Saturday 31 October 2009

Sajak Hidup






Sajak Hidup

By.Anton Djakarta

Hidup akan datang mengetuk pintumu, entah kau siap atau tidak
menyiapkan segala perkakas menggeluti siang
bentara malam yang kita impikan dengan tenang usai ketika pagi tumbuh
cakrawala merah muda diujung langit sana dan kokok ayam
:mata terbuka

kehidupan berputar seperti roda pedati pelan menginjak batu tanah
arloji gantungkan pikiran tentang waktu
dan kaki-kaki membuka langkah menunjuk langit yang tersapu hujan tadi malam


Pagi membuka jendelanya dan sayap-sayap kabut berterbangan dihirup matahari
Pukul tujuh hari ini, pasar-pasar membuka lapaknya, petani turun pada tanah lumpur, nelayan kembali dari lautan dan menenteng ikan tangkapan, pencuri tertidur pulas dan anak malas mulai menyalakan TV melihat musik sambil makan indomie.

Hidup dimulai pada keriangan hati

Nyalakan mesin mobil, siapkan buku-buku laporan
atau menuliskan pada laptop tentang agenda hari ini
proyek musti dijalankan, anak gelandangan tertidur pulas, negara masih ada......
hidup mengetuk pintumu.

Wartawan-wartawan tertidur di depan markas polisi, penyiar bersolek dengan gincu mahal
Ajudan menteri berlarian
Presiden mengangguk-angguk dan memainkan pulpennya sambil menghirup kopi
Pak Lurah mencari dokumen-dokumen tanah sambil menghayal tentang janda sebelah
Penjaja roti berlarian mengejar pelanggan
Pelacur masih tertidur kelelahan
: Anak kecil gelandangan menyusun kotak-kotak karton dipinggir kali
Rumah kardus berdiri
Rumah Pejabat dihiasi kolam renang
dan Pagi menyiangi tanpa membedakan
kerna kehidupan seperti tanah keadilan, hanya manusialah yang mengurapinya dengan rumusan modal.

Balur-balur cemeti ada di jalan raya dan polisi yang kelelahan karena gagal menangkapi sopir bis sialan.
Persiapan luka ada di jalan-jalan raya, jalan setapak hutan dimana harimau kerap berjemur sambil makan ubi
mobil-mobil, motor yang liar, angkot dengan kecepatan ferrary, busway yang memasukkan penumpang dengan semangat membenahi ibukota, atau penumpang lelaki di kereta yang senang mengobel pantat wanita dalam desakan-desakan penuh keringat bercampur parfum murahan.

Kuliah di ruang universitas
monitor-monitor saham
transaksi obligasi atau sejenis hutang
tanda tangan kartu kredit
dan perjanjian dengan setan
Intelektual melacurkan pengetahuan
Profesor dinobatkan, tanpa satu bukupun dihasilkan
pada kehidupan kita mengaduh
pada sampah-sampah yang dibakar Pram di sore waktu
: Hidup

Rindu pada pacar yang menghilang
pada cinta yang menguap
Perkabaran tentang kawan-kawan
berita keluarga tentang perkelahian rebutan warisan
Artis-artis yang senang mengangkang
Sutradara sinetron murahan dengan pet dan kaca mata hitam
Penjual ganja dan narkotika yang sedang bergurau dengan Intel Polisi
Mahasiswa rajin kutu buku yang ingin menjadi dosen paruh waktu
Tukang Mie Ayam yang hampir terjengkang jatuh ke selokan
Penerima beasiswa yang melonjak kegirangan
dan si sial yang selalu saja gagal visa di kedutaan
: Kehidupan

Ibu-ibu yang marah anaknya dipaksa jilbaban pada sekolah negeri
Tentang artis porno yang tertawa cekikikan
Pejuang humanis yang bangun kesiangan
Pembaca puisi yang mencoba santun terhadap kehidupan
Guru-guru sekolah
Kepala Sekolah
Penilik Sekolah
Menteri Pendidikan yang senang gonta-ganti peraturan dan memajang wajahnya di televisi-televisi sambil bilang pendidikan gratis lalu rakyat senang
Motivator-motivator di ruang kantor yang teriak-teriak sambil melemparkan kursi membakar semangat
Auditor akuntan yang hampir mati terkurung angka
Serdadu yang mulai tidak kuat lari pagi
Anak-anak SD yang dibebani kehidupan
Ibu-ibu dengan daster you can see memamerkan ketek di depan penjaja sayuran
dan Petinju yang tersungkur di kanvas tadi malam
: Menjalani Hidup

Hidup pagi ini
berputar kencang serupa alat dokter gigi
menggergaji gigi sampai cukup ditambal amalgam
itulah hidup
: selalu menambal hati yang tak pernah jelas maunya apa.

Lantai semen jembatan penyebrangan
mencatat dengan sisa-sisa karbon
hidup yang dijejaki
pada kaki-kaki cakrawala dan itulah sejarah, tanpa bekas tak usah diingat
hidup ini ribuan kali memang sudah mati
: Mati berkali-kali

No comments: