Rabu, 21 November 2007

Kesadaran Berbudaya

Kesadaran Berbudaya

Kesadaran bagi manusia memiliki makna yang luar biasa, kesadaran manusia terhadap realitas adalah jalan pembuka menuju eksistensinya, menuju kemanusiaannya. Dulu bangsa eropa sadar bahwa dunia yang penuh misteri ini bisa dijelaskan pada eksperimen, rasionalitas dan kebebasan berpikir. Maka lahirlah seni, filsafat modern, ekonomi kapitalis, penyebaran ilmu pengetahuan dan yang terpenting..kekuasaan barat terhadap dunia, yang sampai saat ini kita nikmati bersama dengan khidmat.

Dulu juga, Mas Marco, Mas Tjokro, Mas dokter Tjiptomangoenkoesumo sadar bahwa bangsa Indonesia ini sebenarnya dijajah, maka petani-petani, ulama-ulama dan priyayi yang dulu mbalelo dengan alasan rebutan tanah selanjutnya sadar bukan karena perkara agraria mereka beradu hantam dengan gubermen tapi lebih lanjut masalah kekuasaan dan kekuasaan itu ada di Betawi atas nama Hindia Belanda, dan Hindia Belanda harus dimaknai sebagai kekuasaan. Dan orang-orang pribumi adalah anak jajahan. Maka lahirlah manusia-manusia sejenis Sukarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, Semaoen, MH Thamrin, Hamka, Tan Malaka sampai Amir Sjarifuddin. Yang menggelorakan bahwa kita adalah anak jajahan yang harus bebas merdeka, perkara soal makmur ke depannya itu soal nanti. “Angkat senjata toh kita punya jebolan Peta” kata pemuda-pemuda macam Wikana, DN Aidit, Sukarni, Singgih atau Chaerul Saleh sambil merencanakan culik Sukarno-Hatta dan paksa bikin bangsa ini merdeka tanpa campur tangan Jepang. Maka kesadaran merdeka adalah langkah awal untuk sadar bahwa kita bangsa jajahan. “Uh, maen hantam kromo saja, ini waktu tidak seperti jaman normal dulu tahun 1930-an” kata priyayi-priyayi yang sinis lihat pemuda pegang pistol sambil nyanyi “maju tak gentar” jelas Priyayi-priyayi itu tak sadar bahwa dirinya dulu itu dijajah Belanda.

Maka kesadaran itu perlu, untuk tahu bahwa kita dibohongi.karena penjajahan itu tahu lemahnya manusia, dan kesadaran itu ditanam dalam-dalam ke lembah hati manusia. Waktu Orde Baru coba bikin makmur bangsa dengan pamer ilmu ekonomi berbasis pertumbuhan, maka hutang luar negeri diambil gila-gilaan, kebebasan berekspresi ditindas bukan kepalang, tak boleh ada kepala pintar di negeri ini yang mbalelo, kepala pintar harus nuruti apa kata penguasa maka dibukalah pintu-pintu pelacuran intelektual di negeri ini yang banyak menghasilkan orang-orang berkepala pintar tapi pengecut. Ketika kepala-kepala pintar itu bangkit dan menyadarkan, bredel medianya, berangus pikirannya dan amankan. Ini perintah!.

Tapi toh sejarah tak pernah berhenti oleh bedil, siapa yang coba mengurung gagasan dia akan dimatikan oleh gagasan. Siapa yang bisa menahan kepala-kepala pintar pemberani yang angkat kepala sambil tunjuk bahwa itu tidak benar akan hancur dimakan waktu, siapa yang bisa menghentikan gagasan Soe Hok Gie di tahun 66?. Siapa yang bisa kurung itu ucapan cerdas Wimar di televisi tahun 1994?, siapa yang bisa tarik itu cerita-cerita Pram dari pulau Buru?, siapa yang bisa menahan kebebasan jurnalistik Goenawan Mohammad dan aliansinya? Siapa yang berani buka borok rezim lewat tabloid Eros Djarot? Lalu siapa yang bisa tembak majunya ratusan ribu mahasiswa ke jalan-jalan? Siapa yang bisa hancurkan bandelnya pikiran Gus Dur?, siapa yang bisa tarik itu politik nostalgia penuh kebanggaan Sukarnois pada diri Megawati?Siapa yang bisa hancurkan gerakan anak-anak muda Islam pada dakwah di kampus-kampus? Siapa yang bisa tahan itu anak-anak muda yang bersemangat baca buku-buku kiri perlawanan di rumah-rumah kos? Teorinya orde baru adalah segalanya, tapi karena hidupnya hanya bekerja untuk mematikan gagasan, maka ucapan Abe Lincoln bekerja ‘seseorang atau rezim bisa membohongi satu orang atau sekelompok orang pada satu saat di satu waktu, tapi ia tidak bisa membohongi seluruh orang pada waktu yang panjang’ kenapa bisa begitu. Yah karena ada kesadaran bekerja, karena ada keberanian dari kelompok-kelompok orang yang sadar bahwa manusia disekitarnya perlu disadarkan. Toh, sekarang banyak yang bilang jaman Orde Baru enak, beras murah, apa-apa murah, bahkan salah seorang petinggi di jaman bebas ini bilang “demokrasi tak menolong pembangunan”..persis ketika kaum menak bilang jaman Belanda enak. Puas makan, aman tidur. Nah, inilah sekelompok manusia yang berjarak dengan kesadaran penjajahan orde baru.

Dulu di jaman Orde Baru, film, puisi dan buku-buku banyak dilarang, karya-karya sastra banyak dibredel tanpa mereka harus tahu nilai kecerdasannya, hanya satu jiwa aturan itu. “Jangan ganggu stabilitas”. Maka film Saidjah dan Adinda ditahan, buku-buku Pram di sembunyikan, baca puisi Rendra perlu ijin Kodim, dan bioskop-bioskop ditutup bagi film lokal. Kesadaran berbudaya dibungkam habis-habisan oleh kekuasaan.

Ketika kekuasaan Orde Baru berhasil dihancurkan, ternyata kesadaran berbudaya tak serta merta menjadi tonggak sejarah negeri ini. Toh, kita masih jadi bangsa yang gemar nonton sinetron atau film hantu-hantuan, toh kita adalah bangsa yang cara beragamanya masih dikaitkan dengan sikap mistis yang meniadakan logika, toh cara hidup kita masih senang berbelanja tanpa tahu bagaimana memproduksi, toh bacaan kita hanyalah yang ringan dan menyegarkan tanpa perlu mendalami karena kita sudah didera oleh cari makan dan untuk penghidupan. Toh, artis-artis kita banyak bercerita tentang kehidupannya, tentang problema dirinya sampai urusan ranjang mereka di tv-tv kita, tanpa harus tahu bagaimana susahnya ratusan juta anak bangsa ini menanggung bencana, bukan hanya bencana alam tapi bencana kehidupan – orang kampung semacam sahaya ini bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan (PAT) – betapa hebat kemiskinan, betapa tidak bermartabatnya kehidupan.

Kesadaran berbudaya bukan hanya dihalang kekuasaan, tapi juga bagaimana menyentuh hati. Bacaan-bacaan kita, pikiran-pikiran kita baiknya dibebaskan. Tapi juga harus diperdalam, dipikirkan, dan membangun ruang kesadaran eksistensi bagi pembacanya..karya-karya sastra kita bukan hanya chiklit, yang memang mengharukan atau jenaka untuk dunia kaum egois. Bagus untuk mereka yang hanya perlu tahu berapa harga sepatu dan baju atau bagaimana memperlakukan diri di depan lawan sejenis. Kesadaran berbudaya sesungguhnya mengetahui bahwa karya sastra adalah karya penyadaran. Dia mendalami kehidupan masyarakatnya bukan menggampangkan, dia melawan kehidupan yang tidak benar dengan tulisan, dia membangkitkan bahasa bukan menghancurkan. Tapi, toh manusia harus dibebaskan memilih, dan kita tidak bisa menilai ukuran-ukuran orang lain dengan diri kita. “ jangan kau nilai orang, sebelum kau menggunakan sandalnya selama tiga hari” kata pemimpin Indian sambil isap pipa tembakau. Karena tulisan chiklit toh juga gagasan.

ANTON

Tidak ada komentar: