Saturday, 31 March 2012

Kisah Cinta Gusti Nurul Kamaril


Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, puteri cantik dari Mangkunegaran, anak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII, di jamannya ia dikenal sebagai puteri tercantik, ia suka sekali menunggang kuda, pandai main tenis dan pintar membuat sajak-sajak baik dalam bahasa Belanda ataupun bahasa Indonesia.

Kecantikannya bikin terpukau banyak orang, seorang Bung Karno, lelaki paling hebat di jaman Revolusi 1945, pernah melamarnya, tapi ditolak. Begitu Sutan Sjahrir, lelaki Indonesia paling rasional dan brillian kecerdasannya pernah tersungkur jatuh rindu, tenggelam dalam bayangan cinta Gusti Nurul Kamaril. Tapi Gusti Nurul Kamaril menolak semua lelaki hebat, ia malah memilih lelaki yang sederhana, seorang Kolonel yang tak memiliki ambisi, seorang tentara yang tak berniat menjadi Panglima. Dialah Kolonel Raden Mas Surjosularso. Kolonel Suryo ini adalah jenis tentara dibalik meja, bahkan boss Kolonel Surjosularso, Jenderal Nasution sendiri pernah berkomentar : "Dia amat tipikal Jawa, dia tak pernah bicara banyak, bahkan ketika dia hendak protes karena marah besar, dia hanya datang kepada saya dan diam lama sekali di depan saya".

Akhirnya, seorang perempuan paling cantik di masa-nya, yang ketika berlatih kuda tiap sore di halaman Mangkunegaran, ratusan pemuda menonton karena ingin melihat kecantikan Gusti Nurul, jatuh cinta pada seorang lelaki pendiam yang teramat sederhana, setelah menikah Gusti Nurul hidup jauh dari kemewahan, jauh dari kemewahan bangsawan dan berjarak pada kisah romantika kisah cinta para bangsawan. Sikap cinta sederhana Gusti Nurul ini adalah sebuah laku, bahwa cinta itu amat indah bila dibangun dengan cara yang sederhana dimana pondasinya adalah : Kepercayaan.

Seperti yang ia ungkapkan dalam puisi karangannya ini, puisi ini ia tulis dengan air mata basah, air mata yang membasahi bantalnya saat lelaki pujaannya terpaksa ia tinggalkan kerna ibu-nya tak menyukai lelaki pilihannya ini :

Kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
Jarang ada atau boleh dikata tidak ada

Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini


(Gusti Nurul Kamaril, Solo)

Kepada Gusti Nurul Kamaril kita banyak belajar bahwa cinta tanpa kepercayaan adalah sebuah lelucon tanpa kelucuan. Cinta yang percaya adalah ibu dari segala ibu keindahan manusiawi.

ANTON DH NUGRAHANTO

4 comments:

Happy Tjahyono said...

wanita hebat ! sampe bung Karno pun ditolak ....

W A H Y U said...

good article :) thanks

Anonymous said...

suatu ketika di tahun 52 atau 53, kakek saya bersama nenek saya yang ketika itu bertugas sebagai Sipil di Angkatan Berlapis Baja Cimahi diperintahkan oleh Jenderal Mayor RM Soerjosoelarso suami Gusti Nurul bersama 1 Peleton Pasukan dan 2 truk untuk mengambil mebelair dan peralatan rumah tangga di Keraton Mangkunegaran. gambaran bahwa beliau adalah sangat sederhana.
mengapa Jenderal Soerjosoelarso menugaskan kakek dan nenek saya adalah karena Kakek dipercaya bisa membawa Pasukannya melewati Alas Roban yang waktu itu dikuasai oleh Gerombolan Kartosoewirjo dan terbukti hampir terjadi baku tembak. alasan kedua adalah karena nenek saya adalah sepupu dari Gusti Nurul yang konon ketika eyang putri masih kecil di tahun 1936 Gusti Mangkunegara VII jika lewat depan rumah beliau di grogol surakarta selalu menyempatkan mampir dan meminta dipanggil Wo Prabu oleh eyang saya yang sempat mau dibawa ke Keputren tapi menolak karena clingus (alhamdulilah, kalau jadi dibawa tidak kawin sama kakek saya dan saya tidak akan pernah lahir). mengetahui Gusti Nurul adalah seorang pembaharu adalah sangat menyenagkan dan memperkuat tesis saya bahwa Pembaharuan dibawa oleh 2 Keraton di Solo yaitu Sunan X dan Mangkunegara II (dalam bidang Militer)dan Gusti Nurul sebagai seorang Kerabat RA Kartini memiliki keberanian yang sama besar bahkan lebih modern. Soeharto, dimana Ibu Tien adalah salah seorang kerabat beliau juga seorang pembaharu. termasuk kerabat-kerabat beliau dan mereka yang mambu-mambu waris dengan beliau adalah seorang pembaharu di instansi masing-masing maupun lingkungan masing-masing. Salut. (R. Agung Wibowo Putro / Penata Muda Tk. I / 198109222007121001)

Alfi Z said...

mohon maaf sebelumnya, tapi kalo tidak salah puisi tersebut ditulis untuk Putri Tineke (putri dari Pakubuwono XI), untuk menghibur sang puteri yg cintanya tidak direstui oleh orang tuanya..

kemaren saya sempet lihat di Museum Ullen Sentalu, Kaiurang, Jogja.. ada di Ruang Syair Putri Tineke