Saturday 22 October 2011

Beograd Masih Ingat Bung Karno



Perjumpaan secara tak sengaja dengan Miroslavic di Kafe Insomnia semakin meyakinkan bahwa nama besar Bung Karno, presiden RI pertama, benar-benar tinggal di hati rakyat Beograd, Serbia. Barangkali juga Bung Karno tidak hanya dikenang di Beograd, tetapi juga di kota-kota lainnya di seluruh Serbia atau malahan di seluruh wilayah bekas Yugoslavia.

Kafe Insomnia yang terletak di perempatan Jalan Strahinjica Bana 66a itu tidaklah besar. Gedung kafe itu berlantai dua. Di lantai bawah ada sekitar 20 kursi, demikian juga di lantai atas. Tetapi, di ruang kecil itu, nama besar Bung Karno bergaung begitu keras.

”Ah, dari Indonesia,” ujar Miroslavic begitu ramah. Lelaki kelahiran tahun 1942, yang pernah memiliki percetakan kertas undangan dan tanggalan, itu lalu dengan lancar bercerita tentang Bung Karno. ”Coba di zaman sekarang ini muncul kombinasi pemimpin seperti (Josip Broz) Tito, Bung Karno, (Gamal Abdul) Nasser, (Jawaharlal) Nehru, dan siapa lagi itu yang dari Ghana, saya lupa, pasti hebat sekali.”

”Saya masih ingat, walau waktu itu masih kecil, kunjungan Bung Karno ke sini, Beograd. Bung Karno sahabat Tito. Waktu itu kami berdiri di pinggir jalan sambil melambai-lambaikan bendera kedua negara. Keduanya hebat,” tuturnya lebih lanjut.

Nama Bung Karno memang selalu disebut-sebut di mana- mana. Begitu menginjakkan kaki di Beograd, yang pertama kali menyebut nama Bung Karno adalah Andri Hadi, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, yang memimpin delegasi Indonesia dalam dialog bilateral antarumat beragama (interfaith) Indonesia-Serbia. ”Kita tiba di negeri sahabatnya Bung Karno,” katanya saat itu.

Di Kedutaan Besar RI di Beograd, untuk kedua kalinya nama Bung Karno disebut. Kali ini oleh Dubes RI untuk Serbia Semuel Samson. ”Gedung KBRI ini berdiri di wilayah yang khusus, istimewa, tidak di kompleks korps diplomatik. Kita memperoleh tempat yang khusus dan luas karena eratnya persahabatan antara Bung Karno dan Tito,” jelas Semuel Samson.

”Anda harus berbangga, sekarang mengikuti seminar di tempat yang dulu digunakan juga oleh para pemimpin Gerakan Nonblok (GNB) untuk pertama kalinya bersidang. Yang lebih istimewa lagi, dan ini harus membuat Anda bangga, di sinilah dulu Bung Karno juga bersidang. Bung Karno pemimpin besar. Dia sahabat Tito, yang berarti juga sahabat kami. Kami, rakyat Serbia, dulu Yugoslavia, bangga akan dia,” ujar Radislav Z Milanovic begitu lancar, tanpa bisa diputus, di sela-sela dialog antar-umat beragama.

Dialog diselenggarakan di Palace of Serbia, sebuah gedung yang digunakan untuk menggelar Konferensi Pertama GNB tahun 1961. Milanovic, seorang senior eksekutif di perusahaan penerbangan Serbia, yang pernah beberapa kali ke Indonesia, mengaku sangat mengagumi Bung Karno.

Di dalam ruang sidang, Ljubodrag Dimic, seorang profesor doktor dari Universitas Beograd, yang menjadi salah satu pembicara dalam dialog, secara panjang lebar menjelaskan tentang persahabatan Indonesia lewat GNB. ”Bung Karno memainkan peran sangat besar dalam konferensi itu,” katanya. ”Soekarno memang tokoh besar. Anda, saudara-saudara kami dari Indonesia, harus berbangga memiliki tokoh sebesar dan sehebat Soekarno, sama seperti kami memiliki tokoh besar Tito,” lanjutnya.

Tokoh pemersatu

Yang diucapkan Dimic itu diulangi lagi oleh pemimpin Komunitas Islam Serbia, Imam Besar Adem Zilkic, saat menerima delegasi Indonesia di kompleks Masjid Bajrakli. ”Jarak antara Indonesia dan Serbia memang jauh. Secara geografis kita berada di tempat yang berjauhan, tetapi secara spiritual kita dekat. Kita memiliki hubungan spiritual yang dekat. Yang berjasa mempererat hubungan spiritual kita adalah Soekarno. Dia sahabat kami rakyat Serbia,” kata Adem Zilkic.

Dua jam kemudian, di Universitas Beograd, Rektor Universitas Beograd Branko Bogdanovic, menjelang acara penandatanganan naskah kesepahaman antara Universitas Beograd dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, lagi-lagi bercerita tentang kebesaran dan kehebatan Bung Karno. ”Presiden Soekarno menerima gelar doktor kehormatan dari universitas ini. Pemberian gelar itu, selain menunjukkan kehebatan Soekarno di bidang akademi, juga membuktikan betapa kami sangat menghormati tokoh besar itu,” katanya.

”Ya, Soekarno memang tokoh besar. Ia pahlawan yang kami banggakan. Berdosalah kami kalau ke Beograd tidak singgah ke universitas ini, tempat dulu Soekarno mendapat gelar doktor,” sambung Semuel Samson. Bahkan Dubes RI untuk Serbia ini menyebut, selama 20 tahun masa pemerintahannya, Bung Karno 20 kali mengunjungi Yugoslavia.

Dan Dekan Fakultas Teologi Ortodoks Universitas Beograd Artemije Irenej, seorang uskup Gereja Ortodoks Serbia, tidak ketinggalan memuji Bung Karno menjelang kuliah umum yang disampaikan oleh Pendeta Margaretha Maria Hendriks-Ririmasse, Heru Prakoso SJ, dan Komaruddin Hidayat.

Mengapa Bung Karno begitu dipuji dan dikagumi di Serbia? ”Itu menunjukkan kebesaran dan kehebatan Bung Karno sebagai tokoh GBN. Selain itu, Bung Karno juga dipandang sebagai pemimpin pendorong solidaritas, solidarity maker. Sebagai bangsa yang plural, Serbia sama dengan Indonesia, membutuhkan seorang pemersatu. Di sini, setelah Tito meninggal, Yugoslavia bubar, sementara setelah Bung Karno meninggal, Indonesia masih bersatu, masih utuh. Itu yang membuat mereka kagum kepada Indonesia, kagum kepada Bung Karno, sang pemersatu,” komentar Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat.

Bung Karno memang tokoh besar. Dan, rakyat Serbia mengakuinya.

(trias kuncahyono dari Beograd, Serbia)

No comments: