi fotografis dan bisa menjelaskan kenapa penulis-penulis yang enak dibaca seperti Pram yang menulis di Pulau Buru hanya bermodalkan ingatan akan referensinya, seperti Tan Malaka yang menulis Madilog di kontrakannya di samping kandang kambing dengan ingatan fotografis data-datanya, seperti Sukarno yang membuat pledoi di atas kaleng untuk kencingnya di sel Penjara Sukamiskin tanpa satupun data. Karena apa? karena ia sudah melatih pikirannya agar fotografis. Dulu Mochtar Lubis hanya perlu membawa mesin tik dan menaruhnya di bufet dia dalam 10 menit sudah bisa buat dia Tajuk Rencananya yang hasilnya adalah mendepak ibnu sutowo dari Pertamina.

Untuk melatih daya imbang ketika kau menulis dan berpikir dengan waktu bersamaan latihlah kemampuan menulis setiap hari. Jangan takut dengan bahasa yang berantakan, karena bahasa yang berantakan hanya persoalan grammar, dalam bahasa yang berantakan kamu sedang mencari karakter dari tulisanmu. Penulis yang baik adalah penulis yang iramanya memiliki karakter, ketika karakter itu sudah terbentuk maka tulisanmu bisa hidup… karena apa? Karena ada jiwa.

Tulisan yang hidup bukanlah tulisan yang teliti dalam menggambarkan objek atau ruang-ruang kalimat tapi ia yang menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana namun memiliki daya tafsir yang kuat, ini artinya : seorang pembaca akan terperanjat daya sadarnya, ketika daya sadarnya terperanjat ia akan tertarik terus menerus membaca.

Dan yang terpenting ketika engkau menulis usahakan libatkan emosimu, memang menulis dengan melibatkan emosi akan terkesan subjektif, tapi ketika emosi itu menjadi energi dalam tulisan ia akan menggetarkan pembacanya.

Dulu waktu SD saya senang mengetik dengan mesin ketik merek royal, awalnya cerita-cerita sederhana seperti melihat rumput manila dan batu-batu taman, tukang mie ayam yang lewat, atau sepeda BMX dan kejadian-kejadian di sore waktu. Saya ingat sekali waktu itu bisa jadi 3 (tiga) halaman. Tulisannya masih berantakan, tapi lumayan enak dibaca, lalu sejak umur 10 tahunan saya menghapal seluruh isi Ensiklopedi Americana, karena dulu belum jamannya google. Maka ensiklopedi adalah penting, kebetulan alm. Bapak saya suka gaya-gayaan, dia doyan pamer, dulu waktu saya umur 6 tahun dia beli buku ensiklopedi lengkap untuk dipajang di ruang tamu “Biar keliatan orang pinter” itu katanya. Tapi ternyata buku yang awalnya cuman buat pamer itu menjadi amat penting bagi saya untuk melakukan ‘drive’. – Apa itu ‘drive’ drive adalah istilah saya dalam menggunakan ketika saya menulis arahnya sudah terbaca, ini artinya : drive itu referensi kita sudah tau, tinggal kita mencocokkannya saja dengan sumber. Dulu sebelum jaman internet menulis dengan drive agak susah, karena setiap saat kita cocokkan kembali dengan buku, gara-gara hal itu saya capek dan akhirnya saya harus hapal dulu isi buku, cara menghapal isi buku itu mudah, gunakan imajinasi, isi buku itu kau anggap saja sebagai sebuah film yang bermain di kepalamu, ketika kepalamu memutar film itu maka kau meninggalkan kesan, kesan itulah yang bisa dijadikan tapal-tapal dalam kau melakukan drive.

Untuk baca ensiklopedi awalnya dulu susah, karena emang nggak bisa bahasa Inggris, sampai sekarangpun bahasa Inggris saya jelek, tapi akhirnya saya bisa membaca tulisan bahasa Inggris dengan baik, rahasianya adalah kita nggak usah paham semua perbendaharaan tapi kita sudah paham tata letak kalimat dimana kalimat yang kita paham sama yang kita nggak paham akan menemukan titik temunya. – Tentunya yang dibaca tidak semuanya, karena saya tidak menyukai bidang-bidang seperti : biologi, kimia dan matematika. Tapi saya amat menyukai sejarah, negara, sosial, politik, filsafat, geografi, tokoh (biografi), kehidupan (way of life), sastra, seni dan budaya – intinya saya suka segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia. – Di Ensiklopedia Americana, untuk entry-entry itu sudah lumayan lengkap. Dari hapal entry-entry itu kemudian berkembang dengan maen dokumen, dulu saya amat menyukai jalan-jalan ke pasar buku bekas, atau pasar loak yang saya cari adalah dokumen. Dengan mencari ke pasar loak, kita bisa mendapati betapa kayanya Indonesia dengan terbitan-terbitan buku intelektualitas di masa lalu. Dulu pemerintahan Hindia Belanda selalu mengeluarkan buku catatan yang dinamakan almanak, setiap kejadian remeh mereka catat juga, lalu buku-buku catatan yang banyak orang tidak tahu, bisa kita dapatkan di tukang-tukang loak. Saya suka mencari itu sejak SMP, tapi sekarang sudah tidak ada lagi karena ada : Google..!. Namun bagusnya semua dokumen itu saya hapal luar kepala, sehingga ketika saya membaca suatu tulisan kita bisa merangkai, sampai sejauh ini untuk soal yang saya minati belum ada hal-hal baru yang mengagetkan saya, daya entry google berbahasa Indonesia atau Inggris untuk soal-soal yang saya minati seperti sejarah atau politik masih soal-soal yang ada didokumen-dokumen lama. – Bahkan menurut saya entry didalam google tidak lengkap bila dijadikan referensi, kita harus memerlukan buku, subjek pada entry google hanya separuh-paruh, sampai saat ini data informasi yang memiliki daya gedor dokumen cetak, tapi saya kira dalam 10 tahun ke depan semuanya sudah terdigital ini artinya dunia paperless menjadi realitas yang paling nyata.

Oh ya untuk mengetahui kamu penulis automatical writer atau tidak cobalah kamu duduk di computer dan menulis sesuatu ide : apa saja. Kalau bisa sampai 20 halaman tanpa henti itulah yang disebut automatical writer, ini artinya selain kamu bisa menulis tanpa harus angkat pantat dari kursi atau membeo dari tulisan lain, kamu terlatih untuk berpikir otentik, kamu terlatih bisa membangun karakter dari tulisanmu. Saya sering melatih ini, awalnya saya hanya kuat 5 halaman dengan spasi rapat, tapi lama kelamaan bisa 20 halaman sekali duduk. Tapi tidak harus 20 halaman, satu halamanpun tak apa-apa yang penting berani menulis. Saya suka menulis banyak novel berisi ribuan halaman, atau menulis data-data yang sengaja saya tak publish, sampai saat ini saya tidak mau mempublish karena memang belum waktunya.

Dan yang terpenting dari semua, hargai karyamu sendiri. Biar orang lain nggak suka, tapi kamu suka. Pada hakikatnya seorang penulis adalah orang yang menggerakkan dunia ini terus berputar, mungkin dia bukan orang yang bertindak, mungkin ia orang pengeritik terus menerus, mungkin ia orang yang cemas, tapi sebuah tulisan yang baik akan selalu melahirkan opini. Memang opini tak selalu melahirkan kekuatan, tapi kekuatan selalu dilahirkan dari opini. Dari situlah sejarah bisa kita ubah ke arah yang lebih baik.

Kini blog saya sudah berumur empat tahun. Terimakasih untuk Titiana Adinda, Raisa Fathia Premiera dan Miagina Amal yang telah membantu kegaptekan saya.

Sosialisme Kita

Tujuan didirikannya Negara Indonesia itu adalah membentuk Negara Sosialis. Sosialisme ini bukan dalam pengertian dibawah satelit Sovjet Uni seperti yang dituduhkan oleh Intel Inggris, AS dan Agen-agen rahasia Van Mook di Australia dalam laporannya kepadanya komandan sekutu Sir Mountbatten di Kolombo awal Agustus 1945, tetapi sebuah kenyataan sejarah bahwa Sosialisme Indonesia itu sosialisme yang lahir otentik dari pemikir-pemikir sejarah Indonesia seperti : Sukarno, Tan Malaka, Hatta ataupun Sjahrir. Mereka itu adalah intelektual yang terlepas dalam sejarah komprador, baik komprador Amerika Serikat maupun Komprador Sovjet Uni.

Adalah Tan Malaka yang pertama kali dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari Imperialisme Sovjet Uni dan membentuk Partai Rahasia bersama Soebakat dan Tamim dengan nama PARI (Partai Rakjat Indonesia) dengan doktrin massa MURBA (berasal dari kata sanskrit yang artinya : Rakyat). Tan Malaka mengenalkan ide bersatunya dunia Islam dan Sosialisme yang di Moskow pada awal tahun 1920-an yang ditolak oleh banyak faksi di Sovjet Uni termasuk penolakan dari Stalin. Dan ketika penolakan itu terjadi, malamnya Tan Malaka mendapatkan pencerahan bahwa Stalinis hanya akan menghasilkan bentuk Imperialisme baru, sementara ia berhadapan langsung dengan bangsanya : Indonesia. Dari sanalah ia mengusung pemikiran peradaban ASLIA (Asia-Australia) sebagai peradaban yang berdiri sendiri, baik sejarah pembebasannya maupun kegiatan ekonominya.

Lalu Tan Malaka melihat arah sejarah perkembangan yang sama. Tan Malaka melihat kekuatan dunia Islam sebagai pengimbang Imperialisme Amerika, ternyata apa yang diramalkan Tan Malaka benar sekarang ini, Amerika sangat takut dengan kekuatan dunia Islam. Untuk itu Amerika terus mendekat pada Arab Saudi untuk tetap memelihara adat-adat kuno dan berusaha meninggalkan Islam yang moderat dan progresif, untuk itulah Arab Saudi dan Kuwait ditemani seraya mengebom Irak, mengancam Iran dan membuat lapar anak-anak di Jalur Gaza, Palestina. Apa yang dipikirkan Tan Malaka : Islam adalah darah dalam tubuh Indonesia benar adanya. Islam harus bersatu dengan ide-ide sosialisme nasional Indonesia Raya.

Di tahun 1927 di Bandung, Sukarno juga menulis tapi bukan tulisan tentang Sosialisme yang Sukarno tulis adalah Persatuan. Banyak orang mengira Persatuan dalam bahasa Sukarno adalah sekedar bersatunya suku-suku, bersatunya budaya-budaya dan bersatunya kelompok-kelompok, padahal Sukarno menciptakan persatuan itu lebih jauh lagi yaitu kerangka “JALAN BERPIKIR”. Bagi Sukarno, Persatuan itu adalah sebuah jalan membentuk antitesis-antitesis dari tesis-tesis keadaan yang terjadi sehingga melahirkan sintesis. Dari Persatuan ini kemudian akan terdefinisi jenis keadaan apa untuk Indonesia Raya.

Ide-ide Sosialisme Ekonomi yang paling gamblang adalah justru dari Hatta. Pokok pemikiran Hatta ini akan menjadi bintang dalam sejarah ekonomi masa depan manusia, Pemikiran Hatta jauh melampaui jamannya. Bahkan di jaman kita sekarang. Ide-ide Hatta tentang ekonomi adalah ekonomi yang tidak menjadi akumulator modal dan dikuasai individu atau korporasi raksasa, tapi ekonomi yang menjadi mesin pembentukan kesejahteraan bersama. Bagi Hatta tidak ada objek dalam ekonomi, semua yang manusia yang terlibat dalam ekonomi adalah subjek. Ekonomi Koperasi Hatta jangan dipahami sebagai Koperasi-Koperasi yang kita kenal sekarang, tapi lebih maju sebagai sebuah bentuk fragmen modal yang adil sebagai sebuah kegiatan bersama dengan tujuan-tujuan memakmurkan kehidupan anggota sesuai dengan peran masing-masing, kalau saja gagasan Hatta ini dibawa ke dalam lingkup makro maka kita akan mengenal ekonomi-ekonomi berjejaringan atau ekonomi cluster sehingga ekonomi dan hasil-hasilnya akan langsung mengenai kehidupan rakyat banyak.

Ketakutan banyak orang bahwa Sosialisme itu adalah Stalinis, ekonomi sosialisme adalah Korea Utara adalah sebuah kebodohan karena kurangnya wawasan dalam memahami titik-titik penting jalannya sejarah kita. Pendiri bangsa kita tidak menyukai pembelengguan, mereka adalah anak-anak kandung dari sejarah pembebasan. Jadi ketika sistem Sosialisme itu ditawarkan maka Sosialisme itu sederhana saja definisinya, bacalah UUD 1945 asli (yang tanpa amandemennya) disana dengan amat jelas sosialisme kita, terutama pasal 33.

Sosialisme kita adalah membangun Puskesmas-Puskesmas dengan fasilitas RS lengkap untuk rakyat dengan gratis, Sosialisme kita adalah Menggratiskan seluruh biaya-biaya pendidikan, menghapuskan pajak penerbitan dan penjualan buku yang tinggi, membangun jaringan internet dengan seluas-luasnya, membangun fungsi-fungsi sosial dan memaksa pejabat untuk hidup sederhana.

Sosialisme kita tidak akan menahan ekonomi modal biarlah pengusaha-penguasa berkembang seperti bunga-bunga yang mekar di musim semi, tapi Sosialisme kita juga tidak akan mengijinkan modal raksasa mendikte perekonomian rakyat, rakyat banyak harus jadi subjek utama dalam kegiatan ekonomi, kepemilikan tanah harus dibatasi lebih dari 10 hektar harus dimiliki sebuah serikat kerja atau negara, tak ada kepemilikan pribadi atau modal raksasa.

Sosialisme ini adalah penggalian sejarah dari pemikiran masa lampau pendiri bangsa, sehingga kita akan tersadarkan : Untuk apa Indonesia Raya harus berdiri................

Tan Malaka pernah berkata di tahun 1948 : Kita tidak akan menjadi antek Amerika Serikat, pun tidak akan menjadi budak Moskow. Kita adalah generasi pembebas dari sebuah bangsa merdeka, merdeka pikirannya dan merdeka jiwanya.

Wednesday, 23 November 2011

SBY dan Simulacra Pesta Perkawinan

Hampir seluruh kelas menengah kritis di Indonesia mencemooh pernikahan hedonis yang ditayangkan di TV-TV. Tapi ada target audience yang lebih besar lagi, yaitu mereka yang terbiasa nonton tv di pagi waktu, biasanya mereka ini dari kelompok emak-emak dan anak-anak muda yang amat nyaman dengan kehidupan keluarga.

Pesta perkawinan bagi sebagian or
ang Indonesia adalah fase terpenting dalam kehidupan orang Indonesia termasuk bagian dari tangga paling signifikan eksistensi dirinya di tengah masyarakat. Para adviseer politik SBY pasti sudah tahu ini dan memperhitungkan acara yang seakan-akan memblok semua stasiun TV. Serentak ada sebuah gerakan simulacra (tontonan artifisial) yang menyentak ruang alam bawah sadar manusia Indonesia yaitu sebuah idealisme pesta pernikahan bagaimana selayaknya diadakan. Sasaran yang ditembak disini adalah fase-fase kehidupan SBY sebagai seorang bapak mampu mengantarkan anaknya ke dalam dunia kehidupan, walaupun seluruh substansi bagaimana si anak kemudian menantang kehidupan menjadi tak lagi penting. Acara ini adalah puncak dari fenomena politik sekarang yang merupakan sebuah "Politik Tontonan" bukan politik aktif yang melibatkan rakyat banyak sebagai subjek dan pelaku politik sebagai agen-agen subjek.

Dalam dunia tontonan, dunia simulacra simbol menjadi amat penting ketimbang realitas. Persepsi adalah realitas itu sendiri, disini SBY menggunakan persepsi-persepsi keluar dari tautan realitas. Seperti borosnya pesta pernikahan kemudian dipersepsikan sebagai sebuah kesakralan, penggunaan Istana Negara dipersepsikan sebagai agar ia tidak meninggalkan kerja sehari-hari sebagai Presiden RI dan tontonan hampir di semua stasiun TV, dipersepsikan sebagai ia yang hadir ditengah masyarakat, hadir di tengah-tengah rakyat dan membawa teladan tentang sebuah perhelatan keluarga dimana ini akan jadi teladan bagi perhelatan-perhelatan keluarga se Indonesia.


Persepsi yang terpenting dari semua ini adalah mengemas acara yang sesungguhnya adalah penggiringan ‘awareness’ terhadap citra SBY sebagai sebuah bentuk investasi politik di masa mendatang kepada banyak ibu-ibu dan kelompok yang sudah mencapai kemapanan keluarga. Investasi politik itu akan terlihat dalam pertarungan 2014 dimana kelompok yang didukung SBY tentu akan membawa garis pencitraan lingkup domestik-keluarga sebagai kekuatan politiknya, sementara lawan-lawan SBY belum jelas mau apa.


Untuk melawan dan membongkar arus simulacra SBY ini adalah dengan membentuk jaringan realisme politik, menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan simulacra politik dengan terus menggenjot ke ruang public apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia ini : -Penggarongan Sumber Daya Alam, Perampokan Anggaran Negara,
Kemiskinan yang semakin meluas dan tidak terjaminnya kesejahteraan rakyat banyak lewat fungsi-fungsi sosial Negara.

Tuesday, 22 November 2011

Ketika Sukarno Menikahkan anaknya


Pada tahun 1969 Sukarno ditengah sakit ginjalnya yang parah menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati Sukarnoputeri dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy. Pernikahan itu jauh dari kemewahan, dalam kondisi yang amat prihatin. Pernikahan cukup berlangsung di rumah Ibu Fatmawati di Jalan Sriwijaya Kebayoran.

Saat Bung Hatta datang ke pernikahan itu dan memberi selamat kepada Rachma. Tiba-tiba terbuka pintu ada beberapa tentara. di antara kerumunan tentara ada Bung Karno yang memakai jas hitam agak kedodoran dengan muka bengkak-bengkak datang ke pernikahan anaknya itu. Ketika melihat kehadiran Bung Karno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya termasuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno dan menciumi suaminya itu. Sukarno berusaha tertawa tapi jelas ia sudah amat kepayahan. Sementara di luar rumah berita kedatangan Sukarno mulai diketahui banyak orang, dari tukang becak sampai tukang dagangan berlarian ke depan pagar rumah Sriwijaya mereka berteriak-teriak : “Hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno” komandan tentara kaget dan memerintahkan agar Sukarno tidak terlalu lama di rumah Sriwijaya, ia harus segera pulang ke Wisma Yaso.

Inilah satu-satunya pernikahan Bung Karno untuk anaknya yang ia hadiri. Sebuah tragedi memilukan dari seorang yang mendirikan bangsa ini. Seorang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk Indonesia Raya. Seorang yang membebaskan bangsanya.

Rapat Raksasa Lapangan Ikada


Mengungkap Rapat Ikada : Ketika Tan Malaka Menguji Kekuatan Sukarno

Peristiwa Lapangan Ikada 19 September 1945, bukan semata-mata sebuah demo biasa, atau sebuah acara kumpul bareng yang melibatkan ratusan ribu orang, sebuah gerakan terorganisir awal dalam sejarah Indonesia modern untuk membentuk jaringan perlawanan terhadap kemungkinan datangnya Belanda yang membonceng sekutu, sekaligus sebuah statemen kepada pihak luar bahwa Indonesia telah memiliki pemerintahannya sendiri.

Rapat Ikada 19 September 1945 ini bermula di Bogor, pada sebuah gang sempit di rumah Pak Karim, seorang penjahit dimana di belakang rumahnya itu ada seseorang paling legendaris dalam pergerakan perjuangan Indonesia di tahun 1920-an dan merupakan orang yang paling inspiratif bagi para pemuda agar mereka keluar dari rumah nyaman mereka lalu membentuk sebuah bangsa Merdeka. Tan Malaka menulis dua buku yang amat berpengaruh kepada banyak para orang pergerakan :”Massa Actie dan Naar de Republiek”. Kemunculan Tan Malaka pertama kali ke permukaan publik banyak diragukan orang, selain itu Tan Malaka masih dihinggapi perasaan curiga kepada siapapun, sebagai akibat selama lebih dari 20 tahun dikejar-kejar untuk dibunuh oleh intel-intel Belanda dan Inggris. Tan Malaka pertama kali bertemu dengan seseorang bernama Achmad Soebardjo di Djakarta, tapi Soebardjo merahasiakan pertemuan ini, nama Tan Malaka belum keluar dulu, karena Soebardjo sendiri masih belum bisa menentukan siapa lawan siapa kawan, begitu juga dengan Tan Malaka. Soebardjo adalah kawan lama Tan Malaka yang bisa dipercaya, mereka berkawan akrab sewaktu di Belanda.

Di kalangan gerakan pemuda ada dua kelompok : kelompok pertama dipimpin Erie Soedewo, yang amat moderat, pilihan politiknya berunding melulu tapi karena mereka terpelajar dan bagian dari elite mahasiswa waktu itu, mereka memiliki akses kuat ke Sukarno dan Hatta. Kelompok dibawah Erie Soedewo ini dikenal sebagai kelompok Prapatan 10. Sementara kelompok lain adalah pemuda-pemuda otodidak, pemberani, dididik langsung dari situasi kegelisahan rakyat, mereka adalah kelompok yang dulunya banyak ngumpul-ngumpul di Pasar Senen. Mereka ini sangat radikal dalam memilih jalan politik mereka, mereka pengen adanya perang sehingga Indonesia bisa berdiri secara utuh, mandiri dan tidak bergantung pada kepentingan asing. Kelompok ini disebut Menteng 31, dalam jalur Menteng 31 ini dibuatlah sebuah Komite, bernama Komite Van Actie

Komite Van Actie ini terdiri dari 11 orang salah satunya adalah Maruto Nitimihardjo (orang yang paling dituakan di Kelompok Menteng 31), Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Sayuti Melik, Wikana dan Chaerul Saleh. Mereka juga punya lingkaran dua untuk menggerakkan ini salah satunya adalah DN Aidit. Kelompok Menteng 31 ini kemudian menjadi kekuatan penggerak dalam Revolusi Djakarta pada jam-jam pertama. Suatu hari Maruto dikabari akan kedatangan Tan Malaka. Pandu yang mendengar ini berkata “Tan Malaka sudah sering bertemu dengan Bung Karno” Maruto menjawab : “Apa benar itu Tan Malaka asli?, jangan-jangan itu Tan Malaka palsu yang membuat langkah-langkah pemuda menjadi salah arah dan membuat pemuda hanya jadi kepentingan Jepang”. Esoknya Maruto didatangi seseorang dan mendapatkan sebuah alamat Tan Malaka tinggal. “Dia tinggal di Bogor, pada sebuah gang sempit di rumah seorang penjahit bernama Pak Karim”. Kata seseorang kurir. Lalu Maruto mencari beberapa kawannya untuk mengetahui kebenaran itu. “Apa benar ini Tan Malaka?” kata Maruto kepada Pandu, Adam Malik dan Sukarni dan beberapa orang tokoh pemuda Menteng 31. Lalu salah seorang dari mereka mengusulkan “kita cari saja orang-orang yang mengenal Tan Malaka langsung, di Pasar Senen banyak orang Minang yang dulu kenal Tan Malaka”.

Lalu dibawa beberapa orang yang mengaku kenal Tan Malaka asli sewaktu Tan Malaka masih di Bukittinggi, selain itu disiapkan pertanyaan-pertanyaan soal Massa Actie yang merupakan hasil pemikiran politik penting Tan Malaka. Ketika bertemu mereka semuanya terpesona dengan Tan Malaka yang saat itu dikenal dengan nama Iljas Hussein. Tan Malaka menguraikan Massa Actie dengan amat detil dan membuat mereka mulai ngeh, selain itu Maruto menggeret salah seorang yang kenal dengan Tan Malaka tadi ke luar rumah “Apa benar itu Tan Malaka asli?” tanya Maruto. “benar”...jawab orang itu. “dasarnya apa?”

“Di dunia ini hanya satu orang yang saya pernah lihat orang punya daun telinga besar, ya sebesar Tan Malaka itu” Maruto menahan tawa mendengar jawaban keluguan orang yang mengaku kenal Tan Malaka.

Lalu Maruto masuk kembali ke dalam rumah dan menanyai pada Tan Malaka “Apakah Bapak Tan bersedia untuk bertempur dengan Djepang?” jawab Tan Malaka. “Bukan hanya bersedia tapi harus!..Djepang harus diperangi, begitu juga nanti Belanda atau Inggris atau siapa saja pasukan asing harus diperangi”. Detik itu juga Maruto tersadar inilah Tan Malaka asli, karena Tan Malaka palsu tak mungkin mau bila disuruh melawan Djepang. Maruto bersikap sangat hati-hati karena sebelumnya memang banyak muncul Tan Malaka palsu, yang disuruh Jepang pidato di tengah rakyat. Bahkan di Bukittinggi, Tan Malaka palsu sempat di elu-elukan rakyat banyak.

Di dalam pertemuan Bogor itu pula Tan Malaka menguraikan efektifnya sebuah gerakan. Tan Malaka lalu menguraikan dengan detil konsep perjuangannya. “Saya ingin tahu kepada kalian apa tujuan kemerdekaan itu?” para pemuda diam saja, karena mereka tau ini pertanyaan retoris.

“Tujuan kemerdekaan itu adalah pembebasan, kesejahteraan dan total kita lepas dari kepentingan-kepentingan asing yang memperbudak bangsa ini. Di dalam memperdjoangkan kemerdekaan”

“Apa ada strategi ke depan dalam perdjoangan ini, kita harus berperang atau berunding dengan musuh?” kata seseorang yang kemudian disorakin temannya “kayak anak Prapatan 10 saja berunding” Seluruh ruangan tertawa. Namun selanjutnya ruangan menjadi sunyi ketika Tan Malaka berdehem.

“Kalahnya Djepang saat ini belum merupakan penyelesaian dari seluruh akhir perang. Perang besar akan diikuti perang-perang kecil. Banyak dari bangsa-bangsa di dunia ini akan menuntut kemerdekaan baru, mereka Atlantic Charter sebagai acuan kemerdekaan, tapi sayangnya negara-negara penjajah walaupun mereka teken Atlantic Charter, mereka tak mau buru-buru lepaskan negara jajahan, negara mereka sudah hancur akibat digempur Jerman, mereka akan memeras habis-habisan negara jajahan, mereka akan terus memperbudak rakyat di negara jajahan atas persoalan dimana negara jajahan itu tak mengerti”

Lalu Tan Malaka berdiam sejenak dan memandang lurus ke arah pintu. Ia berdiri dan masuk ke biliknya lalu keluar kembali membawa sebuah buku. Entah apa maksudnya, buku itu ditaruh saja di meja kecil yang penuh dengan debu sisa rokok. “Aku sudah mempelajari ini semua dalam perkiraan-perkiraan sejarahku, dalam pikiranku, semuanya...inilah masa depan itu sesungguhnya. Tapi masa depan itu tak mudah untuk kita begitu saja, masa depan itu harus direbut satu persatu. Melihat kejadian saat ini saya yakin Belanda akan masuk ke Indonesia, mereka akan mengincar kota-kota yang kaya, mereka akan masuk ke daerah yang banyak kilangnya, mereka masuk ke daerah perkebunan karena itu sumber logistik mereka, lalu mereka akan menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi banyak orang Indonesia untuk membatalkan kemerdekaan, mereka akan mengadu domba antar orang Indonesia sendiri. Mereka menggunakan orang-orang Indonesia yang pro Belanda untuk berunding sehingga mengesankan bahwa di dalam wilayah ini persoalannya bukan intervensi asing tapi sebuah konflik antar manusia di dalamnya, sebuah konflik internal bangsa, diatas itulah Belanda akan menguasai Indonesia kembali”.

“Lalu dengan apa kita harus melawan” tanya Sukarni dengan mata melotot.

“Caranya Belanda harus digempur terus menerus, jangan sampai mereka bisa mengekspor hasil-hasil perkebunan yang mereka kuasai. Kita mungkin kalah senjata tapi kita menang orang, orang kita banyak, semakin luas wilayah kita kuasai Belanda tidak akan mampu melawan, mereka habis berperang, sumber dana mereka tiris, mereka tidak punya dana besar untuk melakukan perlawanan amat luas ini, itulah kemenangan kita, kita harus melakukan perjuangan menyeluruh. Di dalam perjuangan itu harus juga ada langkah taktis, yaitu : pengakuan hukum dari negara lain. Bangsa-bangsa Kapitalis tak akan mungkin mau mengakui, kita butuh pengakuan negara-negara Islam dan negara-negara Sosialis. Sementara dengan kelompok Islam kalian jangan memusuhi, justru mereka amat penting terhadap pergerakan perjuangan ini, di Indonesia Islam itu ibarat darah dalam tubuh manusia, sekarang giliran kalian mampu tidak menggerakkan semua itu?....kalian harus melakukan krachtproef, suatu uji kekuatan. Bagaimanapun pemerintahan Indonesia memang sudah ada, tapi kenyataannya apa? Seluruh jajaran administrasi kenegaraan, kepolisian dan birocratie functie masih di tangan Djepan. Ini artinya bila tak ada gerakan dari kalian, maka Djepang akan segera menandatangani pengalihan inventaris Indonesia ini ke tangan sekutu sebagai bagian dari pampasan perang. Inikah yang kalian mau?”

“Jadi kita harus perang?” tanya Sukarni lagi.

“Itulah jalan satu-satunya, dan kamu buktikan dulu apakah massa rakyat mau ikut kalian hei pemuda? Kalian harus bakar itu massa rakyat, buat mereka berkumpul, dengan begini kalian akan mengukur kekuatan kalian, dan ketaatan itu akan dibuktikan di depan banyak orang asing di Indonesia sehingga mereka akan paham siapa yang memerintah rakyat sesungguhnya”.

Pertemuan itu berlangsung berjam-jam sampai akhirnya rombongan Menteng 31 pulang dengan membawa kesepakatan akan diadakan rapat besar.

Satu minggu sesudah pertemuan itu kelompok Menteng 31 berkunjung ke Prapatan 10, sebelumnya mereka bertengkar karena soal Djohan Noer yang maunya perang total, dan kemudian anak-anak muda Prapatan 10 memilih Erie Soedewo tokoh pemuda yang lebih moderat, aleman dan dekat dengan Sukarno-Hatta. Anak-anak Menteng 31 memaksa Prapatan 10 untuk segera melakukan rapat besar “Paksa itu Sukarno untuk mau berpidato di depan rakyat”. Setelah melalui perdebatan panas akhirnya anak-anak Prapatan 10 menyetujui untuk pengaruhi Sukarno.

Tanggal 15 September 1945, sekutu melakukan penerjunan payung beberapa marinir Inggris, selain itu sekutu sudah mendaratkan lima kapal perang di Tanjung Priok. Pendaratan sekutu ini memicu dikeluarkannya surat oleh Jenderal Nagano untuk seluruh pihak agar jangan ada pertemuan-pertemuan besar yang membuat marah sekutu. Surat pengumuman ini dibawa Pandu ke meja sekretariat Menteng 31. Sukarni yang membaca surat selebaran itu langsung merobek dan menggebrak meja “benar kata Tan Malaka kita harus mengumpulkan massa rakyat” Malamnya ada kabar Tan Malaka yang masih dikenal sebagai Iljas Hussein bersedia pidato di bioskop Maxim, Cikini. Beberapa orang menjaminkan pertemuan Tan Malaka ini akan aman. Di depan bioskop Maxim, Tan Malaka berpidato luar biasa “Kita harus membangun kekuatan sendiri untuk bertempur, berani menegakkan kepala untuk sebuah kehormatan Indonesia. Kemerdekaan harus dicapai dengan tangan sendiri” begitu salah satu isi pidato Tan Malaka sambil ia mengangkat tangannya terlihat jam-nya diikat di tengah lengan, bukan hal yang biasa.

Setelah pertemuan di Bioskop Maxim, ada seseorang bernama Gatot Tarunomihardjo datang ke Prapatan 10 dengan membawa uang 35.000 rupiah, tolong diberikan kepada Erie Soedewo, Kemal dan Piet Mamahit. Mereka bertiga terperanjat setelah dilapori ada kiriman duit Tan Malaka. Kiriman duit itu adalah sumbangan Tan Malaka untuk anak muda yang akan segera membentuk pasukan perang. Dan perlu dicatat inilah modal awal pembentukan angkatan bersenjata Republik Indonesia, duit dari Tan Malaka. – Kelompok Prapatan 10 akhirnya mengirim Soejono Judodibroto menemui Tan Malaka di Bogor. Cerita tentang Gatot ini kelak dikemudian hari menimbulkan banyak pertentangan, namun yang jelas adalah Gatot memperoleh banyak uang dari Bank-Bank Jepang dan kemudian dengan royal diberikan kepada sekutu.-.

Tanggal 17 September, Sukarno mengumpulkan anggota kabinetnya. Di mejanya ia sudah menerima dua surat : Rencana rapat raksasa oleh Pemuda dan kedua adalah Surat edaran Jenderal Nagano untuk mengadakan larangan demonstrasi. Sukarno kemudian memutuskan di depan kabinet membatalkan ini, rapat berlangsung alot bahkan sampai jam 5 pagi. Ketika subuh datang, pertemuan kabinet dibubarkan. Tanggal 18 September 1945 jam 9 pagi, juru bicara pemerintah : Sukardjo Wirjopranjoto akan berdialog dengan wartawan, tapi kemudian Sukardjo meminta kepada Achmad Soebardjo. Soekardjo berpikir di depan anak-anak muda wartawan berhati panas ini tentunya akan menimbulkan kemarahan apabila isi dari surat pemerintah adalah melarang demonstrasi. Lalu Achmad Soebardjo tampil di depan wartawan, singkat saja ia bicara tentang pembatalan kumpul-kumpul di Koningsplein dan menolak surat Jenderal Nagano. Sontak saja wartawan-wartawan yang baru kemaren merebut kantor-kantor berita Jepang itu mengamuk dan membuat pertanyaan panas. Tapi Soebardjo terus bersikukuh atas keputusan pemerintah. Namun desakan begitu kuat, hingga akhirnya Soebardjo menuruti maunya pemuda agar disampaikan pada Sukarno.

Di lapangan, Sukarni dan kawan-kawannya sudah mengumpulkan massa, mereka menemui jaringan yaitu kepala-kepala desa, jago-jago lokal dan kyai-kyai untuk mengumpulkan massa, ternyata massa yang datang ratusan ribu. Pagi itu tanggal 19 September 1945 orang-orang datang berduyun-duyun membawa bendera merah putih, bapak ibu sekeluarga menggendong anaknya, anak-anak kecil tertawa gembira, “Lebaran...lebaran kita” kata salah seorang penduduk yang dengan ketawa sambil pake jas yang kedodoran dateng ke Lapangan Ikada. Beberapa orang bahkan menertawai tentara Jepang, dan mengolok-olok mereka. Seorang anak kecil dilaporkan melepaskan celananya dan memamerkan pantat di depan serdadu Jepang. Lainnya bersorak gembira “Merdeka....merdeka...kami ingin lihat Sukarno, kami ingin lihat Sukarno”. Di lapangan para pemuda sibuk mengatur barisan.

Jam 10 pagi tiba-tiba ada rombongan besar dari Karawang, gerobak-gerobak juga datang dari Bekasi, banyak yang datang dari luar Djakarta, seluruh penduduk Kebon Sirih sampai Cikini sudah berkumpul. Orang-orang dari Tanjung Priok membawa bambu runcing, beberapa orang Bugis membawa badik dan orang Jawa membawa kerisnya. Semuanya menunggu pidato Sukarno. Puluhan Ribu rakyat bernyanyi-nyanyi di siang yang panas menunggu Sukarno.

Sementara itu Sukarno mencak-mencak di gedung KNIP, ia marah-marah setelah dapat laporan banyak juga anak kecil yang datang. Seluruh menteri rapat untuk memutuskan apa pemimpin Republik memunculkan diri mereka di depan publik dengan ancaman tembakan Jepang dan puluhan ribu rakyat dipertaruhkan, sebuah korban nyawa yang sia-sia menurut pendapat sebagian menteri. Awalnya sidang berlangsung alot cuman untuk memutuskan keluar menemui rakyat apa tidak. Memang saat itu pertaruhannya adalah nyawa para menteri itu sendiri, banyak ketakutan. Mereka takut ada penembak gelap, mereka takut adanya serbuan pasukan Jepang sementara panser-panser sudah disiapkan di seluruh lapangan, tapi rakyat seperti tak takut lagi. Dokter Samsi Sastrawidagda mondar mandir sambil mulutnya terus meracau : ‘Het wordt en bloedbad en onnodig bloedvergiten. Hei is onzinnig om toe te geven aan di jonge heethofden.’ (wah, ini akan terjadi pembantaian dan tertumpah darah sia-sia. Ini semangat pemuda yang keterlaluan....!”). Sidang berlangsung amat lama dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, mereka tidak makan siang karena suasana amat tegang. Beberapa kali menteri-menteri itu mendongak ke atas saat mendengar suara pesawat. Seseorang menyenggol kawannya dan berbisik “mungkin itu pesawat sekutu”. Ada juga menteri yang cuek dan ngantuk berat karena dua hari yang lalu tidak tidur karena sidang sampai pagi membahas soal Jenderal Nagano. Sukarno terus menimbang-nimbang seraya ia mendapatkan laporan terus menerus perkembangan di lapangan. Sukarni yang mengatur semua kegiatan lapangan datang ke gedung KNIP dan mengetuk pintu “Gimana sudah kelar keputusannya”

Beberapa menteri berteriak pada Sukarni “Sabar dulu” lalu Sukarni menutup pintu. Dua jam kemudian Sukarni membuka pintu lagi dan melongokkan kepala ke arah meja kabinet dan para menteri itu “Bagaimana putusan?” seorang menteri menoleh kepada Sukarni sembari menjawab ogah-ogahan “Belum” lalu Sukarni menutup pintu dengan suara amat keras “Brakkkk....!!!” semuanya kaget, nampak benar kemarahan Sukarni. Menteri Penerangan Sukardjo Wirjopranoto langsung nyeletuk kesal “Kayaknya Sukarni mau bunuh kita ini”........Rapat terus berlangsung tapi belum ada keputusan para menteri, Iwa Kusumasumantri sampai tertidur dan berkali-kali dibangunkan Sukarno. Iwa mengusap matanya dan melihat pada Sukarno “Gimana, No sudah ada putusan” jawab Sukarno “Belum” lalu Iwa melanjutkan tidurnya lagi.

Jam 3 sore tidak ada keputusan. Waktu terus berdetak. Rakyat sudah kelelahan menunggu Sukarno. Sudah ada yang mulai berteriak-teriak. Lalu Sukarno berdiri sendirian dan berkata karena semua menteri tampaknya banyak yang takut maka ia pasang badan, biarlah ia yang ditembakin Jepang, mati di depan rakyatnya. Karena ini adalah pertaruhan untuk masa depan Indonesia : “Saudara-saudara Menteri dengarkan putusan saya, Saya akan pergi ke lapangan Rapat. Untuk menentramkan rakyat yang sudah berjam-jam menunggu, saya tidak akan memaksa saudara-saudara untuk ikut saya, yang mau tinggal di rumah boleh, yang mau ikut saya terserah”.

Langsung jam setengah tiga sore keputusan rapat sudah diambil. Sukarno akan berbicara di depan rakyat sebagai simbol pemimpin dan pemerintahan. Banyak menteri yang lebih memilih ikut Sukarno dan beresiko nyawa mereka ditembaki Jepang. Di lapangan Tan Malaka sudah menunggu, sementara Sukarno akan datang dari gedung KNIP, rombonganpun datang. Di dalam lapangan rombongan dihentikan orang Jepang, seorang perwira Kolonel Miyamoto. Sukarno marah dengan penghadangan ini, sementara Hatta terus mencoba berdebat. Tiba-tiba dari arah belakang Tan Malaka berteriak keras dengan bahasa Minang :”Eh, Hatta Engkau debat ini bertele-tele, hentikan debat rakyat sudah gelisah...”

Akhirnya perwira itu didorong salah seorang pemuda Indonesia bersenjata dengan muka siap tempur, perwira itu mengalah lalu Bung Karno berjalan menuju podium dan berpidato singkat “Saudara-saudara, saudara-saudara......saya tahu bahwa saudara berkumpul disini untuk melihat Presiden kalian dan mendengarkan perintahnya. Apabila saudara-saudara masih mempercayai ini maka dengarkanlah perintah saya yang pertama kepada saudara-saudara : bubarlah, pulanglah dengan tenang ke rumah masing-masing tunggu perintah dari pemimpin-pemimpin ditempatmu masing-masing ...”

Serentak puluhan ribu orang membubarkan diri, ini yang membuat pengamat dan intel-intel asing tercengang. Bahkan Van Der Post intel Inggris yang mengirimkan anak buahnya untuk mencatat kejadiannya mendapatkan laporan sedemikian dramatis : “Ada seorang Ambon yang pro Belanda berdiri ditengah orang banyak dan menunggu, kegemparan luar biasa menghanyutkan dirinya dan semua orang yang disana. Pada saat Bung Karno datang, jantungnya berdegup keras dan ia hampir semaput. Apa yang dilakukan Bung Karno itu adalah memerintahkan agar semua orang pulang, dan suasana masih bergetar, oleh kegemparan luar biasa. Orang Ambon itu pergi bersama rakyat, dan belakangan ia melaporkan ‘peristiwa itu adalah pengalaman paling hebat dalam hidupnya’.

Pertemuan Lapangan Ikada adalah pertemuan batin, pertemuan rasa cinta dalam membentuk sebuah bangsa. Disini bertemu berupa-rupa kepentingan. Tan Malaka yang ingin mengetest kekuatan Sukarno dan efektifitas pemuda, Sukarno yang dengan berani gantung leher demi sebuah pemerintahan yang dipimpinnya, kenekatan pemuda mengadakan sebuah keputusan yang amat berani dan para intel-intel asing yang sedang memperhatikan perkembangan sebuah pemerintahan.

Rasa mengharukan Rapat Ikada ini bisa digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer yang saat itu juga hadir dan menangis melihat berdirinya sebuah bangsa. Di Pulau Buru pada sebuah kamp kerja paksa Orde Baru ia mengirimkan surat pada anaknya :

Et,

Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.

Pada waktu Proklamasi diucapkan, tak ada yang menduga, di Indonesia bakal meletup suatu revolusi, menjamah daratan dan perairan. Pengucapnya, Soekarno, ideolog, brahmana, mewakili para ideolog, para Brahmana Indonesia, dari ujung rambut sampai telapak kaki, menyuarakan Proklamasi itudengan keraguan – ragu terhadap masa lewat rakyatnya yang dikenalnya belum cukup mewakili kekuatan dan kemauan politik, ragu terhadap masa mendatang yang diwakili oleh kemungkinan tindakan kekerasan dari pihak bala tentara Jepang lain yang mendukung Proklamasi, lebih lagi pada Sekutu, pemenang Perang Dunia II.
Proklamasi kemerdekaan diucapkan. Kenyataannya: seperti dalam dongengan, suatu krisi revolusioner mendadak menyingkap didepan mata, seperti tabir itu tiba-tiba terbuka dan panggung terpampang. Belum, Et, belum revolusi itu sendiri. Krisis revolusioner itu adalah titik puncak keadaan sosial, ekonomi dan politik. Orang sudah tak lagi lebih lama dapat menenggang keadaan yang morat-marit, kemelaratan yang sudah menghalau orang ke lubang atau tepian kuburan, dan di bidang politik dan kekuasaan ada terjadi vakum. Pendeknya, pada waktu itu, barang siapa jadi melihat keadaan dan berani tampil memimpin, dia akan jadi pemimpin. Dan, Et, krisis revolusioner yang menjadi puncak keadaan ini, sayang, bukan karena faktor subyektif Indonesia, dia berjalan secara sosial-alamiah, karena dimungkinkan oleh vakum kekuasaan kolonial. Sayang. Ya, sayang. Sekiranya pendorong utamanya faktor subyektif Indonesia, perkembangan akan menjadi lain, lebih jernih, lebih terpimpin. Apa daya, justru pare ideolognya sendiri ragu sudah pada titik awal.

Waktu Soekarno-Hatta hendak bicara di hadapan rapat raksasa di Lapangan Ikada (lapangan Gambir bagian tenggara) kami bertiga sudah siap mendengarkan di lapangan itu. Yang kumaksud dengan kami adalah Abdul Kadir Hadi, Soekirno dan aku sendiri. Kami memasuki lapangan dari jalan raya di selatannya. Waktu itu di pinggir kanan jalan telah berderet beberapa tank dan panser Jepang. Di antarab dua kendaraan baja itu kami masuk, ke lapangan. Tanpa kecurigaan. Tanggal berapa waktu itu? 19 September 1945!
Lapangan itu benar-benar sudah penuh dengan barisan yang bersaf-saf. Setiap padanya membawa papan nama kesatuannya – Barisan Pelopor dan Banteng seluruh Jakarta. Juga pada luarnya di belakang barisan ini berjubel orang-orang seperti kami, tanpa ikatan organisasi. Sorak-sorai dan pekikan semua barisan di depan dan tengokan kepala mereka kearah selatan, tiba-tiba membuat kami bertiga menjadi sadar: gelora suara yang membelah langit itu ternyata ditujukan kepada tentara Jepang. Mereka pada bersenjata bambu runcing, parang, dan mungkin juga belati atau keris. Dengan sendirinya kami bertiga, yang tidak bersenjata, terbungkuk-bungkuk mencari batu. Aku sendiri mendapat tidak lebih dari tiga yang kumasukkan ke dalam kantong celana. Satu tetap dalam genggaman.

Rasanya begitu lama kami menunggu dalam ketegangan. Yang diharap-harapkan tak kunjung muncul. Nah, waktu iring-iringan memasuki jalan tepian bagian selatan lapangan – bukan yang kami lalui waktu masuk – dari kejauhan nampak mobil-mobil itu dihentikan oleh serdadu Jepang. Rasanya kami tak habis-habis menunggu. Barisan-barisan semakin riuh-rendah mengelu-elukan Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil Presiden RI pertama. Insiden itu membikin suasana semakin tegang. Tak ada yang bisa mendengar pembicaraan diantara mereka. Sesuatu yang tidak beres terasa mengawang di udara. Dan di geladak panggung tinggi, seperti sebuah menara pengintaian, berdiri beberapa serdadu Jepang bersenjata. Pengeras suara yang memberitakan kedatangan Presiden dan Wakil Presiden tak berdaya menghadapi sorak-sorai dan pekik-jerit. Akhirnya iring-iringan berjalan terus. Dan waktu Presiden tampil, keadaan menjadi senyap. Di podium suaranya terdengar lunak: tenang, pulanglah dengan tenang. Kemudian rombongan meninggalkan tempat. Takkan ada tambahan pada kata-kata lunak tersebut. Hanya protokol menunjukkan jalan keluar lapangan – jalan yang baru ditinggalkan iring-iringan Soekarno-Hatta.

Barisan demi barisan, tanpa membubarkan diri, meninggalkan lapangan melalui jalan yang telah ditentukan. Sorak-sorai, pekik-jerit, dan debu membubung memenuhi jalanan yang menjadi sempit. Di pinggiran jalan berjajar pohon palma, di bawahnya deretan truk terbuka dengan serdadu Jepang di geladaknya, semua bersenjata senapan bersangkur terhunus. Di tubuh jalanan: barisan-barisan yang berjejal. Serdadu-serdadu itu menghalau setiap orang yang dianggapnya terlalu dekat pada truknya. Menghalau dengan bedilnya dari atas geladak truk. Mula-mula tidak terjadis sesuatu. Tetap jalanan semakin mejadi padat. Barisan-barisan semakin melebar. Para serdadu Jepang semakin sibuk menghalau. Sembari memekin dan bersorak-sorai orang mulai membela diri dari ancaman bayonet dengan bambu runcing mereka. Massa yang gusar karena gagal mendengarkan Presidennya, mabuk oleh pekik, sorak-sorai, dan anggar laras senapan berbayonet dengan bambu runcing ….. dan itulah untuk pertama kali aku saksikan, bagaimana orang Indonesia sama sekali tidak lagi takut pada Dai Nippon dengan militernya yang mahsyur akan kekejaman dan kekejiannya. Krisis revolusioner sedang berkembang. Dan aku lihat, Et, seseorang dari barisan menghunus pedang dan menebas tangan salah seorang serdadu Jepang. Beberapa dari jarinya putus. Tetapi insiden tak berkembang lebih lanjut. Mereka tidak terprovokasi.

Inggris, atas nama Sekutu, mendarat. Dari R. Moedigdo, pamanku, seorang redaktur Domei, yang telah menjadi Antara, kudengar salah seorang rekannya, Sipahutar, salah seorang pendiri kantor berita itu pada tahun 30-an, berniat mendirikan panitia penyambutan. Tantangan, caci-maki dan penolakan dari rekan-rekannya membikin niat itu buyar. Tentara Inggris mulai membebaskan orang-orang Eropa tawanan Jepang dari kamp-kamp di wilayah Jakarta. Para bekas tawanan itu sebagian mereka persenjatai dan mulai menembaki penduduk. Juga serdadu-srdadu Jepang. Para pemuda Jakarta mulai menjaga keamanan lingkungannya masing-masing. Masa ini biasa dinamai “jaman siap”. Gelombang teriakan “siap” melanda lingkungan yang dimasuki oleh serdadu atau bekas tawanan yang mengamuk.

Sekarang krisis revolusioner itu beralih menjadi Revolusi yang sebenarnya. Kalau tadinya para pemuda mempersenjatai diri dan menjaga keamanan lingkungannya dari amukan Jepang dan bekas tawanan, di Medan Senen para paria sudah meninggalkan lingkungannya dan mulai menyerang. Mungkin ada orang Indonesia yang sudah jadi merah mukanya mendengar dongengku ini: Revolusi Indonesia dimulai oleh para paria Medan Senen. Apa boleh buat, itulah justru kesaksian yang dapat kuberikan. Yang menggerebak mukanya boleh punya dongeng sendir, sekiranya punya kesaksian lain. Dalam Abad ke-13 pun seorang paria yang mengawali babak Jawa-Hindu, meninggalkan Hindu-Jawa. Orang itu tak lain dari Ken Arok. Suksesnya menyebabkan sang paria ini diangkat menjadi putera Brahmana, Syiwa dan Wisynu sekaligus. Orang melupakan kenyataan: sebagai paria dia berada di luar semua kasta Hindu yang ada.

Hanya saja paria Medan Senen tak mampu mengangkat diri jadi pimpinan.