Monday, 8 September 2008

Pidato Sukarno : Menjelamatkan Revolusi Kita


Gambar Atas : Megawati Sewaktu Remadja, Bung Karno dan John F.
Kennedy, Presiden Amerika Serikat.




MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MENJELAMATKAN REVOLUSI KITA !

Amanat Presiden Sukarno dihadapan wakil-wakil Partai Politik
di Guesthouse Istana, Djakarta, tanggal 27 Oktober 1965



Bismillah, sidang saja buka.

Saudara-saudara,

Pada saat ini kita sekalian, seluruh bangsa Indonesia, seluruh negara Indonesia, bahkan seluruh Revolusi Indonesia mengalami saát-saát jang amat kritik. Jang saja maksudkan ialah sedjak terdjadinja peristiwa 30 September. Saudara-saudara mengetahuinja, bahwa saja, Presiden, dihadapkan kepada tugas mengatasi, membereskan segala akibat-akibat daripada peristiwa 30 September itu.

Saudara-saudara telah mengetahui dan oleh kerenanja tidak perlu lagi saja sebutkan disini segala kedjadian-kedjadian jang terdjadi diantara 30 September itu sampai hari sekarang. Semua Saudara-saudara telah mengikuti kedjadian-kedjadian itu. Dan Saudara mengetahui, bahwa sajapun ditempatkan kepada bermatjam-matjam desakan.. Desakan, desakan dari beberapa golongan, desakan daripada sebagian daripada Rakjat, djuga desakan-desakan daripada tugas-kewadjiban saja sebagai putjuk daripada negara. Desakan-desakan itu saudara semuanja sudah mengetahui, karenanjapun saja tidak akan sebutkan kepada Saudara-saudara desakan apa.

Saudara-saudara semuanja telah mengetahui sikap saja, bahkan mengetahui komando-komando jang telah saja perintahkan sedjak terdjadinja 30 September itu, jang pada pokoknja ialah bahwa Insja Allah saja akan mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi segala akibat-akibat daripada kedjadian 30 September itu. Baik, tindakan-tindakan dilapangan hukum, maupun tindakan-tindakan jang mengenai penjelesaian daripada segala sesuatu jang bersangkutan dengan 30 September. Pokok-pokok inti komando saja jang pertama ialah bahwa saja menghendaki ketenangan. Dan didalam suasana ketenangan itulah saja dapat kemudian mendjalankan tugas saja sebagai hakim tertinggi dan sebagai penjelamat negara dan Revolusi. Komando saja untuk ditjiptakan selekas mungkin ketenangan kadang-kadang kurang diperhatikan orang, sehingga ketenangan jang saja kehendaki itu sampai pada saá t sekarang ini belum terlaksana.

Sudah saja katakan pada umum, bahwa saja tidak membenarkan kedjadian 30 September itu dan bahwa saja akan menghukum siapapun jang pembuat daripada kedjadian 30 September itu. Tetapi agar supaja saja bisa bertindak tepat maka saja komandokan ketenangan. Didalam ketenangan itu akan saja kumpulkan semua fakta-fakata mengenai 30 September itu, agar supaja nanti saja bisa bertindak sebagai hakim tertinggi dan agar supaja saja bisa mengadakan penjelesaian daripada peristiwa ini. Jang saja maksudkan ialah penjelesaian politik, oleh karena menurut kejakinan saja kedjadian 30 September bukan sekedar kedjadian 30 September, tetapi adalah suatu kedjadian politik didalam Revolusi kita.

Saja mendapat kesan, bahwa sebagian daripada bangsa kita dalam amarahnja terhadap kepada orang-orang jang mendjalankan 30 September itu melupakan keselamatan negara kita dan keselamatan Revolusi kita. Ter lalu sebagian daripada bangsa kita itu alam fikirannja, perasaan-perasaannja, dikonsentrirkan hanja kepada kedjadian 30 September tok. Dan djikalau kita berbuat, berpikir, bersikap demikian, kita kadang-kadang melupakan keselamatan negara dan keselamatan Revolusi.

Saja mendapat kesan, bahwa sebagian daripada bangsa kita ini bersikap sebagai berikut: Kita ini mempunjai rumah, didalam rumah kita itu kita mempunjai kuweh besar, katakanlah kuweh spekkoek atau kuweh talam. Kuweh spekkoek atau kuweh talam atau kuweh getuk. Kuweh ini pada satu saát digrogoti atau dimakan oleh tikus, oleh segerombolan tikus. Kemudian kita sudah barang tentu marah kepada tikus ini, dan kita mau sedikitnja menangkap tikus ini, kalau bisa malahan membunuh tikus ini. Tetapi dalam usaha kita untuk menangkap tikus ini atau membunuh tikus ini kita berbuat satu keslahan besar. Jaitu ada golongan-golongan jang mau membakar rumah ini sama sekali. Mau menangkap tikus atau mau membunuh tikus, seluruh rumahnja dibakar. Nah ini sudah njata satu sikap jang salah sekali. Kita dalam hendak menangkap tikus itu harus tetap menjelamatkan rumah, djangan kita merusak rumah, djangan kita membakar rumah ini. Inilah tamsil jang saja pakai untuk menggambarkan suasana dan kedjadian-kedjadian dikalangan rakjat jang Saudara-saudara pimpin sesudah 30 September itu.

Oleh karena itu maka saja kumpulkan Saudara-saudara pada hari ini...Marilah kita bersama-sama menjelamatkan rumah ini! Marilah kita djangan membakar-bakar rumah kita ini! Wadjarnja, marilah kita bersama-sama menjelamatkan negara kita ini! dan marilah kita bersama-sama menjelamatkan Revolusi kita ini! Djangan kita dalam kita hendak menangkap tikus itu membakar negara sendiri dan menjelewengkan Revolusi kita sendiri. Itulah keprihatinan saja diwaktu-waktu jang belakangan ini.< /DIV>

Dikalangan rakjat banjak sekali orang-orang jang hanja memikirkan tikus sadja.. Memikirkan hendak menangkap tikus itu sadja, tetapi tidak memperhatikan keselamatan rumah kita, negara kita, Revolusi kita. Tadinja -- dan bukan sadja tadinja, tetapi sampai sekarangpun dan Insja Allah seterusnja -- maka saja sendiri baik sebagai politikus, maupun sebagai Panglima Tertinggi, maupun sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saja lebih mengutamakan jang ini: Negara dan Revolusi.

Kedjadian 30 September itu adalah satu kedjadian jang salah sekali dan harus dikoreksi. Tetapi kedjadian itu "is er al geweest". "Is er al geweest" artinja sudah terdjadi dan kita sekarang harus bertindak agar supaja negara kita dan Revolusi kita tetap selamat dalam kita mendjalankan tindakan pula untuk menghukum kedjadian jang "is al geweest" itu tadi, malahan bagi saja, untuk dapat menghukum kedjadian "is al geweest" itu sebagai satu ora ng jang bidjaksana, demikianlah streven saja. Saja akan dipersalahkan oleh Tuhan dan sedjarah, djikalau saja tidak bidjaksana.

Tadi misalnja saja didatangi oleh utusan-utusan dari Nahdatul Ulama dan dari Muhammadijah, jang saja mengutjap terima-kasih kepada mereka, bahwa mereka itu memperingatkan kepada saja akan firman Tuhan. Firman Tuhan jang berbunji: tiap-tiap kita ini adalah pemimpin. ada jang pemimpin negara, ada jang pemimpin famili, ada jang pemimpin sekolah, ada jang pemimpin kebun, ada jang pemimpin ini, ada jang pemimpin itu. Djadi tiap-tiap kita ini adalah pemimpin dan tiap-tiap kita ini nanti diachirat akan dilandrad oleh Tuhan tentang kepemimpinan kita. Saja akan dilandrad tentang kepemimpinan saja. Ali akan dilandrad tentang kepemimpinannja. Chaerul akan dilandrad tentang kepemimpinan Chaerul. Suharto akan dilandrad tentang kepemimpinannja. Kita semuanja akan dilandrad tentang kepemimpinan kita.
Oleh karena itu, jang memang itulah pendirian saja sedjak sebelum saja tadi diperingatkan oleh Nahdatul Ulama dan Muhammadiajah, saja selalu berhati-hati. Saja selalu mau bidjaksana. Saja tidak mau gegabah. Karena itu saja minta ketenangan. Dan didalam ketenangan itu saja akan selidiki dan peladjari sdalam-dalamnja segala fakta-fakta jang bersangkutan dengan 30 September ini. Fakta-fakta sebelumnja, fakta-fakta pada 30 September sendiri dan mengenai 30 September sendiri, fakta-fakta sesudahnja. Itu jang saja namakan proloog daripada 30 September, kemudian fakta 30 September itu sendiri, kemudian naloog atau epiloog daripada 30 September itu. Proloognja, het feit op zich zelfnja, dan naloog atau epoloognja daripada 30 September itu. Dan itu sedang saja selidiki, sedang saja peladjari. Dan saja hanja mungkin mendapat fakta-fakta dalam penjelidikan itu setjermat-thermatmja, djikalau keadaan tenang dan djikalau kita tidak membuat keadaan itu tidak tenang denga n tjara membakar-bakar sentimen, membakar-bakar emosi.

Saja sebagai Pemimpin Besar Revolusi, terutama sekali sebagai Pemimpin Besar revolusi, amat sedih dengan terdjadinja 30 September ini, sebab het feit 30 September op zich zelf adalah satu kedjadian, adalah satu perbuatan, adalah satu hal jang amat merugikan kepada Revolusi. Ketambahan pula didalam melihat epiloog, naloog daripada kedjadian 30 September ini, saja tambah sedih lagi.

Het feit 30 September op zich zelf sudah membuat saja sedih naloog atau epiloog daripada 30 September ini membuat saja lebih sedih lagi. Sebab apa ? Sebabnja ialah, bahwa ada golongan-golongan dikalangan Rakjat kita ini jang hanja memikirkan sitikus itu tadi, hendak menumpas sitikus itu tadi dan melupakan keselamatan negara dan Revolusi. Terutama sekali mengenai Revolusi kita. Dengan sedih saja melihat, bahwa Revolusi kita jang telah beberapa kali saja katakan, bahwa Re volusi kita adalah Revolusi kiri. Kiri karena apa ? Pantjasila op zich zelf is al kiri ! Apalagi djikalau kita memperhatikan Sila kelima daripada Pantjasila: Keadilan Sosial. Maka dengan tegas dan djelas saja katakan, bahwa Revolusi kita adalah revolusi kiri. Tetapi saja melihat sebagai epiloog daripada kedjadian 30 September itu, kalau kita tidak waspada, Revolusi ini menggeser kekanan. Dan djikalau Revolusi kita ini menggeser kekanan, maka saja berkata itulah malapetaka, jang besar sebesar-besarnja, lebih besar daripada kedjadian 30 September sendiri.

Karena itu saja memanggil Saudara-saudara, pemimpin-pemimpin daripada Rakjat Indonesia ini. Mari kita bersama-sama menjelamatkan kita-punja negara! Mari kita bersama-sama menjelamatkan Revolusi kita ! Mari kita bersama-sama mendjaga djangan Revolusi kita ini menggeser kekanan. Mari kita bersama-sama menetapkan Revolusi kita itu Revolusi kiri.

Didalam pidato saja kepada Pantja Tunggal seluruh Indonesia jang saja kumpulkan di Istana Negara beberapa hari jang lalu, saja telah djelaskan, bahwa sebagaimana biasa, sebagaimana biasa, bukan hanja di Indonesia, tetapi seluruh dunia, sesuatu kedjadian jang hebat membangunkan sentimenten, sentimenten pro, sentimenten tegen. Manusia adalah machluk jang mempunjai sentimen. Karena itu dimanapun, didjaman apapun, tiap-tiap kedjadian hebat disesuatu masjarakat membangunkan dimasjarakat itu sentimenten jang meluap-luap, sentimenten pro, sentimenten tegen. Dan djuga, Saudara-saudara, saja katakan didalam pidato saja terhadap Pantja Tunggal itu jang masing-masing Saudara mendapat bukunja, risalahnja, selalu orang, ada orang, ada golongan jang menunggangi kedjadian itu. Menunggangi untuk kepentingan pribadi, menunggangi untuk kepentingan golongan, menunggangi untuk kepentingan ideologi misalnja, Saudara-saudara, d an ini adalah satu hal jang normal. Bahkan boleh saja katakan satu hal jang baik, bahwa sekarang ini boleh dikatakan tiap-tiap orang memveroordeel 30 September itu. Tapi tjelakanja ialah bahwa veroordelen 30 September ini sering dipertunggangkan kepada kepentingan diri sendiri atau kepentingan golongannja atau kepentingan ideologi.

Tjontoh jang saja sebutkan didalam pidato saja pada Panja Tunggal itu, bahwa orang menunggangi kedjadian ini untuk kepentingan diri sendiri, saja mengenal satu perusahaan besar, jang oleh karena perusahaan itu adalah perusahaan negara, maka Presiden Direkturnja ditetapkan atau diangkat oleh Pemerintah. Didalam perusahaan itu jang Presiden Direkturnja sudah ditetapkan atau diangkat oleh Pemerintah, ada orang lain jang sebenarnja dia ingin sekali mendjadi Presiden Direktur daripada perusahaan itu. Banjak terdjadi . Zo'n abnormaal geval is het niet. Tetapi begitu 30 September terdjadi , begitu tiap-tiap oran g mengatakan , 30 September adalah perbuatan jang djahat, begitu keluar dengan pernjataan-pernjataan, seorang jang ingin mendjadi Presiden Direktur ini terus sadja melantjarkan tuduhan kepada Presiden Direktur jang sudah ada ini, bahwa dia tersangkut, bahwa dia dus harus dienjahkan sedikitnja, atau kalau bisa ja didjebloskan dalam pendjara. Ini adalah satu geval jang saja sendiri harus membereskan. Saja tahu, ini sebagai satu tjontoh bagi Saudara-saudara, penunggangan kedjadian 30 September untuk persoonlijk gewin atau persoonlijk belang.

Bahkan saja tahu satu kedjadian jang lebih lutju lagi, djuga satu perusahaan. Disitu ada dua orang jang bertentangan satu sama-lain. Pertentangannja itu apa? Si A dan si B ini bertentangan satu sama-lain didalam pimpinan daripada perusahaan ini oleh karena patjar si A ini is overgelopen naar B. Djadi A dan B sebetulnja rebutan awéwé. Begitu 30 September ini terdjadi, si A jang kehilangan p atjar itu mengadakan mengadakan pengaduan bahwa si B tersangkut 30 September. Satu tjontoh penunggangan lagi.

Apalagi dadalam kalangan golongan-golongan atau didalam kalangan politik. Wat is politiek? Politiek is een ideeënstrijd. Nah, didalam ideeënstrijd ini saja melihat gedjala-gedjala bahwa orang -- untuk memenangkan ideenja -- menunggangi kedjadian 30 September, dengan akibat jang amat merugikan pada negara ini. Karena itu saja selalu dari mulanja selalu berkata, djanganlah kita membakar-bakar sentimen, djanganlah kita membakar-bakar emoties. Saja minta ketenangan, ketenangan, ketenangan, ketenangan dan didalam ketenangan itu saja kumpulkan semua fakta-fakta, proloog, het feit op zich zelf, epiloog, dan Insja Allah sesudah daripada itu saja bisa mengadakan pendjelasan politik.

Dan sekarang saja mengundang Saudara-saudara, Pemimpin-pemimpin dari partai-partai, untuk membantu saja didalam hal ini, sebab Saudara-saudara bertanggung-djawab kepada partai-partai Saudara-saudara, 'tetapi lebih daripada itu' Saudara-saudara bertanggung-djawab kepada keselamatan Negara dan keselamatan Revolusi. Negara kita harus tetap tegak-kuat, terutama sekali manakala kita sekarang ini berhadap-hadapan dengan nekolim, terutama sekali manakala kita sekarang ini sedang mendjalankan konfrontasi, jang konfrontasi itu betul-betul adalah satu vivere pericoloso. Kita harus djaga djangan negara ini mendjadi retak atau mendjadi lemah atau mendjadi kurang kuat. Dan kekuatan negara mutlak tergantung daripada kesatuan antara kita dengan kita.

Untuk itulah, Saudara-saudara, agar supaja negara kita ini kuat dan agar supaja Revolusi ini berdjalan lantjar, saja sedjak tahun '26 telah lanceren idee Nasakom. Tatkala saja masih pemuda, umur 25 tahun, saja telah menulis artikelenreeks saja jang sekarang termasjur, tertjetak dalam kitab "Dibawah Bendera Revolusi", jang pokoknja ada lah Nasakom. Tetapi, Saudara-saudara, sebagai epiloog daripda kedjadian 30 September ini saja melihat bahwa Nasakom itu terantjam bahaja. Tetapi sjukur Alhamdulillah, sesudah saja memberi penerangan, bahaja petjahnja Nasakom ini sudah berkurang, jaitu tatkala saja memberi penerangan bahwa Nas itu tidak berarti Ali Sastroamidjojo atau P.N.I, atau Asmarahadi atau Partindo, A itu tidak berarti Idham Chalid atau Nahdatul Ulama, atau Frans Seda atau Partai Katolik, atau Badawi atau Muhammadijah, atau Jo Leimena atau Parkindo, dan bahwa Kom itu tidak berarti Aidit atau P.K.I.. Nas dan A dan Kom, ketiga-tiganja adalah roman-muka realitas daripada Revolusi kita ini.

Revolusi kita jang kita namakan revolusi pantjamuka -- revolusi nasional, revolusi politik, revolusi ekonomi, revolusi sosial, revolusi kultur, bahkan revolusi pembangunan manusia baru Indonesia -- Revolusi ini tidak bisa lain daripada beroman-muka Nas dan A dan Kom. Revolusi nasional tid ak bisa berdjalan dan tidak bisa ada sebagai revolusi nasional tanpa rasa-rasa nasionalisme. Revolusi kultur dalam arti bukan sadja kultur jang berkepribadian, tetapi dalam arti keigamaan, sebab igama adalah sebagian daripada kultur, tak mungkin ada djikalau tidak ada A. Ikut sertanja A didalam Revolusi kita itu adalah satu realitas dan satu Notwendigheid, oleh karena Revolusi kita menghendaki kultur baru, kultur dalam arti jang seluas-luasnja, jaitu mengenai agama djuga. Demikian pula Revolusi kita ini, sebagai hasil kebangkitan daripada rakjat jang tertindas perutnja, rakjat jang tertindas kehidupan materiil sehari-harinja, tidak bisa lain daripada satu revolusi jang mempunjai socialistische aspiraties. Revolusi kita bukan satu revolusi burgerlijk, tidak , Revolusi kita adalah revolusi rakjat jang perutnja tertindas, revolusi rakjat jang materiilnja tertindas. Dan rakjat jang perutnja tertindas, materiilnja tertindas, tidak bisa lain daripada mempunjai, be rangan-angan sosialisme. Ingin perutnja penuh, ingin materieele verhoudingennja lajak. Dus Kom atau Marxisme atau Sosialisme adalah satu unsur roman-muka-riil daripada Revolusi kita ini.

Oleh karena itu, als geheel genomen, saja berkata, Revolusi kita ini adalah revolusi kiri. Tetapi dengan sedih saja melihat, sekarang ini ada gedjala-gedjala penggeseran Revolusi kita ini kearah kanan dan sebagai kukatakan tadi, djikalau penggeseran ini berlangsung terus, itu adalah satu malapetaka jang terbesar, bagi bangsa Indonesia.

Saudara-saudara sebagai pemimpin daripada Rakjat Indonesia, pemimpin dari partai-partai Indonesia, saja undang Saudara-saudara untuk mendjaga djangan Revolusi kita ini verrechtst atau verrechtsen, djangan revolusi kita ini mendjadi satu revolusi jang tidak mentjerminkan Amanat Penderitaan Rakjat.

Nou, sesudah saja memberi keterangan ini, Saudara-saudara, sedjak bebe rapa hari jang lalu saja melihat, nou beginnen de meesten het een beetje te snappen. Ketenangan sudah mulai, mulai terdjadi, tetapi belum seluruhnja, malahan dibeberapa aspek menjala-njala kekatjauan.

Tjoba, Saudara-saudara, apa kata Saudara-saudara tentang kedjadian-kedjadian di Djawa Timur, di Djawa tengah, mengenai pembakaran-pembakaran? Misalnja -- saja bilang misalnja oleh karena tidak hanja mereka jang kena -- misalnja orang-orang Tionghoa. Entah siapa jang dari Djawa Timur. Saja dapat laporan, misalnja dari Surabaja sampai ke Banjuwangi -- dat is me nog al een afstand, saudara-saudara -- dibeberapa tempat terdjadi rasialisme, malah agak setjara overdreven Panglima Safiudin dari bali berkata: Pak, antara Surabaja dan Banjuwanmgi dimana-mana plat gebrand. Saja tadi berkata, ini rupanja ja sedikit overdreven, tetapi sedikitnja benar bahwa antara Banjuwangi dan Surabaja itu dibebearapa tempat, dibanjak tempat terdjadi rasialisme.

Apa jang Saudara katakan, tentang kedjadian di Sala? Siapa dari Sala, saja tidak tahu. Djendral harto sendiri, Achmadi, Muljono Herlambang. Kalau Achmadi itu sudah mendjadi orang Tjibulan..... Tjoba di Sala, Saudara-saudara, apa jang terdjadi beberapa hari jang lalu? Verschrikkelijk, rasialisme berkobar-kobar disana dan apa jang dinamakan wraak op muizen, verschrikkelijk.

Nah, karena itu saja minta kepada Saudara-saudara, apa jang saja katakan kepada Menteri-menteri, dan kepada semua Pantja Tunggal, saja ulangi padamu: Pemimpin-pemimpin partai, verlies je kop niet, verlies je kluts niet, tetaplah djaga keselamatan negara dan keselamatan Revolusi! Segala usaha daripada nekolim dan C.I.A. harus kita awasi, Saudara-saudara, sebab nekolim dan C.I.A. is daarom nekolim en C.I.A. Artinja, kalau mereka tidak berusaha untuk menghantjurkan kita, merugikan kita, memetjahkan kita, bukan nekolim, bukan C.I.A. Awas, Saudara-saudara, awas, djangan kitapun ditunggangi oleh nekolim atau C.I.A. ini. Dan saja berkata kepada Saudara-saudara, mereka itu begitu lihaynja sehingga kalau umpamanja, kita ini ditunggangi, dat wij niet eens voelen, bahwa kita ini ditunggangi. Tjara menungganginja itu bukan main lihaynja. Saudara-saudara, mereka mempunjai pengalaman puluhan tahun tentang hal ini. Sedikitnja kalau kita tidak sedar ditunggangi, kita ini er fijn ingelopen. Nah itu, perkataan je bent er in gelopen.

Nah ini kita mesti djaga, djangan kita er in lopen, djangan kita ditunggangi. Paling berbahaja itu, kita ditunggangi tanpa kta merasa dan mengetahui bahwa kita ditunggangi. Batja kitab-kitab jang memebeberkan segala rahasia nekolim, batja "The Invisible Government", batja "C.I.A." tulisan Andrew Tulley, batja "The Ambassador" tulisan Maurice West. O, disitu kelihatan betul kelihayan mereka itu. Dan kita sebagai pemimpin Rakjat, Saudara-saudara, kita harus hati-hati dan waspada s ekali. Sekarang Bandrio ini misalnja, o God, o God, o God, dia sekarang sudahlah, dikatakan ini dikatakan itu oleh nekolim. Saja bisa kata ini, oleh karena saja bergaul, bertemu dengan ambassador-ambassador di Djakarta ini. Tidak sedikit ambassador datang kepada saja, apakah benar Presiden, is it true that you are going to dismiss Subandrio? Bahwa Tuan akan melepas Subandrio? Malahan ada jang berkata, Roeslan; that you are going to dismiss and make Roeslan Abdulgani Foreign Minister? Apa sebab? Oleh karena nekolim memang sering mendapat tentangan dari dia, boleh dikatakan djarang ada Menteri Luar negeri didunia ini lho jang begitu gigih menentang nekolim, sebagai kita-punja Menteri Luar negeri Subandrio. Nah, sudah barang tentu, nekolim wenst hem er uit, nekolim mengatakan segala sesuatu jang tidak baik tentang Subandrio.

pendek kata, Saudara-saudara, saja minta kepada Sudara-saudara, marilah kita semuanja merasa bertanggung-djawa b kepada negara dan kepada Revolusi. Saja telah berkata, saja minta ketenangan, saja kumpulkan semua fakta-fakta proloog, het feit op zich zelf, epiloog atau naloog, dan Insja Allah, djikalau Tuhan memberi kepada saja, saja adakan nanti tindakan berdasarkan atas penjelidikan jang objectif dan njata ini.

Saja harap, Saudara-saudara semuanjapun berdiri tegak dibelakang saja. Apa sebab? Saudara-saudara sendiri menulis didalam pernjataan Saudara-saudara, berdiri tegak dibelakang Pemimpin Besar Revolusi, setia kepada Pemimpin Besar Revolusi. Wel, saja sekarang nagih kepada Saudara-saudara, kalau Saudara-saudara benar-benar berdiri dibelakang saja, taát kepada saja, setia kapada saja, djalankan perintah saja. Bukan sadja itu, djangan djegal perintah saja. Sebab saja di Pantja Tunggal seluruh Indonesia djuga sudah berkata dengan tegas, kadang-kadang saja ini mendapat indruk, kesan, ja orang berkata: Bung Karno, Bung Karno, setia kepada Bung Karno , berdiri dibelakang Bung Karno, tetapi perintah Bung Karno, komando Bung Karno dikentuti, kataku. Ja, perkataan kentut itu sampai-sampai Presiden mau tjoret daripada buku ini.

Saja minta Saudara-saudara betul-betul berdiri dibelakang saja, oleh karena Saudara-saudara mengangkat saja sebagai Pimpin Besar revolusi, oleh karena Saudaralah jang mengangkat saja via M.P.R.S. mendjadi Presiden seumur hidup, oleh karena Saudara-saudarapun menjatakan recently ini berdiri dibelakang Bang Karno, setia kepada Bung Karno, saja nagih sekarang. Djalankan komando saja, bantulah saja, djangan djegal kepada saja. Semua komando saja, djalankan!

Saudara-saudara, dan sebagai kalimat terachir daripada uraian saja ini nanti, jang nanti akan saja minta ditambah oleh anggota Presidium, saja ulangi, sajapun selalu takut kepada hari kemudian, sajapun selalu in me zelf prenten: Sukarno, engkau adalah pemimpin, sebagaimana semua o rang pemimpin, nanti dihari kemudian engkau akan dilandrad tentang kepemimpinannmu. Tentang hal itu, Saudara-saudara, bolehlah Saudara-saudara jakin, saja tidak gegabah, saja betul-betul takut kepada laatste oordeel itu nanti, takut kepada landratan jang akan didjalankan atas diri saja di hari achirat.

1 comment:

Solusi Romansa said...

Bicara soal revolusi budaya, saya baru saja menulis sebuah e-book terbaru yang akan merevolusi paradigma tentang dinamika sosial pria-wanita Indonesia dalam dunia romansa, berjudul The Secret Law of Attraction (bukan sampah new age seperti yang beredar selama ini), sekaligus kunci otomatis untuk menarik popularitas dan trafik blog Anda.

Download rahasia besar tersebut dalam e-book yang terdapat di http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm