Minggu, 02 Desember 2007

Gerakan Wanita Dan Kekuasaan Di Indonesia

Foto Atas : Ibu-Ibu Aktivis Gerwani yang dipenjara di Bukit Duri sedang bergambar bersama setelah tekanan berkurang, tahun 1972.


Gerakan Wanita Dan Kekuasaan Di Indonesia
Oleh Anton

Di Indonesia cerita sejarah politik selalu erat kaitannya dengan periodeisasi hal yang sama juga berlaku terhadap dunia sastra, budaya dan sosial. Misalnya jaman Pra Kolonial, Kolonial, Jaman Pendudukan Militer Jepang, Jaman Revolusi Kemerdekaan, Jaman Revolusi Sukarno, Jaman Orde Baru dan Jaman Reformasi. Setiap jaman memiliki karakteristiknya sendiri yang khas dan unik termasuk cara pandang dunia kekuasaan terhadap gerakan wanita, Kekuasaan dan Seks di setiap jamannya. Misalnya di jaman Pergerakan pergerakan wanita menempati arti yang positif. Ibu Inggit – isteri Sukarno- misalnya pernah digambarkan oleh novelis Mayon Sutrisno begitu berwibawa dengan rokoknya memimpin rapat. Disini wanita merokok bukan saja merupakan pendobrakan kultur tapi juga merupakan pesan bahwa wanita memiliki kedudukan yang sama dengan pria.

Seperti juga cerita tentang puteri seorang Bupati yang nekat masuk dalam dunia pergerakan, bersatunya kaum wanita intelektual menggerakkan dan mendukung semangat pemberontakan. Puncak dari semangat wanita Indonesia dalam kesempatan sejarah ini adalah begitu berperannya mereka dalam revolusi kemerdekaan, bukan saja sebagai elite intelektual macam : SK Trimurti, Maria Ulfah atau Sulianti Soeroso tapi juga wanita yang sanggup bergelut di dalam medan pertempuran seperti Ibu Singgih, Ibu Dar Mortir atau penggambaran Ibunda Sukarno, Nyoman Rai yang menghentak pejuang-pejuang bersenjata untuk terus maju bertempur. Wanita dalam revolusi kemerdekaan digambarkan sebagai bagian paling penting dari inti pergerakan seperti ikutnya para wanita dalam peristiwa long march Bandung-Yogyakarta pada masa hijrahnya Siliwangi akibat diplomasi kantong militer tahun 1947. Nyaris tidak pernah ada penggambaran seks wanita di masa revolusi ini, ini berbeda misalnya dengan cerita Sukarno yang pernah menceritakan bahwa ia menggunakan tenaga pelacur wanita untuk menyerang psikologis pejabat belanda, dengan cara menyapa mesra pejabat belanda yang sedang berjalan-jalan dengan istrinya.

Barulah pada era Revolusi Sukarno (1960-1965) setelah pernikahan berahi-nya dengan Hartini, hubungan seks dan kekuasaan memasuki trend penting. Dari semua partai hanya PKI yang menerapkan disiplin seks atau bersikap anti poligami – perseteruan DN Aidit vs Njoto dimana Oloan Hutapea menjadi pemicunya tentang perselingkuhan Njoto dengan wanita Rusia menjadi legenda klasik bagaimana PKI mengharamkan poligami - , sementara seluruh elite penguasa nyaris ketularan dengan perilaku poligami Bung Karno. Citra seks dan wanita sebagai pelumas mesin kekuasaan bisa diterangkan dalam kisah obrolah Bung Karno dengan Soedjatmoko (Koko). Bung Karno berkata seperti dalam bukunya Rosihan Anwar In Memoriam, yang menceritakan bab kisah Hartini. “Koko, als je trouwt, neem iemand die, minder intellectuel is” (Koko, kalau kamu menikah ambillah orang/wanita yang kurang intelektuil). Menurut Bung Karno, perempuan itu harus penurut, tidak cerewet, tidak suka membantah, tapi santun dan sayang. Politisi juga pemikir hidup dalam serba ketegangan. Sehabis kerja satu hari mereka memerlukan suasana yang membikin kendor urat syaraf. Mereka mau santai. Mereka mau kepuasan seksual. Mereka inginkan perempuan yang mampu meladeni suami. (Rosihan Anwar, In Memoriam 391-392). Di lingkar kekuasaan wanita digambarkan Bung Karno sebagai bunga yang mampu menggairahkan hidup, namun cara pandang Bung Karno ini juga mengundang serangan dari beberapa intelektual idealis. Dan serangan legendaris yang kemudian dibaca oleh banyak anak muda Jakarta adalah serangan hasrat seksual Sukarno yang kemudian dicatat dalam buku harian Soe Hok Gie pada minggu 24 Februari 1963 yang menceritakan bagaimana Gie bersama kawan-kawannya menghadap Bung Karno dan menyaksikan Bung Karno sangat senang membicarakan masalah seksual dan ada wanita yang membawakan cangkir dengan payudara menyembul dari balik kebayanya – tulisan ini juga menjadi salah satu adegan dalam film ‘Gie’ yang digarap Mira Lesmana dan Riri Reza - . Dalam buku Gibbels juga diceritakan semangat Bung Karno terhadap wanita cantik. Entah kenapa Bung Karno bergairah pada umurnya di kepala enam ketimbang saat ia muda dulu dan malah saat muda ia hanya mengawini wanita sederhana yang usianya jauh diatas dirinya. Terlepas pengaruh besar Sukarno terhadap wanita dimana penggambaran Sarinah merupakan ciri begitu tergantungnya Sukarno pada alam pikiran wanita, namun seksualitas di Jaman Bung Karno berjalan dalam dua arus besar : pertama, wanita sebagai objek seks penguasa seperti kisah selir-selir Jusuf Muda Dalam dan kedua, wanita sebagai kekuatan politik dalam hal ini Gerwani.

Terpecahnya arus utama wanita Indonesia di dalam masa Revolusi Sukarno tak lepas dari usaha kuat kaum laki-laki Indonesia memulihkan kekuasaan setelah masa perang selesai. Sepanjang dasawarsa tahun 1950-an sesungguhnya terjadi perang diam-diam namun bereskalasi besar, yaitu rebutan pengaruh antara kaum lelaki dan perempuan di dalam ruang masyarakat. Organisasi-organisasi wanita tumbuh subur baik sebagai bagian tersendiri gerakan maupun onderbouw partai atau organisasi massa. Nama yang menonjol pada waktu itu adalah Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Perwari pernah mendominasi pemberitaan ketika pembelaannya terhadap Fatmawati dimana Perwari menolak Bung Karno menikahi Hartini, janda cantik dari Salatiga yang dicomblangi Jenderal Gatot Subroto. Polemik ini mendapat tempat khusus dalam dasawarsa 1950-an selain kasus MSA-nya Ahmad Soebardjo dan dugaan korupsi Roeslan Abdulgani. Namun Perwari yang anggotanya rata-rata berasal dari kelas priyayi akhirnya surut ke belakang dan kemudian pemberitaan di dominasi oleh Gerwani.

Gerwani sendiri tadinya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Sadar) yang namanya pernah mencuat pada konsolidasi Golongan kiri tanggal 26 Febriari 1948 bersama Partai Sosialis, Partai Buruh, PKI, Pesindo, SOBSI dan BTI. Konsolidasi Februari ini berujung pada peristiwa Madiun, September 1948. Kemudian pada tahun 1954 nama Gerwis yang dianggap terlalu kiri dan kerap mendapat cap komunis, berubah menjadi Gerwani disertai langkah-langkah pembaharuan organisasi dengan program yang lebih progresif. Program-program Gerwani sendiri meluas dibandingkan saat namanya masih Gerwis. Yang terpenting dalam Gerwani adalah masuknya organisasi wanita ini ke dalam persoalan-persoalan wanita di Indonesia. Didorong dengan dinamika politik tahun 1960-an Gerwani akhirnya mendekat ke PKI sebuah partai yang sama sekali abai terhadap program feminisme. Seperti hal Lekra, Gerwani dipandang sebagai onderbouw PKI yang cukup memiliki pengaruh.

Nama Gerwani kelak hancur lebur akibat isu strategis yang dilakukan kelompok pro Suharto terhadap apa yang terjadi pada malam/pagi buta 1 Oktober 1965 dimana para Jenderal diisukan dilecehkan dan ada tarian seksual serta pesta seks. Kebohongan ini kemudian terungkap ke dalam permukaan setelah Suharto jatuh pada tahun 1998. Kebohongan sejarah yang dilakukan Suharto bukan saja mematikan ruang gerak wanita Indonesia tetapi memberikan cap yang buruk terhadap para perempuan Indonesia ketika mereka berada diluar sistem Orde Baru maka mereka diberi merk sebagai mesin seks yang liar, ini sama saja dengan cap dangkal Orde Baru terhadap Gerwani. Adalah Saskia Eleonora Wieringa dalam sebuah tesisnya yang menguak kebohongan Orde Baru. Gerwani sebagai gerakan progresif bisa digambarkan dalam salah satu wawancara Saskia E. Wieringa terhadap salah satu anggota Gerwani dimana kader Gerwani mengungkapkan apa kegiatannya dalam Gerwani itu sendiri. Dalam wawancara itu Saskia berbincang dengan Ibu Marto eks anggota Gerwani yang pernah dipenjara oleh reaim Orde Baru yang menjadi tukang pijitnya sekaligus ahli tusuk jarum, berikut kutipan ucapan cerita Ibu Marto :

Keluarga saya tidak berlatar belakang kiri. Saya sajalah satu-satunya di dalam keluarga kami yang masuk dalam organisasi progresif. Saudara misan saya anggota PKI. Dan ketika saya berumur 17 tahun, dialah yang mendorong agar saya masuk Pemuda Rakyat.
Saya sangat senang di Pemuda Rakyat. Kami melakukan segala macam kegiatan bersama-sama. Terkadang menari, menyanyi dan juga bermain drama, dengan cerita-cerita yang berisi politik. Juga diberikan kursus soal-soal kerumahtanggaan, seperti masak-memasak dan menjahit. Tentu saja setiap saat kami selalu berdiskusi soal-soal politik.
Beberapa tahun sesudah itu saya masuk Gerwani tingkat ranting. Pimpinan menaruh perhatian pada saya, karena saya selalu mendengarkan dengan baik, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan membantu mengurusi kegiatan. Saya mengikuti kursus kader, dan mulai giat di tingkat cabang. Saya sangat bersemangat dan bekerja keras, sehingga karenanya dipilih untuk tingkat daerah, dan akhirnya sampai tingkat pusat.
Seluruhnya sudah tiga kali saya mengikuti kursus. Yang paling lama di Jakarta. Di sini kami digembleng selama satu bulan, bekerja di berbagai daerah ke mana kelak kami masing-masing akan dikirim. Mata-pelajaran termasuk pendidikan politik, mempelajari teks-teks pidato Bung Karno dan Bung Aidit, diskusi tentang soal-soal keorganisasian dan kerumahtanggaan. Juga kami mendapat pendidikan latihan kepemimpinan. Sore hari kami belajar teks-teks karya Marx, Lenin, Stalin, Engels, dan tentu saja beberapa bagian dalam Sarinah, buku karangan Bung Karno itu. Pimpinan pusat menggunakan semua teks itu sebagai bahan bacaan.
Biasanya kami juga mendiskusikan sejarah organisasi. Saya menjadi anggota organisasi dalam pertengahan 1950-an, ketika namanya sudah berubah menjadi Gerwani. Gerwis, begitu dulu biasanya disebut, kamu tahu, sedikit sektaris. Sedikit sekali perempuan dari lapisan bawah yang menjadi anggota. Organisasi ini dianggap terlalu merah, terlalu PKI, terlalu ekstrem. Sebenarnya kami rasa penilaian itu tidak benar. Orang yang pernah mengenal Gerwis di saat-saat awal, jauh lebih menyukai daripada ketika Gerwis telah berkembang menjadi besar. Tetapi begitu itulah orang menilai. Maka dalam kongres tahun 1954 jadilah kami Gerwani. Dengan sikap yang lebih luwes, khususnya dalam soal-soal keperempuanan, lebih lembut, lebih halus. Pengutamaan pada soal-soal perempuan berkurang, sementara itu soal-soal ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan mendapat perhatian lebih besar.
Yang sangat saya senangi dari semua kegiatan selama tahun-tahun itu, ialah usaha kami untuk menjalin hubungan dengan perempuan tani. Jika saya pergi ke suatu desa dan di sana bertemu seorang perempuan, yang mungkin kenalan atau saudara salah seorang kenalan saya entah di mana, lalu memperkenalkan diri sebagai anggota Gerwani, kamu tahu apa yang terjadi? Biasanya mereka tidak kenal, apa itu Gerwani. Lalu saya perlu menjelaskan kepadanya, soal-soal apa yang kita perjuangkan. Umumnya mereka tertarik pada organisasi kami karena pendirian kami terhadap poligami. Soal kedua yang menarik perhatian perempuan tani ialah soal upah rendah. Umumnya mereka menyetujui gagasan kemerdekaan perempuan, karena kejengkelan bahwa upah mereka lebih rendah dari upah laki-laki. Jika seseorang telah masuk menjadi anggota, kepadanya diminta agar menarik seorang teman, dan teman ini pun menarik seorang teman lagi, begitu seterusnya, sehingga terbentuklah sebuah kelompok kecil. Kelompok-kelompok inilah basis organisasi kami. Melalui rapat-rapat kelompok, mereka akan mulai mengerti tentang hak-hak mereka dan tentang sistem feodal. Karena sistem feodal inilah yang menjadi sebab-musabab penderitaan kaum perempuan Indonesia.Tentang soal-soal seperti itu kami akan membacanya dalam koran Harian Rakjat dan berkala Berita Gerwani, lalu kami akan membahas bersama-sama karangan-karangan yang kami kehendaki. Kami hampir tidak pernah membaca Api Kartini, yang tidak berpihak, bebas, dan tidak jelas warnanya. Majalah ini tidak menarik untuk perempuan di desa-desa, atau perempuan-perempuan kampung di kota.
Kami bangga pada organisasi kami. Karena Gerwani telah berjuang untuk perbaikan nasib perempuan, menentang kenaikan harga, dan memperjuangkan kenaikan upah. Sungguh menyenangkan bisa berdiri di barisan depan, dan melihat bahwa sesungguhnya kami bisa berbuat sesuatu.
Di kota kita juga sangat giat, khususnya di kalangan kaum buruh. Buruh perempuan biasanya anggota SOBSI, tetapi di kampung kediaman mereka, mereka anggota Gerwani. Banyak di antara mereka itu merangkap keanggotaan. Itu mudah saja. Karena banyak soal-soal tentang nasib buruh perempuan, sehingga memungkinkan kami untuk bekerjasama. Misalnya SOBSI dan Gerwani bekerja sama memperjuangkan hak cuti haid. Jika terjadi buruh perempuan dipecat, karena menuntut hak sah mereka untuk cuti haid, baik Gerwani maupun SOBSI akan tampil bersama membela buruh itu.
Gerwani juga sangat giat dalam usaha pemberantasan buta-huruf. Banyak sekali kursus-kursus PBH yang kami selenggarakan. Kami juga memperjuangkan hak-hak politik kaum perempuan, agar lebih banyak lagi perempuan yang menjadi anggota parlemen pusat dan daerah, atau agar mereka bisa dipilih menjadi lurah desa atau menteri, sama mudahnya seperti kaum laki-laki. Tentang hak-hak politik ini, terutama di desa-desa, banyak mengalami tentangan. Banyak golongan Islam yang memandang hal itu sangat menimbulkan perselisihan. Mereka tidak mau memberi hak apa pun bagi perempuan. Juga tak sedikit tuan tanah yang sangat konservatif.Dalam aksi-aksi sepihak tahun 1960-an kaum perempuan ikut mengambil peranan aktif. Mereka tidak sekedar bersorak-sorai di garis pinggir. Di Kediri dan Jengkol, perempuanlah yang mengadang traktor-traktor tuan tanah, yang berusaha mengusir mereka dari tanah kediaman mereka. Dan perempuan itu jugalah yang mati ditembaki tentara.
Memang benar, aksi-aksi ini banyak tidak disukai di desa-desa. Bahwa begitu banyaknya perempuan yang dibunuh, mungkin inilah sebabnya: orang-orang Gerwani terlalu mandiri. Mereka membenci Gerwani. Mereka menghendaki agar perempuan hanya bergerak di bidang kemasyarakatan. Kadang-kadang mereka mengadakan arisan, bolehlah, seperti halnya semua organisasi perempuan lainnya. Tetapi di dalam Gerwani, perempuan juga giat berpolitik. Ya, itulah hal yang sangat dibenci.
Saya sering merasa heran, bagaimana semuanya bisa menjadi serba salah begitu. Satu hal memang jelas. Yaitu bahwa Sukarno tidak konsekuen dalam menangani sisa-sisa feodalisme yang masih ada di dalam masyarakat kami. Itulah sumber malapetaka yang menimpa kami. Kami bekerja bersama dengannya di dalam Front Nasional yang anti-imperialis. Tetapi ia tidak pandai memegang janjinya, misalnya dalam pelaksanaan undang-undang land reform. PKI yang konsekuen, dan dalam hal ini kami bekerja bersama-sama dengannya. Peranan Gerwani dalam aksi-aksi sepihak sangat besar. Tetapi sekarang hampir dilupakan sama sekali. Juga koran-koran ketika itu, tidak banyak yang meliput aksi-aksi kami itu. Kaum laki-laki selalu ingin dilihat sebagai lebih militan dari kaum perempuan.Kami di pihak Sukarno dalam konfrontasi menentang Malaysia. Tetapi sesungguhnya buat kami tidak terlalu menarik. Itu hanya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan nasional saja. Karena itu sikap kami mula-mula agak maju-mundur. Tetapi akhirnya dengan bersemangat kami mendukungnya, dan bahkan mengirim sukarelawan. Juga kaum perempuan di dalam PNI, Wanita Marhaen dan Wanita Demokrat, (17) berbuat sama; begitu pula halnya beberapa organisasi perempuan lainnya.
Pada waktu itu saya sendiri tidak di Jawa. Pada tahun 1962 saya, seorang diri, ditugasi di pulau lain. Sering saya merasa sangat kesepian. Karena saya tidak mengerti baik bahasa, masyarakat, maupun kebudayaan setempat. Saya harus berusaha merasa kerasan di tengah-tengah lingkungan yang asing itu. Saya tinggal bersama kader-kader lain, dari PKI dan Pemuda Rakyat, di sebuah rumah yang besar. Seorang pemuda dari Pemuda Rakyat sering membantu saya. Kadang-kadang saya merasa begitu sedih, sehingga ingin menangis. Lalu, di saat-saat begitu, ia datang menghibur saya, menjelaskan hal-ihwalnya kepada saya, dan jika perlu juga membantu saya. Beberapa bulan pertama sering saya merasa sangat sedih, sehingga ingin segera pulang saja ke Jawa. Yang juga membuat terasa berat karena saya, sebagai anak gadis, tidak biasa hidup sendirian di tengah orang-orang laki-laki asing. Orang sangat suka bergunjing. Maka saya selalu harus mempertahankan diri.
Daerah tempat penugasan saya pun daerah sulit. Mempunyai kebanggaan yang besar terhadap sejarah perlawanannya menentang Belanda, dan juga tidak terlalu senang terhadap Jakarta. Islam sangat kuat, laki-lakinya berwatak congkak. Saya perempuan Jawa, orang asing, tidak boleh sekali-kali menonjol-nonjolkan diri. Jangan sekali-kali saya berusaha menampilkan diri sebagai guru yang serba tahu. Jadi saya harus menunggu saja, sampai mereka sendiri datang kepada saya dan mengemukakan persoalan mereka. Kader-kader yang bekerja di daerah ini tidak banyak mendapat pendidikan, dan juga sangat sedikit pengetahuan mereka tentang apa sebenarnya yang dibela Gerwani, dan apa yang dicita-citakannya. Melalui rapat-rapat saya menjadi tahu, siapa-siapa di antara mereka yang paling cerdas. Lalu perempuan itu saya dekati, dan perlahan-lahan saya mencoba menerangkan serba sedikit tentang organisasi, kegiatan-kegiatannya, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi saya sama sekali tidak boleh menampak sebagai pemimpin. Untuk pemimpin haruslah seseorang dari daerah ini sendiri.
Sungguh sangat berat buat saya untuk bisa menyesuaikan diri. Oleh karena saya tidak biasa hidup di tengah daerah yang sangat kuat Islamnya, di mana perempuan tidak bisa bergerak leluasa. Akhirnya saya mendapat jalan untuk lebih memudahkan orang-orang perempuan itu datang menghadiri rapat-rapat kami. Mereka mengenal banyak tari-tarian setempat. Laki-laki melarang istri mereka keluar rumah jika sendiri-sendiri, tetapi tidak jika mereka pergi bersama-sama. Lalu kami membentuk kelompok-kelompok kesenian, menari dan menyanyi, yang tidak terlarang bagi kaum perempuan. Tetapi kami tidak berhenti di situ. Kelompok-kelompok ini lalu kami beri isi. Kami berdiskusi tentang soal-soal sehari-hari bersama mereka. Dengan sangat mudah kita bisa mendidik perempuan tentang soal-soal ekonomi melalui kegiatan arisan. Sekali kita mulai bicara tentang bagaimana yang sebaik-baiknya perempuan membelanjakan uangnya, seketika itu tibalah kita pada soal tentang kenaikan harga-harga. Dari situ lalu bisalah kita bicara tentang siapa yang bertanggungjawab dalam persoalan harga tersebut. Lalu bisalah sudah kita mulai bicara secara langsung tentang pendidikan politik.
Sesudah akhirnya mereka mengerti tentang apa cita-cita Gerwani, banyak orang-orang perempuan yang memberi dukungan kuat pada kami, walaupun mereka itu semuanya beragama Islam. Mereka membenci suami mereka yang berpoligami, dan senang menghadiri rapat-rapat kami untuk membahas persoalan itu. Mereka juga sangat senang belajar bagaimana membuat kue-kue, dan membahas masalah situasi politik. Yang paling menarik untuk anak-anak gadis ialah hak menikah atas dasar suka sama suka, sedangkan untuk ibu-ibu khususnya masalah perjuangan melawan poligami. Juga kaum buruh perempuan merasa senang memperoleh dukungan kami untuk tuntutan mereka, agar tersedia balai penitipan anak dengan biaya pembayaran yang rendah.
Setahun kemudian anak muda Pemuda Rakyat itu meminta saya kawin dengannya. Dalam kebimbangan, saya minta agar ia mau menunggu. Ia berasal dari Jakarta. Tetapi kedua orangtuanya telah pindah menetap di sini. Saya mencari nasihat dari teman-teman saya. Semuanya berpendapat agar saya menerimanya. Maka dalam tahun 1963 kami pun kawin. Saat itulah tahun-tahun yang paling berbahagia dalam kehidupan saya. Setahun kemudian lahir anak laki-laki kami. Saat-saat menjelang kelahiran anak kami, suami saya mengerjakan semua pekerjaan kerumahtanggaan: menyapu, memasak, mencuci. Sesudah bayi lahir ia pun sering mengganti popok anaknya sebelum berangkat bekerja. Ia selalu membantu saya sebisa-bisanya, sampai saya menjadi cukup kuat untuk bekerja lagi. Tetapi ketika itu sudah bulan Oktober 1965.
Saya benar-benar merasa sangat sedih bahwa semua pengorganisasian yang telah kami selenggarakan dengan amat berhati-hati, semua usaha membangun gerakan dari bawah, telah hancur berantakan sama sekali. Saya sudah biasa banyak bepergian, entah dengan kereta api atau bis, jika kendaraan itu ada. Tetapi jika harus pergi ke pedalaman, betapa pun jauhnya, kami harus berjalan kaki. Di dalam kota pun saya berjalan kaki. Kadang-kadang saja saya bersepeda, tetapi umumnya berjalan kaki. Kami sudah biasa hidup dengan semangat berbakti. Tidak pernah kami berangan-angan: ah, besuk harus ada cukup makanan di periuk, atau, ah, saya ingin punya rumah yang bagus. Siang-malam kami sibuk dengan pekerjaan dan pekerjaan. Jika saya harus pergi berkendaraan, cukuplah jika karcis sudah di tangan. Dan di sana nanti sepiring nasi untuk saya sudah selalu akan tersedia.
Pagi-pagi kami masak seadanya, lalu makan, dan kemudian segera berangkat bekerja. Seringkali kami baru di rumah kembali sesudah jam 11 atau 12 tengah malam. Di tengah perjalanan pulang kami membeli makanan apa saja. Tidak pernah saya memikirkan soal lain satu pun, kecuali sejumlah soal yang sudah ada di kepala, dan bagaimana harus memecahkannya. Kami tak banyak berpikir tentang uang, walaupun saya sendiri menjadi kepala balai penitipan anak-anak itu. Tetapi uang sama sekali tidak cukup pada saya, juga pada wakil saya, kepala balai penitipan anak. Karena itu saya mengambil pekerjaan sedikit, sebagai penata-usaha sebuah sekolah.
Saya mengambil kursus lima bulan di Jakarta untuk mendapat ijazah pengelola balai penitipan anak-anak. Walaupun saat itu saya sudah mengepalai balai semacam itu di sini. Saya berangkat ke Jakarta ketika anak kami masih berumur dua bulan. Sekarang ijazah itu tinggal secarik kertas yang mubazir saja.
Hubungan dengan Jakarta umumnya sulit. Sekali satu bulan saya mengirim laporan, tetapi jawaban baru datang setelah berbulan-bulan kemudian. Tetapi mereka mengirimi kami segala macam rekomendasi. Misalnya dinasihatkan agar di sekitar tanggal tertentu kami mengorganisasi demonstrasi anti-kenaikan harga, atau mengirim delegasi pada gubernur, apabila kegiatan-kegiatan itu telah direncanakan oleh Jakarta. Sepanjang mengenai persoalan politik nasional, umumnya mereka mengikuti garis Partai. Tetapi untuk persoalan perempuan, mereka merumuskan garis mereka sendiri.
Lawan kami yang terpenting ialah orang-orang Muslim fanatik. Diperlukan waktu yang lama untuk bisa meyakinkan orang, terutama jika ia telah berpegangan teguh pada asas-asas agama tertentu. Di dalam Front Nasional ini kami banyak bekerja bersama dengan Perwari dan Kowani. Semuanya ini baru saja hendak mulai tinggal landas, ketika 'peristiwa' itu terjadi. Terjadi dengan sangat tak terduga-duga, juga di tengah-tengah segala-galanya.
Ketika kami tahu apa yang telah terjadi di Jawa, kami melarikan diri ke kota yang terdekat. Di sinilah suami saya terbakar hidup-hidup ketika mereka membakar kantor PKI. Dengan membawa anak laki-laki kami, saya melarikan diri ke Jakarta. Kakak perempuan saya janda seorang perwira tentera yang tewas dalam sebuah tugas. Tidak bisa hidup bersandar pada uang pensiun, ia bekerja pada sebuah kantin angkatan darat. Saya pun bisa diterima bekerja di situ. Mereka memperingatkan saya agar kawin lagi. Kamu masih muda, kata mereka. Dan hanya punya anak satu. Orang akan menggunjingkan kamu, kalau kamu tidak mau bersuami lagi.
Demikianlah. Demi berjaga-jaga agar tidak menjadi pergunjingan, untuk kedua kalinya saya kawin, walaupun saya tidak mencintai laki-laki yang menjadi suami saya itu. Ketika anak saya dengannya berumur dua tahun, anak perempuan, tiba-tiba suami saya menghilang. Saya tanyakan kepada setiap orang, yang saya kira tahu duduk perkaranya, tetapi tidak pernah lagi saya mendengar kabar beritanya.
Kemudian kakak saya menjadi ketakutan bahwa orang akan menjadi tahu tentang kami, dan dia akan kehilangan pekerjaan dan segala-galanya. Lalu kakak itu melaporkan saya. Ketika saya ditahan, anak perempuan saya tinggal bersama kakak di Jakarta. Sedangkan anak laki-laki, yang ketika itu bersama saya, tidak ada seorang pun yang mengurusi. Neneknya sudah terlalu tua dan pikun untuk bisa mengurusi hidupnya dan mengirimnya ke sekolah. Anak itu berusaha menghidupi dirinya dengan menjual koran dan bakso di sepanjang jalan.Di penjara banyak di antara kami yang diperkosa. Dipukuli, disiksa, disetrum, dan dibakar dengan rokok. Beberapa tahun kemudian, sesudah mendapat kunjungan Palang Merah Internasional, keadaan menjadi sedikit lebih baik. Saya belajar memijit, dan membuat kerajinan tangan yang bisa dijual, untuk membeli sedikit tambahan jatah makan.
Setiap sesama tahanan di penjara tahu, bahwa jika kelak bebas saya harus mencari hidup sendiri dan dua anak saya. Karena itu mereka mengumpulkan apa saja, untuk saya, semampu mereka masing-masing. Beberapa yang telah lebih dahulu bebas, memberi saya beberapa periuk dan kompor. Tetapi saya sedikit-sedikit juga menabung sisa hasil penjualan kerajinan tangan, sehingga selama hari-hari pertama bisa membeli beras sekedarnya.
Selama minggu-minggu pertama sesudah bebas, saya hidup dari merajin barang sulaman, sambil mencari pasien yang mau dipijit. Sekarang saya sudah lulus berkali-kali ujian memijit dan tusuk jarum, dan saya punya cukup pasien untuk bisa hidup.
Tetapi keprihatinan saya pertama-tama terhadap anak laki-laki saya. Saya keluar pada hari Sabtu. Hari Minggu saya ketahui di mana dia, dan hari Senin ia bersekolah. Tetapi ia sangat tertinggal di sekolah, sehingga saya harus mengirimnya ke asrama. Ia sangat merasa malu, karena dalam umur 19 tahun masih harus bercelana pendek bersekolah SMP. Tahun depan ia akan selesai dari SMP., lalu boleh pulang dari asrama dan masuk SMA, dan memakai celana panjang. Dengan begitu tidak perlu lagi merasa malu dilihat oleh tetangga.
Anak saya yang perempuan juga ketinggalan. Sudah berumur dua belas, seharusnya sudah kelas lima, tetapi ia masih di kelas tiga. Tetapi dia akan naik. Sekarang dia maju.
Saya senang. Sekarang saya sudah dapat mengatasi, dengan dua anak dan pekerjaan memijit. Tetapi saya masih harus sangat hati-hati. Saya tidak bisa mengambil pasien di rumah sendiri. Teman saya mendengar, ia pernah menjadi pembicaraan kalangan pejabat, karena menerima tamu terlalu banyak. Padahal mereka itu orang-orang sakit! Ia diancam menutup praktik. Karena itu biasanya saya yang pergi, mendatangi rumah pasien-pasien saya.
Walaupun kami sudah dibebaskan, tetapi kami belum warga negara penuh. Saya masih harus selalu melapor setiap waktu. Misalnya, jika saya akan pergi ke Surabaya, saya memerlukan lima setempel di secarik kertas, yang harus saya perlihatkan kepada petugas keamanan di Surabaya. Jika saya melanggar, saya akan dikenai tahanan rumah.
Tetapi itu tidak terlalu buruk. Saya masih bisa hidup dengan itu. Yang membuat saya sangat sedih, bahwa di sekolah anak-anak saya diajar hal-hal yang busuk tentang Gerwani. Saya merasa anak laki-laki saya menyembunyikan sesuatu terhadap saya. Akhirnya suatu hari ia mendekat dan bertanya, 'Ma! Mengapa Mama menjadi anggota organisasi begitu, yang begitu bejat akhlaknya, dan menghancurkan negara? Apa Mama juga pelacur? Kata orang-orang semua anggota Gerwani pelacur dan perempuan-perempuan jahat.' Bagaimana saya harus menjelaskan kepadanya, untuk apa kita hidup? Dan apa yang dahulu kita cita-citakan? Saya masih melihat bayangan kebingungan dan rasa malu pada matanya. Apakah ia masih akan mengerti hidup saya, Mamanya?
Wajah Ibu Marto mengkerut sedih ketika ia mengucapkan kata-katanya itu. Mendadak jari-jarinya berhenti bekerja ...
(Saskia Eleonora Wieringa, Thesis di Institute of Social Studies, Den Haag 1995)

Mengapa kemudian Gerwani sebagai gerakan wanita yang sangat maju dan dibutuhkan dalam proses pembebasan masyarakat terutama wanita terhadap belenggu alam pikiran laki-laki kemudian menjadi sebuah nama buruk yang singkat : Sebuah Organisasi Pelacur. Apa yang terjadi dalam proses pendangkalan ini dan bagaimana sejarah bekerja atas nama buruk yang diberikan. Untuk itu saya mencoba memahaminya dalam buku Daniel Dhakidae ‘Cendikiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru’ terbitan Gramedia tahun 2003 yang bercerita tentang malam Gerakan 30 September dan hadirnya sosok Djamilah. ( Di kemudian hari pesta seks ini tidak terbukti termasuk kasus mutilasi dan benang sejarah Djamilah yang ternyata seorang pelacur yang ditangkap tentara dan tidak tahu apa-apa).

Dalam buku Cendikiawan Dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, Daniel Dhakidae (DD) menyodorkan versi pembentukan Orde Baru pada hal. 200. Dengan sub judul ‘Orde Baru dan Pembasmian Komunisme’. DD memberikan beberapa versi tentang gerakan Untung termasuk yang pertama adalah teori “resmi” versi Militer yang kelak menjadi teori resmi milik Rezim Orde Baru. Versi Resmi Militer begini :
“Seluruh peristiwa itu (G 30 S) didalangi, kalau bukan dikerjakan sendiri, oleh PKI. Bukti-bukti yang dikemukakan adalah fakta para Jenderal dibawa ke Halim Perdanakusuma, tempat latihan Gerakan Wanita Indonesia –( menurut catatan kaki di buku Cendikiawan dan Kekuasaan, Wieringa membantah seluruh argumen versi militer dalam disertasinya “The Politization of Gender Relations in Indonesia. “Women’s Movement and Gerwani Until the New Order State’, yang disini diambil dari buku terjemahan Indonesia ‘Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia’ Garba Budaya 1999, Bab Sebelas tentang “Dua kup” hal. 470-537) - . Bukti kedua adalah kehadiran DN Aidit di Halim, tempat jasad jenderal dibuang. Kehadiran ketua umum PKI tersebut menjadi dasar dugaan kuat di dalam seluruh rentetan peristiwa tersebut. Bukti ketiga adalah peran aktif Gerakan Wanita Indonesia, Gerwani. Menurut siaran-siaran Angkatan Darat yang diterbitkan oleh hampir semua surat kabar ibukota pada hari-hari itu peran ini hampir tidak mungkin dipungkiri. Bukti lain yang selalu menjadi bumbu adalah kehadiran tokoh yang bernama Djamilah yang menjadi sumber perbuatan cabul yang dituduh diperankannya dalam pembunuhan para Jenderal tersebut. Semua bukti diperkuat lagi oleh hasil pemeriksaan-pemeriksaan oleh Angkatan Darat yang kelak menjadi bahan Mahkamah Militer Luar Biasa, Mahmilub. Hasil pemeriksaan KOTI disiarkan secara terbatas untuk keperluan militer dalam bentuk pengakuan-pengakuan tokoh-tokoh utama seperti Untung dan lain-lain lagi.

Versi resmi Militer yang kemudian dijadikan bahan sejarah resmi Orde Baru dikomentari oleh Daniel Dhakidae mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, bagaimana menjelaskan keterlibatan pasukan Angkatan Darat yang begitu banyak jumlahnya di dalam pembunuhan enam Jenderal dan seorang prajurit ajudan, yang boleh dikatakan berjalan hampir serentak di tujuh tempat yang membutuhkan rencana penyerangan militer yang matang baik tentang waktu maupun organisasi penyerangan. Hampir-hampir boleh dikatakan bahwa keterlibatan itu adalah keterlibatan kelembagaan dan sulit dibela sebagai perorangan. Dengan Letnan Kolonel Untung, seorang Komandan pasukan khusus pengawal istana presiden, Tjakrabirawa, semua mereka yang menjadi komandan penyerbuan dan penembakan ditempat maupun penembakan di Lubang Buaya, Halim, adalah anggota Pasukan Angkatan Darat. Kedua, bagaimana menjelaskan penggelapan-penggelapan fakta pada awalnya dan siaran berita bahwa semua pembunuhan itu berjalan begitu kejam karena diiringi oleh suatu orgi seksual yang dipelopori olehi Gerwani untuk memberi kesan ada organisasi yang sangat teliti antara PKI dan organ-organ dibawahnya. Pada pemeriksaan yang dijalankan tim dokter Angkatan Darat semua yang diberitakan itu sama sekali tidak terbukti. Penyayatan tubuh, pemotongan alat kelamin, dan tuduhan lain yang diiringi sorak sorai dan pesta seksual oleh sekelompok anggota Gerwani tidak terbukti.
(Cendikiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, hal.200-202)

Kemudian di halaman selanjutnya hal. 244 DD memberikan kesimpulan yang amat jenius tentang kerja sejarah Orde Baru dengan menyimpulkan :

Krisis tanggal 1 Oktober 1965 lebih merupakan alasan terbesar yang pernah ada untuk memungkinan pemukul terakhir untuk memperkuat peran militer yang sudah lama dinantikan. Krisis ekonomi (di jaman Bung Karno –anton) diterjemahkan menjadi krisis moral mendalam yang mencerminkan kemerosotan dengan simbolisasi seks orgiastik Gerwani. Komunisme, yang dijalankan oleh Partai Komunisme Indonesia, bukan ideologi akan tetapi sumber dekadensi moral yang memerlukan pembersihan total dan membutuhkan seorang penyelamat. Ketika militer mengumumkan dirinya sebagai penyelamat, dengan korban enam orang jenderal dan seorang kapten sebagai pusat pengerahan tenaga, maka jalan sudah terbuka untuk ke arah penciptaan suatu Orde Baru dari puing-puing negara bangkrut. Dasar-dasar Neo fasisme militer dengan ini mulai terbuka.

(Cendikiawan Dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, hal.244)

Dalam dua ungkapan di buku Saskia Eleonora Wieringa (SEW) dan Daniel Dhakidae (DD) menjelaskan pada kita ada ungkapan lapisan bawah dan lapisan atas peran Gerwani yang kemudian di masa Suharto segala gerakan wanita independen hancur sebangkrut-bangkrutnya. Apakah Suharto dan tim-nya sudah memperkirakan bahwa gerakan wanita merupakan gerakan yang harus dihabisi. Adalah menarik dari seluruh Onderbouw PKI hanya Gerwani yang dikenal masyarakat luas dan menjadi gambaran buruk hasrat seksual wanita yang tidak terkendalikan bagai Sarpakenaka wanita pemuja seks –adik kandung Rahwana - . Dan secara tidak sadar disini peran kekuasaan sudah menempatkan wanita sebagai mesin seks yang tidak bermoral dimana laki-laki hanya mendapat peran pasif. Lalu bagaimana kemudian peran wanita dalam dunia Orde Baru?

Orde Baru yang dibangun Suharto bukan saja dipermulus jalannya dalam operasi strategis mempreteli PKI, Sukarno dan Kekuatan militer Pro Sukarno tapi juga dengan cara sangat tepat dan berdaya raksasa memukul lumpuh gerakan wanita. Dalam budaya kekuasaan Jawa sangat ditakuti kekuatan wanita, wanita adalah sumber kekuasaan yang sunyi dan ini dilambangkan dengan Dewi Sri yang sebenarnya sama kedudukannya secara antropologis dengan dewi Artemis atau Diana dalam budaya Yunani-Roma yang kemudian bertransformasi menjadi bunda suci Maria setelah berpengaruhnya Kristen di daratan Eropa. Walaupun lelaki didudukan sebagai ‘pemilik’ seperti dalam kesempurnaan lelaki Jawa yang harus mempunyai : Keris, Turonggo (kendaraan), Kukilo (burung peliharaan-perkutut), Griyo (Rumah) lan Wanito (isteri) namun dalam kepemilikannya itu ada lapisan wanita yang memiliki kekuasaan lebih tinggi yang kerap disebut sebagai pepunden (landasan/pegangan). Konsolidasi gerakan wanita yang agresif akan lebih menyulitkan peran kekuasaan ketimbang gerakan kaum laki-laki yang radikal. Untuk itulah kemudian apa yang dilakukan pada detik-detik pertama cekok informasi G 30 S dipandang sangat strategis dalam memupuk kekuasaan Orde Baru. Lalu bagaimana definisi gerakan wanita di masa Orde Baru.

Menggambarkan ruang gerak wanita di masa Orde Baru mungkin agak tepat bila kita mengingat tokoh karikatur isteri Oom Pasikom di Harian Kompas yang kerap disapa Mijn Vrow (dibaca : Mefrou). Adalah wanita dengan sasak rambut yang tinggi berperasaan halus dan memiliki good manner kelas atas tapi secara otak tolol. Di jaman Orde Baru gerakan wanita radikal sudah habis sehabisnya. Kaum wanita digiring sebagai mesin-mesin pembangunan yang kadarnya tak lebih dari robot atau objek kontrasepsi KB. Di jaman itu pula para pejabat secara formal harus memiliki disiplin seks yang tinggi dan diharamkan melakukan Poligami. Namun dibalik itu perselingkuhan tetaplah tinggi, banyak cerita miring tentang kelakuan buas seks para pejabat dimana banyak berperan artis-artis ibukota sebagai bagian dari mainan mereka. Bila dijaman Bung Karno arus besar gerakan wanita terpecah menjadi arus objek seks dan arus subjek gerakan radikal, maka di jaman Orde Baru arus besar wanita menjadi : Wanita pengurus organisasi pejabat dan wanita etalase penikmat duit pembangunan.

Organisasi yang menonjol di jaman Orde Baru adalah : Dharma Wanita (Isteri Pejabat Sipil), Dharma Pertiwi (Isteri Pejabat Militer) dan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Sulit membayangkan ketiga organisasi ini menyisihkan kegiatannya dengan membaca buku, berdiskusi politik atau terjun langsung ke dalam persoalan-persoalan masyarakat (mungkin dalam skala yang lebih kecil PKK bisa jadi melakukan penetrasi ke dalam persoalan rakyat). Yang dilakukan lembaga-lembaga wanita Orde Baru tak lebih dari arisan, bagi-bagi hadiah dan gossip masalah suami di kantor, jadi tidak ada solusi radikal bagi problem perempuan di kalangan jelata. Organisasi Perempuan berpusar pada isteri pejabat, sementara mayoritas isteri pejabat menjadi katalisator korupsi suaminya dengan hobi maniak yang tinggi terhadap kegiatan belanja di luar negeri. Dana negara kerap digunakan perjalanan-perjalanan para ndoro ayu ini ke luar negeri dan belanja sementara kepentingan rakyat terabaikan, anak-anak rakyat kecil tidak sekolah dan sebagian besar masih lapar. Degradasi moral organisasi perempuan sedemikian parah pada masa Orde Baru menjadi pelajaran bahwa organisasi perempuan tak lebih dari baut-baut kekuasaan. Organisasi perempuan di masa Orde Baru merupakan cermin dominasi dunia laki-laki dan menjadi bentuk transformatif terhadap gerakan perempuan Indonesia di masa lalu dimana organisasi ini merupakan wadah baru dan digiring dalam pengawasan laki-laki. Kaum perempuan secara formalistik tidak lagi independen dan menjadi pinggiran dalam kekuasaan Orde Baru. Banyak yang konyol dari organisasi perempuan orde baru ini misalnya tentang status kepemimpinan, status kepemimpinan ini di tolok ukur dari apakah dia isteri pejabat, semangkin tinggi posisinya maka semangkin tinggi posisi di keorganisasian, jadi tidak ada unsur intelektual dan kemampuan berorganisasi dalam bentuk wadah ini. Semua tergantung pada kekuasaan kaum laki-laki.

Salah satu berkah reformasi 1998 adalah bangkitnya peranan wanita dan jangan lupa pemicu demonstrasi besar-besaran anti Suharto adalah keberanian kaum wanita berdemonstrasi mengungkapkan keresahan di masyarakat. Disini perlu dicatat nama Karlina Leksono dan Gadis Arivia dari Jurnal Perempuan yang membangkitkan gerakan ‘Suara Ibu Peduli’ dimana gerakan itu menjadi lonceng bagi mulainya mahasiswa turun ke jalan secara besar-besaran. Suara Ibu Peduli bisa dikatakan sebagai gerakan wanita Indonesia pertama yang muncul ke permukaan publik menyatakan keresahan masyarakat setelah 32 tahun dimana Gerwani dulu memprotes rezim Sukarno terhadap melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Titik awal Suara Ibu Peduli inilah yang kemudian menumbuhkan gerakan-gerakan perempuan yang bersuara paling depan terhadap ancaman sistemasi represif ruang gerak perempuan termasuk kasus besarnya adalah RUU APP dan kasus Poligami. Untuk kasus RUU APP perlu dicatat nama Ratna Sarumpaet yang dipandang berani menyuarakan feminisme dalam artian yang lebih luas di media-media massa sementara lawannya hampir keseluruhan adalah kaum laki-laki, sementara kasus mencuatnya Poligami dengan dipicu berita Da’i kondang A’a Gym yang sudah punya anak tujuh menikah lagi dengan wanita cantik membuat heboh Indonesia dan sekali lagi kekuatan gerakan wanita mendapat kemenangan totalnya. A’a Gym surut kebelakang dan entah bagaimana kelanjutan dakwah dan bisnisnya, sementara pemerintah berpihak pada sikap kaum wanita yang menolak adanya poligami dengan pernyataan dari Sekjen Departemen Agama Nazarrudin Umar yang menyatakan dalam Islam persyaratan poligami sangat ketat.

Kini pergerakan wanita Indonesia bukan lagi berperang pada ide-ide yang dianggap sebagai ketinggalan jaman seperti RUU APP, Poligami atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dunia pergerakan wanita Indonesia harus lebih jauh lagi yaitu ikut memikirkan perebutan Kapital di Indonesia yang dikuasai asing, ikut ke dalam persoalan-persoalan rakyat dalam tugas besarnya membebaskan kaum wanita dari belenggu bukan saja belenggu budaya tapi juga belenggu kapital. Disinilah peran kaum feminis (yang bukan saja wanita tapi juga laki-laki) seperti : Gadis Arivia, Mariana Amirudin, Titi Adinda, Aquino Hayunta, Manneke Budiman dan lain-lain mendapatkan kesempatan sejarahnya.

ANTON

Tidak ada komentar: