Thursday, 6 August 2009

WS RENDRA DALAM KENANGAN

WS Rendra Dalam Kenangan


Oleh Anton Djakarta


Satu saat saya tercengang saat WS Rendra berkomentar dalam Majalah Hai pada edisi Ulang Tahun Majalah Hai di awal tahun 1990-an, “Majalah Hai terlalu dangkal” itulah kira-kira lontaran dia yang dibalas dengan ucapan sinis wartawan Hai. Dan saya tersenyum tentulah berbeda ketika bangsa ini diajak berpikir dalam-dalam di tahun 1910-1965 dan saat bangsa ini diajak berbudaya instan dan konsumtif dimana-mana, Majalah Hai dengan segala hormat saya, bahwa Hai adalah zeigeist dari jaman yang dipenuhi konsumtif dan dangkal berpikir, Zeitgeist dari jaman ketika Suharto memperkenalkan bahwa berpikir kritis tentang kekuasaan adalah subversif, maka masturbasilah dengan musik, roman dan hal-hal ringan.


Perkenalan saya dengan WS Rendra, terjadi sekitar tahun 1990 dan itu hanya singkat, sama dengan perkenalan saya dengan Gunawan Muhammad penulis yang pernah mencekoki saya sepanjang tahun 1980 dan 1990-an. Berbeda dengan GM yang kaku ketika saya mencoba menyalaminya di depan Gramedia PIM, WS Rendra saat saya bertemu terkesan santai dan senang tersenyum tapi matanya yang nyalang seperti elang dan mata yang seolah bernyawa itu bisa bicara. Saya sendiri memang berbeda dengan remaja seumuran saya, kalo teman-teman saya senang berkenalan dengan artis-artis yang populer, saya justru senang berkenalan dan mencoba berkenalan dengan tokoh-tokoh intelektual, pelaku sejarah, politikus dan budayawan. Ini sama halnya saya berkenalan dengan Nurcholis Madjid, AH Nasution, Djenderal Harjo Ketjik (eks Pangdam Kaltim rivaal Mitro Gendut) atau Sidik Kertapati. Saya ingat di masa tahun 1980-1990 orang yang paling saya kagumi ada tiga orang : WS Rendra, Gunawan Muhamad dan Nurcholis Madjid. Namun setelah saya tergila-gila Novel Pram maka nama WS Rendra surut kebelakang, karena saya asik membaca sastra-sastra yang apa disebut Orde Baru sebagai sastra kiri. Toh, bagaimanapun WS Rendra orang kanan bukan? Pelaku humanis, dan Mani Kebo seperti tertera dalam sejarah konflik pemikiran sastra dan budaya antara Lekra dan kelompok Humanis. Tapi kanan atau kiri, di jaman penuh darah macam Orde Baru hanyalah anjuran psikologis agar kita tetap menjaga permusuhan, dan permusuhan itu adalah tatanan yang menjaga susunan masyarakat Orde Baru. Dimana susunan Orde Baru adalah energi yang selalu membakar Rendra untuk melawan arus kekuasaan :


WS Rendra, adalah nyawa bagi negeri yang penuh darah. Dia menjaga perjuangan minimal anak muda, dia adalah pelopor yang membakar bahwa anak muda harus berani melawan generasi tua yang rusak. Cobalah baca komentar WS Rendra ini : Tidak ada generasi penerus, apanya yang mau diteruskan. Generasi muda harus tampil sebagai tandingan, agar yang senior sadar...” Sepenuhnya Sejarah hidup WS Rendra adalah sejarah tanding antara yang tua dengan yang muda, dan yang pertama kali dilawan alam pikirannya adalah alam pikiran bapaknya, .R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo.


WS Rendra dilahirkan di Solo 7 November 1936, selama masa kecil ia hidup di kota Solo yang tinggi rasa budayanya itu. Bapaknya guru bahasa Indonesia dan ibunya penari srimpi Keraton Surakarta. Disiplin ningrat Jawa mencoba menjajah dirinya, namun sejak mula Rendra sadar bahwa budaya Jawa yang dikenalkan keluarganya adalah budaya Jawa kalahan, bukan budaya Jawa yang menang. Budaya yang menuruti kehendak kaum tua untuk hidup tenang dan menjauhkan kehidupan muda yang dinamis, kehidupan dimana sebuah bangsa bisa menggelegak. Seperti hal-nya generasi yang dilahirkan tahun 1930-an mereka tidak mengenal perang revolusi, mereka ketinggalan celah generasi menonjol macam mereka yang lahir di tahun 1920-an, dimana generasi ini adalah generasi yang cukup usia untuk perang dan menjadi icon jaman. Generasi 1930-an adalah generasi mapan, yang besar di tahun 1950-an ketika jaman mulai tenang. Disinilah WS Rendra menemukan momentum kehidupannya. Ia rajin baca Sartre, Camus, Ronggowarsito, Puisi-Puisi Lorca, dan buku-buku drama milik bapaknya yang banyak. Tidak seperti kebanyakan anak muda yang bingung dengan hidupnya, ia menemukan kehidupannya sejak awal mula : Seniman. WS Rendra adalah seniman yang mampu menafsirkan jaman dan jaman itu dimulai di Yogyakarta.


Yogya, bagi WS Rendra adalah nyawa masa mudanya. Tempat indekost-nya adalah saksi ketika pikirannya dibakar matahari kesadaran. Kaum muda berkumpul di dekatnya, para wanita jatuh hati pada lelaki berwajah bulan ini. Ketika mereka berkumpul dan memahami WS Rendra, maka runtuhlah tatanan kesopanan dan etika penuh kepalsuan, disanalah Perkemahan Kaum Urakan di didirikan sebagai bentuk perlawanan budaya Jawa yang mementingkan penampilan santun ketimbang substantif kemanusiaan, sebuah sindiran jelas bagi Orde Baru yang dibangun dengan darah lewat senyum seorang Jenderal santun. Kaum urakan di masa awal Orde Baru dimana sebelumnya Bengkel Teater mempertunjukkan teori nonverbal dan non linier hal ini juga bentuk penafsiran masyarakat di Jaman Orde Baru yang mati, sebuah masyarakat tanpa dinamika. Maka WS Rendra mencoba berteater tanpa sehelai naskah pun. Kehidupan sudah mati ketika kekuasaan hidup bagai matahari.


Pada umur 24 tahun tepatnya tanggal 31 Maret 1959. WS Rendra menikahi Soenarti Soewandi, ia membangun cintanya dengan puisi yang paling terkenal : Surat Cinta. Sebuah kalimat cinta yang menggetarkan :



Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,

Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis

Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan

Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ......
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !

Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku

Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya

Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !



Kenangan saya terhadap kisah hidup WS Rendra adalah kemarahan anggota keluarganya saat bapaknya sakit, saat itu terdengar kabar Rendra mau masuk Islam dan kakak-kakaknya memarahi adiknya yang bengal itu. Anggota keluarga separuh menyalahkan sakitnya bapaknya WS Rendra atas ulah Rendra. Tapi Rendra tetaplah Rendra, seperti puisinya ia memiliki jalan pikir merdeka yang tidak bisa didikte apapun. Ketika di Yogya ia jatuh hati pada anak seorang Pangeran, dan wanita cantik itu bernama Sitoresmi Prabuningrat, seorang kembang dari Keraton Prabuningratan. Seorang anak Pangeran yang bisa ia suruh menyuapi makan anak-anak Rendra dari Sunarti, seorang gadis yang kagum melihat lelaki berpikiran merdeka. Maka Rendra berniat menikahi Sitoresmi. Dan beranglah Pangeran Prabuningrat, salah satu alasan adalah karena Rendra katolik. Seolah senang bertarung dengan orang tua yang feodal, Rendra angkat kepala dan masuk Islam dengan saksi : Ajip Rosidi dan Taufiq Ismail. Maka WS Rendra masuk Islam dan cemooh mengalir kepadanya, disebut-sebut ia ingin masuk Islam karena poligami. Padahal keIslaman Rendra adalah hasil pencerahan dia terhadap Islam yang ia dapatkan dari pertunjukan Kasidah Barzanji, ucapan yang terkenal dari pertunjukan yang pertama kali diadakan tahun 1969 adalah : ''Saudara-saudariku, aku mendengar kasidah dan salawatan. Aku mendegar kisah dan cakrawala yang kamu bentangkan. Akhirnya aku membaca sirah Muhammad Rasullah, Bulan purnama muncul!!....., Bulat sempurna, Bau wangi menegur sepi, Keramahan membawa kehangatan dan kedamaian'' dan kesadaran Islam itu pula yang kemudian Rendra menikahi Sitoresmi Prabuningrat.


Bagi Rendra, wajahnya adalah warisan rembulan, kata-katanya rangkaian peluru yang bersemayam di hati para wanita. Ketika peluru itu mengenai Ken Zuraida maka ia menikahi Ken dan menceraikan dua isterinya, Sitoresmi dan Soenarti.


Tidak seperti Pram yang kaku, WS Rendra adalah gambaran ningrat Jawa yang selalu bisa memanfaatkan keadaan. Ia lebih mirip Sukarno yang mampu memainkan peran kehidupan untuk bisa mengambil manfaat dari semuanya. Sebagai contoh ia tidak menolak penghargaan Bakrie Award sementara rekannya Romo Magnis Suseno menolak penghargaan Bakrie Award. Rendra menerima penghargaan Bakrie sekaligus mengkritik yayasan Freedom Institut yang menganggap Pasar Bebas adalah segala kebenaran. Begini Kritikan WS Rendra :


“Namun, saya tidak sependapat dengan yayasan mengenai sikapnya yang mendukung ekonomi pasar bebas secara luas. Romantika kebebasan yang kolokan begini tidak bisa saya benarkan.

Sebagai penyair saya akan selalu bersikap kritis terhadap pasar. Kebudayaan pasar sangat penting dalam peradaban. Pasar adalah salah satu pusat pergaulan peradahan yang beraneka warna. Pusat interaksi nilai-nilai. Pusat informasi berbagai cara berproduksi. Dan juga pusat interaksi ilmu-ilmu pengetahuan. — Namun saya juga menyadari bahwa mekanisme pasar itu tidak punya pikiran dan hati nurani. oleh karena itu tidak boleh dibiarkan lepas bebas dalam romantisme kolokan.

Demokrasi adalah pemerataan partisipasi di dalam tata negara, tata hukum, dan tata pembangunan. Emansipasi individu sangat utama. Tak mungkin ada emansipasi kebudayaan tanpa emansipasi individu. Namun pengertian emansipasi individu dalarn filsafat yang menjadi pegangan hidup saya adalah: “manjing hing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi' ialah: masuk ke dalam kontekstualitas sambil meraih kehendak Allah. Dan puncak dan kemampuan emansipasi individu adalah penyadaran bahwa “ananingsun, marganira, ananira marganingsun' atau: “aku ada karena anda, anda ada karena aku”. Maka luka anda lukaku juga. Derita sosial-politik-ekonomi anda, deritaku pula.

Oleh karena itu usaha menegakkan emansipasi individu yang peduli akan kesetaraan hak hukum, hak sosial, dan hak politik antara sesama manusia, harus diikuti kesadaran bahwa kekuasaan modal, distribusi, dan energi harus dikontrol, tidak boleh dimonopoli oleh satu atau dua pihak dengan kebebasan yang romantis dan cengeng, sebab akan mengganggu kemaslahatan orang banyak.

Globalisasi memang ada, tetapi pasar bebas itu sepanjang sejarah manusia di mana saja tak mungkin tanpa ada intervensi proteksi, Amerika, Pasar Bersama Eropa, China, Korea dan Jepang juga masih mempraktekkan proteksi.

Mahattir bisa melapaskan Malaysia dari kemelut krismon karena berhasil mengusir intervensi IMF dan menerapkan proteksi keras terhadap arus keluar devisa dari negerinya. Waktu ada konferensi di Davos di tahun 2003, Ia dielu-elukan sebagai tokoh yang berhasil menyelamatkan negerinya dari krismon.

Sepanjang peradaban manusia selalu ada budaya akumulatif dan juga selalu ada budaya distribusi. Keduanya harus berimbang di dalam tata negara, tata hukum dan tata pembangunan. Semuanya bersumber pada pengabdian kepada martabat manusla, dalam bimbingan filsafat kebersamaan dalam kesetaraan, dan rasa hormat kepada nilai-nilai moral universal”.



WS Rendra menyenangi Mbah Surip dan sempat berjalan-jalan dengan Mbah Surip dihalaman Bengkel Teater, konon ia berkata tempat makamnya. Sebagai seorang ningrat Jawa yang terbiasa menetapkan tempat makam ketika dirinya wafat, begitulah WS Rendra bahkan Mbah Surip ingin dekat dengan WS Rendra. Ketika Mbah Surip wafat, WS Rendra bertarung dengan sakitnya dan pada tanggal 6 Agustus 2009 jam 11 malam. Seorang yang pernah mengguncang-guncangkan keberanian anak muda terhadap Orde Baru dan Kegemblungan reformasi itu wafat.



Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra)




Djakarta, Beberapa Jam setelah kematian manusia besar WS Rendra..............



1 comment:

Sitamarito Manurung said...

Saya sangat penasaran dengan kehidupan percintaan WS Rendra. Selain karena saya sedang meneliti puisi-puisi Serenada karya WS Rendra, saya juga mendapati beberapa informasi yang tidak lengkap berkaitan dengan kisah percintaan almarhum. Apakah ada sumber tentang pergolakan batin WS Rendra tentang isteri-isterinya atau hal lain yang selaras dengan itu. Sekiranya ada, itu sangat membantu. Terima Kasih untuk artikel yang telah membantu otak saya yang beku ini.