Sabtu, 21 April 2012

Sajak Dua Bola Matamu



Dua bola matamu
Pada senja yang patah
Daun jatuh ke tanah
Tak membenci angin yang melepaskannya dari ranting

Senja jatuh, hujan menguapkan wangi
Lalu rindu membentuk lengkung pelangi
Aku melihat matamu seperti stasiun tua membeku
Lalu dimana kesepian itu punya rantainya

Dua matamu yang indah itu
Sore dengan lembayung berwarna tembaga
Gurat merah bibirmu
Seperti senja yang menggagalkan camar untuk terbang ke udara.
(Anton DH Nugrahanto, April 2012)

Jumat, 20 April 2012

Kartini Jendela Modernisasi Indonesia



Politik Kartini, pada awalnya adalah “Politik Bahasa”, Belanda mampu menguasai Nusantara dengan dua hal : “Bahasa dan Tata Buku”. Dari Bahasa inilah Kartini kemudian mempertanyakan ‘bagaimana dunia bekerja’.

Sejarah Pemikiran RA Kartini, tak lepas dari kerja politik kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak yang pertama kali memperkenalkan politik bahasa untuk memahami bagaimana kekuasaan Belanda secara substansi bekerja dalam struktur masyarakat Indonesia. Pangeran Ario Tjondronegoro, diangkat menjadi Bupati Demak sekitar tahun 1840-an tak lama setelah selesainya perang Diponegoro. Pangeran Ario Tjondronegoro mempelajari bahwa kekalahan Diponegoro adalah dimulai sebuah jaman baru dimana orang Jawa harus secara detil bisa mempelajari ilmu pengetahuan Eropa lewat bahasa. Saat itu juga mulai berkembang ide-ide rasional bangsa barat yang kemudian dapat dipahami sebagai langkah awal pemahaman manusia dalam menguasai Ilmu Pengetahuan. ‘Ilmu Rasional’ inilah yang kemudian dipelajari dengan detil oleh Pangeran Ario Tjondronegoro. Di umur 25 tahun, Pangeran Ario Tjondronegoro menjabat sebagai bupati Demak. Dialah Bupati yang pertama kali menguasai bahasa Belanda dengan sempurna. Pangeran Ario Tjondronegoro IV juga mengembangkan perpustakaan barat pertama yang kelak menjadi amat berguna bagi dua cucunya yang cerdas : RA Kartini dan Drs. RMP Sosrokartono.

Pangeran Ario Tjondronegoro mengharuskan anak-anaknya untuk menguasai bahasa Belanda. “Jika kalian ingin mengetahui bagaimana rahasia ilmu pengetahuan dan budaya modern, sehingga bangsa Jawa takluk pada orang kulit putih, pelajari bahasa-nya”. Pesan ini dipegang baik-baik oleh dua orang putera Pangeran Ario Tjondronegoro, yaitu : Raden Mas Adipati Aryo Adiningrat dan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Pada permulaan abad 20, di tahun 1900 hanya ada empat bupati yang menguasai bahasa Belanda dengan sempurna, dan menggunakan administrasi pemerintahan resmi dengan bahasa Belanda yaitu : RM Sosroningrat, ayah Kartini (Bupati Jepara), RM Adiningrat, Bupati Demak, Paman Kartini, Bupati Serang RM Djajadiningrat dan Bupati Ngawi, Pangeran Kusumo Utoyo.

Saat itu ada gerakan diam-diam di kalangan elite Jawa untuk memulai suatu pergerakan besar untuk menentang penjajahan Belanda. Gerakan ini kerap luput dicatat dalam banyak buku-buku sejarah, karena gerakan para bangsawan Jawa ini tersembunyi dan tidak kelihatan, kebanyakan sejarawan menilai pergerakan anti penjajahan Belanda yang dilakukan secara modern, hanya bermula pada tahun 1908 ketika Boedi Oetomo. Padahal pergerakan penentangan penjajahan Belanda yang dilakukan diam-diam para bangsawan ini kemudian mampu mendesak adanya politik etis yang mengatalisator dikenalnya system pendidikan modern.

Pada tahun 1880-an, RM Sosroningrat sendiri mengajukan pendapat untuk dibentuk persatuan bupati di tanah Jawa dan diusahakan dikenalkan pendidikan bahasa Belanda agar Bupati tidak memahami konsep pemerintahan modern. Anjuran dari RM Sosroningrat kemudian disambut oleh Bupati Cirebon dan kemudian terjadi gelora dalam menguasai Bahasa Belanda. Kartini kecil beruntung tumbuh dalam situasi yang membuatnya memiliki akses terhadap bahasa Belanda. Di umur 7 tahun ia sudah pandai membaca buku berbahasa Belanda. Ayahnya membuat perpustakaan lengkap yang bukunya merupakan warisan Pangeran Ario Tjondronegoro dan ada supplier dari pedagang buku di Batavia yang tiap bulan mengirim buku, koran dan majalah bernama Jan Wilkers.

Kakak Kartini, Sosrokartono bahkan bisa menguasai 34 bahasa, dia seorang polyglot (orang yang menguasai banyak bahasa) paling terkenal pada jamannya. Sosrokartono juga dikenal sebagai ahli kebatinan paling legendaris yang dikenal orang Jawa.

Banyak yang mengira arti penting Kartini adalah hanya sebagai penulis surat-surat dalam bahasa Belanda, Kartini hanya seorang Jawa yang ‘dibelanda-kan’. Padahal dan ini yang harus kita mengerti semua, Kartini adalah ‘Pembuka pemikiran dari keseluruhan jaman modern di Indonesia’. Dan kaum perempuan Indonesia boleh bangga, bahwa yang membuka Indonesia ke dalam jaman modern, jaman rasional, jaman intelektual-dialektis, adalah seorang Perempuan Jawa dari Jepara : Kartini.

Pengenalan Kartini terhadap buku-buku asing pada awalnya adalah buku kanak-kanak, lalu novel-novel kemudian berkembang ke buku-buku politik dan sosialisme yang menyadarkan posisi manusia dalam masyarakat. Kartini membaca de Vrouw en Sosialisme yang banyak membuka pemahaman Kartini tentang bagaimana sejarah masyarakat dan kedudukan perempuan dalam masyarakat ditilik dari pandangan Sosialisme, Kartini juga membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sejarah Tanah Air Belanda), bahkan Kartini menyebut : “Buku ini adalah yang paling aku suka, karena menyadarkan arti penting tanah air”. Ketika membaca buku Sejarah Tanah Air Belanda, Kartini menyebut dengan khusus gerakan Watergauzen, -sebuah kesatuan gerak rakyat jelata untuk mewujudkan suatu bangsa-. Sayangnya surat-surat Kartini yang berbau sosialis diberangus pemerintahan Belanda, disortir, sehingga surat-surat Kartini yang muncul keluar hanya surat ‘rasa penasaran seorang perempuan Jawa’ tentang kehidupan di luar tembok keraton kadipaten.

Gagasan besar Kartini tentang pikiran-pikiran modern adalah tancapan yang luar biasa pondasi dasar kemodernan Indonesia, Indonesia diajak masuk ke dalam sebuah jaman baru, jaman dimana Eropa menemukan kebesarannya. Disini Kartini tidak mengajak orang Indonesia menjadi orang Eropa tapi mengajak menemukan rahasia kebesaran bangsa Eropa. Dalam surat-surat Kartini, ia menemukan pandangan baru soal geopolitik, nasionalisme, posisi perempuan dalam masyarakat, sistem edukasi yang bertahap tapi menyeluruh ke seluruh lini masyarakat, pembongkaran penindasan kaum feodal dan kritiknya terhadap kelas-kelas di masyarakat.

Kartini memang bukan pahlawan yang bertindak, ia pemikir, ia penggagas, bahkan ia sendiripun kalah dalam mempertahan idealisme-nya di dunia nyata, menjelang perkawinannya ia amat toleran terhadap sistem feodal yang awalnya dikritik sebagai sebab pemula hancurnya bangsa Jawa, ia rela menjadi isteri ketiga Bupati, disini Kartini entah sengaja atau tidak mempertahankan kelasnya dan kenyamanan. Ia tidak keluar menuju satu jaman yang diimpikannya, padahal surat undangan belajar di Sekolah Guru di Batavia sudah tergeletak di ruang pendopo Kabupaten, tapi ia menampik dan memilih menjadi isteri ketiga seorang Bupati Rembang.

Salah satu jasa terbesar Kartini adalah ‘munculnya gerakan etis, dan memaksa pemerintah Hindia Belanda membentuk pos anggaran pendidikan lebih besar, membuka pintu lebar-lebar untuk pendidikan bagi anak-anak pribumi. Orang-orang seperti Sukarno, SM Kartosoewirjo, Semaoen, Musso atau Hatta adalah anak-anak kandung yang dihasilkan dari perjuangan Kartini dalam menuntut pendidikan barat. Dari tangan Kartini-lah, era pergerakan berubah total dari era penuh mitos, sakralitas Perang Diponegoro yang kuno menuju suatu perang pemikiran yang lebih lugas, sesuai jaman dan bahkan mampu menjebol rahasia-rahasia penindasan masyarakat.

Setelah meninggalnya Kartini, pergerakan intelektual Indonesia berkembang amat hebat. Pikiran-pikiran Kartini pada awalnya dijual oleh kelompok sosialis di Parlemen Belanda untuk menggebuk kelompok konservatif dan liberal, awalnya kelompok liberal bersekutu dengan kelompok sosialis namun ketika kelompok sosialis mulai menunjukkan tuntutan yang lebih ganas terhadap hak-hak asasi manusia dan merugikan kelompok liberal yang didukung oleh pengusaha-pengusaha perkebunan menjadikan kelompok liberal beralih bersekutu ke kelompok konservatif. Di tangan partai politik liberal Belanda pikiran Kartini hanya dijadikan etalase suatu kebanggaan bahwa Bangsa Belanda merupakan kiblat baru dalam pemikiran intelektual seorang Perempuan Jawa.

Ketika bangsa Jepang berhasil menghancurkan armada laut Russia di tahun 1905, semangat nasionalisme berkobar dimana-mana, gerakan nasionalisme ini juga mempengaruhi banyak pemikir-pemikir baru yang mulai melakukan diskusi-diskusi politik. Di tahun 1900-an awal, pusat diskusi politik paling penting berada di Solo. Banyak kaum pergerakan dari Sumatera dan luar Jawa mengunjungi Solo untuk berdiskusi dengan kelompok-kelompok radikal yang tercerahkan. Salah satu dedengkot dalam diskusi nasionalisme itu adalah dokter Tjiptomangoenkusumo. Yang biasa dijuluki ‘Onze Tjip’. Dokter Tjipto bisa dikatakan sebagai penyuluh pertama kali tentang nasionalisme Indonesia, pidato pada pertemuan kecil pertama kali ia lakukan di Solo, di Belakang Pasar Legi tentang uraian-uraian nasionalisme, dokter tjipto memiliki kumpulan diskusi di rumah Raden Mas Djojopanatas, yang memiliki jaringan pergerakan radikal para saudagar Jawa. Djojoopanatas adalah orang penting dibalik pembentukan gerakan Rekso Rumekso yang merupakan jaringan dagang-politik pertama kali bagi orang Jawa dan sebagai cikal bakal terbentuknya Sarekat Dagang Islam. Dulu kata ‘Islam’ tidak hanya berkonotasi pada agama, tapi juga ‘rakyat’ secara keseluruhan. Dalam diskusi-diskusi di rumah Djojopanatas inilah kemudian pemikiran Kartini diangkat kembali sebagai tema besar dalam perlawanan penjajahan Belanda, jadi logika politiknya dibalik.

Di tahun 1921, Sukarno muda bertemu dengan Dokter Tjipto, lalu Sukarno muda disuruh dengan detil membaca surat-surat Kartini. Disini kemudian dr. Tjip membuat uraian menyeluruh bahwa “Bahwa nasionalisme Indonesia tak lepas dari pembebasan perempuan itu sendiri” awalnya pandangan dr. Tjipto ini amat maju, tapi kemudian gerakan perempuan Indonesia diredusir oleh Bung Karno hanya sebagai ‘gerakan penyatuan atas perempuan dan laki-laki dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia’. Kesadaran perempuan digeser bukan sebagai bagian perjuangan dalam memahami ‘perempuan sebagai manusia yang utuh dan merombak struktur dunia laki-laki yang menindas tubuh dan pikiran mereka’ tapi hanya lebih pada gerakan penyatuan ‘komunal’ dalam merebut kemerdekaan. Arus inilah yang kemudian menjadi utama selama hampir 50 tahun dalam sejarah pergerakan perempuan Indonesia, sampai pada kejatuhan Sukarno di tahun 1965.

Tapi bagaimanapun juga redusir Sukarno terhadap interpretasi gerakan perempuan membawa gerakan perempuan menemukan kembali pemaknaannya setidak-tidaknya pemaknaan dari ‘tahap pertama penemuan peran perempuan di kalangan masyarakat’, pidato Sukarno di tahun 1932 pada sebuah pertemuan politik di Solo ““Saat ini perjuangan kaum perempuan yang terpenting bukanlah demi kesetaraan, karena dibawah kolonialisme laki-laki juga tertindas. Maka, bersama-sama dengan laki-laki, memerdekakan Indonesia. Karena hanya dibawah Indonesia yang merdekalah, kaum perempuan akan mendapatkan kesetaraannya”. Ditengah-tengah ombak besar nasionalisme yang siang malam menyerbu mimpi-mimpi para pemuda, mayoritas kelompok lainnya memfokuskan diri semata pada pendidikan, pemberantasan buta huruf dan soal-soal keperempuanan. Meskipun hal ini juga amat penting, namun tampa keterlibatan dalam perjuangan kemerdekaan, semua persoalan kesetaraan akan gagal menghasilkan pembebasan dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun” pidato Sukarno inilah yang membuktikan bahwa “GERAKAN PEMBEBASAN PEREMPUAN BUKANLAH BAGIAN DARI PEMIKIRAN ASING, PEMIKIRAN BARAT TAPI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI SEJARAH INDONESIA MEMBENTUK KEMERDEKAANNYA, DAN MENJADI ALASAN PENTING KENAPA INDONESIA HARUS BERDIRI”.

Pergerakan perempuan di Indonesia pada hakikatnya sudah tumbuh sejak lama, bukan dari gerakan-gerakan yang dituduh oleh sekelompok orang sebagai bagian dari budaya liberal barat, gerakan perempuan di Indonesia sudah menjadi bagian sejarah yang utuh gerak bangsa ini. Pemogokan-pemogokan buruh dan perlawanan untuk mempertanyakan kemerdekaan ditemukan pada gerakan perempuan, dulu di awal tahun 1920-an ada gerakan perempuan bernama ‘Caping Kropak’ yang diorganisir oleh Sarekat Rakyat dengan arsiteknya adalah Semaoen, gerakan ini mampu menekan gubernemen meminta pada penguasaha perkebunan untuk memperhatikan kesejahteraan perempuan.

Pergerakan perempuan di jaman modern, masuk dalam keterlibatan perempuan merebut kemerdekaannya, gerakan ini menjadi luruh dalam persamaan gerakan lelaki, sehingga tidak lagi ada anatomi yang mendasar dalam penjelasan problematika perempuan secara utuh di masa pergerakan, masa kemerdekaan dan masa Revolusi Sukarno.

Gerakan perempuan menjadi lebih menarik dianatomi, ketika gerakan perempuan itu sendiri dihancurkan oleh para Jenderal-Jenderal Negara Orde Baru dalam sebuah penghancuran bertahap, sistematis, dan terarah untuk membentuk suatu peradaban baru Indonesia yang makmur. Penghancuran ini menjadi bagian yang gradual terhadap penghancuran pendukung Sukarno, penghancuran gerakan pemuda, penghancuran gerakan politik di luar sistem dan penghancuran peran perempuan dalam mesin sosial politik.

Tubuh Djamilah, seorang pelacur yang ditangkap dan dijadikan ‘Gerwani’ adalah politik penghancuran pertama kali Gerakan Perempuan di Indonesia. Dalam ‘prasangka’ terhadap tubuh Djamilah itulah kemudian gerakan perempuan paling agresif dan paham realitas persoalan masyarakat, menemukan kiamatnya. Ribuan perempuan yang dituduh terafiliasi Gerwani dimasukkan ke dalam penjara, dihina tubuhnya, dan dipermainkan nasibnya oleh Negara. Disini kemudian Negara berubah menjadi monster yang menakutkan dan mengawali sebuah peradaban baru dimana keseluruhan lini gerakan perempuan ditaklukan dan dijadikan budak atas kemauan negara.

Dalam Negara Orde Baru, penguasaan terhadap sumber-sumber Kapital menjadi mutlak ditangani Negara dan tidak boleh diganggu gugat oleh pergerakan rakyat. Rakyat disini harus menjadi objek atas ketertiban masyarakat, dan perempuan adalah “Pergerakan Rakyat yang Paling Rapuh, sekaligus instrumen yang paling kuat dalam indoktrinasi” maka penghancuran terhadap gerakan perempuan di tahun 1965 lewat tubuh Djamilah itu kemudian dibarengi dengan pembangunan tubuh perempuan yang lain, yang ideal, yang memenuhi kaidah moralitas Orde Baru. Lalu Orde Baru menamakan tubuh perempuan itu sebagai ‘Dharma Wanita dan PKK”.

Degradasi peran intelektual Perempuan yang amat parah berada pada Dharma Wanita, dimana tubuh dan pikiran perempuan dibentuk sebagai ‘pendamping laki-laki’. Namun Orde Baru juga dengan cerdas mengarahkan tubuh perempuan ke dalam bentuk ‘kerja’ sebuah kerja besar bersama dalam PKK. Disini Orde Baru mengarahkan perempuan untuk menjadi ‘volunteer’ atas problem-problem kemasyarakatan seperti kesehatan dan pendidikan, tapi Orde Baru tidak menghitung ‘kerja’ perempuan itu ke dalam angka nominal yang harus dimasukkan ke dalam Pos Pemasukan Negara dan dikembalikan lewat pemasukan pajak kepada gerakan perempuan itu sendirim jadi kerja bakti perempuan adalah kerja gratis. ‘Gerakan kerja bakti’ perempuan ini ternyata membangun dunia kesehatan publik paling spektakuler dalam sepanjang sejarah Indonesia modern, adanya Posyandu dan membangun gerakan kesehatan perempuan lebih maju dan tidak perlu adanya gerakan besar. Disatu sisi Orde Baru membangun memenjarakan pikiran dan tubuh perempuan, disisi lain Orde Baru justru memberikan ruang gerak tanpa sengaja menjadikan perempuan sebagai bagian paling penting kerja masyarakat.

Reformasi 1998 adalah babak pembuka demokrasi, keterbukaan menjadi substansi segala-galanya dalam masyarakat baru Indonesia. ‘Perempuan yang dimasa Sukarno dimasukkan ke dalam satu struktur komunal perjuangan bersama menuju mimpi Sukarno yaitu : Trisakti : Kemandirian ekonomi, Kemandirian Politik dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, dimasa Suharto perempuan dipaksa tubuh dan pikirannya dalam struktur negara, maka di masa reformasi perempuan juga tak lepas dari prasangka yang dibuat atas nama agama dan kultural’. Pembebasan perempuan di masa reformasi lebih rumit tapi juga memiliki kemajuan luar biasa dalam mendefinisikan perempuan sebagai bagian utama kesetaraan gender.

Politik atas tubuh dan pikiran perempuan mendapatkan tempatnya dalam gerakan besar dunia yang bernama ‘Gender Mainstreaming’ atau yang disebut juga Pengarusutamaan Gender (PUG).

Pengarusutamaan Gender, bukan saja gerakan menganalisa ketertindasan perempuan tapi juga menganalisa kesetaraan bagi laki-laki, anak-anak, dan peluang akses mereka dalam menyentuh hak Kapital. Inilah langkah maju tersebut, Perempuan yang selama ini diasingkan dalam proses penentuan masa depannya sendiri menjadi memiliki hak yang lebih lugas. Problem terpenting perempuan saat ini adalah ‘keadilan mendapatkan hak akses ekonomie dalam sektor lapangan kerja’. Ketidakadilan inilah yang kerap ditopang bahwa perempuan ‘adalah pengganggu’ dalam struktur dunia yang diciptakan laki-laki.

Sumber-sumber Kapital yang dikuasai oleh Negara juga kerap terancam oleh hak-hak kaum perempuan, bila di jaman Suharto, kaum Perempuan dirampok hak-hak ekonomie-nya maka di jaman reformasi perempuan juga diasingkan dalam hak-hak ekonomie yang dibentuk dengan sekumpulan prasang-prasangka atas tubuh perempuan. RUU Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, sebagai misal adalah proyek Negara dalam mencaplok tanah-tanah rakyat yang digunakan untuk negara atau swasta, legalitas UU ini bisa memberikan kekuasaan negara berlaku kriminal terhadap pemilik tanah dengan menembaki mereka yang menolak lahannya dicaplok. Perempuan juga banyak merugi dengan adanya UU ini karena bila lahan diambil biasanya yang menanggung beban adalah perempuan, mereka akan mengalami pekerjaan beban berat berganda, karena biasanya kaum lelaki setelah hak lahannya tercabut tidak segera mendapatkan akses ekonomie lain, sementara kaum perempuan terasa lebih bertanggung jawab terhadap makan anak-anak mereka.

Kaum perempuan juga sering mengalami penindasan kultural, dalam perkawinan mereka kerap dijadikan alat jual beli dalam hukum adat, sehingga perkawinan itu bukan lagi dijadikan sebagai ‘Memanusiakan kemanusiaan’ tapi sebuah ‘Pemaksaan yang diluar kendali manusia’. Banyak problem perempuan yang harus digali oleh masyarakat seperti problem kesehatan, problem ancaman kematian saat melahirkan bayi, dan kesehatan gizi anak-anak yang kerap menjadi beban kaum perempuan dan negara tak ambil peduli.

Problem perempuan yang sedemikian rumit karena tak mendapatkan hak akses ekonomie yang setara, hak tanggung jawab yang juga setara karena adanya prasangka, menjadikan pikiran-pikiran Kartini menemukan aktualitasnya. Seperti surat Kartini pada Nyonya Van Kool, tahun 1901 : “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya.

Negara dan Masyarakat sampai saat ini masih salah kaprah dengan menggunakan tradisi Orde Baru yang memberikan prasangka atas tubuh perempuan dalam memperingati “Hari Kartini” dengan menggunakan pakaian adat tradisional, bukannya malah mengenalkan pemikiran-pemikiran pembaharuan atas hak tubuh dan hak pikiran perempuan yang lebih merdeka.

Dari Kartini, kita banyak belajar untuk peradaban Indonesia yang lebih maju dan memanusiakan manusia.


Jakarta, 21 April 2012


(Anton DH Nugrahanto)

Selasa, 17 April 2012

In Memoriam Sudomo



SDSB, adalah sebuah akronim yang paling diingat bila mengingat sosok Laksamana Sudomo, dulu SDSB semacam lotere yang diselenggarakan negara, nama Sudomo menjadi sindiran 'Sudomo Datang, Semua Berantakan'. Tapi pihak Sudomo sendiri membantahnya dengan akronim 'Sudomo Datang, Semua Beres'. Sudomo memang orang yang paling penting di era 80-an, terhadap kondisi keamanan Indonesia, urusan lotere dibawah pengawasan dia. Orangnya lucu, tidak seangker Jenderal Benny Moerdani tapi dia membawahi lembaga paling angker di masa Orde Baru : Kopkamtib.

Selain SDSB, mengenang Sudomo adalah mengingat sebuah bahasa Belanda yang bernama 'Katabeletje'. Katabeletje ini adalah semacam nota informal untuk mengarahkan bawahan. Di awal 90-an ada kasus yang amat terkenal namanya Kasus Golden Key, Eddy Tanzil. Peran Sudomo kerap disebut-sebuat sebagai perilis katabelece yang akhirnya menjebol negara lebih dari 1 trilyun dan Eddy Tanzil sampai sekarang tak jelas larinya.

Selain humoris, Sudomo mirip Bung Karno. Amat menyukai perempuan cantik, humornya tentang dirinya yang suka menyukai perempuan cantik "Badan saya ke atas 60 tahun, perut kebawah 30 tahun" sikapnya yang humoris, wajahnya yang bulat bulan membuat orang banyak senang dengan dirinya sekaligus juga gemetar. Dibalik angkernya Sudomo, ia amat menyukai seni, kadang-kadang ia sendiri yang menjamin keamanan pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh para seniman yang dicurigai Orde Baru. WS Rendra, termasuk yang kerap dilindungi Sudomo ketika pertunjukan teaternya diganggu aparat keamanan.

Mengingat Sudomo, tak lepas juga mengingat perseteruan Sudomo dengan Ali Sadikin, bagi banyak orang perseteruan mereka kerap dianggap perseteruan idealis dipihak Ali Sadikin, dengan pihak loyalis pemerintah di pihak Sudomo. Mereka berdua dari Angkatan Laut, Sudomo seorang Laksamana sementara Ali adalah Letnan Jenderal KKO. Rumah mereka berhadap-hadapan di Jalan Prambanan, Menteng. Tapi dua orang ini kerap berseteru di ruang publik, bahkan Jenderal Ali sempat bilang di sebuah media massa "Saya ingin tendang pantat Sudomo". Pertentangan Ali-Domo ini menjadi pertentangan paling menarik media massa di tahun 1980-an dan 1990-an awal, hampir mirip dengan rivaalitas antara Jenderal Mitro dengan Jenderal Ali Moertopo di awal 1970-an.

Kini Sudomo sudah meninggal, tak ada yang abadi di dunia ini. Sebesar apapun kekuasaan seseorang, sekaya apapun seseorang ia akan dipanggil pulang juga, Sudomo pergi sambil terus membawa rahasia sejarah tentang pertempuran laut Aru yang menewaskan Komodor Jos Soedarso.

Terlepas dari apapun Sudomo di masa lalu, baiknya kita mendoakan, bagaimanapun Pak Domo adalah bagian penting sejarah bangsa ini. Dari keangkeran dia sebagai Pangkopkamtib di masa lalu, kita banyak belajar agar menjadi bangsa yang lebih baik di masa depan, bangsa yang bisa menghargai kemanusiaan, kebebasan pendapat serta kemerdekaan atas tubuh dan pikiran manusia.

Selamat Jalan Pak Domo.............


ANTON DH NUGRAHANTO

Quote


(Sumber foto : Leya Cattleya, Klinik Fotografi Kompas)

There's always a TRUTH behind JUST KIDDING ,
a Little EMOTION behind I DON'T CARE ,
a Little PAIN behind IT'S OKAY ,
a Little I NEED YOU behind LEAVE ME ALONE.......,
and a Lot Of WORDS behind THE SILENCE......

Ketika Perempuan Diam


(Sumber Foto : Leya Cattleya, Klinik Fotografi Kompas, Februari 2012)


Yang paling disukai perempuan adalah drama, sesederhana apapun alam pikiran perempuan itu ia pasti menyukai drama, perempuan tak akan pernah bisa melihat mawar merah, seperti kembang merah biasa yang melar dalam rautan pagi, ia akan melihat mawar merah seperti lukisan dimana garis-garisnya adalah perasaan.

Dalam mata perempuan, keseluruhan hidupnya adalah drama, ia senang menangis, karena dalam tangisan ada keindahan, mungkin hanya perempuan yang tau letak keindahan menangis itu dimana. Ia merasakan bahwa cinta bukanlah sekedar cumbu dan kecupan kening, tapi ketika kecupan kening itu datang, maka ia menggambarkan dunia ini seperti dikepung ribuan pelangi.

Itulah perempuan, ia senang dengan drama, ia menjadikan kehidupan ini indah, seimbang dan penuh senyum. Hanya sayang lelaki selalu datang dan mengajarinya bagaimana berkelahi dan membentak realitas.

Pahami perempuan dalam bentuk drama-nya, maka engkau akan paham apa mau-nya ketika ia diam.


ANTON DH NUGRAHANTO

Sepotong Catatan Hari Ini



Ada satu hal yang aku senangi ketika duduk di tepi pantai : melihat kepak sayap camar. Mungkin bagi sebagian orang senja yang indah itu adalah lautan awan berwarna jingga, mungkin juga bagi banyak orang pantai yang indah itu adalah kepungan lembayung yang mengapung diujung cakrawala, tapi bagiku… sungguh, hanya kepak sayap camar yang bikin aku senang, serupa pantai menjadi luas tanpa batas, sesuatu yang tak terdefinisi.

Aku selalu menyenangi sesuatu yang gagal didefinisikan, sesuatu yang tak bisa diurai menjadi anatomi, karena mungkin satu-satunya hal tak bisa didefinisikan itu ‘menyenangkan’. Kemarin waktu aku selalu menunggu hal-hal yang mampu didefinisikan, sesuatu yang bisa dijelaskan baik dari sudut pandang akarnya ataupun menarik hilirnya, tapi sesuatu itu bukan jawaban atas semua persoalan-persoalan, dan bukankah persoalan terbesar dari setiap manusia adalah ketika “manusia itu mulai mengagumi orang lain, sehingga ia lupa betapa berharga dirinya”.

Kita kerap mampu mendefinisikan keindahan orang lain, bagaimana rupa mereka, mengeja rindu pada wajah mereka, bertanya tentang kabar mereka, menjadikan mereka bulan merah jambu, tiap kerja mereka adalah ukuran-ukuran keindahan, tapi kita gagal menjadikan diri kita sebagai bulan yang jauh lebih indah daripada bulan merah jambu itu, padahal diri kita mungkin saja bisa hebat seperti wangi tanah yang disiram hujan pada senja yang ranum, tapi kekaguman pada orang lain yang berlebihan itulah yang kerap menjadikan kita seperti ‘seperti kompor tanpa api, …sepi’.

Ketika aku melihat camar, aku iri akan sayap camar itu, kepak sayap melayang menggarami cakrawala, tiap semburan nafas camar menjadi cat atas kanvas yang melukis warna biru tosca di atas langit, aku kagum. Dan pelabuhan kecil dimana nelayan-nelayan miskin meletakkan sauh, menyimpan sampan dan mengganti jala, meraut kehidupan menyisihkan sedikit waktunya untuk duduk sebentar dan merokok, aku seakan melihat kehidupan……betapa indahnya ketika kita tau, bahwa sumber penderitaan adalah bukan terletak pada kegagalanmu melawan kehidupan, tapi ketika kau mulai mengagumi seseorang secara berlebihan.

Mungkin benar kata seorang penyair yang hidup dalam himpitan jaman di masa lalu “Kemampuan seseorang bukanlah diletakkan pada bagaimana cara ia bekerja, tapi diletakkan bagaimana ia mengerti dirinya dan tau bagaimana cara bermimpi.

-Sepuluh camar di atas langit biru tosca, mengajariku tentang kehidupan, bahwa ‘Menjadi hebat dan menghajar dirimu sendiri dengan kekerasan adalah sebuah bentuk pengabdianmu pada Tuhan, sebuah altar persembahan paling lugas dan mulia di hadapan Tuhan, di hadapan lautan kehidupan adalah menjadikan hatimu seperti neraka, sehingga engkau gelisah dan mampu membangun kehidupan dari kekuatanmu, bukan bercenti-centi mengagumi sesuatu yang tak kau mengerti’.

ANTON DH NUGRAHANTO

Minggu, 15 April 2012

Hapuskan Ujian Nasional

Saya tidak pernah memandang penting entitas pendidikan, gelar akademis dan sederet hal-hal formalitas dalam Intelektualitas. Kerna intelektualitas tidak pernah bisa dibangun dengan ukuran-ukuran yang dibentuk oleh entitas, sebab entitas itu juga berisi orang-orang yang juga tak jelas ukuran-ukurannya. Ketika kau terobsesi pada formalitas intelektualitas, disaat itulah kau dilatih untuk menjadi beo atas pemikiran orang lain dan gagal untuk mencari ilmu secara otodidak, kau gagal membangun metode sistematika dirimu sendiri, kedisiplinanmu adalah kedisiplinan atas kepatuhan intelektualitas yang diciptakan atas arus besar.

Pendidikan yang berbasis pada industri memiliki tolok ukur yang seragam, dan ini aneh kerna di masa sekarang keseragaman tidak dapat dibentuk, dunia sekarang mengarah pada semakin simetrisnya informasi, semua orang mendapatkan hak akses terhadap banyak informasi. Hadirnya internet adalah langkah awal pembuka penghancuran entitas sebagai bentuk modal yang memberikan gelar, hak klaim intelektual dan segala tetek bengek sakralitas ilmu pengetahuan.

Ujian Nasional adalah bentuk sakralitas ilmu pengetahuan dalam bentuk lain, ujian nasional adalah bentuk paling usang dari masyarakat industri, padahal kita sekarang berada pada peradaban masyarakat informasi. Indonesia sekarang menghadapi masalah paling genting, yaitu : Kekacauan antara dimana posisi Negara. Ketika kaum perempuan dikenai prasangka atas tubuhnya, Negara masuk ke dalam tubuh mereka, begitu juga dengan pendidikan, Negara masuk ke dalam hak intelektual anak didik. Disini negara tidak lagi berperan sebagai fasilitator, tapi negara berperan langsung sebagai Persoon yang berhak atas nasib masa depan seseorang. Hal ini tidak baik dalam negara modern, di dalam negara modern, fungsi negara hanya masuk ke dalam ruang-ruang bersama, ruang publik dan pranata atas ruang publik yang tidak menyentuh ke dalam hak tubuh, hak intelektual dan hak keyakinan.

Ujian Nasional yang memiliki indikator-indikator baku yang kaku, hanya akan menciptakan pola pikir masyarakat industri yang seragam, menggugurkan kemampuan kreatif anak-anak didik. Hendaknya ujian nasional ditiadakan, hanya entitas yang berkepentingan langsung-lah yang memberikan ujian dan berhak atas tolok ukur intelektualitas, bukan negara dengan segala bentuk perangkatnya yang berpeluang menindas.

Penindasan atas peradaban pendidikan kita adalah ketika negara mulai ikut campur dalam proses intelektualitas dan penilaian intelektualitas seseorang, kemudian nasib seseorang ditentukan oleh klaim negara ini sebagai prasyarakat mereka masuk ke dalam pranata sosial, padahal urusan negara adalah hanya menciptakan desain interior pranata ruang bukan urusan seleksi masuknya Individu ke pranata sosial, negara disini malah menciptakan kategori, bukan menjadi sumber akhir yang dibentuk kategori.

Hentikan Ujian Nasional berbasis Masyarakat Industri, Bentuk ujian dengan muatan lokal yang berbasis pada masyarakat informasi, dan Menjadi dewasalah Indonesia..........

ANTON DH NUGRAHANTO

Gentong



Dulu, mungkin beberapa dekade yang lalu kita masih ingat gentong yang berada di depan rumah. Fungsi gentong itu adalah menyediakan air segar bagi pejalan kaki. Dalam masyarakat yang komunal, masyarakat yang tidak dihidupkan pada fungsi hak milik, tapi dihidupkan pada kebersamaan, maka gentong adalah "wilayah' paling depan kesadaran manusia bahwa dirinya tak sendiri, ia bagian dari gerak dunia, bagian dari gerak masyarakat dan bagian dari gerak lingkungannya.


Dulu banyak pejalan kaki yang kehausan dan mampir di depan rumah siapa saja untuk meminum air gentong, ada batas yang romantik antara fungsi kepemilikan dan fungsi sosial dalam ruang domestik masyarakat, kepemilikan pada masa lalu tak selamanya mengacu pada kepemilikan dengan nilai nominal, diskon atas masa depan, atau hitung-hitungan penuh rumus, tapi kepemilikan masa lalu dinilai dari seberapa jauh manusia bisa berfungsi atas ruang bersama.

Tapi ketika ide-ide kapital diperkenalkan, individu diartikan sebagai kebebasan yang mematikan ruang kebersamaan, ruang kepemilikan hanya dibentuk oleh besaran nilai nominal dan ladang kompetisi dijadikan arena bertarung dalam kehidupan. Gentong berubah menjadi gelas-gelas plastik air mineral, semua diukur dalam bentuk nominal.

Namun tidak selamanya ruang kapital itu memperbudak keinginan manusia untuk terasing dalam lingkungannya. Beberapa tahun lalu saya sempat keluar daerah dan lewat di jalan tol, di beberapa tempat rest area ada sekelompok pensiunan yang menyediakan air kopi, teh dan air mineral gratis. Mereka tak lagi mencari nilai atas nominal segelas air, tapi mereka mencari nilai atas kemanusiaan dalam segelas air.

Dalam gentong di depan rumah pada jaman dulu, kita banyak belajar bagaimana cara menghancurkan tembok-tembok kapital yang mendiskriminasi kemanusiaan.

ANTON DH NUGRAHANTO.

Shakespeare Quote


“You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows. This is why I am afraid, you say that you love me too.”

-Shakespeare-

Senin, 09 April 2012

Membaca The Old Man and The Sea



Dari novel-novel Amerika yang bernada cepat, staccato dan memiliki kalimat sederhana tapi jelas, karangan Hemingway yang berjudul "The Old Man and The Sea" adalah novel yang menurutku amat sempurna. Caranya bercerita, bertutur tentang lingkungan, suasana hati dan alam amat lugas tapi memiliki sentuhan yang amat dalam.

Kisah ini bermula dari seorang nelayan bernama Santiago, seorang nelayan tua tapi amat disegani, reputasinya tinggi. Namun dalam beberapa bulan dia tak mendapatkan tangkapan ikan, sudah 85 hari ia berlayar dan tak mendapatkan ikan barang seekorpun. Nasibnya kurang beruntung, ada seorang anak muda Manolin namanya yang belajar pada Santiago. Manolin terpesona dengan kemampuan Santiago dalam melakukan pekerjaannya. Manolin melihat ada jiwa dalam setiap gerak kerja Santiago. Tapi nasib sial sedang menimpa Santiago, ia tak segera mendapatkan tangkapan ikan. Ia menjadi kuyu dan kering, tiap hari ia hanya duduk di gubuknya yang kecil dan kumuh. Manolin datang dan hanya menemani, mereka berdua hanya bercerita tentang bisbol dan segala hal yang menarik, terkadang Manolin membersihkan semua peralatan, membawa makanan pada si Tua Santiago, dalam diri Manolin ada kekaguman tersembunyi. Suatu hari ayah Manolin menyuruh untuk menjauhi Santiago yang tidak pernah mendapatkan ikan, tapi Manolin menolak, baginya Santiago memiliki semangat yang tak terlihat, sebuah api yang tersimpan dalam rumah, api yang dapat membakar apa saja.

Suatu hari Santiago bercerita pada Manolin, bahwa dirinya akan berlayar jauh ke Tanjung Meksiko, ia akan mendapatkan tangkapan besar, mendapatkan ikan raksasa, Santiago merasa dirinya mampu. Manolin hanya diam. Suatu hari Santiago benar-benar berlayar sendirian dengan perahu kecilnya, ia berlayar jauh ke Teluk Meksiko. Perjalanan awalnya tenang namun ketenangan itu tak berlangsung lama ketika kailnya terkait, Santiago berpikir ini adalah ikan marlin, ia merasa mendapatkan tangkapan besar, pikirannya tepat ternyata itu benar ikan Marlin raksasa. Maka pertarunganpun dimulai, Santiago menguras tenaga menarik Marlin itu, tapi sang Marlin menarik ke tempat lain, Marlin melawan nasibnya untuk menolak mati, sementara Santiago terus mengikuti apa mau Marlin, ketika ia memaksa untuk menarik Pancingnya dan menghentak Marlin maka ia terluka, satu hari penuh Santiago bertarung dengan Marlin tersebut dan menjadikan tenaganya terkuras habis, tapi Santiago dilahirkan sebagai Nelayan hebat, ia tak akan mundur dan menyerah kalah, tarik menarik terus terjadi, sang Marlin meloncat-loncat dan menarik perahu kecil Santiago.

Di hari kedua sang Marlin memperhebat perlawanannya, ia melawan dan menggedor perahu Santiago, ia membawa perahu Santiago ke arah maunya Si Marlin. Santiago tarik ulur, disinilah kemudian Santiago mendapatkan makna hidup, mata tuanya melihat pada Marlin dengan rasa tunduk yang amat sangat, ia menghormati sang Marlin, dan menyebutnya sebagai 'Saudaraku'. Santiago berpikir "Marlin ini terlalu terhormat untuk dimakan, tak seorang pun pantas memakan ikan yang terhormat ini"

Di hari ketiga, Santiago terus berjuang melawan desakan Marlin, sang Marlin sudah mulai kelelahan ia mengitari perahu, ia berputar-putar terus, dan mendekat pada dinding perahu, disaat itulah Santiago menikamnya dengan Harpun, sang Marlin mati dalam kehormatannya. Santiago menghembuskan nafas lega sekaligus penghormatan, dengan telaten ia mengikat tubuh Marlin di samping kapal kecilnya. Tapi sial bagi Santiago, darah Marlin berkucuran memancing penciuman Hiu. Pertama kali yang datang Hiu Mako, menyerang Kapal Santiago, dengan gesit Santiago menikam hiu tersebut. Lalu datang hiu-hiu lain, harpunnya habis, Santiago membuat harpun dari pisau dan menikam hiu lainnya yang datang memburu. Di malam waktu, hiu-hiu itu memakan tubuh Sang Marlin. Santiago menuju kampungnya dalam kelelahan yang luar biasa, ia menjadi pemenang atas pertarungannya tapi bukan pada nasib beruntungnya, Tubuh Sang Marlin habis dimakan hiu tersebut sehingga tinggal tulang belulang sang Marlin.

Santiago menaruh Tulang Belulang Marlin di tepi laut, ia pulang ke gubuknya, ia tertidur amat pulas, pulas sekali. Manolin yang sejak kepergian Santiago merasa hatinya tak enak dan terus menangis di pinggir laut, merasa lega saat melihat Santiago tertidur pulas. Pagi-pagi sekali Manolin membawakan surat kabar dan membikinkan kopi panas, lalu Santiago terbangun dan bercerita pada Manolin "Saya memimpikan Singa Afrika yang Besar".........

Novel ini memang luar biasa, kata-katanya singkat tapi Hemingway mampu menjelaskan dengan luar biasa, hubungan di tiap ruang penceritaan. Antara si Tua Santiago, Perjuangan Hidup Sang Marlin, Anak Muda bernama Manolin dan Kehormatan...........



ANTON DH NUGRAHANTO

Sabtu, 07 April 2012

Kejenakaan Telur Paskah




Agama yang menarik adalah agama yang mampu menerjemahkan kultur sebagai bagian dari ruang gerak keimanan. Dalam agama apapun juga, kultur adalah bagian dari 'bahasa penerimaan' mereka di tengah masyarakat.

Seperti misalnya orang Islam di Jawa mengenalkan ketupat sebagai simbol dalam perayaan idul fitri, atau Hindu di Bali mengenalkan pada ogoh-ogoh sebagai simbol refleksi ruang kemanusiaan yang terpancar dalam dirinya.

Begitu juga dengan umat kristiani yang tak lepas dari memadukan antara kultur dengan simbol-simbol proses ketika manusia menemui Tuhan-nya, ketika ruang kemanusiaan masuk ke dalam alam Ketuhanan, disini banyak sekali simbol yang ada, baik itu simbol yang misterius penuh teka teki seperti yang sering kita baca dalam sejarah tradisi kristen ataupun simbol yang disenangi dengan cara yang lugas, menyenangkan dan mudah dimengerti seperti : Pohon Natal dan Telur Paskah.

Telur Paskah sendiri merupakan sebuah irama yang menyenangkan ketika anak-anak Kristiani merayakan hari Paskah. Bagi kaum Kristiani, Paskah adalah lambang 'mulainya kehidupan batin' atau 'dimulainya hidup dengan pencerahan'. Paskah bermula pada Yesus Kristus dibangkitkan ke Langit, melayang ke angkasa dan menemui Ruang Tuhan, ruang keabadian, disini manusia dan Tuhan luruh dalam keabadian, tak ada lagi waktu, tak ada lagi dimensi keterbatasan. Peristiwa ini kerap dianggap sebagai 'permulaan hidup baru' bagi manusia ketika manusia menemui pencerahannya tentang 'Alam Ketuhanan' .

Pencerahan ini kemudian di banyak tempat diadopsi dengan Telur. Telur serupa benda mati, ia kemudian pecah dan tiba-tiba ada kehidupan. Begitulah manusia, ketika 'hatinya beku', ketika 'hatinya menjadi terpaku pada duniawi yang mandeg' tiba-tiba tersadarkan ketika 'sentuhan keTuhanan' mengubah dirinya. Maka 'lahirlah' kehidupan.

Telur yang pecah, adalah kehidupan itu sendiri. Momen telur pecah ini bukan saja bermula pada ketika Jesus diangkat ke langit, tapi sudah lama menjadi bagian kultur masyarakat lama. Telur bagi masyarakat Persia kuno sering dihadiahkan pada permulaan musim semi. Orang Yunani yang sedari dulu cinta dan benci pada bangsa Persia mengadopsi hal ini. Lantas ratusan tahun kemudian masyarakat Indo-Eropa juga mulai menggunakan telur sebagai simbol kehidupan.

Di Irlandia, permainan anak-anak lomba mencari telur bermula sekitar tahun 1200-an , kemudian diikuti oleh tradisi permainan anak-anak Belanda yang dibawa ke negeri jajahan mereka di Indonesia. Di Norwegia mereka menciptakan permainan yang disebut 'Knekke' . Di Amerika Serikat perayaan Paskah menjadi meriah ketika negara koloni Inggris berhasil mengusir pasukan Inggris dari daratan Amerika Serikat. Adalah George Washington yang merayakan paskah dengan merebus banyak telur dan mengadakan lomba pertandingan gelinding telur dari atas bukit di belakang rumahnya di Virginia. Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat menyatakan permainan telur gelinding sebagai permainan resmi negeri itu, hal ini sama persis seperti panjat pinang ketika Indonesia merayakan hari kemerdekaannya.

Pada hakikatnya, permainan anak-anak dalam mencari telur ini merupakan simbol bahwa "anak-anak manusia mencari kehidupan, mencari telurnya di dalam dirinya, dalam konsep "pecah telur" dunia kanak-kanak maka akan masuk ke dalam pengertian mereka tentang jalannya dunia yang baik'. Permainan anak-anak kerap menginspirasi banyak sastrawan berbasis agama dalam menyebarkan pengertian manusia dengan Tuhan, seperti jika Islam di Jawa, Sunan Kalijaga mengenalkan tembang Lir Ilir, yang yang menjadi tembang anak-anak padahal merupakan sebuah lagu yang amat dalam makna spiritualnya. Begitu juga pada 'Pencarian Telur Paskah', permainan ini juga merupakan permainan yang memiliki bahasa spiritual yang amat dalam bagi manusia dan Tuhan yang diterjemahkan dalam permainan kanak-kanak dengan sikap jenaka.

-Selamat Paskah-.

ANTON DH NUGRAHANTO.

Jumat, 06 April 2012

Sukarno Bukan Mitos Tapi Pemikiran....!!


Salah satu kesalahan terbesar Sukarno adalah ia terlalu tebar pesona, terlalu punya daya tarik kharismatis, sehingga jutaan orang hanya melihat personifikasi Sukarno, bukan alam pikiran Sukarno. Tebar pesona Sukarno inilah yang kemudian melahirkan mitos-mitos omong kosong.

Padahal alam pikiran Sukarno, adalah alam pikiran puncaknya manusia Indonesia baru, ia mampu menjangkau masa depan peta ekonomi politik dunia dengan analisa Geopolitiknya, ia bisa membangun strategi dasar pengembangan manusia secara rinci lewat tatanan yang disebut ideologi Pancasila yang bila ditelaah Pancasila adalah sebuah rangkaian step by step tentang sejarah perkembangan pendewasaan pikiran dan hati manusia yang dikorelasikan dengan perkembangan sejarah masyarakat, ketika Marx hanya berpusar pada sejarah masyarakat dan letak inti sejarah masyarakat, Sukarno lebih dalam lagi ia masuk ke dalam alam manusia dan bagaimana manusia bereaksi terhadap sejarah masyarakat, karena kepandaian menganatomi itulah Sukarno dengan pandai menggerakkan arah sejarah dunia, bahkan JF Kennedy secara terang-terangan mengaku di depan kabinetnya bahwa dia berguru pada Sukarno dan menggebrak meja pada CIA yang ingin mengerjai Sukarno, di bawah pengaruh Sukarno pula Kennedy mendirikan Peace Corps sebagai cikal bakal gerakan perdamaian yang digerakkan pemuda Internasional. Salah seorang anggota Peace Corps adalah Bill Clinton salah seorang yang nantinya jadi Presiden Amerika Serikat.

Bung Karno juga memberikan sodoran tentang pergolakan sejarah yang menuju pada ekonomi Asia Pasifik. Bagi Sukarno, ini ia tulis di tahun 1930-an dalam surat kabar di Bandung, dengan nama samaran Bima. "Bahwa Asia-Pasifik akan jadi pusat-nya dunia, perang lautan teduh adalah babak pembuka Kemerdekaan Asia Raya. Kelak Eropa hanya jadi benua tua yang sakit-sakitan sementara Asia Pasifik akan tumbuh bak gadis molek yang menghantui setiap pikiran lelaki" disini Sukarno sudah meletakkan pandangan geopolitiknya yang amat menjangkau masa depan. Terbukti sekarang Asia Pasifik jadi rebutan antara Amerika Serikat dan Cina, dan perang beneran kemungkinan akan meletus karena Cina sudah memperkuat armadanya di laut Nanyang (Laut Selatan Cina) sementara Amerika Serikat sudah membuka armada siap tempur di Darwin Australia.

Padahal Bung Karno sudah mempersiapkan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan armada laut terbesar di Asia Pasifik, ia akan menjadikan Biak sebagai "Armada Laut tanpa tanding" di Asia Pasifik itu obsesi utama Bung Karno, karena obsesi inilah KKO di Indonesia menganggap Sukarno seperti separuh dewa, banyak orang KKO yang bertaruh mati membela Sukarno saat Bung Karno ditikam Harto di tahun 1966-an termasuk Letjen KKo Hartono yang mati misterius dan namanya kini menjadi nama jalan utama di Markas Marinir Indonesia di Cilandak Jakarta Selatan. Atau dua serdadu KKO yang digantung Lee Kuan Yew di Singapura, rela digantung demi keagungan nama bangsanya di depan dunia Internasional.

Bung Karno juga adalah pioneer terhadap perkembangan pemikiran revolusi di Amerika Latin. Mustahil bagi Castro berani memberontak tanpa membaca sejarah pembebasan negara-negara kolonial tanpa membaca apa yang terjadi di Asia. Castro membaca pergerakan kemerdekaan di Indonesia saat ia bersekolah di New York tahun 1947, kepindahan Castro ke New York karena ia menghindari kejaran orang-orang Rafael Trujillo dari Dominika karena Castro berusaha menggulingkan klan Trujillo dari Dominika. Di New York ia hanya menghabiskan waktu membaca buku-buku dan jurnal politik, salah satu yang menjadi minatnya setiap kali ke perpustakaan New York adalah membaca jurnal yang dibuat ahli riset Cornell tentang berita perkembangan revolusi di Indonesia, Castro dengan mata kepalanya sendiri melihat demonstrasi di selasar pertokoan New York kaum buruh Amerika berdemo menuntut kemerdekaan Indonesia.

Suatu saat Castro membeli majalah LIFE dan membaca profil Sukarno, disini ia kemudian terobsesi pada Sukarno. Sama seperti Sukarno, Castro bisa berjam-jam lamanya pidato. "Anda-lah yang membuka mata kepala saya tentang arti Revolusi, tentang bagaimana dunia bergerak menuju pembebasan manusia, anda-lah orang yang dari jauh mengajari saya bagaimana memimpin manusia untuk sadar akan pembebasan dirinya" kata Castro di tahun 1960 saat Bung Karno mengunjungi Kuba.

Pada tahun 1961 JF Kennedy mengalami kesalahan fatal karena mengikuti nasihat politik orang-nya Eisenshower yang kepala batu soal Kominis, mereka menyarankan Kennedy mempersenjatai Imigran Kuba dengan senjata lengkap dan dibantu pasukan khusus Amerika Serikat. Gerakan itu diberi kode namanya 'Operation Mongoose' atau kemudian dikenal sebagai 'Invasi Teluk Babi'. Gerakan ini dirancang sangat rapi, tapi entah kenapa salah seorang petinggi militer salah ucap sehingga seorang wartawan AS menulis sebuah artikel yang memuat kemungkinan rencana serangan itu. Castro membaca dan mengantisipasinya. Operasi Teluk Babi adalah operasi kegagalan militer yang amat memalukan, untuk ngilangin malu Kennedy mempersiapkan misil-nya di Turki dan mengarahkan ke Sovjet Uni. Kesal dengan tindakan AS itu, Moskow mengirimkan beberapa puluh rudal berhulu nuklir ke Kuba dan mengarahkannya ke Amerika Serikat. Tak banyak yang tau bahwa yang repot disini adalah orang Indonesia bernama Subandrio yang saat itu bertugas Menteri Luar Negeri merangkap sebagai Waperdam, Sukarno memerintahkan Bandrio untuk membuka saluran telpon langsung baik ke Khruschev, Castro dan Kennedy. Lobi-lobi Sukarno ini sedikit banyak meredam konflik misil nuklir yang dipasang di Turki dan Kuba. Tapi ini yang dikerjakan Sukarno sangat rahasia, karena baik Sovjet Uni maupun Amerika Serikat hanya menarik senjata misil bukan menghentikan konflik, tapi tanpa pengaruh Sukarno maka rakyat seluruh dunia akan bersembunyi di bunker-bunker baja, peradaban dunia hancur total, mungkin banyak orang yang berusia lanjut masih mengingat tentang krisis nuklir itu.

Kennedy berterima kasih pada Sukarno, dan menjadi sahabat Sukarno paling dekat. Pikiran-pikiran Sukarno tentang Internasionalisme diterjemahkan dengan menitikberatkan aspek kemanusiaan, lalu sejak itu pandangan Partai Demokrat selalu berbasis pada soal kemanusiaan, HAM dan kebebasan manusia beda dengan Partai Republik yang cenderung berpandangan politik konservatif.

Inilah secuplik pikiran raksasa Sukarno dan pengaruhnya bagi dunia Internasional, perkara Sukarno senang main perempuan, senang bernyanyi walaupun suaranya sember, mampu berpidato dan membuat jutaan orang mematung mendengarkan pidatonya dalam panas dan hujan, atau seluruh kota dan kampung sepi menunggu pidato Sukarno itu adalah soal lain, soal pesona dan banyak orang Indonesia hanya terjebak pada pesona Sukarno saja, lalu menjadikan Sukarno dewa tanpa isi, menjadikan Sukarno sejarah tanpa pemikiran, tapi hanya puja dan puji yang tak jelas. Begitu juga mereka yang berpikiran kecil, yang tak pernah sekalipun membaca detil pemikiran Sukarno, membaca dialektika dunia saat itu, zeitgeist dunia saat itu, hanya terjebak pada personifikasi Sukarno dengan komentar amat rendahan. Mencaci maki Sukarno sebatas fisik dan prasangka akan kediktatorannya.

Padahal untuk membaca tokoh sejarah, pertama-tama harus membaca alam pikirannya, lalu alam tindakan. Tanpa kedua itu kita terjebak pada alam personifikasi, seperti hal-nya kita hanya menyukai senyum Suharto tanpa melihat substansi kekuasaan Suharto, melihat gairah Bung Karno yang doyan perempuan tanpa melihat substansi arah kekuasaa Sukarno, melihat tangis SBY tanpa melihat substansi kekuasaan SBY arahnya kemana.

Ketika kita berpikiran kecil dan dungu, maka kita hanya senang melihat lukisan Sukarno yang jantungnya berdegup-degup di Blitar, sampai ribuan orang mengantri untuk melihat lukisan itu, ketimbang di sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas politik, ekonomi, Sosial dan Budaya membuat kurikulum tersendiri soal "Pemikiran Sukarno".

Sudah saatnya generasi muda dikenalkan pemikiran Sukarno, bukan mitos Sukarno. Karena pemikiran Sukarno adalah yang menggerakkan sejarah seperti Castro menumbangkan Batista, ataupun Kennedy membentuk Peace Corps ketimbang Mitos Sukarno yang hanya memenuhi ruangan dengan dupa, asap menyan dan lukisan Sukarno setinggi dua meter.

Sukarno bukan Mitos, tapi Pemikiran...!!

ANTON DH NUGRAHANTO

Bung Karno Yang Sadar Kamera


Pada waktu Belanda menerjunkan ribuan pasukan Marinir dan pasukan infanteri ke Yogyakarta Desember 1948, terjadi pertengkaran kecil antara Bung Karno dan Jenderal Sudirman. Saat itu Bung Karno lebih memilih ditawan untuk memancing Belanda berunding dan memancing kemarahan Internasional, tapi Sudirman yang saat itu sudah terpengaruh dengan pikiran 'perang total' Tan Malaka menghendaki Bung Karno untuk ikut masuk hutan dan gerilya dengan Sudirman. Bung Karno menolak, pertimbangannya kalau gerilya pasti ketangkep juga, karena prinsip dari dulu bagi Sukarno adalah selalu 'hadir' ditengah mata rakyatnya dan mata dunia. "Ia tak boleh menghilang".

Selain itu Jawa bukan seperti Cina daratan, seluruh pulau ini dikelilingi laut, kalau Cina daratan gerilya gampang, bisa lari ke Sovjet Uni atau lari ke India. Tapi kalau Jawa lari ke perbatasan ya nyemplung laut, begitulah pikir Bung Karno.

Sudirman yang masih hijau politiknya dan agak tak mengerti 'taktik' politik Bung Karno marah besar. Ia merasa pemimpin di Yogyakarta merusak kepercayaan rakyat. Disinilah aroma perpecahan terjadi.

Tapi ternyata dibuktikan apa omongan Sukarno benar, di PBB Belanda dikeroyok habis negara-negara yang mendukung Indonesia. Nehru sampai menggebrak meja podium berkali-kali dan berteriak pada delegasi Belanda, di Australia kaum buruh mogok total, pelabuhan-pelabuhan di boikot. Di New York sebarisan kaum buruh berdemo meminta Indonesia dibebaskan dari Belanda. Sementara pejabat AS sudah mengantongi surat dukungan Presiden AS untuk membela Indonesia dari Belanda, pesannya singkat "kita dukung Indonesia, jangan sampai keduluan Stalin"

Belanda akhirnya dipaksa mundur, Amerika Serikat mengancam akan menutup dompet Marshall dan tidak mau bantu Belanda lagi apabila dana pajak orang Amerika dipakai untuk beli Mitraliyur NICA, akhirnya Belanda menyerah, agar tak kehilangan muka di antara negara-negara lain, Belanda minta ganti rugi dan Irian Barat tetap dijadikan negara koloni sampai pada waktunya nanti diserahkan pada Indonesia.

Sukarno menang, tapi tidak bagi Sudirman. Ia masih marah. Akhirnya Sukarno memanggil Rosihan Anwar untuk menjemput Sudirman di hutan, sebelumnya beberapa surat sudah dilayangkan ke Sudirman sampai terakhir surat dari Sultan Hamengkubuwono IX, tapi Sudirman masih saja kepala batu. Sukarno tak hilang akal, dipakailah anak buah kesayangan Sudirman yaitu : Letkol Suharto untuk jemput Sudirman.

Pak Dirman senang dengan Letkol Suharto karena cara Jawa-nya yang amat halus. Tidak seperti serdadu revolusioner yang lain dengan gaya kebarat-baratan dan agak urakan, Suharto sangat mriyayeni, sangat halus tutur katanya. Inilah yang bikin Sudirman suka, setiap ucapan Suharto kepada Pak Dirman selalu didahului :Nyuwun Duko (minta dimarahi). Taktik Sukarno benar dengan menyuruh Letkol Suharto, Dirman menurut.

Rosihan Anwar membawa Frans Mendur, ahli potret dari IPPHOS. Juga tukang potret kesayangan Bung Karno. "Nanti kalo Dirman datang, kamu potret yang bagus" kata Bung Karno. Frans Mendur mengangguk.

Lalu datanglah Sudirman ke Gedung Agung, tempat tinggal Bung Karno. Dirman berdiri saja di pojokan, ia kaku, perasaannya masih marah. Tapi bukan Sukarno namanya yang mampu mencairkan suasana, ia mampu membuat Dirman tertunduk dan merasa hormat pada Sukarno yang lagak lagunya seperti bintang Tonil tahun 1930-an.

Sukarno datang sendiri ke Dirman dan memeluknya, tapi Dirman masih kaku, setelah memeluk Sudirman, Bung Karno melihat ke arah Frans Mendur dan berkata cepat "Dapet nggak sentuhannya?"

Frans Mendur menggeleng dan menyahut "Terlalu cepat"

"Ya udah diulang lagi, adegan zoetnjes-nya" (zoentjes =ciuman)...
kata Bung Karno, lalu Bung Karno memanggil Sudirman agar mendekat. "Ayo supaya lebih dramatik" entah kenapa Dirman menurut saja bagai bintang iklan yang sedang disuruh sutradara.

Akhirnya momen pelukan Bung Karno dan Pak Dirman jadi foto paling terkenal sebagai 'Foto penutup perang Revolusi 1945-1949'.

Taktik kamera Bung Karno ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa tak ada isu kudeta militer yang akan memberontak pada pemerintah karena penolakan KMB 1949, sekaligus menunjukkan pada pasukan mbalelo penolak KMB yang masih di hutan bahwa militer sudah bersatu dengan pemerintah dibawah komando Sukarno dengan perasaan haru.

Sukarno mampu secara efektif menggerakkan sebuah gambar sebagai bagian penggerakkan alam pikiran bahwa sadar psikologi massa. Karena bagaimanapun sejak masih di HBS (sekarang SMA) Sukarno adalah seorang sutradara, lakon pentas pertama kali yang ia bawakan adalah lakon komedi. Andai Bung Karno nggak diajarin politik sama Tjokroaminoto mungkin Bung Karno akan bekerja sebagai fotografer atau sutradara film.

Sejarah selalu menceritakan banyak hal........

ANTON DH NUGRAHANTO

Selasa, 03 April 2012

Beraninya Daantje dan Gentleman-nya Bung Karno



Suatu pagi yang cerah sekitar jam 9.00, seorang pilot muda hilir mudik gelisah didepan hanggar pesawat Lanud Hussein Sastranegara, Bandung pada pos parkir pesawat Mig 17. Ia beberapa kali memeriksa kanon yang berisi peluru ukuran 21 mili, lalu ia mengusap-usap rambutnya yang agak berjambul. Lelaki tampan dan tegap itu mengenakan kaca mata hitam dan berjalan agak cepat ke arah pesawat, sesaat sebelum ia naik pesawat, tiba-tiba seorang perempuan cantik memanggilnya "Daantje..." lelaki itu menoleh tiba-tiba ia mendapat kecupan. "I love you" kata perempuan cantik bernama Molly Mambo. Daantje membalas kecupan Molly, bibir tersenyum dan berkata lembut "I love you, too Molly..." Lalu ia melompat ke cockpit pesawat.


Daantje, nickname dari Daniel Alexander Maukar, pilot pesawat terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, catatan manuvernya hanya sedikit dibawah pilot Leo Wattimena, Leo sendiri adalah pilot keluaran terbaik Amerika Serikat yang bikin bengong banyak para ace dengan aksi bolak balik pesawat tempur, dan Daantje hanya sedikit dibawah Leo kemampuannya, Daantje mampu menerbangkan pesawat dalam kecepatan tinggi berapa meter di atas pohon kelapa. Dan pagi itu ia seakan melaksanakan petualangan paling penting dalam hidupnya.

Pagi itu, Bung Karno membaca-baca laporan dari beberapa menterinya, sempat pula ia bercanda dengan Achmadi dan berteriak-teriak pada Kolonel Sugandhi agar lekas menyiapkan keperluannya. Lama ia duduk di kursi kayu teras istana.

Bung Karno merasa gelisah, seperti ada yang lain di pagi ini. Berkali-kali ia melihat jam tangannya. Sementara Daantje sudah melesat menembus angkasa Bandung, menuju Djakarta. Ia mengincar Istana Negara.

Bung Karno berangkat ke gedung DPA yang terletak di samping Istana, dengan beberapa ajudan perwira menengah dan bintara DKP (Detasemen Kawal Presiden). Baru beberapa saat Bung Karno pergi tiba-tiba terdengar suara seperti mitraliyur. Kursi yang baru berapa puluh menit diduduki Bung Karno, hancur lebur. Daantje dengan keakuratannya yang luar biasa mampu menembus Istana Negara. Lalu ia melesat ke arah utara, ia menembaki kilang penyimpanan minyak di Tandjung Priok, drrrrttttt.....dalam hitungan menit, dua kilang minyak terbakar hebat.

Sementara di AURI sendiri semua orang yang tau posisi pilot berteriak : "Tiger....Tiger".. mereka tak menyangka salah satu pilotnya berbuat senekat itu. Tiger adalah call sign bagi Daantje.

Daantje tersenyum kecil, lalu ia mengarahkan pesawatnya ke selatan, ia mendarat darurat di persawahan Garut, ia mendarat di tengah sawah dan ini yang bikin tercengang banyak orang, bahwa hanya ace pilot jempolan yang bisa bikin hard landing seperti ini. Daantje mengakhiri petualangannya.

Usaha Daantje berhenti di Garut, tapi tidak bagi Sam Karundeng, tandem Daantje dalam misi petualangan ini. Sam Karundeng pusing, karena setelah penyerangan mendadak Daantje, pasukan penyusup yang mendukung pendongkelan Sukarno tidak jadi masuk kota. Usaha pendongkelan Bung Karno gagal total.

Nasution berlari-lari ke kamar kerdjanya dari ruang rapat saat mendengar ada usaha penembakan pilot pesawat terhadap Bung Karno. Sementara Yani memanggil seluruh panglima dan memerintahkan siapkan pasukan paling cepat yang bisa mengamankan ibukota. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur semua kondisi siaga. Setelah tau Bung Karno selamat, Nasution bernafas lega.

Beberapa minggu kemudian, diadakan sidang militer terhadap Daantje dan Sam Karundeng, Daantje mengaku ia tak berniat membunuh Bung Karno "Bagaimana saya bisa membunuh orang yang jadi idola saya" Daantje mengaku ia akan menembak Istana bila bendera kuning, lambang Kepresidenan tak ada di tempat. Dulu ada kode pengawalan Presiden RI dengan tanda bendera kuning emas yang dipasang di muka Istana menandai Presiden berada di tempat. Daantje rupanya tertarik atas ide Permesta untuk melawan Bung Karno yang dianggap sudah disetir Komunis.

Di Persidangan Daantje tak dibenci, ia malah dipuja banyak perempuan, keberaniannya sebagai lelaki membuat perempuan jatuh hati, ia adalah lelaki pemberani yang tampan. Saat hakim memvonis hukuman mati. Daantje berdiri dan menghormat. Baginya merah putih tetap di hati, ia hanya mengoreksi jalannya kepemerintahan tapi bukan berkhianat pada negara.

Salah seorang sahabat Daantje, Rima Melati (artis ibukota) amat menyukai Daantje, berkali-kali ia berkunjung ke sel tahanan Daantje dan bicara. "Cobalah kamu minta maaf dengan Bung Karno" Daantje tersenyum, ia menolak "Bagi saya ini prinsip". Bung Karno tertawa saat mendengar Daantje menolak minta maaf "Aku suka dengan anak ini"....dan Hukuman mati-pun dicabut. Bung Karno amat Gentleman dalam menyikapi soal Daantje, "Ia masih muda dan punya masa depan" ucap Bung Karno mengomentari soal Daantje.

Setelah krisis politik 1968, Daantje akhirnya dibebaskan. Tersiar kabar bahwa penembakan Bung Karno ini cuman persoalan rebutan perempuan, kerna Bung Karno senang menggoda Molly Mambo, tapi Daantje tersenyum saja ia berkata "Saya tak sebodoh itu" Dan Daantje Maukar sampai sekarang dikenang sebagai pilot petualang paling hebat di tahun 1960-an, sebuah dekade yang dikenang bangsa Indonesia sebagai dekade "Penuh keberanian, patriotisme dan sikap gentleman".

ANTON DH NUGRAHANTO

Merriam Bellina dan Orde Baru



Di masa Suharto sekitar tahun 1980-an dikenal ada kebijakan aneh yaitu "Pencekalan terhadap lagu-lagu cengeng" Merriam Bellina termasuk kena cekal, single lagunya yang berjudul 'Begitu Indah' dicekal Pemerintahan Suharto karena dianggap membawa pengaruh depresif kepada Masyarakat. Orang yang berhati Galau dilarang di jaman Pak Harto, karena manusia galau dianggap bisa menghambat jalannya pembangunan.


Kalau sekarang, Presiden RI-nya Galau terus, menterinya kayak orang gila ngamuk-ngamuk dan mukul sana mukul sini.

Lirik lagunya :

BEGITU INDAH

Begitu indah sayang
Hari hari berlalu
Begitu sedih untuk dikenangkan
Disaat engkau harus memilih

Bukan, bukan salahmu
Mungkin harus begini
Biar kubawa pergi, kubawa sampai mati
Kasih sayang untukmu

Cukup, cukuplah sudah sayang
Kau berkorban untuk diriku
Akupun menyadari apa arti diriku
Cukup, cukuplah sudah sayang
Airmata jatuh berderai
Mungkin memang, mungkin harus
Ku berlalu…

Sebelum ku berlalu
Ingin kudengar lagi
Apa yang pernah kau ucapkan dulu
Yang membuat damai hati ini

Saat yang paling pedih
Melihat kau disana
Kuusap dada ini, sebab bukan diriku
Mendampingi dirimu..

Senin, 02 April 2012

Sejarah Selalu Menceritakan Banyak Hal



Setiap hari kelahiran Ratu Wilhelmina, anak-anak warga negara Hindia Belanda diterima Gubernur Jenderal di Istana Negara. Mereka diajarka mencintai Ratu-nya dan bernyanyi bersama-sama lagu kebangsaan Belanda "Wilhelmus van Nassouwe" setelah perayaan resmi di ruang tamu negara, Gubernur Jenderal biasanya menerima anak-anak di taman dan bernyanyi bersama. Lalu diadakan lomba, yang terkenal saat itu adalah lomba balap karung.

Ketika repatriasi (pengusiran ke tanah induk) besar-besaran penduduk warga Belanda akibat politik Sukarno yang merobek-robek perjanjian KMB 1949 pada tahun 1957. Banyak anak-anak Belanda yang pindah ke negerinya, tapi mereka kedinginan di negara induk, mereka mencintai Indonesia dengan alam tropisnya. Kebanyakan dari mereka kemudian tak betah di Belanda dan pindah ke California suatu tempat yang dianggap iklimnya sama dengan Indonesia.

Anak-anak Belanda yang dibesarkan dalam kultur Indonesia tak lekang oleh waktu, mereka masih mencintai nasi goreng, mereka masih suka menyanyikan lagu "Nina Bobo" bahkan mereka membangun kebudayaan Indo-Belanda sendiri sebagai subkultur terbesar di Belanda. Festival Tong Tong adalah salah satu produk kebudayaan Indo-Belanda yang amat dikenal. Bahkan lagu Nina Bobo pernah dibawakan oleh pemusik-pemusik besar dunia pada konser Internasional.

Di Amerika Serikat kebudayaan Indo Belanda berkembang dengan amat baik, di tahun 1970-an mulai menyebar restoran-restoran dengan gaya khas Indonesia, pemicu awalnya adalah orang-orang Indo Belanda ini, ,kemudian diperbesar dengan arus imigrasi orang Indonesia pribumi yang banyak pindah ke Amerika di era 1980-an.

Di bidang sastra kultur Hindia Belanda berkembang amat baik bahkan berpengaruh besar terhadap alam pikir orang Belanda. Awalnya memang novel Multatuli, kemudian di abad 20 muncul Eddy du Peron, peranakan perancis yang bersimpati pada nasionalisme Indonesia dan teman ngobrol Sjahrir di kafe Braga, Bandung. Ada Rob Niewenhuys yang senang mencatat kehidupan kota di Batavia dan Surabaya, ada Tjalie Robinson, yang cerita-ceritanya soal kehidupan sehari-hari yang amat satir tapi lucu dan ada juga si cantik Marion Blom yang kerap menggambarkan indahnya Indonesia.

Dari mereka-lah rantai sejarah Indonesia-Belanda dalam dinamika waktu alam pikiran terbentuk.

-Sejarah selalu menceritakan banyak hal-.

ANTON DH NUGRAHANTO

Kisah Hidup Jokowi



Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.

Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.

Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya "Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili". Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah.

Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.

Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.

Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : "Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich" akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.

Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.

Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. "Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan" lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya "Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran". Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.

Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir "Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya" lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.

Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan 'bleger' yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.

Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan "Kerja" ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.

Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja "Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri...keluar kamu...!!" kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu "Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta....".

Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi "Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan"

Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : "Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.


ANTON DH NUGRAHANTO

Cara kerja Jokowi



Jokowi sudah keliling Jakarta, ia sudah mencatat semua problematika dasar kota Jakarta, seperti "Hubungan pasar dengan masyarakat, pasar dengan gerak ekonomi rakyat dan pasar dengan kemungkinan diciptakannya ruang yang lebih luas bagi pengembangan cluster-cluster pasar berbasiskan perdagangan rakyat".

Jokowi sudah masuk ke Trans Jakarta, ia sudah menghitung pola transportasi dengan korelasi komuter, korelasi tingkat kunjungan pengguna transportasi Transjakarta dengan deret waktu hitungnya. Serta korelasi antara kemacetan Jakarta dengan ruas jalan busway. Ia sendiri secara langsung mengukur tingkat kelelahan orang menggunakan busway, dan bagaimana tingkat kelelahan itu dikurangi sampai pada titik yang optimal.

Jokowi sudah melihat keuntungan digunakannya monorel, tatanan blue print transportasi kota secara menyeluruh, kemungkinan-kemungkinan pembatasan kendaraan, disiplin pengguna jalan raya dengan gerak bebas transportasi.

Jokowi secara langsung menghitung tingkat ketersediaan pelayanan kesehatan masyarakat, pelayanan umum birokrasi dan kecepatan pelayanan umum. Ia memprioritaskan dulu pada kebijakan publik yang paling mendasar, kebijakan publik yang menyangkut rakyat banyak sebelum masuk ke dalam kebijakan publik yang besar seperti tingkat kemudahan investor untuk berinvestasi di Jakarta. Prinsip Jokowi terhadap Jakarta sama dengan yang ia lakukan di Solo : "Jangan sampai modal besar menghambat dan menghancurkan ekonomi rakyat, jadi ia menyusun sinkronisasi atas sistem permodalan yang tidak mengganggu ekonomi rakyat.

Ketika semua cagub DKI bertarung dalam wacana dan kampanye teori, Jokowi sudah bekerja lapangan.

Ia berpikir, andai dia menang : 30% pekerjaan anatomi tata ruang kota dan kebijakan publik sudah ia garap dan bila menang ia langsung kerja lapangan, tapi bila ia kalah, pelajaran tata kota Jakarta bisa menjadi referensi pembelajaran dia dalam soal kebijakan publik.

Jadi Jokowi tak akan mengunjungi perdebatan-perdebatan omong kosong, yang ia lakukan langsung aplikasi baik konsepsi dan kerja lapangan.

Jokowi emang hebat.