Kamis, 24 April 2008

Secuil Kisah Hidup Suharto

KISAH HIDUP SUHARTO

OLEH ANTON

Suharto adalah manusia paling kontroversial di Indonesia. Nilai kontroversinya jauh melebihi Sukarno. Bila Bung Karno dikenal dunia karena ulahnya yang begitu mencengangkan dan sering bikin kejutan, maka Suharto lebih pada nilai misteriusnya. Misteri Suharto adalah kekuasaan yang begitu besar, dan itu dibangun dengan cara yang mungkin orang akan juga tercengang yaitu sikap : Diam. Pendiam bagi Suharto bukan hanya watak tapi merupakan latihan menahan diri yang ekstrem. Bahkan Rosihan Anwar yang pernah bersama Suharto di tahun 1949 sebagai wartawan Republikein mengunjungi Panglima Sudirman di persembunyiannya menghadapi sikap aneh dari seorang Overste (letnan kolonel) muda ini dengan sikap diamnya. “Saya bersama Overste Suharto dan seorang juru potret Frans Mendur menemui Jenderal Sudirman di persembunyiannya sekitar pedalaman hutan Wonosobo, saya diantar oleh Overste Suharto namun sepanjang perjalanan satu hari penuh tidak pernah Suharto bicara sedikitpun, baru ketika ia mempersilahkan kami meminum degan (air kelapa muda) baru ia berkata singkat “Silahkan” setelah itu tidak ada kata-kata lagi. Demikian kira-kira kesan Rosihan Anwar yang ia sering ungkap ke publik jauh-jauh hari ketika Orde Baru sudah berkuasa. Diam itu modal, dan itu adalah prinsip Suharto. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya. Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.

Suharto lahir juga dari sebuah sikap aneh seorang ibu. Sukirah, adalah nama Ibu Suharto. Dalam otobiografinya ‘Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ yang disusun G Dwipayana, Sukirah digambarkan oleh Suharto sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Namun banyak catatan di buku-buku sejarah Suharto lain yang banyak menyebutkan Sukirah sedang mengalami problem mental yang sangat sulit. Apa problem mental itu tidak pernah ada penjelasan yang gamblang sampai saat ini. Hanya saja proses kelahiran Suharto merupakan yang berat bagi Sukirah, sebelum Suharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak cerai suaminya Kertosudiro. Seorang mantri ulu-ulu (pengatur irigasi) miskin yang kelak sebagai ayah Suharto tidak memainkan peran banyak dalam kehidupan Suharto bahkan banyak pengamat Suharto seperti RE Elson. Suharto tidak pernah menunjukkan rasa hormat yang layak kepada Kertosudiro sebagai ayah kandung. Lalu apakah Kertosudiro itu ayah kandung Suharto? Inilah misteri terbesar dari Suharto yang kerap banyak disebut sebagai anak lembu petheng (anak hasil dari hubungan gelap) dan meyakini bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Suharto. Banyak catatan beredar mengenai hal ini, bahkan pelontarnya tidak tanggung-tanggung seperti : Mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Suharto, Mashuri. Mashuri sendiri pernah membuat pernyataan yang menghebohkan bahwa Suharto adalah anak seorang pedagang keliling Cina yang cukup kaya raya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ayah kandung Suharto adalah kerabat Keraton Yogyakarta. Pada tahun 1974 pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari majalah gossip bernama ‘POP’ sebuah liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Suharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II. Suharto kecil yang umur 6 tahun dibuang ke desa dan disuruh diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Suharto. Dengan separuh murka Suharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usulnya dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif. Suharto dengan caranya sendiri ingin mengesankan bahwa dia adalah anak desa. Mitos Suharto sebagai anak desa ini digunakan untuk mengaitkan dirinya dengan mayoritas bangsa Indonesia yang di tahun 70-an adalah petani dan menghindarkan kesan bahwa Junta Militer yang dipimpinnya adalah gerakan elite.

Konsep anak haram banyak disebut oleh para biografer Suharto untuk menjelaskan asal-usuk Suharto. Ketidakjelasan asal-usul Suharto secara genealogi sampai sekarang masih belum terpecahkan. Namun dari semua itu Bayi Suharto berada di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang stress dan senang bertapa serta ayahnya yang datang dan pergi jelas tidak menguntungkan bagi Suharto. Sukirah pernah ditemukan hampir mati disuatu tempat karena memaksa dirinya berpuasa ngebleng (tidak makan dan minum selama 40 hari) di suatu tempat yang tersembunyi dan hilangnya Sukirah sempat pernah membuat panik penduduk desa kemusuk, sehingga para penduduk mencarinya. Sadar dengan kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk menyerahkan pengurusan bayi Suharto kepada kakak perempuan Kertosudiro, isteri dari Kromodiryo. Putra Kromodiryo Amat Idris sangat menyayangi Suharto kecil tiap sore bayi kecil Suharto dibopong-bopong sambil mengitari persawahan. Setelah Suharto bisa jalan ia kerap diajak oleh Kromodiryo ke sawah. Dalam otobiografinya Suharto masih ingat ketika ia berumur empat tahun melihat kaki Kromodiryo terluka karena sabitnya terlepas dari gagang saat sedang bekerja di sawah. Dalam psikologi anak umur antara tiga tahun sampai lima tahun adalah masa golden time, Alam psikologi Suharto tentunya sangat dipengaruhi masa-masa ini. Ibunya yang berat pikiran namun melakukan tapa berat untuk menjawab kesulitan hidupnya jelas akan menurun pada waktu Suharto yang kelak dikemudian hari sangat senang melakukan puasa dan melatih diri untuk menahan apapun atau berlatih menyembunyikan ekspresi emosi-emosinya. Latihan-latihan ini kelak sangat berguna sebagai senjata paling ampuh dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun. Namun keterpecahan keluarga, rasa terbuang oleh keluarga dan tidak diperhatikan akan membangkitkan sikap ingin melindungi keluarganya secara berlebihan inilah yang ketika dimasa Orde Baru nanti sikap yang paling banyak dibenci oleh setiap orang ketika melihat sosok Suharto.

Suharto tidak seperti anak desa lainnya yang harus bekerja di sawah. Dalam usia yang sangat muda ia disekolahkan oleh ayahnya. Inilah yang banyak mengundang pertanyaan para ahli sejarah bahwa Suharto bukan sekedar anak petani desa yang miskin, tapi dia anak haram dari orang kaya yang memperhatikan dirinya dan menyerahkan pada Kertosudiro untuk mengurusnya. Suharto bukanlah murid yang cerdas dan tidak ada berita-berita mengenai masa Suharto di Sekolah Rakyat (setingkat SD). Ini berbeda misalnya dengan cerita Sukarno sewaktu dia masih di SD yang banyak berkisah tentang masa sekolahnya dan apa yang dibacanya, begitu juga dengan Hatta dan Sjahrir. Kesan Suharto di masa SD itu hanya pada ingatannya tentang kerbau-kerbau yang dengan bangga dimilikinya. Dunia Suharto hanya berkutat pada penggembalaan kerbau jauh dari cerita-cerita anak yang didapat dari buku-buku yang kerap dibaca anak-anak SD dari keluarga terdidik seperti Sjahrir yang sejak kecil sudah akrab dengan Karl May atau cerita dari novel-novel Charles Dickens. Setelah ikut dengan kakeknya Atmodiwiryo, Harto kecil tiap usai sekolah menggembalakan kerbau disawahnya, ia senang sekali membawa kerbaunya meniti pematang sawah dan memandikannya. Suatu saat kerbau yang digembalakannya terperosok ke parit dekat pematang sawah dan Suharto tidak bisa mengeluarkan kerbau itu ia lalu menangis keras-keras. Orang-orang berdatangan dan menolong kerbau milik Harto kecil ini. Kenangan tentang kerbau yang terperosok ini diuraikan dalam biografi resminya. Suharto jarang berkelahi dia anak pendiam dan tidak usil atau arogan seperti Sukarno kecil . Namun entah kenapa dia pernah sekali berkelahi dengan temannya sampai berdarah-darah, menurut Suharto karena temannya itu mengatainya ‘Den Bagus Tahi Mabul’ Suharto mengenang anak kecil itu mrongos (tonggos) dan agak pincang, sebuah penggambaran teatrikal orang jahat di benak Suharto. Julukan Den Bagus Tahi Mabul (Den Bagus Tahi Kering) ini sedikit banyak mengungkapkan bahwa setidak-tidaknya penduduk desa tahu bahwa Suharto bukanlah anak jelata, tapi kemungkinan anak keraton yang dipisah dari lingkungannya.

Ditengah masalah keluarga yang menderanya, Suharto terus melakukan kegiatan sekolahnya. Ia sama sekali tidak mendapat perhatian kasih sayang orang tua yang layak. Sepanjang umurnya dihabiskan ngenger kesana kemari. Bahkan setiap tahun ia selalu menyaksikan keluarganya selalu bertengkar karena Suharto kerap menjadi rebutan. Tentu sedikit banyak hal ini mempengaruhi jiwa Suharto kecil. Kebimbangan akan status dirinya diimbangi dengan masa bermain yang mungkin juga berpengaruh terhadap pribadi Suharto. Ada satu hal yang menarik bila diperhatikan dari Suharto muda, yaitu : boleh dikatakan Suharto adalah kawan yang menyenangkan bila ia bermain sesuatu, ia tidak pernah menceritakan masa bermainnya sebagai masa pembentukan watak, tapi menyiratkan pada kita bahwa ia adalah seorang yang pendiam tapi bisa bergabung dengan komunitasnya serta disenangi. Ini berbeda misalnya dengan Bung Karno muda yang dipenuhi kisah keberanian, merasa unggul dan pengalaman yang lucu-lucu seperti keberaniannya masuk ke dalam lapangan Sepak Bola kemudian dia dikeroyok sinyo-sinyo Belanda. Suharto hanya anak kampung biasa yang gemar bermain bola, sebelum bermain bola kawan-kawan Suharto datang mencari Suharto, dan Suharto sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya kawan-kawannya membantu pekerjaan itu seperti menimba air. Ada hal yang menarik juga masa muda Soeharto tidak pernah ia bekerja di sawah. Suharto sering digambarkan menggembalakan kerbau, tapi tidak pernah diceritakan ia memacul sawah dan bekerja sebagai petani. Apakah ini berarti memang ia benar-benar anak Keraton yang terasingkan di desa?

Pada tahun 1931 Suharto masuk Schakelschool di Wonogiri, disini ia bersama Sulardi, putra kedua Prawirohardjo menetap di Selogiri pada rumah Sudiarto, kakak tertua Sulardi. Sulardi bisa dikatakan adalah satu-satunya orang yang bersahabat dengan Suharto di masa muda. Di luar nama Sulardi tidak pernah ada nama lain yang disebut Suharto kecuali secara sekilas ada orang kampungnya yang suka bermain bola Kamin dan Warikin. Kelak setelah menjadi Presiden dua orang ini diundang Pak Harto ke Istana. Sulardi ini punya teman sekelas bernama Siti Hartinah, puteri dari bangsawan Mangkunegaran yang ditugaskan di Wonogiri Raden Mas Soemorharjomo. Melalui Sulardi-lah Suharto banyak tahu tentang Siti Hartinah ini, namun Suharto agaknya di awal-awal tidak ambil peduli, ia lebih banyak pusing memikirkan masalah keluarganya. Tak lama Suharto tinggal di Selogiri, ia balik lagi ke Wonogiri lagi-lagi ayahnya Kertosudiro datang menyusul Suharto dan membawa Harto muda ke rumah keluarga Hardjowijono yang juga merupakan kerabat ayahnya. Di rumah Hardjowijono ini banyak diberitakan Suharto diperlakukan layaknya seperti kacung. Namun ketabahan hati Suharto menerima semua pekerjaan yang diberikan padanya membentuk jiwa yang patuh. Dalam jiwa anak muda ada dua pilihan bila ia menghadapi situasi tidak menyenangkan. Ia memberontak dengan melawan semua aturan yang dianggapnya tidak nyaman atau ia akan mematuhi secara total apa yang diperintahkan kepadanya, sehingga kepatuhan itu sendiri akan menutupi ketidaknyamanan dirinya. Rupanya Harto memilih yang kedua, ia bersedia untuk menjadi orang patuh. Kepatuhannya ini kelak yang kemudian membawa dia pada kecocokan dalam bidang militer.

1 komentar:

Jhoni Dacosta mengatakan...

Kisahnya menarik, menambah refferensi pengetahuan sejarah tentang masa kecil seorang SOEHARTO.. cuma sayang kisah ini dikotori pendapat-pendapat pribadi miring penulis yang membuat cerita ini jadi kurang bobot nilai kesejarahannya... sayang ya...