Friday, 2 December 2011

Secuil kisah buku Biografi Pak Harto


Banyak orang bilang Pak Harto kejam, tapi tau nggak buku apa yang dia paling suka? ternyata buku biografi cinta Inggit Garnasih dengan Sukarno "Kuantarkan Kau Ke Gerbang" Pak Harto bacanya sampe nangis. Pada akhir tahun 1982 asisten Suharto Gufron Dwipayana dateng ke Cendana karena dipanggil Pak Harto dia disuruh buat biografi Suharto. Cuman Pak Harto nggak mau yang bikin selain Ramadhan KH atau kerap dipanggil Atun.

G. Dwipayana trus dipanggil tiap jum'at sore, tapi Ramadhan KH agak gemetar kalo dia harus terus menghadap, siapa yang nggak takut ama Pak Harto saat itu dan Pak Harto juga nampaknya menjaga jarak. Untuk mendeskripsikan ketakutan orang sama Pak Harto adalah ucapan Adam Malik di depan Pram, selepas Pram keluar dari Pulau Buru tahun 1978. Suatu saat Pram ketemu Adam Malik dikantornya waktu Pram berusaha membatalkan tindakan jaksa agung yang membredel buku Gadis Pantai dan minta bantuan Adam Malik "Kamu tau Pram, aku saja bisa di dor sama ini orang" bayangkan Adam Malik saja takut sama Pak Harto.....Nah, Atun ngeri kalo dia salah nulis bisa-bisa di dor juga minimal di bui. Akhirnya Atun menolak, tapi Gufron terus memaksa. Ngeri sama keadaan lalu Atun setuju menuliskan buku biografi Pak Harto. Atun hanya ketemu Pak Harto dua kali, selebihnya Gufron yang merekam omongan Suharto dan dijadikan bahan tulisan.

Mungkin karena tulisan dengan dasar kengerian itulah, buku Biografi Suharto nggak begitu hidup, beda dengan buku biografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams, sebagai penulis malah Cindy bebas menemui Bung Karno kapan saja, tapi Bung Karno agak genit juga ia suka cium Cindy Adams. Karena lugas inilah buku Biografi Sukarno "Penjambung Lidah Rakjat Indonesia" adalah buku paling baik dan monumental dalam sejarah penulisan biografi di Indonesia. Buku ini dirilis tahun 1966 dan diterjemahkan oleh Mayor Abdul Bar Salim, bagi saya inilah terjemahan terbaik buku berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dan lucunya di buku ini yang meng-endorse adalah Suharto. Padahal saat itu Suharto adalah bawahan Sukarno. Karena ada endorse dari Suharto yang penuh puja puji inilah buku "Sukarno : Penjambung Lidah Rakyat Indonesia" tidak bisa diberangus, dan gara-gara buku ini ingatan rakyat akan Sukarno terus menjalar.

Sebenarnya karya Ramadhan KH hampir semuanya memiliki daya hidup imajinasi. Karya Biografi Atun yang terbaik justru biografi Jenderal Sumitro yang ditulis dengan bahasa orang pertama,"aku". Ini mirip dengan buku Biografi Sukarno. Dalam buku Sumitro itu kemarahan, rasa tidak suka, kebencian, sikap iri, narsis bisa tergambar jelas sekaligus kenaifan dan kecerdasan Jenderal Mitro. Disini nampaknya Atun bebas menulis, sikap lugas Mitro ini mungkin dipengaruhi oleh pergaulannya dengan orang-orang PSI pada awal tahun 1970-an terutama dengan Sudjatmoko. Padahal sebelum tahun 1970-an Jenderal Mitro ini amat dekat dengan PNI radikal.

Kembali ke soal biografi Pak Harto tadi, setelah proyek bukunya selesai. G Dwipayanan meninggal. Atun ingin menagih bayaran proyek buku tersebut. Akhirnya Atun dipanggil ke Cendana. Tapi Pak Harto entah kenapa menolak untuk ketemu dengan Atun. Oleh ajudannya saat itu Kolonel Wiranto, Atun diantarkan ke garasi dan bilang ke Atun :"Pak Ramadhan ini mobil buat bapak" lalu Atun melihat mobil Toyota Accord merah baru dan joknya masih dibungkus.

Sampai sekarang masih jadi misteri kenapa Pak Harto tidak pernah mau menemui penulis biografinya sendiri, suatu hal yang aneh. Buku biografi Pak Harto karya Ramadhan KH akhirnya jadi buku rujukan paling penting dalam memahami pribadi Suharto. 70% sumber indeks di buku riset Elson berasal dari buku Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan. Sulit memahami Suharto dalam konteks kesejarahannya tanpa membaca buku Atun ini sebagai bahan referensi.


No comments: