Wednesday, 21 November 2007

POLIGAMI

Poligami

Beberapa piring melayang, dan aku hanya terdiam. Inggit murka di depanku sambil berteriak-teriak “kau boleh nikahi Fatmawati, tapi ceraikan aku dulu Kus...ceraikan!!! teriak Inggit dan ia berulang kali meneriakkan namaku “Kusno...Kusno..Kusno”. Itulah cerita Sukarno kepada Cindy Adams ketika ia mengisahkan perpisahan dengan isteri ‘perjuangannya’ Inggit Garnasih, Kusno adalah nama kecil Sukarno, yang menjadi panggilan kesayangan Inggit pada Sukarno. “Aku menikahi Fatmawati karena aku belum memiliki anak dari perkawinanku dengan Inggit”.
“Guntur adalah anak Ibunya, ia tinggal dengan ibunya dan tidak di Istana ini” cerita Sukarno selanjutnya saat ia mengisahkan pisah ranjangnya dengan Fatmawati yang menolak perkawinan Sukarno dengan Hartini, janda cantik asal Malang yang dicomblangi Jenderal Gatot Subroto. Fatmawati yang sedari awal menolak poligami menerima kenyataan bahwa suaminya menikah lagi dan ia merasakan sakit hatinya Ibu Inggit saat menikah dengan dirinya. Dan perasaan itu kini dialaminya. Fatmawati memilih keluar dari Istana dan tinggal di Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru, Guntur putera sulung kebanggaan Bung Karno ikut serta meninggalkan bapak dan adik-adiknya.

Pernikahan Sukarno dengan Hartini menimbulkan gelombang protes luar biasa, Perwari (sebuah organisasi wanita paling besar di jamannya) melakukan demonstrasi besar-besaran menolak aksi poligami Bung Karno. Bahkan aksi Perwari dan beberapa kelompok pendukungnya seperti kaum intelektual, jurnalis (terutama Muchtar Lubis dan Rosihan Anwar) serta politisi-politisi menyatakan ketidaksukaannya terhadap ulah Bung Karno menikahi janda cantik itu.
Sukarno memarahi ajudannya karena tidak mampu mengatur jadwal agar Hartini tidak bertemu dengan Haryati (Isteri keempat Bung Karno) saat menjemput Sukarno dari bandara. Akhirnya dengan terpaksa Hartini dan Haryati dibawa ke Istana – dimana Sukarno tak pernah membawa isteri-isterinya selain Fatmawati ke Istana – Megawati (kelak Presiden RI ke empat) marah karena tahu dua ibu mudanya ke Istana, ia lantas mengunci pintu Istana dan melarang dua isteri Sukarno itu masuk Istana, jadilah Hartini dan Haryati duduk berdua di teras Istana sambil saling diem-dieman.

Pada malam saat pasukan gerakan Untung mendobrak pintu rumah Jenderal Ahmad Yani dan membunuh sang Jenderal, Isteri Ahmad Yani tidak berada di rumah. Kabarnya isteri Ahmad Yani sedang marah pada suaminya karena Ahmad Yani menikah lagi dengan wanita lain.
Nyoto salah satu dari empat serangkai pemimpin PKI menghindari bertemu dengan DN Aidit setelah lawatannya ke Rusia dan Perancis, DN Aidit marah karena Nyoto jatuh cinta dengan seorang penterjemah cantik dari Rusia. kabarnya Nyoto berniat meninggalkan isteri dan anak-anaknya, dia juga dianggap menyimpang dari garis partai karena mulai mempraktekkan gaya hidup borjuis. Kemarahan DN Aidit itu didukung oleh Oloan Hutapea yang gaya hidupnya kaku. Bahkan Oloan berhasil menyingkirkan Nyoto dari “Harian Rakyat” karena Nyoto dianggap terlalu ‘playboy’ untuk ukuran PKI. Tapi Nyoto cuek bebek dan asik main jazz bareng Jack Lesmana.

Salah satu poin penting dalam menjatuhkan Sukarno adalah poin tentang ‘kemerosotan moral’ yang dianggap kelompok pro Suharto sebagai tindakan poligami dan hidup bermewah-mewah. Bahkan salah satu poster demo paling terkenal dalam demonstrasi mahasiswa 1966 adalah. “stop impor isteri” dan “Hartini lonte agung Istana” Bung Karno marah-marah di depan mahasiswa KAMI tentang poster itu sambil berteriak “Ibu Hartini itu ibu kalian!!!”
Gelombang demonstrasi terjadi di tahun 1973 masalah RUU Perkawinan yang kabarnya di godok kelompok Ali Murtopo tanpa mengikutsertakan ulama Islam. Kemarahan ulama Islam ini dapat diredakan setelah Jenderal Sumitro selaku Pangkopkamtib dan Jenderal Sutopo Yuwono melakukan serangkaian pembicaraan dengan ulama-ulama Islam. Di sinilah mulai negara mulai tergerak untuk mengatur perkawinan yang masih dianggap sebagai wilayah agama.

Seorang artis papan atas Indonesia terlanda gossip berhubungan intim dengan Presiden Suharto dan sebuah mobil tinja menyemprot rumah artis itu atas suruhan Ibu Tien Suharto, cerita ini merupakan legenda yang banyak diketahui masyarakat Jakarta.

Puspo Wardoyo pengusaha restoran “Wong Solo” yang merasa dirinya sukses dan berprestasi menikmati poligami sebagai bagian dari kesuksesannya. Bahkan ia berniat mengkampanyekan poligami di kalangan masyarakat. Langkah pengusaha restoran ini banyak menuai kecaman dari kaum perempuan dan kelompok feminis di Indonesia.

Dewi Yull memutuskan keluar dari perkawinannya dengan Roy Sahetapy setelah lebih dari dua puluh tahun pernikahannya. Ia menunjukkan keberaniannya untuk menolak di madu.
Gymnastiar seorang ulama kondang, menikahi janda cantik berumur 37 tahun dan menimbulkan heboh luar biasa di kalangan wanita Indonesia. Karena A’a Gym yang selama ini dianggap representatif dari ulama moderat, santun, dan banyak di puja ibu-ibu rumah tangga sebagai panutan, mengambil langkah yang sama sekali tidak populer bagi ibu-ibu rumah tangga di Indonesia. Jika tidak ada manuver dari A’a Gym untuk memenangkan hati ibu-ibu rumah tangga, maka dipastikan wajah A’a Gym jarang dijumpai di televisi, dan namanya tidak akan sepopuler dulu.

Gerak cepat SBY (tumben) untuk mengatur kembali UU Perkawinan setelah heboh ulah A’a Gym. Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dan Sekjen Depag Nazarudin Umar dipanggil SBY, sekeluar dari ruangan SBY. Nazarudin Umar menyatakan dalam jumpa pers “pada prinsipnya Islam menganut asas monogami”.
Salah seorang ketua MUI Ma’ruf Amin dalam sebuah talk show di TV menyatakan bahwa “ijin anak tidak diperlukan kepada ayahnya untuk menikah lagi” pernyataan ini sekaligus melecehkan peran anak dalam lembaga perkawinan.

Salah seorang ketua Komnas HAM, MM Billah dalam debatnya di SCTV menyatakan “ Hak Asasi Manusia itu menegaskan bahwa ada kedudukan yang setara antara laki-laki dan perempuan, dan poligami merupakan hubungan ketaksetaraan dari relasi itu. Ide dasar dalam Islam adalah Persamaan!!” sementara seorang wanita dari Fraksi PKS yang menjadi panelis lainnya, menyatakan “poligami sah-sah saja, dan merupakan cara untuk membagi kebahagiaan” ketika ia ditanya oleh Rosiana Silalahi “apakah ia juga mau membagi kebahagiaan kepada wanita lain?” sang wanita dari Fraksi PKS pendukung poligami itu tergagap.

Kisah-Kisah Poligami dari Orang Biasa.

Seorang ibu rumah tangga menangis karena suaminya yang pejabat di sebuah departemen secara diam-diam menikahi sekretarisnya. Ibu itu stress berat dan beberapa kali masuk rumah sakit.

Seorang alumni mahasiswa UI memprotes dari pada sebuah milis, bahwa poligami yang dilakukan bapaknya merupakan sebuah bencana, ia hampir putus kuliah gara-gara Bapaknya menikah lagi dan uang kuliahnya tersendat, dan ibunya terus menerus sakit-sakitan. “lo mau kalo nyokap lo di poligami...Like Hell!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” tulisnya menanggapi pendapat seorang temannya yang setuju dengan poligami dengan dalil-dalil salah satu ayat suci Al Qur’an.

Seorang ayah yang menikah lagi, melakukan kekerasan pada isteri pertamanya karena sang isteri menolak dipoligami, tidak itu saja bahkan sang ayah itu juga melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya. Keluarga yang pada awalnya bahagia menjadi berantakan. Keluarga itu termasuk kaya dan anak-anaknya menikmati kebahagiaan, setelah hadirnya orang ketiga dalam perkawinan bapaknya, mereka merasakan menjadi anak-anak ‘broken home’. Uang sekolah mereka tidak dibayari lagi, anak tertuanya (seorang wanita) sejak ayahnya menikah lagi terpaksa mencari uang sendiri, sekolahnya hanya sampai SMA kemudian bekerja dari pagi sampai malam untuk membantu ibunya mencari uang.

Seorang pengusaha kelas menengah menikahi sembilan wanita dan dia enjoy-enjoy aja sambil ketawa-tawa di depan TV saat diwawancarai, “kalo ngaturnya sih yah terpaksa tiga-tiga tiap malam”

Bagaimana dengan anda, setuju atau tidak berpoligami?

ANTON

Inget Slogan Asmuni Srimulat : Hidup satu kali, nikah satu kali, mati satu kali..., betul tidak?

1 comment:

Adian said...

http://adianhusaini.wordpress.com/2008/02/07/mangkunegara-iv-calon-penerima-pks-award-2008/
dukung Mangkunegara IV jadi penerima PKS & Poligami Award