Minggu, 23 Oktober 2011

Malari Titik Balik Terpenting Bangsa Ini



Tiga Puluh Tujuh tahun yang lalu pecah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974. Dalam sejarah Malari sama sekali tidak dikenal bahkan hanya dibaca simpang lalu, peristiwa ini kalah dengan peristiwa yang dianggap penting lainnya dan nilainya sama dengan kerusuhan-kerusuhan yang biasa terjadi di Jakarta. Padahal dalam sejarah Indonesia modern, Malari 1974 adalah satu-satunya peristiwa yang paling penting dalam membentuk ke Indonesiaan, Malari adalah satu peristiwa yang membentuk peradaban ke Indonesiaan kita sekarang, Malari juga adalah pengantar untuk menjelaskan alam pikiran orang Indonesia dalam melihat bangsanya : Kenapa bangsa ini menjadi manusia-manusia yang terbudaki alam kebendaan.

Dalam perjalanan sebuah bangsa dikenal satu line, dimana satu garis itu ada milestone, hidupnya tonggak-tonggak penjungkirbalikkan tatanan masyarakat. Di Indonesia tonggak itu terjadi pada 1928 dimana kesadaran berbahasa dan wilayah terbentuk disinilah fase pertama sebuah bangsa terjadi : Fase kekuasaan. Kemudian pada tahun 1948 sebuah pilihan politik penting diputuskan melalui sebuah mitos di kaki gunung Lawu pada peristiwa konferensi Sarangan, ada atau tidaknya konferensi Sarangan 1948 sebagai sebuah fakta tidak lagi menjadi begitu penting setelah penyerbuan pasukan Siliwangi ke Madiun. Pada tahun 1948 seluruh gerakan kiri menjadi musuh bersama, pada tahun itu penasbihan kekuatan angkatan bersenjata yang anti gerakan kiri bertransformasi menjadi kekuatan elitis yang menentukan arah bangsa. Pada tahun 1948 tercipta fase kedua : Orientasi Bangsa Yang Melihat Amerika Serikat Sebagai Role Model Pembentukan Masyarakat Republik. Lalu di tahun 1965 merupakan tahun pembuka bagi keputusan apakah Orientasi itu menjadi sebuah tatanan masyarakat yang berdikari. Disini tatanan pembebasan diletakkan pada landasan paling dasarnya yaitu : Modal, lewat sebuah sistem politik antitesis dari pembebasan : Demokrasi Terpimpin yang akan mengantarkan pada Demokrasi Murni setelah tiga prasyarat dasar kemandirian terbentuk yaitu : 1. Kemandirian Politik 2. Berdikari secara Ekonomi 3. Berkebudayaan Otentik. Tiga landasan ini akan membentuk satu peradaban baru bernama Indonesia Raya sebuah peradaban alternatif yang memecah kebekuan dualisme yang tercipta akibat penyelesaian perang dunia yang tidak sempurna : Peradaban Komunis-Stalinis di Timur dan Peradaban Liberal di Barat.

Tahun 1965 adalah masa penentuan apakah tatanan masyarakat menjadi tatanan yang mandiri dan otentik atau tatanan yang bergantung pada kekuatan kiblatnya dalam hal ini Amerika Serikat. Sukarno menolak tatanan yang bergantung pada kiblat itu, dengan jenius ia menyelesaikan seluruh persoalan wilayah yang menggantung pada masa perang revolusi, ia berhasil membangun lumbung modal. Lalu ia membuat konsep geopolitik ala Jawa terciptanya : Negara Inti dan Negara Mancanegara sebagai magersarinya. Negara Inti adalah Republiek Indonesia sementara Mancanegara atau Satelit Ring Satu adalah Singapore, Malaysia, Filipina dan Australia. Negara inti dan Satelit Ring Satu inilah yang akan digunakan sebagai kekuatan inti yang akan dijadikan modal dasar dalam pembentukan Triumvirat Asia : India-Indonesia-Cina. Triumvirat ini akan menjadi pusat industri yang mandiri dan tidak bergantung pada Amerika Serikat, Sovjet Uni atau Inggris. Tapi nasib Sukarno sangat tragis ia ditinggal sendirian oleh para Jenderalnya, dan ia marah soal pembangkangan Jenderal-Jenderalnya soal Malaysia, ia marah soal penyabotan pikiran Angkatan Ke V, sebagai sebuah kolone kekuatan massal yang mampu mengepung secara bersamaan front utara berhadapan dengan Malaysia dan front selatan membuka perang dengan Australia. Lalu penyelesaian lama terjadi, penyelesaian ala Jaman Revolusi 1945 : PENCULIKAN. Penyelesaian yang biasanya diselesaikan dengan cara penghadapan paksa ke penguasa ini malah diselesaikan hanya dengan tembakan prajurit-prajurit kroco di depan pintu rumah para Jenderal dan ini membuat Sukarno tersudut, jutaan orang harus kehilangan nyawanya. Impian Sukarno hancur lebur bersamaan dengan membusuknya ginjal Sukarno dan ia mati dalam kondisi lebih buruk dari pengemis di pasar yang tergeletak tanpa perawatan. Tragedi Sukarno ini akan membuka tragedi bangsanya.

Tembakan prajurit di depan rumah Jenderal itu mengantarkan Indonesia masuk ke dalam fase ketiga : Fase Pembentukan Fundamen Kekuasaan Elite yang sah digunakan saat beberapa Jenderal memaksa Sukarno untuk menandatangani sebuah diktum militer yang kemudian diselewengkan menjadi sebuah nota penyerahan kekuasaan pada 11 Maret 1966.

Seluruh intelektual yang berpikiran barat, anak-anak muda kritis pembaca banyak buku, dan seluruh kekuatan yang ingin Indonesia meloncat ke peradaban liberal yang tidak mau dicekoki : Patung dan Pidato, bersatu menjungkirkan Sukarno. Sementara nun jauh dari Jakarta pembantaian massal terjadi, sungai-sungai banjir darah manusia dan jutaan nyawa manusia dipenggali kepalanya. Sebuah keinginan modernisasi bertemu dengan pembantaian yang akan menjadi trauma seluruh keluarga-keluarga di Indonesia dan ini dua peristiwa ini menemukan muaranya : Bangsa Yang Sakit Jiwa.

Lalu setelah 6 tahun berjalan menjauhi tahun 1965, bangsa yang sakit jiwa ini dikoreksi, muncul gerakan revolusi Mahasiswa di Perancis pada tahun 1968 yang menyadarkan bahwa kehidupan sosial yang penuh nilai-nilai moral akan rusak oleh tatanan kapitalisme. Sementara di Indonesia kapitalisme menemukan benihnya yang jahat : MODAL ASING, HUTANG LUAR NEGERI DAN PEJABAT-PEJABAT KOMPRADOR. Pertemuan-pertemuan politik mahasiswa diadakan dimana-mana, jaringan kampus terbentuk lagi tapi kali ini bukan soal membantai mahasiswa PKI atau CGMI tapi soal membentuk arahan politik baru yang lucunya ketika mereka menendangi pantat PKI di tahun 1966 mereka menoleh pada dasar-dasar pemikiran Karl Marx yang mereka sebut : KIRI BARU, New Left. Gelombang kiri baru ini menjadi arus besar pemikiran di Eropa Barat dan Amerika Serikat, ia membangun bentuknya pertama kali pada pemikiran sastra dan teater lalu merambah pada kritik tatanan masyarakat, di Eropa Barat Kiri Baru diterima tanpa kekerasan karena masyarakat demokrasi sudah terbentuk sempurna, bahkan kiri baru menjadi landasan ekonomi paling penting bagi Eropa Barat dimana kekuatan ekonomi tidak bergantung pada pusat-pusat modal dan barisan pejabat yang korup.

"Negara Tanpa Ketergantungan" adalah tema besar yang awalnya diteriakkan Arif Budiman ditengah seminar New Left pada tahun 1971 menjadi dasar pemikiran baru mahasiswa, mereka menyerang Jenderal-Jenderal kaya, mereka mengeritik negara dengan kekuatan militer dan mereka tersadarkan 'Demokrasi Terpimpinnya Sukarno, Sudah menjadi Negara Neo Fasis oleh Suharto'. Lalu mereka bertanya siapa cukong negara neo fasis ini? jawabnya : Cukong dari kekuasaan neo fasis ini adalah Modal Asing. Dan ketika kelompok Widjojo Nitisastro menyerang Pertamina, kelompok ini juga menyadarkan Orientasi tatanan barat yang diinginkan, muncul kelompok lain yang tiba-tiba menjadi penyeimbang Widjojo cs. Kelompok Hoemardani yang dekat dengan jaringan modal Jepang. Widjojo dan Hoemardani bertempur, sementara rivaalitas para Jenderal berlangsung ketat. Ali Sadikin membangun basisnya, Jenderal Mitro membangun benih-benih pemberontakan mahasiswa dan Ali Murtopo membentuk skenario penjebakan bagi Jenderal-Jenderal yang mulai berlagak menyaingi Suharto. Lalu mahasiswa tanpa sadar terkooptasi permainan para Jenderal ini, mereka gagal membangun kekuatan otentiknya, mereka tidak percaya diri untuk bertindak kecuali bergerak dengan jaminan perlindungan para Jenderal dan mereka tanpa sadar toh para Jenderal itu juga terjebak sebuah permainan intelijen.

Lalu ditengah rapat mahasiswa menemukan momentumnya : Kedatangan Tanaka. Kemudian mereka menyiapkan barisan, menyerbu pusat-pusat negara dan berpidato dimana-mana tapi tahun 1974 bukan jamannya revolusi 1945 dimana rakyat memiliki ruang spontannya, tahun 1974 adalah tahun dimana para intel pegang peranan. Masuklah isu Ramadi, kemudian dokumen itu dibaca Suharto lalu Ali Murtopo mendapat angin, kemudian beberapa sektor di Jakarta rusuh, Jenderal Mitro kehilangan kendali di Jakarta dalam hitungan enam jam dia terlambat menghambat pembakaran di Senen, secara legitimasi sebagai Pangkopkamtib dia gagal dan dia terjebak masuk ke dalam skenario intelijen. Jenderal Mitro dipanggil Suharto dan akan dibuang ke AS sebagai dubes, tapi Mitro menolak lalu keluar dari ruangan Suharto ia bukan siapa-siapa lagi.

Suharto marah-marah di depan helikopter yang mengantarkan Tanaka ke Bandara, tapi Suharto punya kesempatan menggebuk unsur terakhir para Jenderal yang menggangunya dan Suharto memenangkan pertarungan paling penting bagi pembentukan peradaban Indonesia paling fundamental : MODAL ASING DAN KETERGANTUNGAN EKONOMI. Inilah kemenangan yang tidak mungkin lagi dilawan oleh kekuatan apapun. Modal Asing dan Ketergantungan ekonomi menjadi tiang paling kokoh pembentukan elite pejabat. Dari sinilah kemudian lahir pemodal-pemodal kecil di dalam lingkaran Pertamina atau Cendana dan lingkaran ini kelak akan menjadi penguasa justru setelah Suharto jatuh.

Malari 37 tahun adalah sebuah kisah yang bisa menjelaskan peradaban kita. Kenapa di Jalan-jalan raya sistem transportasi hancur lebur tapi mobil-mobil mewah berkeliaran, status manusia bergantung dengan sistem kebendaan, merk mobil akan menjadi status sosial di masyarakat bukan intelektualnya atau gerak sosialnya, Metro Mini dan Kopaja sampai detik ini masih menjadi angkutan ditengah negara lain bisa menyediakan sistem angkutan massal seperti kereta bawah tanah atau trem yang murah tapi nyaman. Manusia Indonesia dibudaki oleh barang-barang asing yang harus ia beli. Pembangunan mall-mall menjadi ruang publik satu-satunya, pusat kebudayaan tidak lagi berada di taman-taman kota dan Balai Masyarakat tapi dibangun di plaza-plaza pembelanjaan. Inilah tragedi sebuah negara yang di awalnya ingin membangun masyarakat sejahtera berkeadilan sosial malah melahirkan : Masyarakat Budak Kebendaan.

Tidak ada komentar: