Saturday, 5 May 2012

Membaca Buku Irshad Manji

Semaleman habis baca buku Irshad Manji, luar biasa pemikirannya tentang konsep substansi kemerdekaan manusia atas tubuh yang melampaui hal-hal batasan spiritual, ketika cinta hadir dalam manusia, maka serentak itu pula pilihan menjadi sebuah keberadaan yang mutlak perlu, ketika cinta dibatasi atas pilihan-pilihan maka ditemukanlah relasi kekuasaan yang membungkam atas pilihan dan melenyapkan cinta.

Konsepsi cinta Irshad Manji ini dalam kebebasan dan Tuhan, pada awalnya menurutku seperti Kiekergaard yang mempertanyakan 'dimanakah letak keadilan atas hidup dalam penentuan Tuhan yang ia teriakkan di padang Jutland'. Lalu setelah pilihan-pilihan itu membentuk eksistensi maka terjadilah 'being' suatu keberadaan. Ketika Keberadaan menjadi 'ada' disitulah muncul esensi.

Esensi dalam cinta Irshad Manji didasarkan pada tiga hal : Pencarian, Penemuan-Penemuan dan Pemahaman, soal pertama adalah 'jatuh cinta, soal kedua adalah 'kesesuaian' dan soal ketika adalah 'rindu' yang dibatasi waktu. Dalam cinta yang sejati tak ada 'ruang' dan tak ada pembedaan, cinta itu lorong rahasia diatas segala rahasia.

Sebenarnya Irshad Manji bicara dalam cinta yang sungguh, disini kita bisa menemukan sebuah cinta baik yang dipahami oleh Nietsczche sebagai 'cinta' membebaskan dalam pengertian 'Manusia dibebaskan dulu dari kelemahan-kelemahannya', "Cinta" dalam konsepsinya Gibran "Cinta adalah kepakan sayap yang terluka dan patah" disini cinta membentuk keluasan hati atau "Cinta" yang dipahami Shakespeare 'Cinta tanpa Pertanyaan, tanpa identitas, biar diganti namanya sekalipun, mawar akan tetap berbau harum - 'rose by any other name would smell as sweet' '. Lalu ujung-ujungnya adalah 'cinta' membentuk sesuatu yang ada, karena itu Irshad Manji membundel rangkaian pemikirannya itu pertama kali adalah Tuhan, Kebebasan dan Penemuan atas cinta.

Kemerdekaan itu laksana burung yang terbang di langit, membentangkan sayapnya, bercicit cuit dengan gembira, ia menuju pada kelapangan hati. 'kemerdekaan itu dirimu yang dibebaskan dari rasa ketakutan-ketakutan'. kata Bung Karno dengan nama samaran Bima di Surat Kabar Oetoesan Hindia, 1928.

Buku ini enak dibaca dan perlu..............

(Anton DH Nugrahanto).

No comments: